28 April 2020

Pengalaman Merawat Kucing Secara Mandiri Pasca Steril



Suatu siang, selepas dari daerah Bantul saya mampir ke sebuah petshop  khusus kucing di daerah Tamantirto, masih seputaran kampus UMY. Kebetulan, petshop ini sekaligus klinik dan juga penitipan kucing. Jadi begitu masuk, saya udah dapat hiburan..wajah-wajah anabul yang berada dalam kandang. Mata saya tertuju pada seekor kucing Jawa, dengan plester di perut.

“Itu kenapa mba, habis steril?” Tanya saya ke mbak penjaga petshop

“Iya. Steril sekitar 7 hari yang lalu.  Sudah mau sembuh kok itu.. plesternya sudah mau lepas. Yang punya maunya diambil sudah beres, jadi dititipin di sini sampai sembuh.” Jawab si Mbak

“Oh, gitu ya”

Berawal dari belanja dryfood, melihat si kucing, obrolan saya lantas berlanjut tentang mekanisme dan prosedur steril kucing betina di klinik tersebut. Kebetulan, saya ada kucing si Mamak Sweeti yang tak niatkan untuk disteril. Alasan, dan proses steril si kucing betina kami, saya tulis di postingan Pengalaman Steril Sweeti, Si Mamak Kucing.

Merawat Kucing Pasca Steril


Berapa lama luka operasi pada kucing pasca steril akan sembuh? Serumit apakah perawatan yang perlu dilakukan di rumah? Rata-rata dua pertanyaan itulah yang membayangi para pemilik kucing yang hendak mengikutkan hewan peliharaan mereka mengikuti program steril. 

Meskipun pada beberapa klinik menyediakan fasilitas rawat inap sampai kondisi kucing benar-benar sembuh, tapi banyak juga pemilik yang memilih untuk merawat kucingnya sendiri di rumah, alias rawat jalan. Pilihan itu juga yang saya ambil; membawa pulang Sweeti satu hari setelah operasi untuk kemudian merawatnya di rumah. 

Batasi gerak kucing (kalau bisa dikandangkan), jauhkan dari anak-anak kucing yang masih menyusu, pakaikan collar untuk menjaga agar kucing tidak menjilat/menarik bagian plester; tiga nasehat yang saya dapat dari dokter tempat dimana Sweeti menjalani proses steril.

Berhubung di rumah tidak ada kandang, saya  hanya membatasi sweeti untuk tidak keluar rumah. Tapi bukan tanpa drama juga, karena pernah lengah membiarkan pintu pagar terbuka, si Mamak kucing sempat kabur main ke kebun dengan perut berplester dan collar di leher. Untung cepat ketahuan, cepat dicari, dan ketemu. Huh!

Memakai Collar sepertinya tidak nyaman, tapi ini satu satunya cara menjaga agar lidah kucing tidak ke plester yang ada di perut

Soal collar, saya pernah lengah. Begini ceritanya.

Setelah seminggu, plester di perut boleh dibuka untuk mengecek kondisi luka di jahitan apakah sudah kering atau belum. Senang banget, waktu perlahan-lahan mengoleskan air hangat ke pinggir plester dan sedikit demi sedikit luka steril terlihat, saya membayangkan hari-hari berikutnya Mamak Sweeti sudah bisa bebas dari Collar, sudah bisa kembali menyusui anaknya, bisa menikmati hari seperti sebelumnya.

Begitu perban terbuka semua, alangkah leganya..terlihat benang jahitan berwarna hitam, seperti luka kalau sudah kering.  Meski katanya jahitan steril pada kucing itu mirip-mirip operasi SC pada manusia alias berlapis-lapis, tapi penampakan luka luarnya kecil banget. 

Saya raba perlahan, tidak ada air. Luka kering. Collar saya lepas, “Selamat menikmati kebebasan...”, bisik saya.

Sweeti saya tinggal bersama anak-anak. Beberapa menit kemudian saya cek, dan astagaa! Rupanya si Mamak tengah asyik menjilat dan menark benang jahitan yang tadi saya lihat berwarna hitam. Luka yang tadinya berwarna hitam-kering, menjadi kemerahan. Basah ada sedikit lubang bulat. Aduhhh!

