30 Desember 2018

Buah Hati Kena Tungau? Coba Cara Ini!

Desember 30, 2018 1 Comments
Kecil, tapi ngeselin. Itulah tungau atau kami biasa menyebutnya tengu. Binatang berwarna merah ini, meskipun berukuran kecil, tapi kalau sudah berulah, sering mbikin salah tingkah. Mau digaruk malu...tapi kalau nggak digaruk kok gatel banget.

Jaman kecil, saya ingat beberapa kali ketek saya dipakai buat 'rumah' si mungil ini. Kadang ketek, kadang di puser. Selain bentol dan berwarna  merah,  gatelnya minta ampun. Pas kecil saya hobi maen sama kakak, blusukan ke kebun, sawah, nyolong tebu aja udah pernah. 

Nah, sekarang jadi ibu, punya anak cowok...udah nggak kaget lagi saat tiba-tiba ngeluh gatel, trus setelah dicek ternyata ada bentol, dan setelah diteliti lebih seksama ternyata ada titik merah keciiiil. Itulah tungau! Kalau di tempat saya, lebih familier dipanggil tengu.

Nggak  kehitung lagi sudah berapa kali Raka terjangkiti binatang super mungil itu.  Pernah diketek, dan paling sering di bagian "burung". Ya memang anaknya dari kecil kinestetis, jarang diam. Kalau pas main di luar, ya sering banget njelajahin kebun. Dan payahnya, di musim penghujan itu memang kayaknya musim tengu untuk berkembang biak, jadi banyak dan sering pengen maen ke bagian tubuh manusia.

Tanda-Tanda Terkena Gigitan Tungau


"Bar dolan no ngendi koe Le...lha iki keno tengu kok"  (Habis main dari mana kamu Nak, ini kan kena tengu gini kok) Kata Dokter bpjs waktu itu sambil tersenyum, ketika saya antar Raka periksa ke dokter.

Keluhannya waktu itu tiba-tiba "burung Raka" bengkak dan mengeluh gatal. Disweeping pak suami nggak nemu apa-apa, dan akhirnya dibawa ke dokter. Setelah itu baru ngerti..oh, ternyata kalau sudah masuk jaringan kulit, tengu ini nyaris tak terlihat. 

Tanda paling umum adalah bentol kecil, dengan area sekitarnya berwarna kemerahan. Kalo sudah menclok di "burung" biasanya ini yang bikin panik karena akan mengubah bentuk menjadi besar, gatal pula. 

Awalnya pas belum tahu, sebagai orang tua ya kami panik. Tapi setelah kasus pertama kali ke dokter itu, akhirnya kami hapal. Langkah-langkah yang bisa diambil saat bagian tubuh kita/buah hati terkena tengu adalah:
  • Kalau masih bisa, ambil tengunya. Kadang bisa kalau posisi tengu belum begitu masuk ke dalam jaringan kulit. Bisa "dicongkel" dengan kuku, di "suru"/di dorong dengan sobekan daun pisang, atau minta bantuan lakban. Gunakan lakban yang mempunyai daya perekat kuat, tempelkan pada area yang diduga sebagai tempat menempelnya tengu, dan tarik dengan cepat. Biasanya tengu akan ikut menempel pada lakban.
  • Kalau si tengu tetap bandel tak mau berpindah, olesi dengan minyak tanah. Ini cara kuno, tapi beneran manjur. Biasanya tidak sampai satu hari, tengu akan mati dengan sendirinya, area yang awalnya bengkak akan mengempis dan gatal perlahan hilang. Sayangnya, sekarang cukup susah untuk mendapatkan minyak tanah.
  • Gunakan minyak tawon. Caranya masih sama, minyak dioleskan pada area yang disinyalir sebagai tempat mangkalnya tengu. Pernah nyoba cara ini gara-gara nggak punya stok minyak tanah, dan bengkak hilang dihari ke dua (3x pengolesan dengan minyak tawon)
  • Bawa ke dokter. Biasanya dokter akan meresepkan salep-salep antibiotika.
Sebenarnya ada beberapa cara lagi yang katanya efektif, tapi saya belum pernah mencobanya, misalnya dengan mengolesi area yang gatal dengan parutan bawang merah, "meracuni" tengu dengan remasan daun sirih, dan juga mengolesnya dengan minyak kayu putih. 

26 Desember 2018

Belajar Menjadi Content Creator Bersama Sahabat Keluarga Kemdikbud

Desember 26, 2018 9 Comments

"Didiklah anak sesuai dengan era nya. Anak-anak tidak harus dijauhkan dari media elektronik seperti tv maupun gadget, karena alat-alat tersebut bisa menjadi media pembelajaran untuk anak-anak". 

Quote bijak ini saya dapatkan dari seorang Heri Hendrayana, atau biasa kita mengenalnya sebagai Gol A Gong salah satu pemateri dalam Workshop Content Creator Sahabat Keluarga Kemendikbud, yang digelar 18-20 Desember lalu, di Jayakarta Hotel, Yogyakarta.

Ok, saya akan menerapkan itu dalam mendidik anak-anak. Bukan jamannya lagi mengucap, "Jamannya Ibu dulu ...bla...bla.." karena faktanya, kondisi memang sudah jauh berbeda.

Selain workshop Content Creator, adapula Workshop Evaluasi Program Pendidikan Keluarga 2018, yang keduanya dibuka langsung oleh Dr. Sukiman selaku Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal PAUD Dan Pendidikan Masyarakat, Kementrian Pendidkan Dan Kebudayaan.

Workshop Evaluasi Program Pendidikan Keluarga 2018 sendiri dihadiri jajaran dinas pendidikan seluruh Indonesia, sementara workshop Content Creator diikuti beberapa Emak dan beberapa Bapak blogger Jogja, Solo dan beberapa daerah lainnya. Beruntung, karena saya termasuk salah satu di dalamnya.

Kenapa blogger?  Karena diharapkan nantinya para blogger inilah yang mampu membuat konten konten positif, entah itu dalam bentuk tulisan maupun video atau gabungan dari keduanya, yang mendukung pelibatan keluarga dalam pendidikan melalui  laman Sahabat Keluarga.

