28 November 2018

Kemuning, "Kembang" Baru yang Siap Menambah Kecantikan Wisata Gunung Kidul

Hari yang penuh semangat. Untungnya, pagi itu saya tak sendiri. Bersama sekitar 45 rekan media dan juga teman-teman blogger, kami mendapatkan kesempatan untuk melihat geliat pembangunan pada salah satu kampung di Gunung Kidul, yakni Dusun  Kemuning.

Setelah sekitar kurang lebih 1,5 jam di atas kendaraan, membelah aspal hitam yang kaya akan kelokan dan tanjakan, akhirnya, sampai juga kami di KBA-Kemuning. 

Dusun Kemuning sendiri, secara administratif berada di wilayah Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul. Posisinya memang agak tersembunyi, sekitar 30 km arah tenggara Kota Jogja, atau 15 km arah barat kota Wonosari. Untung, semua kendaraan yang kami naiki dalam kondisi prima, hingga  perjalanan terasa menyenangkan. 

Saya menikmati betul panorama alam yang terbentang di depan mata. Meski tampak sedikit meranggas  karena panas, hamparan tanaman jati, kayu putih, dan beberapa jenis tanaman hutan yang lain, nyatanya tetap memukau dan mampu membius mata.

Saya lirik penanda waktu di ponsel.  Belum juga genap pukul 09.00 pagi. Matahari memancarkan sinar hangatnya, sehangat sambutan warga Kampung Kemuning. Selembar kain batik, dililitkan ke badan sebagai tanda penghormatan. Percikan air pandan dan daun kemuning, serta selipan dlingo-bengle pada baju yang kami kenakan, merupakan simbolisasi bahwa saya dan teman-teman telah dianggap sebagai layaknya anggota keluarga.

Image oleh anotherorion.com
Kemuning sendiri merupakan nama pohon yang banyak tumbuh karena ditanam oleh sang pendiri kampung, Mbah Roso Wijoyo. Hingga saat ini, keturunan-keturunan Mbah Roso Wijoyolah yang masih setia mendiami wilayah dusun yang berada pada ketinggian 200 meter di atas permukaan laut ini. 

Secara demografis Kampung Kemuning ditinggali 357 warga yang terbagi dalam 113 Kepala Keluarga. Rata-rata dari mereka hidup dari sektor agraris.

Hamparan telaga alami  seluas kurang lebih 1 hektar, dengan kedalaman kurang 3 meter menjadi salah satu potensi yang dimiliki Kampung Kemuning. Saat ini, disamping digunakan sebagai tempat wisata masyarakat sekitar, telaga juga difungsikan sebagai tempat pembudidayaan ikan tawar atau pemancingan. 

Meski begitu, sebuah rencana menarik tengah digagas warga. Menurut Kepala Dusun Kemuning, Suhardi, untuk kedepannya di area danau ini akan dikembangkan sebagai kawasan wisata kuliner, dengan format Kampung Apung. 
 
Telaga-Kemuning
Image oleh www.healthymomy.com
Tekad yang besar menjadi pemantik semangat bagi warga Kampung Kemuning. Seolah tak mau tinggal diam, kampung ini terus bergerak maju demi menggali potensi diri, namun tanpa melupakan tradisi.


Kalau bukan yang muda, siapa lagi yang akan melestarikan tradisi dan budaya bangsa kita?

Keinginan masyarakat untuk maju dan berkembang mendapat  tanggapan dengan terpilihnya Kampung Kemuning sebagai satu diantara 77  Kampung Berseri Astra. Semenjak 2016, kampung ini mendapatkan pendampingan dari Astra sebagai bentuk Corporate Sosial Responsibility (CSR) dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia demi terwujudnya masyarakat yang sehat, cerdas, dan produktif. Terjalinnya sinergi dari empat pilar penting kehidupan yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan menjadi target utama pelaksanaan program ini.

Dua tahun berjalan, dan nyatanya hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Di bidang pendidikan, sebuah gedung PAUD telah dimiliki dan sudah digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar setiap hari. Selain itu, Astra juga membantu meningkatkan tingkat pendidikan warga melalui program  beasiswa, bagi siswa tingkat SD sampai SMA

Jangan heran pula seandainya ibu-ibu di Kampung Kemuning, kini telah menjelma menjadi ibu-ibu yang makin kreatif. Singkong dan pisang sebagai hasil utama ladang dan tanah pekarangan berhasil mereka  kreasikan menjadi olahan yang semakin berkelas. Tentunya dengan nilai ekonomis yang semakin tinggi. 

Diversifikasi olahan makanan berbahan dasar hasil ladang dan juga tanah pekarangan KBA Kemuning

Kalau di beberapa wilayah sampah  masih menjadi masalah, hal itu tak lagi berlaku bagi kampung Kemuning.  Dengan sistem bank sampah dan menggunakan generasi muda sebagai penggerak utama, kampung ini selangkah lebih maju dalam hal pengelolaan sampah. Bahkan dana hasil dari penyortiran dan penjualan sampah ke pengepul, bisa dialokasikan guna peningkatan gizi warga melalui kegiatan posyandu dan poslansia.

Telaga, tradisi, kearifan budaya serta aktivitas masyarakat  menjadi kekayaan dan keunikan tersendiri yang dimiliki Kampung Kemuning. Potensi-potensi itulah yang mesti dikembangkan, termasuk "menarik" berbagai potensi tadi ke ranah wisata. 

Tinggal menunggu waktu yang tepat bagi Kampung Kemuning untuk selesai bersolek. Akan ada saatnya, ia berjalan beriringan dengan beberapa desa wisata yang lain, seperti misalnya Desa Bleberan dengan air terjun Sri Gethuk atau Bobung yang telah terlebih dulu tersohor dengan kerajinan topeng kayunya. Semoga


Peserta Road to KBA-Kemuning


Artikel ini diikutsertakan dalam Anugrah Pewarta Astra 2018

5 komentar:

  1. Waw, kampung Kemuning keren ya
    Semoga suatu hari aku bisa ke sini
    Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba...semoga bisa melihat Kampung Kemuning dari dekat juga yaa

      Hapus
  2. Bisa jadi destinasi alternatif ketika piknik ke Gunung Kidul, nih. Ketika Gunung Kidul (mungkin) identik dengan kecantikan pantainya, Dusun Kemuning hadir dengan atmosfer baru yang menawarkan suasana khas pedesaan dan telaganya.

    Sukses untuk lombanya, Mbak Sulis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, bener. Desa wisata...
      Makasih ya, udah mampir di sini

      Hapus
  3. Wah... Seru bgt ya sepertinya.. Sayang aku ga bisa ikut waktu itu..menginspirasi mb..

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin