Cari Blog Ini

30 November 2018

Saya Anak Jadul, dan Saya Pernah Mengoleksi Benda ini

November 30, 2018 2 Comments
"Bu...itu uang jaman dulu jangan dibuang lho..mau aku simpan. Kata temanku besok kalau dijual bisa mahal" pesan Raka ketika kami menemukan recehan 5 rupiah, diantara recehan yang kami simpan dalam sebuah kaleng. 

Bukan bermaksud mengoleksi mata uang receh, tapi memang nggak sengaja aja nemunya. Mungkin bekas uang simbah putri yang hobinya kerokan. 

Ngomongin barang koleksi, saat ini jujur saya nggak punya. Apapun yang saya punya, ya dibeli berdasarkan asas kebutuhan, kebermanfaatan, bukan sekedar untuk koleksi. Ketika banyak teman pada koleksi bunga anggrek...saya milih nanem cabe, tomat apa kemangi😀😀 

Serius blank klo ngomongin koleksi. Tapi saya ingat, jaman kecil saya pernah latah ikut-ikutan teman ikut ngumpulin barang-barang ginian..dan memang berasa seru waktu itu.  

Bulu Ayam
Ngalamin ini pas masih SD. Nggak tahu siapa pemicu awalnya, tiba-tiba aja se kelas pada demam ngumpulin bulu. 
Cara dapetinnya, kadang nyari di kandang ayam, jadi tukang tadah bulu-bulu ayam yang rontok, atau nyabutin kemoceng bulu yang warna-warni itu.

Menariknya dimana? Di bagian bulu lembutnya itu. Konon setiap bulu ayam akan beranak, dan bertambah besar. Rumah bagi bulu-bulu ayam ini adalah di sela-sela halaman buku. Biar mereka beranak, bulu-bulu tadi diberi makan, yakni kayu rautan pensil. Ha...ha, ada-ada saja ya!

Bungkus Permen
Serius, saya pernah menjadi pemulung bungkus permen. Jaman saya kecil, permen yang paling hits mereknya sugus. Bungkusnya warna-warni, trus ngemasnya model diuntir. Jadi bungkus berbentuk persegi kalau permen sudah dibuka. 
Nah, hobi rata-rata anak jaman dulu itu pasaran. Aneka daun yang dipotong-potong aja bisa jadi komoditi dagangan. Nah, si bungkus permen tadi, mata uangnya. Masing-masing punya nominal sesuai warna😁

Koin dari tutup Sprite/Fanta
Jaman kecil, ada mainan yang legend banget..namanya kompyeng, atau di tempat lain adalah krompyeng. Alat untuk bermain, adalah 5 buah mata uang logam/receh.  Cuma masalahnya, kadang butuh effort ekstra buat ngumpulin receh sebesar 5 biji, nah solusinya...digantiin pake tutup sprite atau fanta yang dipipihkan sampai menyerupai koin.

Baju-bajuan Bongkar Pasang
Image dari Hipwee.com
Bentuk mainannya selembar kertas, ada gambar aneka baju untuk berbagai keperluan plus gambar tokoh/boneka. Lupa harga perlembarnya berapa..tapi kayaknya nggak nyampe 100 rupiah/lembar. Nah, semakin banyak koleksi baju-baju yang dimiliki, acara mainnya bakaln seru. Jaman dulu...kalau udah mainan ini, mau bareng teman atau sendiri, seru banget.

Itu tadi barang-barang yang saya koleksi jaman anak-anak. Ada yang sama? Bisa jadi, kita seumuran😁😁 

29 November 2018

Lima Film Keluarga yang "Aman" untuk Anak-Anak

November 29, 2018 1 Comments
Hari gini, meski kelihatannya makin maju, hidup berasa lebih mudah,  tapi sebenarnya tantangan buat para orang tua itu semakin berat. Gimana mengamankan anak-anak dari kecanduan game online, gimana njagain anak biar ga terpapar pornografi dari berbagai konten media, itu masih menjadi PR saya, kita, semua.

Pernah suatu hari Raka cerita sambil curhat, katanya ada teman sekolahnya yang sering nonton bioskop sendirian. Didrop sama orang tuanya di bioskop, trus anaknya nonton film sendiri. Endingnya Raka nanyain..."Kok..kita nggak pernah nonton film di bioskop to?"

Raka bener. Saya memang belum pernah ngajak Raka di bioskop, kecuali model-model bioskop yang ada di tempat wisata, seperti bioskop 6D nya Kyai langgeng, bioskop erupsi Merapi di Ketep Pass atau bioskop 3D nya Baturaden atau Pemancingan 100 Janti, Klaten.

Pertimbangannya, wong film lihat di Tv atau streaming pakai aplikasi aja bisa. Resikonya, kurang update aja paling😁 *Ngirit mode on

Menurut saya, kalau soal tontonan film itu sifatnya timeless, jadi dilihat kapan saja bisa. Nggak kayak mbaca surat kabar/berita, yang kalau udah basi nantinya jadi "sejarah". Ngomongin film, dalam kacamata saya kalau yang melibatkan anak untuk menonton di dalamnya memang harus "aman". Artinya, adegan-adegannya nggak ada yang bikin orang tua ketar-ketir, contohnya film

Lion King
Ini udah film lama banget. Tapi beberapa waktu lalu dilutar di tv pas program tayangan anak-anak. Kebetulan di rumah punya dvdnya juga, dulu beli di Gramedia klo ga lupa. Sesuai namanya, maka film ini bercerita tentang keluarga Raja hutan. Perjuangan, persahabatan dan kasih sayang. Meski ada sedikit adegan 'pacaran" Simba dan teman singa perempuannya, tapi karena tokoh-tokohnya binatang dan adegan juga biasa-biasa saja, jadi menurut saya anak-anak aman untuk melihat.

