28 April 2020

Pengalaman Merawat Kucing Secara Mandiri Pasca Steril



Suatu siang, selepas dari daerah Bantul saya mampir ke sebuah petshop  khusus kucing di daerah Tamantirto, masih seputaran kampus UMY. Kebetulan, petshop ini sekaligus klinik dan juga penitipan kucing. Jadi begitu masuk, saya udah dapat hiburan..wajah-wajah anabul yang berada dalam kandang. Mata saya tertuju pada seekor kucing Jawa, dengan plester di perut.

“Itu kenapa mba, habis steril?” Tanya saya ke mbak penjaga petshop

“Iya. Steril sekitar 7 hari yang lalu.  Sudah mau sembuh kok itu.. plesternya sudah mau lepas. Yang punya maunya diambil sudah beres, jadi dititipin di sini sampai sembuh.” Jawab si Mbak

“Oh, gitu ya”

Berawal dari belanja dryfood, melihat si kucing, obrolan saya lantas berlanjut tentang mekanisme dan prosedur steril kucing betina di klinik tersebut. Kebetulan, saya ada kucing si Mamak Sweeti yang tak niatkan untuk disteril. Alasan, dan proses steril si kucing betina kami, saya tulis di postingan Pengalaman Steril Sweeti, Si Mamak Kucing.

Merawat Kucing Pasca Steril


Berapa lama luka operasi pada kucing pasca steril akan sembuh? Serumit apakah perawatan yang perlu dilakukan di rumah? Rata-rata dua pertanyaan itulah yang membayangi para pemilik kucing yang hendak mengikutkan hewan peliharaan mereka mengikuti program steril. 

Meskipun pada beberapa klinik menyediakan fasilitas rawat inap sampai kondisi kucing benar-benar sembuh, tapi banyak juga pemilik yang memilih untuk merawat kucingnya sendiri di rumah, alias rawat jalan. Pilihan itu juga yang saya ambil; membawa pulang Sweeti satu hari setelah operasi untuk kemudian merawatnya di rumah. 

Batasi gerak kucing (kalau bisa dikandangkan), jauhkan dari anak-anak kucing yang masih menyusu, pakaikan collar untuk menjaga agar kucing tidak menjilat/menarik bagian plester; tiga nasehat yang saya dapat dari dokter tempat dimana Sweeti menjalani proses steril.

Berhubung di rumah tidak ada kandang, saya  hanya membatasi sweeti untuk tidak keluar rumah. Tapi bukan tanpa drama juga, karena pernah lengah membiarkan pintu pagar terbuka, si Mamak kucing sempat kabur main ke kebun dengan perut berplester dan collar di leher. Untung cepat ketahuan, cepat dicari, dan ketemu. Huh!

Memakai Collar sepertinya tidak nyaman, tapi ini satu satunya cara menjaga agar lidah kucing tidak ke plester yang ada di perut

Soal collar, saya pernah lengah. Begini ceritanya.

Setelah seminggu, plester di perut boleh dibuka untuk mengecek kondisi luka di jahitan apakah sudah kering atau belum. Senang banget, waktu perlahan-lahan mengoleskan air hangat ke pinggir plester dan sedikit demi sedikit luka steril terlihat, saya membayangkan hari-hari berikutnya Mamak Sweeti sudah bisa bebas dari Collar, sudah bisa kembali menyusui anaknya, bisa menikmati hari seperti sebelumnya.

Begitu perban terbuka semua, alangkah leganya..terlihat benang jahitan berwarna hitam, seperti luka kalau sudah kering.  Meski katanya jahitan steril pada kucing itu mirip-mirip operasi SC pada manusia alias berlapis-lapis, tapi penampakan luka luarnya kecil banget. 

Saya raba perlahan, tidak ada air. Luka kering. Collar saya lepas, “Selamat menikmati kebebasan...”, bisik saya.

Sweeti saya tinggal bersama anak-anak. Beberapa menit kemudian saya cek, dan astagaa! Rupanya si Mamak tengah asyik menjilat dan menark benang jahitan yang tadi saya lihat berwarna hitam. Luka yang tadinya berwarna hitam-kering, menjadi kemerahan. Basah ada sedikit lubang bulat. Aduhhh!

Panik dong. Kemudian saya hubungi  dokter Iin, dokter yang mengoperasi si Mamak sambil menata hati,  kalau saja dokter menyarankan untuk membawa Sweeti ke Klinik lagi. Ternyata tidak. Dokter hanya menyarankan untuk memakaikan kembali si Collar agar si kucing tidak bisa self-grooming atau jilat-jilat tubuh, mengkompres luka yang basah dengan Revanol, dan kemudian mengoleskan salep berbahan dasar Getamicyn, 2x sehari.

“Ditlateni saja...” begitu pesan dokter

Seminggu berlalu, dan senangnya saat luka si Mamak sudah benar kering dan menutup sempurna. Alhamdullah, Collar bisa dengan aman saya pensiunkan dari lehernya. Sweeti.
Luka yang sudah kering, 2 minggu pasca operasi
Kesimpulannya? Merawat kucing pasca steril itu tidak sehoror yang dikira banyak orang kok, asal tidak ada penyakit penyerta (kemarin malah Sweeti sempat kena flu, kondisinya drop, jadi saya mesti minta bantuan drh untuk pasang infus+obat flu). Bisa banget pasca steril kita rawat di rumah, asal tlaten dan bisa mengawasi. Tapi kalau mau praktis, ya bisa dirawatinapkan sampai sembuh.


4 komentar:

  1. Beruntung mamak sweetie cepat ketahuan lagi self grooming ...,kalo ngga luka bekas jahitannya bisa bikin luia bernanah nantinya.

    Salam buat mamak sweetie dan anak-anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. He eh. Untung langsung tahu.. udah takut banget mesti jahit ulang..lha wong kayak ada bolong kecil gitu di perut. Untung diberi kompres+salep, bisa nutup....

      Hapus
  2. aku kok tetep ngilu ya lihatnya

    padahal dulu juga ngerasain sc

    semoga sehat selalu, sweeti. hidup tenang tanpa beban.

    BalasHapus
  3. Terima kasih banyaak Mbak buat cerita pengalamannya..sgt berguna sekali buat sy yg lg bingung cr info perawatan pasca steril subsidi..
    Krn br nemu kitten, dua2nya betina hehehe gak kebayang klo udah gede n dua2nya beranakpinak bs jd ratusan

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Untuk menghindari spam, untuk sementara kolom komentar saya moderasi dulu ya. Komentar berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin

Diberdayakan oleh Blogger.