Meski di sessi opening 2 acara digabungkan dalam satu ruangan, namun di hari kedua dua acara yang memang berbeda segmen dan tujuan itupun dilakukan di ruangan terpisah. Yup! Selanjutnya waktu bagi para blogger untuk belajar menjadi Content Creator yang berkualitas.

Belajar Menulis Esai Bersama Gol A Gong

Kalau biasanya hanya melihat namanya di sampul buku, Yeyy..bisa ketemu.

Gol A Gong adalah nama pena dari Heri Hendrayana Harris. Sebuah kecelakaan di masa kecil, membuat ia kehilangan sebelah tangannya. Namun, itu tak lantas membuatnya berhenti dan berdiam merenungi nasib. "Kamu harus banyak membaca dan kamu akan menjadi seseorang dan lupa bahwa diri kamu tidak sempurna" Nasehat dari orangtuanya itulah yang menjadi pelecut semangat, hingga ia bisa seperti sekarang.

Di kancah sastra Indonesia, nama besar Gol A Gong tentu tak diragukan lagi. Ia  dikenal sebagai pendiri  rumah dunia; sebuah madrasah kebudayaan yang bergiat dalam bidang jurnalistik, sastra, film, teater, musik dan menggambar yang berlokasi di Serang, Banten.  Sampai ini, sudah 125 buku ia tulis, termasuk Balada si Roy. Belum termasuk tulisan-tulisan lainnya yang tersebar di banyak media.

Bertemu dan kemudian diberi waktu untuk belajar menulis bersama seorang tokoh sekaliber Gol A Gong, tentu merupakan kesempatan yang nggak boleh saya sia-siakan. Selama dua hari, kami belajar untuk menulis esai.

image : Fuji Rahman Nugroho

Jangan takut menulis esai, karena esai adalah wujud kepedulian kita terhadap lingkungan. Virus itu disebarkan Gol A Gong kepada semua peserta. 

Asyiknya, Gol A Gong mengemas materi kepenulisan ini dalam wadah yang menarik; melalui beberapa games dan juga praktek turun langsung ke lapangan. Sebelum
 ke lapangan, tentunya kami dibekali dasar-dasar ilmu terlebih dahulu, seperti misalnya:
  • Definisi esai itu tak perlu dihafalkan, cukup dimengerti. Bahwa pada dasarnya esai layaknya rasa pada sebuah karya kuliner; kaya akan subyektifitas, dan banyak kebebasan di dalamnya. Tentu saja, bebas yang bertanggung jawab.
  • Esai merupakan bentuk opini tertulis, dan merupakan satu jenis tulisan dalam jurnalistik yang termasuk dalam ranah kepenulisan kreatif (creative writing).

Secara mudah esai didefinisikan sebagai opini yang dituliskan dengan gaya sastra, dimana ada  permasalahan yang diangkat dan juga solusi yang ditawarkan oleh penulis. Agar nyaman untuk dibaca, setidaknya ada beberapa langkah yang harus dilakukan
  1. Melakukan persiapan, dan ini bisa dilakukan melalui serangkaian riset di lapangan dan juga dilengkapi riset pustaka. Kata kuncinya, kita mesti peka dengan apa yang terjadi di sekitar; banyak tempat yang bisa digunakan untuk mendapatkan ide tulisan. Kuncinya,  tajamkan indra, dan jangan lupakan 5W + 1 H
  2. Proses menulis. Bagaimana mengubah data yang sudah kita punya menjadi tulisan menarik dan juga enak dibaca. Banyak yang harus diingat, misalnya kita dianjurkan untuk membuat outline agar tulisan kita terarah, menggunakan bahasa yang sesuai dengan audience/target pembaca, dan tak lupa pula pilih judul yang menarik.
  3. Revisi, karena pada intinya tidak ada karya yang sukses tanpa melewati tahap revisi.

Sebagai penutup di sessi ini, saya dan teman-teman yang sudah dibagi dalam beberapa "keluarga" kecil di minta untuk melakukan riset sederhana dengan mengunjungi pusat perbelanjaan terdekat/transmart; mencoba untuk menemukan fenomena sosial yang menarik untuk dituangkan dalam ide tulisan yang berbentuk esai.


Lebih tahu tentang Proses Pembuatan Video


Konten yang menarik, kadang tidak cukup kalau hanya berisi tulisan dan juga foto sebagai pelengkap. Adakalanya, hasil karya video juga dibutuhkan untuk mendapatkan karya yang sempurna. 

Menonton sebuah karya film/video sih gampang. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya proses yang dilalui untuk mendapatkan sebuah tayangan yang "layak tonton" itu prosesnya cukup panjang. Masih dalam event yang sama, Muhammad Iqbal salah satu sineas muda dari Film Maker Muslim berkenan hadir sebagai mentor, dan berbagi ilmu dengan kami, para blogger.

Mas Iqbal mengawali penjelasannya siang itu dengan berbagai hal-hal teknis yang terkait dengan pembuatan video/film, seperti misalnya  teknik-teknik pengambilan gambar, tahapan-tahapan dalam pembuatan film, kru yang terlibat, plus jobdesknya masing-masing. Ah.. hari itu kami berasa jadi mahasiswa jurusan broadcasting 😀 

Tak hanya itu, karena kamipun juga diberi kesempatan nonton bareng film pendek besutan Film Maker Muslim, Cinta Subuh.

Kamu sudah nonton belum?Kalau belum, tonton gih di Youtube! Keren lho pesannya!

Image: Fuji Rahman Nugroho


Image: koleksi pribadi
Dengan Breksi sebagai latar belakang, kita ditantang untuk memmbuat video dengan tema Bebas berdurasi 60 detik

Teori doang? Nggak lah. Secara berkelompok, saya dan teman-teman blogger juga diberi challenge untuk membuat video pendek berdurasi 1 menit, dengan mengambil Tebing Breksi sebagai setting lokasi. Temanya: Bebas. Tahapan pra-produksi-pasca produksi diserahkan sepenuhnya kepada anggota team. 



Setelah semua karya terkumpul, tentu saja hasil karya kami dievaluasi. Banyak kekurangan pastinya, seperti gambar yang masih goyang, suara noise yang belum bisa keredam, dan juga editing yang belum rapi. Namanya juga belajar. Yang pasti, setelah ini harapannya kami bisa berkarya lebih baik lagi.