Children of Heaven
Dirilis tahun 1999, film inipun termasuk film produk lama, tapi masih relevan dijadikan tontonan keluarga. Menggunakan Teheran sebagai latar belakang cerita, Children of Heaven bisa dijadikan tontonan pengingat ke anak-anak kayak Raka dan Alya yang kalau ketemu sering ributtt mlulu. "Tuh...ada dua bersaudara yang demi sepasang sepatu aja kompak"....😀😀


WonderfulLife
Berkisah tentang perjuangan seorang ibu untuk menemukan obat bagi anaknya yang terkena disleksia. Dibintangi Putri Ayunda, Lydia Kandau, Alex Abad, film nasional yang dirilis tahun 2016 ini bisa jadi reminder buat para ibu kayak saya untuk selalu bersyukur dan bisa menghargai anak; bahwa setiap anak adalah istimewa.

Good Dinosaur
Sama kayak Lion King, basic ceritanya kehidupan hewan, dan yang ini Dinosaurus. Berkisah tentang  Arlo dan petualangannya untuk bisa kembali ke rumah.


Susah Sinyal
Film nasional yang belum begitu lama diputar di bioskop, dan kalau sekarang sih, sudah bisa dicari di aplikasi pemutar film. Kisahnya tentang liburan Ellen dan anaknya Kiara. Disamping mengeksplore keindahan Indonesia timur, dalam hal ini Sumba, film ini juga mengingatkan orang tua bahwa anak adalah tanggung jawab orang tua, bukan neneknya. Sesibuk-sibuknya orang tua, tetep ada anak yang butuh perhatian dan kasih sayang, bukan limpahan materi.

28 November 2018

Dengan Paxel, Kirim atau Terima Paket tanpa KZL!

November 28, 2018 3 Comments
Belakangan ini, model belanja online memang sudah menjadi semacam gaya hidup banyak orang. Ya, tentu saja karena banyaknya kemudahan yang ditawarkan, misalnya belanja bisa sambil ngapain aja, nggak perlu bermacet-macet ria, trus nggak perlu antri di kassa juga. 

Cuma memang kalau belanja tipe online ini, terkadang kita memang mesti bersabar karena ngedapetin barangnya agak lama. Antara check out sampai barang ada di tangan, butuh proses. Barang harus dikirim melalui jasa perusahaan logistik/ekspedisi/kurir yang terkadang membutuhkan waktu berhari-hari.

Dan ini nggak selalu lancar ...

Seperti kayak tempo hari, ketika anak-anak minta dibelikan hotwheel yang bisa berubah warna (saat di celup ke air es/air hangat). Waktu itu transaksi dilakukan oleh dan menggunakan akun pak suami, jadi saya nggak begitu ngeh belinya di market place mana, lokasi tokonya dimana, dan make jasa pengiriman apa. Anak-anak cuma dikasih tahu, 4 hari lagi mainan mereka datang 

Biasalah...anak-anak. Mulailah mereka berhitung. Hari demi hari, dan sabar menanti. Puncaknya adalah hari ke 4, dimana jadwal mainan itu seharusnya mereka terima. Tak terhitung lagi mereka bertanya.."Ibu, Hotwheelku udah datang apa belum...? Sekarang sudah sampai mana?" Malah  Alya, sempat nungguin datangnya Kurir paket ekspedisi sampai di depan pintu. Dan menjadi sedih, was-was ketika sampai malampun tetap tidak ada kabar kiriman yang kami pesan.

Hari kelima, Pak suami mendapatkan notifikasi kalau ada kendala di pengiriman barang, jadi barang memang  datang terlambat. Agak kezel juga sih, tapi ya sudah...untungnya, kami bukan belanja sesuatu yang bisa basi/ barang yang expired date nya cepet. 
***
Kecewa, kesal, was-was dan khawatir apakah barang yang kita pesan atau kita kirimkan lancar dalam perjalanan, adalah salah satu problema yang kerap menjangkiti para onliners. Untungnya kini ada Paxel yang datang memberikan solusi untuk masalah tersebut.

Siapa Paxel, dan Apa Bedanya dengan Yang Lain?

Paxel adalah perusahaan logistik berbasis aplikasi.  Perusahaan ini hadir sebagai model untuk menghadapi masa depan e-commerce logistic.

"Usaha itu berkah, kalau berlandaskan kebaikan. Nilai itulah yang mendasari Kehadiran Paxel" ungkap Djohari Zein, selaku Founder Paxel di sela-sela kegiatan blogger Gathering, Sabtu 24 September di Yogyakarta. 

Paxel merupakan singkatan dari PAX atau package, atau bisa juga diartikan orang. Sementara cel , berasal dati kata accelerate yang artinya bergerak. Filosofi dari Paxel adalah bergerak kemana saja, sesuai dengan tagline #AntarkanKebaikan

Karena itu juga, perusahaan paket ekspedisi ini banyak terlibat dan menjalin hubungan erat dengan tokoh-tokoh yang selama ini akrab dengan kegiatan sosial. Sebut saja Valencia Mieke Randa, founder Rumah Harapan Indonesia dan Blood For Life.

"Jangan biarkan kebaikan berhenti pada satu tangan, share! Rumah Harapan bisa bergerak, karena media sosial dan juga Paxel" ujar perempuan yang akrab disapa Silly ini.

Valencia Meike Randa berbagi kisah inspiratif tentang #AntarkanKebaikan
Lalu Apa Kelebihan Paxel? Paxel didesain berbasis teknologi dan menawarkan banyak kelebihan, diantaranya:
  • Jasa pengiriman paket ini mengusung layanan sameday delivery, dengan ongkos kirim flat; artinya kiriman ke mana saja harganya sama. Barang akan sampai ke tujuan maksimal dalam 8 jam
  • Untuk saat ini coverage area Paxel meliputi Jabodetabek, Bandung, Jogja, Solo, dan Semarang.
  • Fleksibel dalam hal pengaturan waktu pengiriman maupun penerimaan barang
Dengan Paxel kita nggak perlu repot saat kirim paket, cukup order by aplikasi, jadi bisa sambil nonton tv.😀 Kalau menggunakan jasa pengiriman paket yang lain, customerlah yang harus datang. Di Paxel, customerlah yang dimanja. Hero --sebutan untuk kurir Paxel lah yang akan datang.