Panik dong. Kemudian saya hubungi  dokter Iin, dokter yang mengoperasi si Mamak sambil menata hati,  kalau saja dokter menyarankan untuk membawa Sweeti ke Klinik lagi. Ternyata tidak. Dokter hanya menyarankan untuk memakaikan kembali si Collar agar si kucing tidak bisa self-grooming atau jilat-jilat tubuh, mengkompres luka yang basah dengan Revanol, dan kemudian mengoleskan salep berbahan dasar Getamicyn, 2x sehari.

“Ditlateni saja...” begitu pesan dokter

Seminggu berlalu, dan senangnya saat luka si Mamak sudah benar kering dan menutup sempurna. Alhamdullah, Collar bisa dengan aman saya pensiunkan dari lehernya. Sweeti.
Luka yang sudah kering, 2 minggu pasca operasi
Kesimpulannya? Merawat kucing pasca steril itu tidak sehoror yang dikira banyak orang kok, asal tidak ada penyakit penyerta (kemarin malah Sweeti sempat kena flu, kondisinya drop, jadi saya mesti minta bantuan drh untuk pasang infus+obat flu). Bisa banget pasca steril kita rawat di rumah, asal tlaten dan bisa mengawasi. Tapi kalau mau praktis, ya bisa dirawatinapkan sampai sembuh.


23 April 2020

Meski tak Lagi Sama, Yuk Buat Ramadhan Tetap Penuh Makna


🧒 : “Nok...sesuk Jum’at poso lho...tapi ora ono takjilan” 
👧: “Takjilan ki opo e mas..?”
🧒: “Halah...TPA, trus buko no mesjid bareng-bareng. Taon wingi kowe melu tho...malah sego mu temumplak. Lali po?”

Obrolan  Raka dan Alya  beberapa hari yang lalu, pada suatu petang. Namanya bocah, masih maklum kalau yang mereka ingat tentang ramadhan adalah hal-hal yang tak jauh dari makanan. 

Baca artikel serupa : Ramadhan Ala Anak Desa

Meskipun sebenarnya, saya juga kangen melihat moment mereka berdua berjalan bersama  atau bersepeda untuk pergi ke masjid, setiap Ramadhan tiba. Alya cantik dengan gamis dan jilbabnya, pun Raka dengan setelan baju muslimnya

Ah, tapi memang Ramadhan tahun ini harus terjalani dengan cara yang berbeda. Tak lain karena pandemi Covid-19 yang belum juga reda.

Banyak hal-hal yang seharusnya hanya ada dan dimiliki bulan Ramadhan, harus dilakukan secara mandiri, #DiRumahSaja. 

Masjid yang biasanya penuh dengan Jamaah saat Isya, Tarawih dan juga Subuh, nantinya akan lengang.  Ramadhan kali ini, bisa jadi nggak lagi ada wajah anak-anak yang ceria saat berbuka bersama di masjid  dengan menu takjil sederhana.

Sedih mengingatnya. Tapi bukan berarti, tak ada yang bisa kita lakukan bukan?


Berbagi, Satu Cara Sederhana Untuk Menjadi Manusia Berguna

Bisa dibilang, sebenarnya usaha keras kita untuk melewati pandemi Covid-19 ini merupakan  ujian untuk semuanya. Untuk masyarakat yang tidak berpunya, maupun masyarakat yang berpunya. Kok? Iya, karena sekaranglah ujian bagi golongan yang memiliki rejeki lebih untuk bisa berbagi, menolong yang sedang membutuhkan. 

Terlebih pada  moment di bulan Ramadhan ini, dimana Alloh menjanjikan berlipat pahala untuk setiap kebaikan yang kita lakukan. 

Secara fisik berbagi dan bermurah hati itu terlihat merugikan, namun faktanya justru sebaliknya. Saat kita beramal atau berbagi, justru terjadi efek-cahaya pemberi atau yang dikenal dengan warm-glow effect dimana si pemberi akan mendapatkan perasaan positif atas tindakannya memberi atau membantu orang lain. 

Bagi yang tinggal di pedesaan seperti saya, pasti familiar kan dengan tradisi memberikan sedekah menjelang berbuka bersama atau takjil. 