Kesempatan ngumpul di dunia nyata, setelah sebelumnya banyak bertegursapa di dunia maya . image: Fuji Rahman Nugroho




19 Desember 2018

Target Blogging 2019

Desember 19, 2018 7 Comments
Hidup tanpa target itu menurut saya seperti berjalan, tapi tanpa tujuan pasti. Setiap hari, saya punya target meskipun sederhana.

Buat saya target berguna agar saya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Misalnya dalam aktivitas sehari-hari, biasanya saya pasang target hari ini mo ngapain aja, setelah rumah beres trus leyeh-leyeh, ya terserah saja. 

Dalam dunia blogging, tahun depan berarti saya memasuki tahun ke 4 saya belajar untuk serius menjadi blogger. Memang masih balita kalau ukuran manusia. Indil-indil kalau orang bilang, dan saya memang masih kudu banyak belajar. Iya, belajar sambil jalan.

Ada target? Harus ada. Saya pasang target standard, karena memang masih banyak yang harus saya lakukan di luar dunia nge-blog. Ada anak-anak yang masih butuh perhatian ekstra dari ibunya, itu  yang nggak boleh saya lupakan.

Target 1, sebisa mungkin 2 blog yang saya kelola berjalan beriringan. Mungkin ada yang belum tahu (sekalian nebeng promo), selain di blog ini, ada juga blog dolanjajan.com yang juga butuh saya perhatikan. Karena berniche, jadi memang kesannya blog tadi jarang terupdate. Ya memag tidak mudah, tapi bisa diusahakan. 

Target 2, Banyak membaca
Kunci dari lancar menulis itu, ya banyak membaca. Sebenarnya saya tahu resep itu. Tapi dalam prakteknya, saya merasa kurang waktu untuk bisa banyak membaca. Sepertinya saya harus belajar managemen waktu.

Target ke 3. Pertahankan, atau sebisa mungkin tingkatkan!
Ini terkait dengan hal-hal bermanfaat yang datang bersamaan dengan aktivitas blogging. Dengan blogging sebenarnya saya belajar banyak hal-hal baru, menjalin relasi pertemanan dengan semakin banyak orang, dan juga pintu-pintu rejeki yang datangnya tidak diduga.

Tidak muluk kok. Yang penting saya menjalaninya dengan senang, dan saya bilang, blogging ini bagian dari hobi. Jadi ya, memang saya akan menikmati ini. Welcome 2019!

18 Desember 2018

5 Situs Favorit

Desember 18, 2018 2 Comments
Tempo hari, secara tak sengaja saya dan teman-teman blogger tergiring ke sebuah obrolan ringan. Rasan-rasan sebenarnya, tentang hilangnya banyak media yang dulunya berwujud majalah dan juga tabloid. 

Dulu rata-rata kami mengalami remaja di era jaya-jayanya majalah Hai, Aneka, Anita, Annida, dan sekarang semua sudah hilang di pasaran. Dari sekian banyak majalah anak-anak: Gatotkaca, Ananda, Kuncung, hanya Bobo satu-satunya yang bisa bertahan sampai sekarang. Tabloid pun demikian. Dulu kami mengenal tabloid Bintang, Nakita, Saji, yang sekarang nggak tau lagi entah dimana.

Semuanya tergeser oleh kekuatan media digital. Media cetak yang sempat begitu digemari, pelan tapi pasti kian redup..kalah pamor dengan situs-situs berakhiran dot kom.

Karena kini hampir  semua informasi bisa dijelajahi dengan jari. Terlepas dari segala kelemahannya, tapi situs online memang menawarkan banyak kepraktisan. 

Satu, bisa diakses secara murah. Ibaratnya, hanya dengan modal kuota data atau bahkan wifi gratisan, kita bebas menjelajah ke puluhan atau  situs favorit, dalam satu waktu.

Kedua, tidak terikat lokasi maupun waktu. Kuncinya, cuma selama di area tersedia jaringan/koneksi internet...beres! 

Menjelajah dunia maya, kini menjadi makanan sehari-hari masyarakat milenial. Tak mau kalah, diantara banyak petualangan di dunia maya, ada beberapa alamat situs yang seakan sudah langganan untuk saya ketikkan pada browser di ponsel saya, dan mereka adalah

Mojok.co
Meskipun tidak mengikuti semua artikel-artikel yang tayang, tapi saya betah kalau sudah "main" di situs ini. Di mojok, saya menemukan banyak artikel dengan tema-tema update,  yang disajikan dengan bahasa yang membumi dan mudah dipahami.

Kedaulatan Rakyat Online
Hampir semua orang Jogja langsung ngeh ketika ada yang menyebut Kedaulatan Rakyat. Biasa disingkat sebagai Ka-Er, inilah media cetak yang pernah merajai Jogja, tentu saja dengan oplah terbesar. Kini meski versi cetaknya masih terbit, tapi saya lebih merasa praktis dengan hanya mengunjungi lamannya di krjogja.com. Di sinilah saya biasa mengakses informasi kejadian-kejadian di seputaran Jogja.

Detik online
Ketika di sebuah grup WA misalnya ada seorang teman yang menginformasikan berita-berita terkini namun belum jelas keakuratan sumbernya, misal ada pesawat jatuh, gunung meletus, kecelakaan maut, dan lain sebagainya, maka tempat "lari" pertama untuk melakukan kroscek adalah detik. Sesuai namanya, situs ini menurut saya paling cepat mengupdate data atau berita.

Situs Belanja.
Serius sering jalan-jalan di situs belanja juga? Ha..ha, kadang-kadang iya. Sekedar cuci mata kan biasa. Biasanya iseng-iseng aja, lihat-lihat baju anak-anak lucu, trus masukin keranjang belanja. Masukin keranjang doang, dan langsung close klo udah bosen..😁

Situs Blog Sendiri
Na, biasa saya jalan-jalan ke blog sendiri kalau untuk keperluan 2nd editing. Jadi kadang setelah publish artikel sengaja saya baca ulang untuk menemukan mana kata-kata yang masih typo atau susunan kalimat yang masih rancu. Ya, daripada sepi pengunjung...dikunjungi sendiri, boleh kan ya??

Jalan-jalan di dunia maya itu nggak kalah menyenangkan kok dibanding bertualang di dunia nyata. Kalau kamu, situs mana yang paling sering jadi tempat penjelajahan kamu??