Hero yang siap #antarkankebaikan, mas-mas berbaju ungu-kuning seperti ini
Tahap pertama, hero akan memotret dan menempeli paket dengan tanda terima yang dilengkapi dengan QR kode. Barang yang diambil sebelum pukul 2 siang akan dikirimkan sore hari, sementara kiriman setelah pukul 2 siang akan dikirim pukul 8 malam. Asyiknya customer dapat mengecek secara realtime, posisi paket setelah diterima hero sampai diterima oleh yang berhak menerima paket. Canggih ya! Bisa nih kapan-kapan maketin frozenfood ke ponakan.

Kepengen juga?  Download app nya di playstore atau appstore ya. Gunakan referralcode trisulistiyowati, ntar kamu bakal dapat saldo 100.000, dan bisa buat kirim-kirim barang. 



Kemuning, "Kembang" Baru yang Siap Menambah Kecantikan Wisata Gunung Kidul

November 28, 2018 6 Comments
Hari yang penuh semangat. Untungnya, pagi itu saya tak sendiri. Bersama sekitar 45 rekan media dan juga teman-teman blogger, kami mendapatkan kesempatan untuk melihat geliat pembangunan pada salah satu kampung di Gunung Kidul, yakni Dusun  Kemuning.

Setelah sekitar kurang lebih 1,5 jam di atas kendaraan, membelah aspal hitam yang kaya akan kelokan dan tanjakan, akhirnya, sampai juga kami di KBA-Kemuning. 

Dusun Kemuning sendiri, secara administratif berada di wilayah Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul. Posisinya memang agak tersembunyi, sekitar 30 km arah tenggara Kota Jogja, atau 15 km arah barat kota Wonosari. Untung, semua kendaraan yang kami naiki dalam kondisi prima, hingga  perjalanan terasa menyenangkan. 

Saya menikmati betul panorama alam yang terbentang di depan mata. Meski tampak sedikit meranggas  karena panas, hamparan tanaman jati, kayu putih, dan beberapa jenis tanaman hutan yang lain, nyatanya tetap memukau dan mampu membius mata.

Saya lirik penanda waktu di ponsel.  Belum juga genap pukul 09.00 pagi. Matahari memancarkan sinar hangatnya, sehangat sambutan warga Kampung Kemuning. Selembar kain batik, dililitkan ke badan sebagai tanda penghormatan. Percikan air pandan dan daun kemuning, serta selipan dlingo-bengle pada baju yang kami kenakan, merupakan simbolisasi bahwa saya dan teman-teman telah dianggap sebagai layaknya anggota keluarga.

Image oleh anotherorion.com
Kemuning sendiri merupakan nama pohon yang banyak tumbuh karena ditanam oleh sang pendiri kampung, Mbah Roso Wijoyo. Hingga saat ini, keturunan-keturunan Mbah Roso Wijoyolah yang masih setia mendiami wilayah dusun yang berada pada ketinggian 200 meter di atas permukaan laut ini. 

Secara demografis Kampung Kemuning ditinggali 357 warga yang terbagi dalam 113 Kepala Keluarga. Rata-rata dari mereka hidup dari sektor agraris.

Hamparan telaga alami  seluas kurang lebih 1 hektar, dengan kedalaman kurang 3 meter menjadi salah satu potensi yang dimiliki Kampung Kemuning. Saat ini, disamping digunakan sebagai tempat wisata masyarakat sekitar, telaga juga difungsikan sebagai tempat pembudidayaan ikan tawar atau pemancingan. 

Meski begitu, sebuah rencana menarik tengah digagas warga. Menurut Kepala Dusun Kemuning, Suhardi, untuk kedepannya di area danau ini akan dikembangkan sebagai kawasan wisata kuliner, dengan format Kampung Apung. 
 
Telaga-Kemuning
Image oleh www.healthymomy.com
Tekad yang besar menjadi pemantik semangat bagi warga Kampung Kemuning. Seolah tak mau tinggal diam, kampung ini terus bergerak maju demi menggali potensi diri, namun tanpa melupakan tradisi.


Kalau bukan yang muda, siapa lagi yang akan melestarikan tradisi dan budaya bangsa kita?

Keinginan masyarakat untuk maju dan berkembang mendapat  tanggapan dengan terpilihnya Kampung Kemuning sebagai satu diantara 77  Kampung Berseri Astra. Semenjak 2016, kampung ini mendapatkan pendampingan dari Astra sebagai bentuk Corporate Sosial Responsibility (CSR) dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia demi terwujudnya masyarakat yang sehat, cerdas, dan produktif. Terjalinnya sinergi dari empat pilar penting kehidupan yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan menjadi target utama pelaksanaan program ini.

Dua tahun berjalan, dan nyatanya hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Di bidang pendidikan, sebuah gedung PAUD telah dimiliki dan sudah digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar setiap hari. Selain itu, Astra juga membantu meningkatkan tingkat pendidikan warga melalui program  beasiswa, bagi siswa tingkat SD sampai SMA

Jangan heran pula seandainya ibu-ibu di Kampung Kemuning, kini telah menjelma menjadi ibu-ibu yang makin kreatif. Singkong dan pisang sebagai hasil utama ladang dan tanah pekarangan berhasil mereka  kreasikan menjadi olahan yang semakin berkelas. Tentunya dengan nilai ekonomis yang semakin tinggi. 