Ketika tradisi rutin ini mesti hilang, sebenarnya masih ada alternatif pengganti sebagai cara lain kita berbagi rejeki, misalnya dengan berbagi dalam bentuk uang atau mewujudkannya dalam bentuk bahan pokok/kebutuhan sehari-hari ke tetangga  atau saudara yang membutuhkan.

Tidak ada ukuran pasti dalam berbagi. Yang pasti, bisa menyesuaikan dengan kemampuan kita masing-masing dan bisa dimulai dengan berbagi dalam lingkungan terdekat dimana kita tinggal. 

Merancang Keseruan Ramadhan, Meski Tanpa Pertemuan

Penghujung Ramadhan, biasanya menjadi hari istimewa bagi keluarga besar yang posisinya sudah menyebar. Seperti keluarga kami. Tapi, Lagi-lagi karena kondisi, kami tidak bisa bertemu dan berkumpul secara langsung untuk acara halal bil halal dan silaturahmi tahun ini. 

Bagaimana caranya ya, agar meski tak bertemu tapi tetap seru? Video call itu pasti. Tapi sepertinya masih ada yang kurang..

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala saya. Yup! Tukeran kado saja jarak jauh saja.  Baju muslim dan pernak-perniknya sebagai hadiah, menurut saya adalah pilihan yang menarik. Saya membayangkan, para ponakan akan hepi kalau ide ini nantinya dieksekusi. 

Dan kami bisa melakukan itu semua dari rumah masing-masing.

Promo Ramadahan Tokopedia


Bakalan seru pastinya ngabuburit, memilih kado terbaik sambil cuci mata melihat berbagai koleksi barang yang oke punya. Milik brand  zoya  misalnya. Di mana? Cukup di Tokopedia saja.  

Apalagi menjelang dan selama Ramadhan 2020 ini Tokopedia menggelar sejumlah event seru dan kejutan seperti promo bebas ongkir sepuasnya, diskon dan cashback hingga kesempatan untuk memenangkan hadiah menarik

1. Bebas Ongkir
Biaya ongkir ini sering menjadi pertimbangan bagi para pembeli online, termasuk saya. Mulai sekarang dan sepanjang bulan Ramadhan, Tokopedia akan menyediakan gratis ongkos kirim hingga 5x sehari. Khusus 3 dan 4 Mei, semua pembeli akan mendapatkan fasilitas bebas ongkir sepuasnya, tanpa batas maksimal. Catat ya!

2. Brand Deals
Dimulai dari 1 April, di program ini akan ada penawaran menarik dari puluhan brand atau official store yang bekerjasama dengan Tokopedia. Rajin-rajin aja, ngecek biar tidak kelewatan.

3. Crazy Deals
Sesuai nama, promo gila-gilaan! Di sini kamu bahkan bisa mendapatkan promo potongan harga hingga 99% pada berbagai kategori produkelektronik, handphone dan gadget, otomotif, perlengkapan ibu dan bayi, hingga produk-produk kecantikan. Selain Tokopedia, yakin bisa mendapatkan promo segila ini? Oh..iya, berlangsung setiap hari mulai pukul 10.00-14.00 ya

4. Kejar Diskon
Di promo ini produk akan ditawarkan secara flashsale, dengan harga dibawah 99ribu rupiah. Setiap dua jam, jenis kategori produk yang didiskon akan diganti. 

5. Kotak Kejutan
Tokopedia akan menyediakan satu hadiah berupa kotak kejutan perhari dengan cara “Tap-tap Box”. Caranya, pastikan kamu login di aplikasi, dan tap kotak yang ada. Siapa tahu, kamu beruntung!

6. Gajian Ekstra
Mulai 1 April kita bisa mendapatkan berbagai produk kebutuhan sehari-hari dengan harga murah-meriah, memanfaatkan promo gratis ongkir, dan juga tambahan cashback. 

Promo Ramadhan Tokopedia


Kalau Tokopedia saja mampu memberikan banyak sekali hal yang membuat kita betah dan gembira saat berbelanja, kita juga pasti bisa. Niatkan dalam hati semoga Ramadhan tahun ini, meskipun suasana bangsa sedang berduka tapi apa yang kita lakukan bermanfaat untuk sesama.