Tempat Belanja Online Favorit

Desember 18, 2018 3 Comments
"Tuh kan jadi malah belanjanya banyak. Ibu tu malesnya belanja gini lho... Udah kita bawanya repot, ketambahan mesti jajanin kamu makanan..."

Seorang ibu setengah baya terlihat berbicara dengan seorang bocah, yang tengah menghabiskan sepiring steak dibatas meja.  Saya tebak anak laki-lakinya, yang berusia sekitar 10 tahunan. Obrolan pada sebuah foodcourt sebuah mall tersebut saya dengar beberapa bulan yang lalu.

Ternyata cerita emak-emak itu tak jauh beda. Bukan sekali atau 2 kali saya  pun begitu. Niat dari rumah, mau belinya kaos untuk anak-anak. Ternyata finishingnya mesti mbeli mainan baru, atau anak-anak ga  mau diajak pulang. Intinya, kadang kita sudah berniat untuk lebih irit, tapi jatuhnya "biaya operasional"nya malah justru membengkak. 

Semenjak saat itu, saya lebih suka melakukan transaksi secara online. Keuntungan yang saya dapat banyak, misalnya tidak perlu biaya transport. Iya sih, saya memang harus mengganti itu dengan biaya kirim, tapi biasanya saya akan mensisati dengan berbelanja di toko online yang masih terletak di pulau Jawa. Asumsinya, ongkos kirimnya tidak terlalu mahal.

Selain itu, saya pasti akan memilih  situs belanja yang sudah mendapat apresiasi positif dari banyak pembeli yang lain. Caranya, baca review maupun ulasan dari pembeli sebelumnya

Selain itu, kita juga haris secara seksama mempelajari  mengenai kebijakan pengembalian barang. Itu terkait dengan salah satu kelemahan sistem belanja online, dimana kita tidak bisa melihat barang secara langsung. Jadi memang harus ada garansi kalau misalnya barang yang kita terima rusak atau cacat.

Baca diskripsi produk dengan jelas. Ini penting banget, terlebih saat kita membeli sesuatu yang ada hubungannya dengan ukuran, maupun material yang digunakan.

Pilih hanya belanja di marketplace terpercaya, dan nggak boleh lupa gunakan cara pembayaran transaksi yang paling aman. Selama ini, ada beberapa situs yang pernah saya/suami pake untuk berbelanja online:
  • Tokopedia ---> kalau dari frekuensi, ini paling sering sepertinya. Biasanya saya bertransaksi untuk keperluan beli baju, jaket, kaos, dan teman-temannya.  Nyarinya random dari banyak toko yang ada, tapi seringnya dari daerah Bandung.
  • BliBli. Belanja di Blibli, biasanya untuk belanja alat-alat dapur. Ya, saya ngerasa banyak alat-alat dapur di Bli-bli yang harga akhirnya jadi lumayan lebih murah.
  • Jd.id. Beberapa kali melakukan transaksi di situs belanja ini, semuanya transaksi untuk pembelian handphone. Ya..jujur, terpengaruh iklan di tv yang katanya, jd id dijamin barang ori😀
  • Lazada. Paling seneng belanja di lazada adalah karena banyak barang yang bisa COD dan bebas biaya ongkir.
  • Sophie. Nah, kalau ini gara-gara iklan tv juga. Menjelang harbolnal, situs belanja ini melakukan promosi massif dengan mengadakan banyak kuis. Iseng pernah ikut, dapat voucher belanja, dan akhirnya dipake berbelanja😀😀

Itu tadi 5 situs belanja online yang menurut saya aman lah untuk berbelanja. Kamu suka berbelanja online juga? Yuk, berbagi pengalaman di kolom komentar!

17 Desember 2018

Percaya kan, Kebahagiaan Itu Sederhana!

Desember 17, 2018 1 Comments

Bahagia. Apa sih??  Perasaan dimana kemudian kita merasa senang, senyum tersungging, dan beban terasa lebih ringan. Kalau saya mendefinisikan seperti itu.  Dan saya percaya, kebahagiaan antar orang perorang itu akan berbeda.

Tempo hari saya ke pasar tradisional. Disana saya melihat banyak orang, banyak profesi, dan bisa jadi beragam latar belakang ekonomi.  Ada nenek penjual jajan pasar, yang sepertinya seneng banget saat ada calon pembeli menghampiri , dan kemudian membeli barang dagangannya. Ada pula ibu muda, yang bahagia saat menemukan seikat bayam dengan harga murah; bisa jadi ada anggota keluarganya yang hobi makan bayam. Keluar pasar, saya ketemu dengan bapak penjaga parkir. 

“Maturnuwun....” Senyumnya terkembang saat saya menyerahkan sekeping uang logam seribuan. Di  pasar, tarif parkir memang masih seribu rupiah. Bapak itu terlihat bahagia.

Nenek yang sumringah ketika melihat kedatangan cucunya. Seorang kakek yang tampak bersemangat bercerita  saat ada yang menanyakaan kondisi kesehatannya. Atau anak-anak yang riang menerima oleh-oleh dari ibunya. Pasti ada kebahagiaan yang terpancar di wajah-wajah mereka. Dan bahagia itu terkadang sederhana. 


Begitupun saya, kadang saya ngerasa bahagia itu nggak selalu identik dengan materi yang berlimpah .  Lima kebahagiaan sederhana, misalnya:

1. Bisa nonton film atau konser musik di tv dari awal sampai selesai.
Ini moment yang lumayan "mahal" buat emak-emak berbocil kayak saya. Rata-rata kebahagiaan "terpotong" karena tv yang kemudian di bajak anak-anak, atau  anak yang duluan ngantuk , trus minta ditemeni bobok.

2. Melihat senyum orang-orang  terdekat.
Ini sepele banget. Misalnya pas saya saya ke rumah orang tua, trus mbawain apa sebagai buah tangan. Nggak seberapa sebenarnya harganya...tapi kok sepertinya bahagia banget. Sama persis kayak anak-anak yang ditinggal lembur ayahnya, trus pulangnya dibawain snack rapat. Gitu aja udah pada seneng.