Diversifikasi olahan makanan berbahan dasar hasil ladang dan juga tanah pekarangan KBA Kemuning

Kalau di beberapa wilayah sampah  masih menjadi masalah, hal itu tak lagi berlaku bagi kampung Kemuning.  Dengan sistem bank sampah dan menggunakan generasi muda sebagai penggerak utama, kampung ini selangkah lebih maju dalam hal pengelolaan sampah. Bahkan dana hasil dari penyortiran dan penjualan sampah ke pengepul, bisa dialokasikan guna peningkatan gizi warga melalui kegiatan posyandu dan poslansia.

Telaga, tradisi, kearifan budaya serta aktivitas masyarakat  menjadi kekayaan dan keunikan tersendiri yang dimiliki Kampung Kemuning. Potensi-potensi itulah yang mesti dikembangkan, termasuk "menarik" berbagai potensi tadi ke ranah wisata. 

Tinggal menunggu waktu yang tepat bagi Kampung Kemuning untuk selesai bersolek. Akan ada saatnya, ia berjalan beriringan dengan beberapa desa wisata yang lain, seperti misalnya Desa Bleberan dengan air terjun Sri Gethuk atau Bobung yang telah terlebih dulu tersohor dengan kerajinan topeng kayunya. Semoga


Peserta Road to KBA-Kemuning


Artikel ini diikutsertakan dalam Anugrah Pewarta Astra 2018

5 Blogger Indonesia Favorit

November 28, 2018 0 Comments


Agus Mulyadi

Saya klo lihat fotonya Agus Mulyadi atau Gus Mul ini, mbayangin orangnya lucu. Sama kayak tulisan-tulisannya di www.agusmulyadi.web.id. 

Seneng maen ke blognya Gus Mul ini sejak pandangan pertama. Tema tulisannya sebenarnya sederhana, tapi penulis ngemasnya bisa. Pokoknya kalau mbaca blog ini, tengah malampun saya bisa cekikian sendiri. Ha..ha, kayak orang gila 

Secara personal, saya nggak kenal atau belum pernah ketemu sama Agus Mulyadi. Padahal yang punya blog domisili aslinya Magelang, trus Gus Mul ini juga redakturnya mojok.co yang ngantornya di Jogja. Dulu sih blog AgusMulyadi.web.id ini sering diupdate, tapi sekarang jarang. Mungkin dia lagi lelah  sibuk.

Erry Andriaty

Blognya kayak salah satu tokoh di majalah anak-anak, bibi-titi-teliti.com. Dari namanya, udah kelihatan unik. Dengan mba blogger asal Bandung ini, saya nggak kenal secara personal, tapi beberapa kali maen ke blognya, langsung bisa nyimpulin mba Erry ini pinter nulis gaya story-telling

Dari niche blog, bibi-titi-teliti termasuk lifestyle, isinya macem-macem. Belakangan postingan mba Erry banyakan sponsored post, tapi tetep asyik dibaca. Tapi paling asyik klo udah mba Ery sudah curhat soal Fathir anak bungsu yang dari cerita-ceritanya seumuran sama Raka. Hi..hi, lucu!

Elisabeth Murni

Nama panggilannya Sha, domisilinya sama-sama di Jogja. Seneng main ke blog Ibu muda ini sebenarnya belum lama, semenjak kenal sama si empunya blog.

Jadi, pernah ada suatu event blogger di Jogja dan di situ saya kenalan sama Sha.
"Blognya apa mba?" biasalah saya sering kepo.
"Ransel hitam"
Nama blognya gampang banget diingat. Sama kayak backpack saya, hitam. Langsung ngetik alamat blognya Sha di browser, dan ternyata nichenya traveling. Wow! Tema blog yang kebetulan saya memang suka.
Salah satu tulisan Sha di ranselhitam.com

Kekuatan tulisan Sha menurut saya ada di pemilihan kata. Pinter banget dia milih, hingga jadinya enak dibaca. Lincah dan ngalur. Kesan tulisannya agak-agak puitis-romantis, tapi nggak lebay. Kerennya lagi, foto-fotonya semuanya cakep-cakep. Rata-rata tulisan Sha mengeksplor keindahan alam Indonesia, dan dia pinter banget menggambarkan kalau Indonesia itu memang mempesona.

Wulan Darmanto

Beliau ini adalah otak dibalik blog keren Wulandarmanto.com. Ketemu sama blognya mba Wulan ini secara nggak sengaja, karena ada yang ngeshare salah satu tulisannya di facebook. Dan memang tulisan mba Wulan ini banyak yang viral. 


Rata-rata tulisan mba Wulan Darmanto bertemakan parenting, keseharian dengan suami, anak-anak...masalah hidup bermasyarakat, daily life gitu lah pokoknya. Entah make rumus apa, postingan mba Wulan nggak ngebosenin, mengalir banget, dan pintar membuat tulisan softselling. Jadi pas akhir...baru ngeh,  kalau ternyata ada titipan iklannya.


Stephany Josephine (Teppy) 

Saya termasuk pengagum blog thefreakyteppy.com. Bukan karena saya hobi nonton film, tapi karena ga pernah sempat lihat film...jadi nyicil baca resensinya via tulisan Stephany ini.

Buat saya, ini blog spesialis resensi film Indonesia terbagus. Soalnya meski berasa subyektif banget opininya...tapi masuk akal. Trus penyampaiannya ringan, pake bahasa yang santai, jadi ngebacanya bisa sambil ketawa ngakak. Paling suka pas postingan ayat-ayat cinta, dimana Fahri dinilai terlalu baik sebagai manusia. Pas saya lihat versi filmnya..bener juga .

Sebenarnya, masih banyak para blogger idola yang melalui tulisannya sudah tergambar kalau mereka  bener-bener keren, menghibur, tapi tetap inspiratif. Diantara 5 blogger diatas, ada idolamu juga?

