10 Agustus 2018


Siapapun tahu, hadirnya Trans Studio Bandung di pertengahan Juni 2011 lalu, menambah semarak dan memperkaya pilihan  destinasi wisata di Kota Bandung.  Sebagai kawasan hiburan terluas dan terlengkap, dengan beragam wahana yang menawarkan petualangan dan sensasi baru dan menantang, wajar kalau kemudian Trans Studio Bandung langsung mendapatkan gelar sebagai primadona hingga banyak didatangi wisatawan domestik maupun mancanegara.

25 Juli 2018



Yang sudah bersatus ibu-ibu, pasti ngerti banget rasanya klo anak ada yang sakit. Apalagi kalau masih bayi atau balita... Ya, soalnya kalo masih imut gitu, mereka ngrasain sakitnya aja masih bingung, nggak bisa cerita, dan akhir-akhirnya cuma rewel, nangis, gendongan..akh..

Itu salah satu alasan kenapa saya pro banget BKKBN, dua anak cukup✌ 

Nah..saat paling susah itu, saat sudah sakit..bawa ke dokter, minumin obatnya juga susah. Malah kadang, habis diminumin obat malah muntah karena minumnya sambil nangis kejer. Sedih banget klo sudah begitu..

Meski masalah itu sekarang sudah lewat, tapi bukan tidak mungkin masih banyak ibu-ibu lain yang mengalami masalah serupa. Dan bisa jadi, yang saya tulis ini berguna. Jadi misalnya, anak-anak (atau bahkan orang dewasa) kesulitan saat menelan obat yang rata-rata rasanya pahit, akali dengan cara berikut ini:

1. Ubah bentuk obat
Paling gampang adalah dengan mengubahnya menjadi serbuk atau puyer. Biasanya apoteker akan melakukan ini untuk obat-obatan khusus anak-anak. Eh...tapi, untuk orang tua saya pernah nemu obat yang ukurannya besar banget. Setiap saya minum dengan cara digelontor pakai air putih..lha kok air putihnya saja yang tertelan, obatnya masih ketinggal di mulut. Satu-satunya cara ya di perkecil dulu ukurannya sebelum dimasukkan mulut.

2. Gunakan pipet sebagai alat bantu
Memasukkan obat-obatan yang berbentuk cair/sirup/puyer yang sudah dilarutkan bukan perkara mudah, terlebih untuk anak-anak yang sudah "anti" duluan saat hendak diberikan obat. Cara yang lumayan efektif, adalah menggunan pipet (bisa dibeli di apotek). Saat mulut anak terbuka, masukkan pipet di bawah lidah. Bisa dipastikan obat akan masuk tubuh/tidak dimuntahkan kembali.

3. Gunakan Larutan manis
Rata-rata yang membuat anak-anak ogah minum obat adalah rasa obat itu nggak enak. Hampir semuanya mengandung unsur rasa pahit, meski levelnya beda-beda. Nah, untuk anak yang trauma dengan rasa pahit, saat memberikan obat, campurkan saja dengan larutan manis yang memang bisa digunakan untuk mengubah obat-obatan yang berbentuk puyer menjadi bentuk sirup. 

Biasanya, saat anak-anak sakit..dokter anak akan meresepkan ini dan langsung nanya ke anak, "mau rasa apa..jeruk, stroberi..?" Atau kadang, klo pas stok di apotek RS  nya kosong, ya kami mbeli sendiri di apotek.
Nah..klo sudah pakai larutan manis ini, jarang ada drama pas anak-anak mesti minum obat. 

Namanya sakit, obat, semuanya juga pengen menjauh. Paling nikmat itu ya sehat semuanya. Nggak anak-anak, orang tuanya pun juga. Semoga kita senantiasa sehat ya!


13 Juli 2018



Mm..diantara banyak kegiatan pengisi waktu senggang, salah satu  yang saya suka membaca. Nah..masalahnya, waktu senggang itu kok sepertinya datang semakin jarang. Kadang kalaupun ada waktu, ...la kok jatuhnya pegang hp, scroll medsos..eh, tau-tau waktu nyantai-nyantainya habis.

 *Salahnya siapa coba??๐Ÿ˜€

Diantara semua bahan bacaan, paling betah saat baca cerita fiksi. Enteng, itu alasan utamanya. Kalau waktunya bisa dan alurnya menarik, satu novelpun bisa saya  lalap dalam satu sesi, kayak misalnya novel  Single Happy atau Supernova.