3. Jajan bakso dan bisa menikmatinya dalam kondisi masih panas. Biasanya, kalau kami serumah jajan, Alya masih minta disuapin. Untungnya belakangan dia sudah mau makan sendiri. Jadi emakpun berasa MERDEKA

4. Di kamar mandi tanpa digedor
Pas lagi di kamar mandi trus digedor pintunya diminta bergegas itu buat saya nyebelin banget. Apalagi biasanya saya mandi juga cepet, trus dapat jatah mandinya belakangan karena mesti beberes duluan.

5. Mbaca Novel sampe kelar.
Ini nyenengin lho. Dan pernah kok saya nyelesain satu novel ratusan halaman dalam jangka satu malam. Pas semua sudah tidur. Ya memang, mengorbankan waktu tidur karena mesti begadang. Tapi itu menyenangkan.

16 Desember 2018

3 Kota 3 Cerita

Desember 16, 2018 1 Comments
Pernah suatu hari saya ngerasa iri  kepengen lebih tepatnya  dengan seorang  teman, yang  domisilinya berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Tahun ini di propinsi A, besok bisa langsung pindahan di propinsi C. Bukan kemauan dia juga sebenarnya, lebih karena pekerjaan sang suami yang sifatnya mobile. Saya mikirnya, enak ya..bisa mendapatkan pengalaman baru, teman baru, mengenal budaya baru. Pokoknya, enaknya saja yang saya pikirkan. 

15 Desember 2018

5 Pengalaman Gokil Waktu Kecil, No 3..Aduh, Bikin Malu!

Desember 15, 2018 1 Comments
Masa kecil bagi banyak orang pasti menjadi moment yang menyimpan banyak kenangan. Oke, saya kecil di era akhir 80an dan awal 90an. Termasuk generasi jadul! Bener banget. Jadi saya ngalami harga bensin masih 750 rupiah perliter, pernah ngeliat acara hits kala itu yakni boneka Unyil, Album Minggu  ini, dan Kelompencapir, dan pernah pula uring-uringan gara-gara film kesayangan gagal tayang karena ada Laporan Khusus acara kepresidenan🙂


Itu saja yang diingat? Tentu saja nggak. Banyaaakk malah...tapi 5 saja ya yang saya ungkap. Malu!😎😎

Satu kutu rambut, 25 rupiah!
Jaman SD rambut saya panjang. Cuma sayangnya...takut klo dicuci rambutnya. Waktu itu belum ada shampo anak-anak yang nggak pedih di mata kayak samponya anak-anak sekarang. Jadi kalau mesti keramas....ada saja caranya menghindar. Bisa ditebak, rambut sayapun kutuan! Nah, ibu saya gemes, orang tau kutuan..tapi takut dibersihkan. Akhirnya ibu ngasih reward ke saya agar rambut mau diilangi kutunya, berupa 25 rupiah setiap kutu yang tertangkap. Hi..hi, enak di saya nggak enak di Ibu kan?

Hujan-hujanan, siapa takut?!
"Nanti masuk angin"..."nanti kepalanya ken borok lho..." Nasehat-nasehat itu sering saya dengar pas kecil. Tapi namanya bocah, entah kenapa saya suka sekali dengan hujan. Kalau hujan turun..sengaja mainan hujan-hujanan sampai basah kuyup. Dingin sih, tapi seru. 

Main di sungai, Ayuk!
Sungai di tahun 90-an itu sangat berbeda dengan sungai sekarang yang banyak mengandung sampah. Karena di pedesaan, air sungai itu masih bersih, dan mandi di sungai itu hal biasa. Karena nggak bisa berenang, biasanya saya cuma main air saja, dan itu sudah nyenengin banget.

Mencuri Batang Tebu
Ngerti pohon tebu kan ya? Di Jogja, ada pabrik gula Madukismo, yang memang sering menyewa lahan-lahan pertanian guna ditanami tebu. Setelah masa panen tiba, tebu-tebu akan ditebang oleh pihak pabrik. Nah, biasanya anak-anak akan ikut memanen tebu, tapi tanpa permisi alias nyolong. Ya..namanya anak-anak, tahu juga salah, tetep aja dilakonin. 

Manjat Pohon Rame-Rame.
Dulu, pohon favorit adalah pohon talok, atau di daerah lain nyebutnya pohon kersen. Cabangnya memang banyak, hingga bentuknya menjadi semakin enak untuk dipanjat. Jam pulang sekolah..adalah jam strategis saya dan teman-teman untuk "berkumpul" di atas pohon. 

Kesimpulannya?? Badung banget perasaan saya pas kecil ya. Ha...ha, yang pentingnya gedenya nggak😀 Kamu sendiri, punya pengalaman berkesan di waktu kecil kan?? Berbagi cerita di kolom komentar yuk!


14 Desember 2018

5 Keinginan yang Belum Tercapai

Desember 14, 2018 1 Comments
🎵🎵Aku ingin begini...aku ingin begitu...ingin ini ingin itu banyak sekali...🎵🎵

Pasti ngerti lah, itu jingle lagunya siapa? Ha...ha, enak ya jadi Nobita. Setiap kepengen apa...bilang ke Doraemon, dan hampir bisa dipastikan permintaannya akan terpenuhi.
Tapi sebenarnya kita pun bisa kok ya seperti Nobita. Klo tokoh kartun itu minta tolongnya ke Doraemon, kita berdoa saja, semoga usahanya dilancarkan, hingga keinginannya terkabul. 

Yuk, lanjut...

Ngomongin keinginan, namanya manusia pasti banyak. Ganti-ganti malah. Kadang yang ini kecapai, lantas pengen yang lain. Ya..namanya juga hidup. Kalau nggak punya keinginan, nggak punya tujuan dan cita-cita malah jadinya aneh.


Seperti Upin-ipin yang pengen jadi astronot, Ihsan yang pengen jadi koki, atau Jarjit yang mau jadi sastrawan, saya pun sebenarnya punya cita-cita, punya keinginan. Ada yang sudah berhasil, ada yang belum. Diantara keinginan yang belum berhasil, 5 diantaranya adalah:

Pengen Dietnya Berhasil. Ha..ha ini mah resolusi abadi, nggak tau kapan ter realisasi. Padahal saya gagal, saya juga penyebabnya. Sering nggak konsisten, gampang tergoda, dan enjoy jadi "ikan sapu-sapu".. kalo di rumah😊😁😁

Pengen Pinter Nulis. Selama ini sih sering nulis, tapi ya ngerasa nulisnya belum bisa dalem. Masih ngambang dan gitu-gitu saja. Miskin data. Ini yang harus dibenahi, dengan banyak belajar, berlatih, dan tentu saja banyak membaca.