27 November 2018

5 Barang yang Wajib Dibawa Saat Keluar Rumah

November 27, 2018 3 Comments
Yess!  Tantangan #BPN30dayChallenge2018 sudah memasuki tema ke 8, dan kali ini tentang 5 barang wajib yang ada di tas. Buat saya, tas itu sebenarnya bukan bawaan wajib sih. Kalau cuma pergi motoran sebentar dan  nggak jauh dari rumah saya bawa dompet doang. Itu juga karena ada SIM, STNK, sama uang ada di dompet. Antisipasi aja, misalnya ada razia surat kendaraan atau ban kempes di jalan. 

Agak jauhan sedikit, barang bawaan pun bertambah. Ponsel. Butuh bawa tas? Belum. Dua benda tersebut,  cukup saya simpan di jok motor. 

Ha..ha, minimalis banget sih😀😀 

Trus bawa tasnya kapan? Saya akan bawa tas, kalau saya mesti bawa barang lebih dari dua bawaan wajib tersebut. Diantara sekian banyak model tas, yang paling nyaman buat saya adalah backpack. Muat banyak dan mbawanya enak...😁😁

Saat mesti menggunakan tas, setidaknya ada 5 barang wajib yang mesti masuk di dalamnya:

Dompet
Dompet penting karena ibarat dalam tata surya ada matahari, dalam hal ini dompet bisa berfungsi sebagai penyelamat bumi. Ya itu, karena rata-rata dompet isinya agak kompleks, mulai dari KTP,  SIM, STNK, maupun member toko swalayan,  dan juga kartu ATM. Berkendara tanpa kelengkapan surat-surat kendraan bermotor, itu jelas bahaya. Terus misalnya kok ada yang lapar pas di jalan,  ya tinggal berhenti sebentar trus beli makan. 

Ponsel/Smartphone
Alat komunikasi itu penting. Biasanya kalau saya perginya agak jauhan, trus mbawa tas, ponsel itu barang wajib. Jadi, misal ada informasi penting atau ada apa-apa di jalan, bisa langsung bertukar kabar. Apalagi kalau saya keluar rumahnya dalam rangka bekerja sebagai blogger, maka ponsel adalah salah satu alat untuk bekerja. Sama sekali nggak boleh ketinggalan. Selain mengunakan aplikasi media sosialnya, untuk mengambil gambar dan juga merekam video, saya masih mengandalkan kamera ponsel.

Powerbank
Ha..ha, kalau yang ini, gara-gara batere ponsel saya yang berasa boros banget, apalagi kalau lagi banyak dipakai. Kadang meski pagi sudah dicharge sampai 100%, tengah hari juga kadang sudah sering habis kalau pemakaiannya tinggi. Biar bisa tetap hidup dan online, ya powerbank ini jalan satu-satunya

Mukena
Pergi agak jauh, trus nglewati waktu sholat, paling tenang kalau udah bawa mukena sendiri. Paling tidak, kalau di tempat sholat antriannya banyak atau malah tidak tersedia mukena, kan jadi nggak perlu kepikiran mau sholatnya pakai apa. 

Kunci Rumah
Untuk kunci ini, biasanya saya satuin sama kunci motor. Biar gampang nyarinya, setelah motor terparkir, saya taruh di salah satu kantong tas, bukan di saku celana/baju karena kalau naruh di saku baju/celana, takutnya rawan jatuh.

Itu tadi, lima bawaan wajib yang mesti ada di tas versinya saya. Bukan harga mati sih, yang di tas harus ada lima barang. Kadang ketambahan 1 barang juga, yakni botol minum..hi..hi. Kalau versi kamu apa saja?

26 November 2018

25 November 2018

24 November 2018

Media Sosial; Bisa Jadi Gancu, Bisa Juga Jadi Candu

November 24, 2018 2 Comments

Tahu gancu? Pernah melihat karung, atau kemasan suatu produk dan bertuliskan  'jangan digancu?' 

Secara kamus, gancu berarti galah yang berpengait. Bentuknya mirip kail, tapi ukurannya besar. Fungsinya untuk mempermudah dalam membawa/mengambil sesuatu.

Dalam pertanian tradisional, gancu bisa juga sebutan  untuk tongkat berkait, yang digunakan untuk melecut atau menggiring ternak, biasanya sapi atau kerbau.

Sementara candu? Semua pasti tahu. Kata candu identik dengan sesuatu yang menghanyutkan, membuat terlena, bahkan sampai lupa.

Kadang bisa menjadi Gancu, dan kadang bisa menjelma sebagai candu. Itulah media sosial. Bisa jadi ia menjadi alat yang membawa beragam manfaat, tapi bukan tidak mungkin ia menjadi sesuatu yang bersifat merusak. Tentu saja, kalau ia digunakan secara salah, tak semestinya.




Secara benar, kehadiran media sosial pada dasarnya memiliki 4 fungsi pokok yakni 

Sarana Komunikasi
Inilah sebenarnya fungsi dasar dari kelahiran aneka media sosial selama ini. Yup, memberikan banyak pilihan kepada masyarakat untuk bisa saling tersambung dan terhubung. Bayangkan saja pada masyarakat tradisional dimana alat komunikasi masih sangat terbatas. Untuk menyampaikan pesan, mereka harus bertemu secara langsung, atau menggunakan media surat yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai. Berbeda jauh dengan masyarakat modern. Dengan mengandalkan "kekuatan" sosial media, dalam hitungan detik, pesan sudah tersampaikan kepada penerima.

Sumber Informasi
Kita pernah berada pada suatu masa dimana sumber informasi sangat terbatas. Sekarang, dengam satu gerakan jari, satu sentuhan pada tombol share, sebuah informasi akan langsung menyebar secara cepat, dan bukan tidak mungkin menjadi viral.

Media Sosial juga Bisa Membuka Peluang Usaha
Sudah tak terhitung lagi banyaknya usaha yang bisa berkembang pesat, berkat promosi melalui media sosial. Instagram, facebook, Youtube, maupun Whats App dianggap sebagai media yang paling banyak digunakan pelaku usaha untuk mendukung konsep pemasaran yang mereka miliki. Sebagai konsekuensinya, media sosialpun melahirkan banyak profesi-profesi baru seperti content creator, blogger, youtuber, dan juga buzzer.

Media Sosial sebagai Media Untuk Membangun Relasi
Ia mampu mengumpulkan balung pisah, tulang yang berserak. Misalnya saja facebook. Dengan megetikkan sebuah nama saja di kolom pencarian, ia akan mampu mempertemukan teman, sahabat, atau saudara yang telah berpisah sekian lama.

Ia bahkan bisa menjadi semacam jembatan, yang seolah meniadakan ruang dan waktu. Banyak kan, cerita nyata di mana dua orang yang awalnya tidak mengenal satu sama lain, akhirnya dipertemukan melalui jejaring dunia maya. Menengok peranan media sosial seperti di atas, mulia banget kan fungsinya media sosial itu. Dan itu benar-benar sesuatu yang mesti kita manfaatkan.

Lalu, bagaimana kriteria media sosial yang justru dianggap menjadi candu?
  • Ketika ia justru melahirkan masyarakat yang tidak produktif, gara-gara terlalu sibuk bersosialisasi di dunia maya. Ini merupakan ancaman serius, dan bisa jadi menjangkiti semua umur dan semua lapisan masyarakat. 
  • Ketika media sosial justru digunakan untuk melakukan hal-hal yang jelas dilarang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Pornografi misalnya.
  • Ketrampilan dan keahlihan bermedia sosial, justru dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang lain (cybercrime) seperti carding, phising, dan spamming.
Mau memanfaatkan media sosial sebagai gancu yang memiliki banyak manfaat, atau membiarkannya sebagai candu, itu pilihan. It's in your hand!

23 November 2018

Serius, Nggak Rugi Join Blogger Perempuan Network!

November 23, 2018 3 Comments
"Kalau mau blognya rame....gabung komunitas Lis..." Kata seorang sahabat, di awal saya menghidupkan kembali blog, yang sudah sekian lama mati suri. Akhir tahun 2014 kala itu.

Awalnya saya masih belum tergerak. Masih maju-mundur. Ragu.

"Apa pantas tulisan saya dibaca orang  lain, sementara biasanya nulis sendiri, dibaca sendiri? Paling banter  Pak Suami yang ikut mbaca. Itu juga jarang. Mana saya gaptek tingkat dewa...😥"

Takut, minder, nggak percaya diri waktu itu.

Selang beberapa bulan, saya iseng mendaftar keanggotaan pada sebuah komunitas blogger (KEB) dan  diapprove oleh Mbak Lusi, sesama blogger Jogja. Awal-awal bergabung, jujur  masih bingung. Tugasnya ngapain, benefitnya apa...nggak ngerti.


Pelan-pelan saya mengamati dulu sebagai silent reader.

"Ooo...jadi sesama blogger itu saling berbagi link tulisan, saling berkunjung atau bertamu meski dalam dunia maya, bahkan bisa tidak mungkin saling ketemu di dunia nyata/kopdar. Yang tak ketinggalan, ternyata antar blogger itu juga saling berbagi ilmu, dan juga berbagi job."


Itulah kesan awal yang saya dapatkan. Tentu saja ini menarik.

Lama-kelamaan saya mulai paham dengan pola interaksi dalam sebuah komunitas. Berawal dari satu komunitas, kemudian saya memutuskan bergabung untuk menjadi member beberapa komunitas blogger, baik itu skala daerah maupun skala nasional, termasuk salah satu komunitas blogger terbaik dan terbesar di Indonesia, Blogger Perempuan Network.

Lebih Dekat dengan Blogger Perempuan Network

Komunitas blogger ini dibentuk pada bulan Maret 2015, dengan co-founder mba Shintaries beserta dua rekannya Dyane Dorothy dan Almazia Pratita. 

Ketiga perempuan hebat ini disatukan oleh passion yang sama; jatuh cinta pada dunia online, dan memiliki tujuan yang mulia pula; memajukan kedudukan blogger perempuan asal Indonesia.

Saat ini, member dari komunitas ini lebih dari 3400 orang, dan tersebar di semua polosok nusantara. Sejalan dengan visi-misinya, sampai saat ini Blogger Perempuan Network terus menggelar kegiatan-kegiatan baik bagi itu online maupun offline yang berkaitan dengan aktivitas blogging, dan media sosial.

Asyiknya Bergabung Sebagai Anggota Blogger Perempuan Network
Bergabung menjadi salah satu  dari sekian ribu member Blogger Perempuan Network tentu saja menjadi sesuatu yang berharga dan jauh dari kata sia-sia. Di sinilah salah satu wadah yang tepat untuk saling berbagi, berjejaring, dan menginspirasi. 

Sebagai blogger, banyak manfaat yang sudah saya petik dan rasakan:
  • Meski statusnya masih blogger newbie alias pemula, namun sembari berjalannya waktu, banyak ilmu-ilmu baru terkait blogging dan media sosial yang saya pelajari melalui komunitas Blogger Perempuan Network
  • Jejaring sosial, jaringan pertemanan yang kian hari makin luas terkait dengan keanggotaan di komunitas ini
  • Ikut merasakan/menikmati beberapa job blogger yang tentu saja sangat bermanfaat. Tidak hanya untuk mengasah kemampuan, tetapi juga mendapatkan penghasilan dari usaha me-monetize blog dan memberdayakan media sosial, baik itu fb, twitter dan juga instagram melalui serangkaian campaign.
Kamu ngaku blogger dan belum bergabung dalam Blogger Perempuan Network? Nggak takut menyesal nanti?