Tetap semangat menyambut Ramadhan, dan penuhi semua kebutuhan Ramadan di Tokopedia. Serta nikmati berbagai promo Ramadhan, hadiah dan penawaran menarik lainnya mulai 1 April-13 Mei 2020. Jangan lupa top up Ovo untuk transaksi belanja online lebih praktis!


18 April 2020

Pengalaman Steril Sweeti, Si Mamak Kucing



Sterilisasi adalah proses pegangkatan organ reproduksi hewan, dalam hal ini kucing atau anjing, agar tidak lagi menghasilkan keturunan. Pada hewan jantan, proses ini dinamakan kastrasi/orchiectomy, sedangkan pada betina tindakan ini disebut ovariohisterectomy. 

Dalam proses sterilisasi kucing betina, rahim dan ovarium kucing akan diambil untuk menghentikan siklus birahi dan membuatnya tidak bisa hamil. Sementara pada kucing jantan, proses ini sering disebut juga sebagai neuter dimana testikel si kucing akan diangkat. Pihak yang berkompeten untuk melakukan tindakan ini adalah dokter hewan, dengan keadaan kucing dibius total.

Penting ya kucing disteril? Dulu pertanyaan itu pernah terlintas di benak saya. 

Sampai sekarangpun, pandangan masyarakat tentang sterilisasi hewan ini masih  pro dan kontra kok.

Pihak yang kontra tentu saja menganggap bahwa tindakan steril pada kucing hanya akan merampas hak kucing, yaitu berkembang biak. 

Steril kucing
Keluarga Mamak Sweeti. Satu Indukan dan 3 anak usia 2 bulan. Dalam satu tahun, kucing bisa melahirkan sampai 3x. Misalkan saja, setiap lairan 3 ekor..berarti dalam satu tahun Sweeti bisa punya 9 anak. Merawat bayi kucing itu tidak hanya sekedar memberinya makan, tapi juga banyak hal-hal yang harus diperhatikan. Saya tidak sanggup, dan tidak tega jika harus menelantarkan mereka (misal membuang anak-anaknya). Steril, menurut saya adalah cara yang paling baik.

Sementara banyak pula yang menilai  bahwa langkah sterilasi kucing justru akan mendatangkan banyak kebaikan bagi kucing itu sendiri, seperti mengurangi populasi yang berlebihan, menjaga kesehatan kucing, memperpanjang usia kucing, dan juga mengurangi stress si kucing.

Untuk saya pribadi, kesadaran saya akan pentingnya steril untuk para binatang berbulu ini  berkat nge-follow akun @pedulikucingpasar dan juga @animalfriendjogja di Instagram; keduanya komunitas yang sangat peduli dengan nasib kucing-kucing terlantar. Coba deh intip  postingan-postingan mereka.

Steril Kucing Betina
Kucing sudah seperti bagian keluarga. 


Sebagai gambaran riil, jamak banget terjadi kucing mengalami nasib nelangsa  gara-gara ulah manusia. Kurangnya komitmen dan tanggung jawab, banyak kasus terjadi dimana memelihara kucing hanya sekedar untuk lucu-lucuan, giliran sudah beranak pinak dan tidak mampu mengurusi, kucing dibuang atau tidak dirawat dengan semestinya. Manusianya yang jahat kan kalau sudah begitu?

Jadi, sejak awal adopsi sweeti dari seorang teman, saya sudah punya niat kalau nantinya ia akan saya steril. Nunggu waktu yang tepat.

Awal tahun 2020, sweeti sudah terdaftar sebagai peserta steril bersubsidi; jadi  hanya merogoh 200 ribu untuk biaya sterilnya, sudah termasuk obat.  Tapi rupanya saya kecolongan. Si kucing sudah hamil duluan sebelum steril dilakukan. Ya sudah, steril dibatalkan, nunggu sampai proses lahiran.


Memilih Klinik Meoong Jogja Sebagai Tempat Steril Kucing

Steril Kucing Betina
Berangkat ke Klinik Meoong...

Menjadi peserta steril bersubsidi, resikonya harus rela antri karena kuota terbatas. Nggak mau mengulang kasus “kebobolan” maka saya memutuskan untuk mencari klinik hewan yang bisa melakukan proses steril, kalau bisa tidak begitu jauh dari rumah, pelayanan bagus, dan  biayanya juga terjangkau. 