Pengen Banyak Waktu Untuk Membaca
Membaca itu sebenarnya hobi saya sejak kecil. Pertamakali ibu membelikan majalah BOBO 2nd di pasar sebagai pengganti oleh-oleh, disitulah saya mulai suka membaca. Sekarang, masih sulit bagi saya untuk leluasa membaca seperti dulu. Mungkin nanti, kalau anak-anak sudah mandiri, hobi itu bisa saya tekuni kembali 

Pengen Mbikin Ibu Bangga
Dari 3 anak ibu, saya ngerasa saya paling gagal. Bagi ibu, mungkin ijazah sarjana  saya menjadi sia-sia. Entah, saya belum tahu bagaimana caranya membuat Ibu bahagia.

Pengen Anak-anak Bahagia
Saat ini, di mata anak-anak, bisa jadi saya mereka anggap  Kak Ros. Suruh ini, suruh itu, bawel. Padahal sih sebenarnya biar mereka ngerti aturan, terbiasa disiplin dan terarah. Tapi saya yakin, suatu hari mereka akan mengerti.



13 Desember 2018

Ah...Seandainya dulu kamu lebih banyak minum ASI

Desember 13, 2018 1 Comments
"Bu...minyak mana...?" Tanya sulung saya sambil menggaruk perutnya.
"Kenapa to..?"
"Gatel ki lhooo..." Jawab Raka sambil sedikit uring-uringan, karena saya tak segera mengambilkannya minyak kayu putih.

Nggak pakai lama, gerakan menggaruknya berpindah tempat. Kaki, tangan, dan kemudian punggung. Ada bentol-bentol kecil di kulit. 

Raka alergi dingin rupanya. Kejadiannya beberapa hari yang lalu, hari pertama kami menginap di Batu, Jawa Timur. Sudah dibilangin tidak nongkrong-nongkrong di luar kamar pas malam hari, ngeyel! Ah..ini anak!

Saya lantas keingat betapa daya tahan tubuhnya tak setegar adiknya. Raka kecil adalah bocah yang langganan kena bisul setelah makan terlalu banyak telur, terserang gatal setelah makan lele, dan sering ikut-ikutan terkena flu saat wabah flu menyerang di sekolah. Padahal badannya kala itu montok dan menggemaskan.


Dibalik badan gendutnya kala itu, daya tahan tubuh Raka tidak begitu bagus. Dan bisa jadi, saya penyebabnya. Saat kecil, saya gagal memberinya ASI ekslusif. Penyebabnya waktu niat saya memang nggak begitu kuat; posisi masih ngantor..jadi santai aja ketika saya telat bisa menyusui dan raka banyak minum sufor dari dot. Puncaknya, usia 3 bulan sudah bingung puting. Ya sudah...

Efeknya kerasa belakangan.  Saat masuk lembaga pendidikan dan ia banyak berbaur dengan teman-teman seumuran, ia gampang ketularan sakit. Buat dopping, saat itu saya cuma bisa ngasih madu biar daya tahan tubuhnya membaik. 

Waktu saya punya dua anak; satu sufor dan satu ASI, baru bisa mbandingin dalam hal daya tahan tubuh anak, dan memang beda. 

Kini, baru saya menyesal, kenapa dulu saya tidak gigih untuk memberikan ASI ke Raka. Invest pumpa ASI yang mahalan dikit misalnya; jadi kan waktu itu meskipun statusnya masih kerja bisa sambil nyetok ASI. 

Ah, penyesalan memang selalu datang terlambat. So, yang sekarang masih meng-ASI, lanjutkan! Saya udah mbuktiin kok anak yang konsumsi ASI nya banyak, nggak gampang alergi dan daya tahan tubuhnya lebih baik.

12 Desember 2018

Blogger; Part time atau Full time?

Desember 12, 2018 6 Comments
Jadi ngeblog itu pekerjaan atau hobi? Pertanyaan itu mungkin sering pengen terlontar saat ketemu dengan seseorang yang di kolom pekerjaan ngaku sebagai blogger. Dan jawabannya adalah.... Dua-duanya bisa!

Banyak sekali teman-teman yang rela ngambil banyak foto-foto (non-selfi) saat liburan atau bepergian, ngumpulin data, trus nulis pengalaman mereka secara sukarela di blog yang bersih dari iklan, hanya dengan niatan tulus berbagi informasi. Banyak blogger yang ngereview suatu produk yang barusan mereka beli/gunakan hanya untuk berbagi pengalaman semata. 

Kurang kerjaan banget sih?? Nggak juga, karena passion mereka sudah di situ. Para blogger melakukannya dengan senang. 

Pixabay.com

Kalaupun setelah itu sesekali tawaran job berbayar datang terkait dengan hobi tersebut, mereka masih setia dengan profesi utamanya yang mungkin jauh dari dunia liput-meliput ataupun tulis-menulis. Ngeblog sebatas job sambilan. Sambil menyelam minum air; sambil jalanin hobi, eh..kok dapat fee 😀 Saya mendefinisikan itu sebagai partime blogger.

Selain yang seperti itu, banyak pula yang total memilih profesi sebagai blogger sesuai dengan niche blog mereka; travel blogger, techno ataupun lifestyle blogger. Jadi mereka memang total mendapatkan income untuk memenuhi  kebutuhan hidup dari blog. Banyak lho para fulltime blogger yang dulunya adalah alumni sebuah perusahaan besar, dan memilih fokus pada passion mereka. 

Dibandingkan dengan part time blogger, tentu mereka lebih serius mengelola blog mereka. Dari segi jumlah, full time blogger tidak sebanyak yang memilih sebagai partime blogger.

Saya sendiri? Masih partime blogger. Pekerjaan utama masih Ibu Rumah Tangga dengan serangkaian job-job utama yang menyertainya. 

Baru setelah tugas utama selesai, saya mlipir untuk mengasah otak dengan menulis, membuat konten untuk blog atau kadang-kadang youtube. Seandainya ada yang meminjam jalur akun media sosial sebagai jalur media campaign..ya saya anggap itu tambahan rejeki. 