22 November 2018

Coretan Bunda; Diary Digital Seorang Ibu

November 22, 2018 1 Comments
Shakespeare bisa saja bilang, apalah arti sebuah nama? Bunga mawar akan tetap harum, meski diberi nama lain. Tapi tidak buat saya. Nama itu penting.

Ia bukan hanya deretan huruf, jejeran kata. Nama bisa menjadi pembeda satu sama lain. Bahkan dalam namapun, terkadang terkandung harapan atau doa. Tidak hanya digunakan untuk  melabeli seorang  individu, namapun bisa digunakan untuk sebuah gagasan, ide. Termasuk blog.

Pertama lahir di tahun 2007, blog ini bernama Raka-Adhi. Iya, nama anak saya. Saat itu, saya memang tidak membayangkan kalau jadinya blog ini dan dunia perbloggingan akan se warna-warni seperti sekarang. 

Kala itu, seorang bayi bernama Raka lah yang menjadi center of universe saya, hingga kemudian nama itulah yang saya pakai. Saya isi blog pas ada waktu senggang ngerjain kerjaan kantor. Make komputer+jaringan internet punya kantor juga. Hi..hi, hasil korupsi waktu😊😊 Kadang saya nulis blog pas lagi suntuk, ya gitu...mirip diary. Nggak pernah terlintas tentang traffict, DA/PA apalagi. Jadi bener-bener ditulis sendiri, dibaca sendiri. Ha..ha...

Pengennya suatu saat kalau anak saya Raka sudah besar, dialah yang menemukan tulisan ibunya di mesin pencari. Targetnya dulu itu.  Tengok saja postingan-postingan awal yang sengaja saya pertahankan. Kadang sekedar foto, postingan-postingan yang rasanya memang hanya berguna untuk saya, dan tanpa ada manfaatnya untuk orang lain.

Kalau nggak percaya buka aja tulisan jadul Raka Pas Masih 9 bulan dan I Hate Monday  Begitulah gaya tulisan 10 tahunan yang lalu..😁😁😁


Dari Raka-adhi.blogspot.com, ditahun 2016 saya beli domain, dan kemudian menggunakan nama CoretanBunda. Nama blognya emak-emak banget ya? Lha memang iya. Blog ini memang lahir saat yang nulis statusnya sudah menjadi ibu.

Mau bertahan dengan nama lama, 'Raka-adhi' nanti dikira saya blogger laki-laki. Mau menggunakan kata 'catatan'  nanti kesannya kayak orang sekolah, nyatat...serius. Akhirnya fixed, menggunakan kata 'coretan' yang kesannya lebih bebas.

Dengan nama/label  CoretanBunda, saya ngerasa sah-sah saja kalau kemudian postingannya menjadi sedemikian random. Karena dalam dunia nyatapun, seorang perempuan yang sudah berstatus ibu, bunda, apapun sebutannya, identik dengan hal-hal yang multitasking kan?

21 November 2018

Membaca blog Travelling; Bisa Plesiran Sambil Ngemil Mendoan

November 21, 2018 3 Comments

Halah, ini pagi-pagi udah ngomongin makanan/mendoan😊😊

Jadi,  pernah saya ngobrol dengan salah satu gurunya Alya, trus saya ditanya, "Bedanya blog sama situs-situs berita macam detik, krjogja, liputan 6 dsb itu gimana?"

"Ya, beda...wong tujuan pendiriannya juga beda. Klo blog, rata-rata isi dan bahasanya lebih personal ust (ustadzah maksudnya). Kayaknya yang paling kelihatan pembedanya itu"

Eh..bener nggak sih, jawaban yang saya berikan? Tolong dibenerin klo misalnya saya salah ya.

Tapi yang jelas, ketika kita mengetikkan kata kunci pada sebuah mesin pencari --google misalnya --maka yang kemudian muncul adalah deretan informasi yang relevan. Dari yang paling nyambung dengan apa yang kita cari, sampai yang statusnya agak nyambung, berlembar-lembar, dan kita tinggal milih. 

Sumbernyapun bermacam-macam, dari situs yang sudah terkenal, sampai yang popularitasnya biasa saja. 

Tapi jangan salah, meski kadang statusnya 'biasa saja', bukan hal mustahil kita malah justru mendapatkan banyak info yang kita cari dari tulisan tulisan tersebut. 

Kalau saya pribadi, ketika memposisikan sebagai pembaca, untuk beberapa kasus --terutama yang menyangkut parenting, kehidupan sehari-hari, ataupun traveling-kuliner lebih suka mengambil informasi dari blog pribadi dengan alasan:
  • Bahasa yang digunakan lebih mengalir, dengan gaya tulisan  yang rata-rata bersifat deskriptif atau pemaparan yang sifatnya story telling. Jadi meskipun tulisannya panjang, tapi tidak membosankan. Tidak membuat ngantuk saat dibaca...bahkan kadang bisa senyum-senyum atau cekikikan sendiri😊😊
  • Rata-rata yang ditulis para blogger di situs pribadi mereka adalah sesuatu yang pernah mereka coba, pernah rasakan, atau mereka praktekkan. Jadi secara emosional feelnya lebih dapat. Mereka ngerti, mereka tahu karena mereka sudah mencoba. Dan itu lebih terpercaya dibanding tulisan advetorial di surat kabar 

Lalu, kalau ada pertanyaan lanjutan, diantara sekian banyak konten yang disajikan blog saya milih mana? Saya lebih suka membaca blog dengan konten Traveling, alias jalan-jalan. Alasannya sederhana. Karena sekarang saya banyak di rumah😂😂


Dengan membaca konten-konten traveling, meski fisik saya di rumah, duduk diam di sofa sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa potong tempe mendoan misalnya, tapi fikiran saya bisa jalan-jalan.