Untuk biaya steril sendiri, memang ada perbedaan tarif antara kucing jantan dan betina. Karena prosesnya lebih rumit, hampir semua klinik mematok harga yang lebih tinggi untuk proses steril kucing betina.

Untuk tarif sendiri, antar klinik ternyata berbeda bahkan ada yang mematok sampai 1 juta untuk 1x steril include biaya rawat inap+obat. Udah mirip biaya lahiran bayi secara normal di bidan ya..waduh! 

Beruntung, beberapa bulan lalu ketika hendak membeli dryfood untuk si Mamak Kucing saya ketemu dengan Klinik Meoong yang berada tak jauh dari Kampus UMY, ringroad selatan Jogja. Jadi selain pet shop, penitipan kucing, Penginapan Meoong ini juga klinik untuk kucing. 

“Mba..bisa steril di sini?” tanya saya kepada mbak penjaga petshop
“Bisa.. Kalau mau steril ngabarin aja, satu hari sebelumnya”
“Berapa mba biayanya untuk kucing betina..bukan kucing ras”
“Disini ada subsidi, 200  ribu untuk kucing jantan dan 250 ribu untuk betina. Sudah termasuk obat.”

Nyicil lega. Paling tidak, sudah nemu tempat steril kucing yang biayanya masih ramah untuk kantong. Beberapa hari kemudian saya nyari-nyari review tentang Klinik Meoong melalui dunia maya dan semua review bilang bahwa klinik ini recommended untuk melakukan tindakan sterilisasi. Fixed, tinggal nunggu anak-anak kucing berusia 2 bulan, dan  cukup umur untuk disapih.


Hari Itu Tiba, Akhirnya Sweeti Steril!

Jumat siang, saya  ngabari Penginapan Meoong untuk rencana steril si Mamak Sweeti via WA di Hari Sabtu (11/4/2020). Dokter hewan Iin  yang membalas  chat saya langsung. Rupanya, tidak ada syarat khusus untuk melakukan tindakan steril/kebiri kucing di Penginapan/klinik Meoong,  yang penting si kucing sudah berusia lebih dari 6 bulan dan dalam keadaan sehat. Dokter hewan IIn menyarankan buat saya untuk datang jam 10 pagi, agar sweeti bisa dioperasi di hari yang sama.

“Nanti kucingnya dipuasakan paling tidak 6 jam ya..” Pesan dokter Iin

“ Baik dok...”

Niatnya mempuasakan kucing, tapi ternyata prakteknya saya nggak tega. Sabtu pagi, ketika kami sarapan si Mamak kucing saya beri sarapan juga. Bisa ditebak, jadwal operasipun mudur. Saya antarkan ke klinik pukul 10 pagi, si sweeti menjalani operasi pengangkatan rahim dan ovarium Sabtu siang menjelang sore.

Yaa..nggak bisa nungguin sweeti operasi deh.

“Nanti saya kirim foto..paska kucing operasi” Kata dokter Iin yang membuat saya sedikit lega.



Sorenya, dokter Iin mengirim sebuah foto Sweeti yang tengah terbaring, dengan plester luka di perut bagian bawah. Terlihat pulas, tapi kemungkinan besar karena obat bius yang masih bekerja.

“Masih bobok. Biar nginep di sini dulu..besok kalau sudah sadar penuh dan bisa dijemput, saya kabari” tulis dokter Iin. 

Foto yang dikirimkan Drh IIn beberapa jam pasca steril. 




Bersyukur karena tindakan operasi berjalan lancar. Tinggal menenangkan anabul-anabul yang dirumah, karena dua bulan lebih mereka ada..belum pernah tinggal terpisah dengan induknya. 

Hari-Hari si Mamak Kucing 1 Minggu Pasca Steril

H+1 atau hari Minggu, dokter Iin berkabar kalau si Mamak Kucing sudah sadar sepenuhnya dan bisa dijemput hari itu juga. 

Sebenarnya ada fasilitas untuk perawatan pasca steril  di Klinik dan Penginapan Meoong ini. Jadi kucing bisa diambil sampai luka benar-benar kering, dengan biaya rawat inap 20.000/hari belum termasuk makanan. Rata-rata luka operasi akan kering sekitar 5-7 hari setelah tindakan.