Pengen total ngeblog dan bergeser ke full time blogger? Nanti, ketika anak-anak sudah bisa dilepas sepenuhnya, dan tak lagi begitu tergantung dengan ibunya. Ada waktunya, nanti. Pasti.



11 Desember 2018

Pekerjaan Rumah Tangga yang Paling Disuka

Desember 11, 2018 2 Comments
Bangun tidur, sholat, masak, nyiapin sulung yang mau sekolah. Yang gede beres, gantian nyiapin si adik. Pukul 08.00 urusan antar-mengantar sekolah beres. 

Selesai?

Belum. Urusan baju kotor masih separuh jalan. Nyuci sudah dihandle mesin, jadi tinggal menggantungnya di bawah sinar matahari. 

"Apa ya kebutuhan konsumsi yang habis hari ini? Atau besok pagi mau masak apa??  Maka jadilah agenda berikutnya adalah belanja ke pasar atau tukang sayur terdekat. Sayuran, lauk pauk mentah, buah, dan sedikit jajanan pasar. Biasanya begitu.

Sebentar scroll medsos. Eh..kok lantai licin, piring-piring kotor bekas sarapan masih utuh. Next job bersih-bersih dapur, ngepel.  Ini belum menjamah baju-baju kering kemarin alias setrikaan lo ya. Setrika, nanti siang atau malam

10.30, beberes pagi kelar. Eh..bentar lagi si adek pulang. Kembali ke sekolah, kali ini urusan penjemputan.
**
Berderet kayak kereta kan? Yah, begitulah realitas. Pekerjaan rumah tangga biasanya seputar beberes. Mberesin cucian baju, mainan berserak, rak-rak berdebu, dapur berminyak, mberesin antrean baju di keranjang setrika, masak, dsb.


Diantara semua, yang paling males  nglakuinnya yang mana? Saya paling males lipat-melipat baju. Males  aja!! 

Kalau yang suka..? Nyuci, karena ada mesin 😁Memasak, menyetrika...sebenarnya nggak begitu bisa. Tapi saya nggak pernah pasang target tinggi untuk ini. Saya masak, apa yang bisa saya masak. Demikian juga setrika, nggak mesti halus-licin. Yang penting tidak terlalu terlihat kusut.

Diantara semua pekerjaan rumah tangga, dua pekerjaan terakhir yang saya suka. Karena bisa disambi. Saya menyetrika bisa sambil nonton tv atau film hasil download-an. Masakanpun matang, sembari mendengarkan deretan lagu dari playlist lagu favorit.  Enak nggak enak harus dibikin enak dan suka nggak suka harus dibuat suka.

Kalau kamu, diantara semua pekerjaan rumah tangga...mana yang paling disuka??



10 Desember 2018

IRT Itu Rawan Jenuh, Lakukan 3 Strategi Ini Agar Kamu Tetap Happy

Desember 10, 2018 1 Comments
Pernah mbaca postingan salah satu netizen tentang Weekend Goals? Bahwa yang dimaui banyak istri diakhir pekan itu adalah sejenak keluar dari rutinitas, keluar rumah barang sebentar, biar sedikit terlepas dari apa yang sudah dikerjakan dalam 6 hari di belakang.

Saya termasuk salah satu yang sepaham dengan itu. 

Tolong dimengerti, perempuan yang dari Senin sampai Sabtu "ngantor" di rumah itu rawan jenuh. Kenapa? Karena yang dilakukan cenderung monoton. Teman-teman yang menemani jam kerjanya kebanyakan benda mati di dalam rumah. Ember, panci, cucian kotor, setrikaan, sapu, pel, dan sebagainya. Untung sekarang ada jejaring sosial, paling tidak, ada interaksi di dunia maya.

Bandingkan saja dengan yang bekerja di sektor publik. Akan ada teman-teman kantor, pertemuan dengan orang-orang baru, interaksi-interaksi sosial yang lebih riil, suasana baru, dan sebagainya. Logikanya, interaksi sosial yang terbangun akan lebih variatif.

Tadi siang saya baru saja mbaca status fbnya mbak Olen. Intinya seperti ini:

"Banyak orang mengira kalau ibu rumah tangga itu, begitu suami ngantor, anak-anak berangkat sekolah maka pekerjaannya tinggal leyeh-leyeh. Faktanya, ketika mereka berangkat...job yang menunggu berikutnya adalah belanja kebutuhan, masak, nyuci, lempit-lempit (cucian kemarin), setrika...dan giliran mau leyeh-leyeh waktu njemput anak-anak sekolah sudah tiba"😊😊😊

Dan memang realitas di lapangan seperti itu. So, jangan sekali-kali menyepelekan Ibu Rumah Tangga, apalagi menganggapnya pengangguran.


Seperti halnya pekerja kantoran, ibu rumah tanggapun butuh libur. Ya...meskipun sebenarnya nggak ada libur yang benar-benar libur untuk seorang ibu. Kalaupun sengaja tidak melakukan task nya hari ini, biasanya akan terjadi penumpukan tugas di hari berikutnya. Cuma mem-pending sebenarnya. Tapi lumayan juga, paling tidak untuk membuang kebosanan itu. Setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan:

Satu, keluar dari aktivitas rutin. Saat libur, memanjakan diri barang sebentar nggak ada salahnya kan?

Kalau hari biasa saya bangun tidur pukul 04.00 dan langsung sibuk masak di dapur, di hari libur saya bisa tidur lagi setelah sholat subuh, dan bangun bareng dengan anak-anak bangun. Masak air saja, dan libur memasak. Kalau biasanya saya 2x masak dalam 1 hari, di hari libur saya cuma masak 1x. Itupun menu-menu yang masaknya cepet.

Dua, membiarkan anak-anak lebih banyak dengan ayahnya di hari libur. Iya, saat ada acara jalan ke luar rumah, memang anak-anak akan banyak dengan ayahnya. Saya membiarkan itu. Mengasuh anak kan bukan tanggung jawab seorang ibu saja, tetapi juga tanggung jawab seorang ayah. 

Ketiga, lakukan hobi. Banyak lho, gara-gara riweh dengan banyaknya pekerjaan rumah para ibu sampai nggak sempat nglakuin hobi. Ya menurut saya, biar kita tetep waras..harus di sediakan juga waktu untuk melakukan hobi pas hari libur. Ya, meskipun kalau sudah berkeluarga waktu dan durasinya tetep kudu dikompromikan.