Keuntungan yang saya dapatkan adalah saya bisa melihat hal-hal baru di luar sana melalui karya tulisan.  Saya belajar merasakan apa yang dilukiskan oleh sang penulis, dan berharap suatu saat bisa merasakannya langsung.

Meski terlihat sederhana, aktivitas itu buat saya menyenangkan. Saya sepakat kok, pekerjaan rumahan itu tingkat kejenuhannya tinggi. Makanya butuh selingan, ya mbaca blog-blog traveling itu misalnya. Kalau saya. Beda orang, bisa jadi beda kebutuhan.

Tapi bukan berarti hanya kepada blog konten traveling saja saya berlangganan. Selama temanya menarik, atau kebetulan saya memang lagi butuh informasi tentang suatu hal, ya pasti akan saya baca sampai kelar. Kalau teman-teman, punya tema blog favorit?



20 November 2018

Hidup Berasa Lebih Hidup dengan Menulis di Blog

November 20, 2018 2 Comments
"Sekarang ngapain di rumah...?"

Kelihatannya tidak ada yang aneh dengan pertanyaan tersebut. Tapi itu pernah menjadi pertanyaan yang sangat saya benci, paska saya memutuskan resign dari sebuah kantor media. Tiba-tiba percaya diri saya akan terjun bebas. Apalagi ditanyakan di tengah keluarga besar pak suami yang rata-rata perempuan bekerja di sektor publik.

18 November 2018

17 November 2018

10 November 2018

Menjadi blogger itu...

November 10, 2018 13 Comments

"Punya hobi nulis itu...asyik yo koyone...tapi kok aku ra iso nulis ya..."

Saya ingat, itu komentar salah satu teman saya --anggap saja inisalnya P --tempo hari. Setelah itu pernyataannya berubah menjadi pertanyaan "Kalau nulis di web gitu...dapat honor nggak sih...?"

Well, pertanyaan menarik. 
Menurut saya, pada intinya semua orang itu bisa kok menulis. Cuma bedanya, ada yang menganggap menulis itu sebagai kewajiban sehingga rasanya jadi berat dan cenderung jadi beban, adapula yang melakukan aktivitas menulis itu sebagai sarana untuk melepas beban. Kalau mindset yang dipakai yang kedua, kegiatan menulis menjadi sesuatu yang ringan, dan menyenangkan.

Nulis di buku diary misalnya. Saya jadi ingat salah satu program salah satu radio di Jogja jaman dulu, Greatest memories. Jadi semacam kita curhat via surat yang nulisnya gaya-gaya nulis di buku diary, trus dibacain dengan penghayatan penuh oleh penyiar, diakhiri dengan lagu sesuai pesanan. Program itu sempat jaya banget waktu itu.


Jadi para blogger itu berawal dari para penulis diary?? Ha..ha, bukan gitu juga. Tapi rata-rata kalau saya amati, teman-teman blogger itu tipikal manusia yang suka "membaca" baru kemudian memindahkannya dalam wujud tulisan.

Membaca apapun; karya yang berwujud tulisan maupun membaca situasi.

Bukannya menulis itu memindahkan apa yang kita ingat, kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan ke dalam sebuah susunan kalimat? Kalaupun diawal susunan itu kadang kelihatan kaku, nggak nyaman untuk dibaca, tapi lama-lama, kalau diasah pasti bisa. 


Dan itu berlaku dalam hal atau bidang apapun. Kota Roma dibangun tidak cuma dalam satu hari kan? Orang yang belajar apapun, sejenius apapun ia, tetap butuh latihan dan jam terbang.  Begitu juga dalam hal menuliskan sesuatu; Kalau memang mau menulis, ya...mulai menulis saja, karena semuanya butuh proses. Termasuk saya juga, masih belajar dan harus tetap banyak belajar.

Pertanyaan berikutnya, soal materi. Uang. Selain teman saya berinisal P tadi, mungkin banyak juga yang kepo, nanya-nanya dalam hati "emang nulis di blog gitu ada yang mbayari ya...? Seperti nulis di koran, lantas dimuat, trus dapat imbalan?"

Begini. Kadang kita melakukan sesuatu itu nggak melulu soal uang. Sama seperti kita berbagi sesuatu dengan teman, sahabat, atau orang terdekat. Kita bisa membantu dengan apa yang kita bisa, kita tahu, itu sudah seneng. 

Begitu juga dengan blogger. Kalau kemudian apa yang kami lakukan itu mendapatkan penghargaan berwujud materi berupa rupiah, dollar bahkan, itu lebih sebagai bonus. Karena selain itu, kami juga dapat bonus jejaring pertemanan, dan juga ilmu baru. Kalau nggak ngeblog, mana saya ngerti ilmu-ilmu macam bagaimana mengatur template, membuat tulisan saling nge-link satu dengan yang lain, atau mengubah format dari http ke https.

Seberapa besarnya materipun, itu relatif, nggak seperti PNS yang ada standard menurut golongan atau masa pengabdian. Tapi kalau masih penasaran juga, ketik saja di mesin pencari, "sumber penghasilan blogger" nanti pasti  ngerti dan nggak akan penasaran lagi. 

Satu yang pasti, kalau saya bilang menjadi blogger itu asyik, kayaknya bakal banyak yang meng-Aamin-kan. Kami bisa bekerja kapanpun, dimanapun, dan sambil ngapain aja. Tapi sedihnya, kadang karena sifatnya yang fleksibel itu, kami sering dianggap hanya tukang mainin gadget dan hobi ngabisin kuota data😀😀

Ha....ha, santai aja. Yang penting dinikmati!

9 November 2018

5 November 2018

3 November 2018

Follow Us @soratemplates