Tapi karena pertimbangan si Mamak punya 3 bocah yang masih relatif kecil, Sweeti kami jemput H+1 operasi.  Kondisinya terlihat lemah, tapi sudah mulai mau makan sedikit demi sedikit. Ada beberapa pesan dr Iin agar perawatan  pasca steril ini berjalan lancar diantaranya:

Memastikan si kucing tidak menjilat/atau menarik-narik plester luka. Tindakan grooming/menjilat badan dikhawatirkan akan membuat jahitan/luka pada bekas sayatan akan bermasalah. Demi keamanan, sweeti saya pakein e-collar.  Ya, resikonya memang gerak kucing jadi terbatas. Awal-awal menggunakan e-collar, malah kucingnya bingung dan make acara jalan mundur. Belum lagi anak-anak yang pada ketakutan gegara lihat mamaknya make kerah lebar di leher. Dihari ketiga kucing mulai terbiasa dengan e-collar, meskipun sesekali juga saya lepas, terutama waktu kucing tengah makan. Enam hari sweeti saya pakein e-collar, baru tadi siang saya lepas.

Tak perlu khawatir kalau si kucing susah makan. Efek bius, membuat perut kucing mual. Itulah kenapa kucing menjadi tidak tertarik dengan makanan, beberapa jam pertama pasca siuman. Kalau ia paksakan makan, resikonya muntah. Sweeti sediri, baru mau makan di hari Minggu. Itu juga wet food yang harga satu kaleng kecilnya bisa dibeliin lele 1,5 kg. Hari Selasa (H+3 pasca steril), barulah nafsu makannya lumayan membaik. Sudah doyan dryfood, meskipun belum banyak. Di jam-jam pertama paling tidak 24 jam pertama setelah operasi, wajar kalau si Kucing terlihat lesu dan mengisi banyak waktunya dengan tidur.  Sweeti yang biasanya cenderung cerewet, hanya sesekali mengeong, dengan volume suara yang lemah. 

Plester di perut, e-collar di leher dan juga rasa sakit/tak nyaman membuat gerak kucing terbatas. Dan pergerakan yang terbatas justru lebih bagus. Kucing sebaiknya di kandangkan atau dikamarkan.



H+1 dan H+2, si Mamak kucing masih taat untuk banyak diam dan tidur di kamar..  Tapi hari-hari berikutnya, ia mulai jalan-jalan di seputar area rumah. H+6, e-collar saya lepas dan saya biarkan anak-anak kembali menyusu, meskipun masih ada  plester di perut. 

Hari ini, genap satu minggu si Mamak kucing di steril. Pagi-pagi, sudah ikut senang karena plester Sweeti sudah bisa di lepas. Sudah membayangkan si anak-anak kucing  bakalan nyaman menyusu lagi di perut induknya. Apakah bayangan saya akan seindah kenyataan? Baca di postingan berikut:

14 April 2020

Resep Bikin Cilok Mudah, Tanpa Ribet dan Dijamin Enak!

Resep-membuat-cilok

Setelah sekian lama label resep nggak pernah ke isi, gara-gara Covid -19 punya blogpost baru yang ngobrolin resep makanan deh. Eit..tunggu, sebelum saya diprotes  pembaca karena sok-sok an jago masak, tak jelasin dulu. 

Kenal sama cilok kan? Meskipun aslinya berasal dari Jawa Barat, tapi jajanan tradisional ini bisa dikatakan telah menjadi jajanan semua orang. Nggak hanya di Jawa Barat, nggak cuma anak-anak sekolah. Di Jogja dan daerah-daerah lainnya pun,  banyak orang dewasa  yang jadi fans nya cilok. Hayo ngaku...!😀

Jadi ada suatu hari, dimana meskipun #DirumahAja tetapi saya tetap bisa ngobrol dengan banyak teman, nggak lain dan nggak bukan melalui WA grup. Mulai dari kebijakan pemerintah sampai hal-hal receh yang bener-bener receh, bisa jadi topik obrolan. Termasuk si cilok tadi, ealah..kok ya tiba-tiba acara jadi curhat trial and error saat masak cilok. 