Itulah 3 hal yang saya lakukan saat libur datang. Kalai kamu sendiri, punya acara kreatif saat ngisi liburan??

9 Desember 2018

Susunan Lagu di Playlist, Cerminkan Usia??

Desember 09, 2018 0 Comments

Ada suatu siang di waktu itu saya lagi sendirian di rumah. Anak-anak sekolah, suami kerja, saya lagi beberes rumah ceritanya. Ngepel. Biar nggak sepi, saya setel musik aja, lumayan keras. 

Selera musik saya nasional banget kok. Musik Indonesia, semacam lagunya Ada Band, Kla Project, Padi,  Sheila on7, Rossa, Bunga Citra Lestari, ya...gitu gitu lah. Penyanyi-penyanyi angkatan 90an akhir atau 2000an awal. 

Untuk penyanyi luar negeri, nggak banyak yang saya tau. Klopun nyimpen lagu mereka di playlist, paling yang seangkatan M2M, Westlife, Boyzone, MLTR.

Ya..gitu, biasanya saya dengerin musik klo lagi pengen. Pakenya aplikasi Joox...kadang cuma muter playlist yang offline, kadang streaming juga klo pas lagi banyak kuota data😀

List lagu yang ada di joox offline saya

Pas saya dengerin musik..tiba-tiba rumah tetangga sebelah ngeplay musik juga. Karena cuma berbatasan gang sempit,  jadi kedengeran dari rumah. 

Ha..ha, selera beda. 

Dengan tetangga sebelah, usia saya terpaut sekitar 10-15 tahun. Dan memang bener, musik yang diplaylist dia itu musik-musik generasi saya pas kecil, seperti lagu-lagu Nia Daniati, Ratih Purwasih...lagu-lagu dengan lirik cengeng jaman dulu itu. Mungkin jaman saya TK atau SD.

Ingatan saya langsung ke jaman kuliah. Ada seorang dosen --(alm. Riswandha Imawan) yang waktu itu bilang..."selera musik seseorang itu berhenti di usia 25". Artinya, setelah lewat usia itu, ya dia nggak bakalan concern tentang apa lagu-lagu terbaru, siapa band yang paling terkenal, atau nggak lagi ngapalin lirik lagu yang lagi disuka. Saya renungkan, dan saya rasa itu benar.

Dari jaman saya masih single, menikah, punya anak, selera musik saya belum berpindah. Masih di eranya band-band 90an atau 2000an awal. Sekarang saya ngeblank kalau ditanya..siapa grup musik yang tenar di tahun 2018 an ini.

Pernah ketika waktu itu ada sebuah event internasional di tayangkan di Tv; closing ceremony nya Asian Games. Kok ya artis-artis pengisi acara dan lagu-lagu yang ditayangkan ternyata artis-artis yang usianya "setengah" (nggak tua banget, tapi nggak muda juga). Waktu itu saya ingat, ada yang nyetatus di fb..."kok tumben lagu-lagunya saya kenal, lagu jaman saya muda...penasaran sama orang dibalik layarnya"

Dan ternyata orang-orang dibalik layar closing ceremony nya Asian Games itu juga kru-kru yang usianya "setengah" kan ya? Saya pikir, apa yang dibilang dosen saya tentang selera musik itu bener kok.

Tertarik untuk menjadi pengamat sosial tentang selera musik juga?? Coba deh amati playlist di aplikasi musikmu dulu.

8 Desember 2018

Youtube dan Youtuber Favorit

Desember 08, 2018 2 Comments
"Mba...ini gimana ya...aku ga mau ada youtube di ponselku..."

Pernah suatu hari, saya dimintai tolong seorang tetangga --sebut saja A --untuk menghapus aplikasi youtube di smartphonenya. Alasannya, takut si anak "tercemar" konten-konten negatif dari youtube. 

Waktu itu, mbak A tadi memang posisinya pemgguna smartphone baru, jadi belum familiar dengan kegiatan install maupun uninstall aplikasi. Tapi memangnya harus sephobia itu dengan smartphone? Menurut saya, kok nggak juga ya. Semua yang di Youtube kan nggak semua layak untuk ditakuti. Banyak content creator yang mengisi channel mereka dengan sesuatu yang bermanfaat.


Nggak Selamanya konten di Youtube Negatif


Setuju! Iya sih, memang benar kalau  isi youtube itu kayak pasar serba ada. Mau nyari video lama ada, video baru apalagi. Kepengen lihat adegan-adegan yang bikin mual perut banyak, yang berguna juga nggak kalah banyak. Bisa-bisanya kita aja yang kontrol. Untuk anak-anak kuncinya kalo saya dua; hidupkan filter mode terbatas dan yang kedua, dampingi atau dicek lah sesekali klo pas anak2 akses youtube. 

Jujur, saya juga jauh lebih banyak akses tulisan-tulisan di weblog atau situs berita online daripada video di blog. Alasannya klasik, ngirit kuota..ha...ha. Paling kalau memang kondisinya harus lihat secara visual, atau pas lagi manfaatin kuota malam. Itu juga kenapa saya nggak punya youtuber  favorit. Saya buka aplikasi youtube kalau pas lagi butuh informasi tentang suatu hal. Untuk video hiburan, saya masih nyaman pakai televisi.

Menggunakan Youtube Sebagai Media Belajar

Era digital memang memberi banyak kemudahan. Ada suatu hari ketika saya datang ke rumah kakak dan melihat beliaunya sedang sibuk memperhatikan video cara membuaat kue. Di kesempatan lain saya melihatnya di depan komputer sedang nyimak sesuatu yang ternyata channel Paman APIQ.

Nggak berbeda dengan kakak, sayapun begitu. 

Saya bukan youtube mania; jadi nengokin youtube, kalau pas butuh saja. Pas butuh belajar kembali matematika SD, ada channel paman APIQ, ketika pengen matengin teknis stir mobil, saya banyak ngesave video-video channel Widi Mandiri, Sidik Van Parmin, atau channelnya Mas Wahid. Nah, kalau pengen jalan-jalan, paling saya cek channelnya Septi Anggara.

Kalau kamu? Seberapa tergantung dengan Youtube? Punya youtuber favorit?

Follow Us @soratemplates