Tapi kalau bacaan non-fiksi, sukanya yang berdasar kisah nyata. 


Makanya, thanks banget untuk mba Antung Apriana yang sudah menulis dengan apik review buku Athirah; sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata. Athirah sendiri adalah nama dari ibunda dari wakil presiden RI saat ini, Jusuf Kalla. Tentunya, banyak pesan positif yang tersurat maupun tersirat dalam novel tersebut. 

Ngomongin soal buku, adakah buku yang tengah saya baca saat ini? Kebetulan ada, tapi udah berhari-hari nggak kelar-kelar๐Ÿ˜€ Ya itu tadi masalahnya, kalah sama  medsos..wkk..

Judul bukunya, Home Sweet Anywhere, karangannya Lynn Martin. Udah terjemahan kok, jadi aman buat yang kemampuan bahasa asingnya mepet kayak saya. ๐Ÿ˜Š Mirip sama Athirah, inipun termasuk buku non-fiksi alias kisah nyatanya sang penulis, Lynn dan Tim, suaminya. 

Lynn & Tim, traveller yang berjiwa muda

Kalau Athirah berkisah tentang perjuangan seorang perempuan yang mesti survive saat ditinggal sang suami untuk menikah lagi, maka dalam Home Sweet Anywhere Lynn mengisahkan cara ia dan suaminya dalam menjalani masa tua.

Sudah memikirkan apa yang akan dilakukan saat masa pensiun datang? Menurut pengamatan saya, seandainya masa pensiun tiba, rata-rata yang ingin dilakukan kemudian adalah menikmati masa tua dengan di rumah, menekuni hobi, banyak istirahat, atau memperbanyak ibadah sebagai bekal di kehidupan berikutnya. 

Tapi Lynn, seorang wanita berkewarganegaraan Amerika  ini berbeda. Ketika suaminya Guy meninggal, kemudian ia menikah dengan mantannya Tim Martin. Saat itu mereka melihat anak-anak mereka sudah terlihat mapan dan mandiri. Ada obsesi yang belum mereka lakukan.   Lynn dan Tim kemudian membuat keputusan mengejutkan. Mereka mempunyai cara yang bisa dibilang antimainstream dalam menikmati masa tua.

Tim adalah seorang penulis lirik dan juga seorang penulis novel. Sementara Lynn adalah pekerja media. Dasarnya mereka hobi travelling. Di tahun 2010, Di usia yang tak lagi muda, pasangan ini kemudian memutuskan untuk menikmati hidup dengan menjual rumah, dan kemudian menjelajah belahan dunia. 

Lynne (73 tahun) dan Tim (68) tahun kala itu. Uang dari penjualan rumah, mereka investasikan dan digunakan sebagai sumber dana bagi perjalanan mereka mengelilingi berbagai belahan dunia seperti Meksiko, Argentina, Turki, Prancis, Italia, Inggris, Irlandia, Maroko, Portugal, dan Jerman.

Yang menarik dari buku ini adalah, bagaimana Lynn mengisahkan perjalanan panjang yang mereka lalui secara detail.  Hal-hal baru yang mereka temui saat menjadi pengelana, suka duka berpindah dari satu apartemen ke apartemen berikutnya, termasuk bagaimana kakek dan nenek ini mesti sering-sering beradaptasi dengan masyarakat, tetangga dengan kultur yang berbeda.

Selain menuliskan kisah perjalanannya dalam jurnal Wall Street Jurnal, Lynn juga menuliskan pengalamnya ini melalui blog pribadi yang ia tulis di homefreeadventure.com. Kisah Lynn dan Tim yang awalnya terlihat nekad itu, ternyata menginspirasi banyak kalangan. 

Mau menikmati masa tua Seperti Lynn dan Tim? Mau! Itu kalau yang dikasih pertanyaan saya. Tapi tentu saja tidak se ekstreem mereka yang rela melepaskan rumah, dan kemudian hidup nomaden dari satu tempat ke tempat lainnya. Yang pasti, cara mereka menikmati masa tua sepertinya menantang dan menyenangkan. 

Judul: Home Sweet Anywhere
Penulis: Lynne Martin
Penerjemah: Endang Sulistyowati
Editor: Nunung Wiyati
Penyelia: Chaerul Arif
Genre: Traveling 
Penerbit: Alvabet 
Cetakan: I, September 2014 
Ukuran: 13 cm x 20 cm 
Tebal: 456 hal; ISBN: 978-602-9193-53-4