“Aku tau bakulan cilok...ngene lho nggawe ne.. gampang. Sik butuh tutorial, nyimak” tulis seorang teman, Titi namanya

Saya, ikut nyimak tentunya. Pengin, bisa masak juga. Sudah dua eksekusi, dan hasilnya lumayan. Makanya berani njadiin bahan tulisan.

Resep Cilok Bebas Ribet

Masakan yang prosesnya masaknya ribet, nyari bahannya susah plus mahal...apalagi butuh alat masak yang neko-neko, pasti tak auto skip. Males! Wkk..wkk

Nah, kalau cilok ini dijamin siapapun bisa dan bahan-bahannya gampang di cari di warung sebelah rumah. Alat-alat masak yang dibutuhkan, juga pasti semua ada di dapur. Cuma butuh panci buat ngerebus sama alat kukus doang kok.

Pada dasarnya, bahan untuk cilok ini nggak begitu banyak yaitu

  • dua macam tepung, terigu dan tapioka dengan perbandingan 2:1
  • bumbu yang dihaluskan (bawang putih, garam, merica, kaldu jamur/kaldu ayam/kaldu sapi)
  • daging / ikan yang dihaluskan (bisa daging ayam, tetelan, ebi, atau ikan)
  • daun bawang yang diiris tipis
  • Air panas untuk mencampur adonan. 

Untuk ukurannya, sesuai selera dan maksimalin feeling ya. 

Intinya perbandingan tepung terigu sama tapioka 2:1. Misal tepung terigunya 2 gelas, berarti tapiokanya 1 gelas. Maklum, ga punya timbangan, jadi alat ukurnya memanfaatkan barang yang ada di dapur saja. Untuk bumbunya pun begitu, pake feeling...sesuai banyaknya bahan yang ada/tersedia.

Bahan-adonan-cilok
Dua macam tepung, bumbu, daging cincang dicampur...baru kemudian tambahkan sayuran. Pake air panas, dan tuang sedikit-sedikit ya..

Melibatkan anak-anak, minimal mereka punya kegiatan selama masa belajar dari rumah 

Proses dari tepung sampai menjadi cilok yag siap santap itu, ternyata nggak gitu ribet kok. Apalagi dikerjakan masa anak-anak #BelajarDariRumah seperti sekarang. Libatkan saja anak-anak, itung-itung biar mereka ikutan belajar masak.

Step By Step Memasak Cilok

Kalau blogger tekno pada mbikin tutorial menggunakan aplikasi, beauty blogger nulis panduan dandan biar terlihat cantik dan menarik, ijinkan blogger mamak-mamak rumahan ini menulis tutorial mbikin cilok..ha..ha😀😀
  • Campur dua jenis tepung, bumbu yang sudah dihaluskan, plus daging cincang (bisa ayam/udang/ebi/ikan) dengan air panas secukupnya. Secukupnya saja ya, tidak terlalu kering, tapi tidak terlalu basah. Kalau terlalu kering, resikonya ambyar sepertinya..dan klo terlalu basah, susah pas waktu  membentuk bulatan.
  • Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan, daging/ikan/ebi), dan juga potongan sayuran
  • Campur adonan sampai kalis
  • Bentuk bulat-bulat 

Memasak Cilok

Tampilan cilok yang baru saja direbus. Biar matangnya sempurna, setelah direbus...lantas dikukus

Kebayang kan rasanya cilok? Gurih, kenyal dan semakin menggoda saat disandingkan dengan bumbu kacang pedas. Untuk bumbu, paling praktis adalah dengan menggunakan bumbu pecel yang sudah siap saji yang diencerkan plus saos tomat. 

Oke, balik ke cara memasak cilok. Pada prinsipnya...cilok melewati 2 tahap pemasakan, yaitu direbus dan dikukus. Kok 2x? Biar matangnya lebih sempurna tentu saja. Gak asyik kan, gunyah cilok yang terlihat matang di luar, tapi dalamnya masih kerasa tepung banget? Agar hasil masak ciloknya yahud, langkah-langkahnya seperti ini:

  • Didihkan air panas dalam panci, beri sedikit minyak goreng. Fungsinya? Agar para (bakal) cilok yang nantinya direbus tidak lengket satu sama lain.
  • Setelah air mendidih, masukkan adonan yang sudah dibentuk bulat. Tunggu sekitar 10 menit atau sampai mengapung. Kalau sudah mengapung, angkat dan tiriskan.
  • Dengan 1x proses pemasakan, sebenarnya cilok sudah bisa dinikmati/sudah enak. Cuma, agar kematangan mserata dan lebih sempurna, setelah direbus, kemudian kukus cilok sekitar 20 menit. 
Sambil menunggu pengukusan ini selesai/matang, bisa lho kita nyiapin sambal buat pelengkapnya. Ada dua opsi sebenarnya, mau yang praktis atau mau yang bener-bener home made, tapi saya lebih cenderung  milih menggunakan sambel pecel siap saji. Selama ngukus, saya bisa tinggal mandi, atau mengerjakan pekerjaan lainnya.  

Setelah sekitar 20 menit, cilokpun siap dinikmati. Selamat mencoba!

4 April 2020

Hari Kesekian #DirumahAja...




Kok masih nambah terus ya..? Kapan semuanya akan teratasi? Sedih saya setiap mendapat update an berita tentang jumlah penderita yang terinfeksi Covid-19. Terus bertambah, dan cenderung naik. Nggak cuma di ibukota, tapi di semua wilayah..grafik  masih terus naik. 

Berawal dari 2 orang yang terdeteksi di awal Maret, satu bulan kemudian jumlahnya sudah hampir menembus skala 2000-an se Indonesia. 

Jogja yang sebulan lalu masih terasa adem ayem, tiga minggu belakangan sudah terasa sangat berbeda. Jalanan lengang. Ruang publik seperti mati suri.

Efek physical distancing membuat Jogja terlihat jauh lebih sepi dari bisanya. Tak apa, asal Covid-19 segera enyah. Namanya berperang dengan musuh yang tak nampak, siapa sih yang nggak khawatir? 

Kalau saya tidak salah hitung, hampir 3 Minggu anak-anak belajar di rumah. Suami tidak full work from home, tapi selang-seling, sehari ngantor, sehari libur. 

Apa kabar anak-anak? Mereka ngerti kalau mereka tidak ke sekolah demi kebaikan semuanya. Dua bocah tiap pagi, senin-jum'at juga mendapatkan tugas dari sekolah. Awal-awal semuanya berjalan lancar. Tapi belakangan, sepertinya anak-anak mulai jenuh juga. 

Sayapun jenuh kalau mau jujur. Tiap hari rute dapur-sumur-kasur. Tapi ya mau bagaimana lagi? Mau nulis...idenya kok ya ngilang mlulu. Idealnya bisa seperti yang ada di infografis ini, tapi ternyata bagian workingnya belum optimal.

Infografis Freepik.com.

"Aku tu senengnya hari selang-seling, hari ini masuk...besok libur...masuk..trus libur..." Begitu celoteh bocah saya, Alya tempo hari. Bahkan ia bercerita kalau pernah bermimpi bermain bersama teman-teman sekolahnya. 

Nggak ada yang menyukai kondisi seperti ini, saya yakin. Interaksi sosial menjadi aneh..karena yang harusnya dekat/hangat, terpaksa harus berjarak. Tak ada lagi salam/peluk saat bertemu saudara/teman. 

Kalau dulunya gejala batuk/pilek dianggap sebagai sesuatu yang normal, saat ini ada semacam ketakutan kalau sampai menderita batuk/flu. Bisa berasa dihakimi masa kalau sampai batuk/bersin di depan umum..

Secara ekonomi, dampak dari merebaknya Covid 19 ini lebih parah lagi, terlebih bagi teman-teman yang bekerja di sektor informal. Beberapa bisa beneran tanpa pendapatan.

Sudah dua harian ini, banyak berseliweran via WA promo sayuran, daging ayam+telur ayam yang dijual murah, sangat jajuh dibawah harga pasar. Konsumen, tentu diuntungkan. Tapi sebenarnya, ada tangisan para peternak di situ. Mereka merugi, dan tak mau gambling sebelum harga benar-benar jatuh. 

Ah, sudahlah.  Kalau usaha, saya yakin semua sudah berusaha. Berdoa yuk, sama-sama agar cerita sedih di negara ini segera usai. Kangen semuanya kembali normal, bisa tertawa lepas, tanpa lagi was-was.



Diberdayakan oleh Blogger.