31 Juli 2017


Beberapa hari yang lalu , sulung saya nanya.... "Ibu, ini musim hujan atau kemarau tho? Katanya kalau Juli itu musim kemarau. Tapi tadi kok hujan." Pertanyaan yang masuk akal menurut saya. Jaman saya SD pun, seingat saya ada dua pembagian musim dalam setahun. April-September, adalah jatahnya musim kemarau, sementara Oktober sampai Maret Indonesia masuk dalam musim hujan.

Tapi, belakangan, sepertinya patokan ini, nggak bisa berlaku tepat. Banyak faktor yang mempengaruhi yang  jelas. Kadang-kadang jadwalnya musim kemarau, eh..tiba-tiba mendung berhari-hari, bahkan hujan.  Tapi lebih seringnya, dihari-hari yang seharusnya kita sudah bisa menikmati rintik hujan, eh..malah panas menyengat.

28 Juli 2017

Tak jauh dari rumah, ada sebuah resto yang saban harinya terlihat rame. Jejamuran Resto namanya. Lokasinya berada di Kampung Niron, Pendowoharjo, Sleman. Nyarinya gampang,  karena posisinya pas tepi jalan raya.

Jejamuran Resto Sleman
Jejamuran Resto-Sleman
Tapi kebangetannya, sekian lama resto itu hadir, kami belum sempat nyobain. Alasan seringnya klasik..pak suami males mbelokin kendaraan, karena setiap lewat, parkirannya terlihat berjubel. 

27 Juli 2017

Sebagai blogger yang lahir, besar dan tinggal di Jogja, terus terang saya bangga sekaligus bersyukur. Gimana nggak, wilayah propinsi kami lumayan tersohor di seantero Nusantara, bahkan mancanegara. Semuanya, tak lain karena begitu banyak KEISTIMEWAAN yang dimiliki kota gudeg ini.

Ibarat bunga, Jogja mempesona. Ia cantik dan juga unik. Kekayaan yang dimiliki kota ini sangat beragam, mulai dari kekayaan budaya, adat istiadat masyarakatnya,  aneka kuliner khas, beragam lembaga pendidikan dengan kualitas yang teruji, termasuk sistem pemerintahan yang berbeda dengan sistem pemerintahan di propinsi lain.
image: wikipedia.org

26 Juli 2017

Salah satu permasalahan yang banyak melanda kota kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung termasuk pula Jogja,  adalah ketidakseimbangan antara pencari kerja dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Di tambah lagi biaya hidup yang makin hari makin tinggi. Nah, itu yang mesti diakalin.

25 Juli 2017

Kebutuhan hidup makin banyak dan meningkat

Mau nggak mau, rupanya kita sudah masuk ke zaman dimana kita  kita harus jeli dan pintar mencari peluang usaha. Bolehlah  berlatar belakang karyawan perusahaan swasta atau malah Pegawai Negeri Sipil. Tapi,  meski begitu kita mesti cerdik dan ulet dalam  mencari sumber pemasukan tambahan. Mengapa demikian? Yeah, karena  kita tahu bahwa tuntutan zaman semakin hari semakin tinggi.

Salah satu peluang yang menjanjikan berasal dari usaha kecil menengah. Banyak yang memandang sebelah mata usaha ini. Namun, banyak lho yang sudah membuktikan kalo  omset dari jenis usaha non-formal ini  sangat menggiurkan dan jumlahnya pun fantastis! Berikut beberapa usaha yang dipandang sebelah mata tapi ternyata memiliki peluang usaha luar biasa.

Usaha Menjual Gorengan

Gorengan adalah makanan favorit bagi mayoritas Indonesia. Di waktu-waktu senggang, orang terbiasa mengisi kekosongan tersebut dengan istilah ngemil. Bagi Anda yang ingin memulai bisnis ini, Anda dapat menggunakan peralatan masak pribadi saja dan membeli bahan membuat gorengan yang relatif mudah dan murah. Untuk lapak berjualan, Anda dapat memanfaatkan halaman rumah. Bila Anda tinggal di lokasi yang memiliki pepohonan perdu, ini akan sangat membantu usaha Anda. 

Usaha Menjual Minuman Dingin

Minuman dingin adalah dagangan yang tak ada matinya. Setiap orang pasti butuh minum. Apalagi bila Anda mendapatkan lokasi berjualan yang strategis, misalnya di area wisata atau di dekat sekolah, maka usaha Anda akan semakin laris manis. Dengan modal ringan Anda bisa mendapatkan untung yang lumayan.

Usaha Menjual Mainan Anak

Usaha kecil menengah ketiga yang prospek adalah menjual mainan anak. Bila Anda memiliki akses mudah dengan sekolah, usaha menjual mainan anak adalah peluang yang sangat menjanjikan untuk Anda. Mainan anak bisa dibeli secara grosiran dengan modal kecil dan bisa dijual kembali dengan harga eceran yang tinggi. 

Usaha Menjual Sayuran

Meski terlihat sepele, ternyata usaha yang satu ini cukup menjanjikan. Dengan bermodalkan sayuran segar, yang bahkan bisa diambil dari kebun sendiri, Anda sudah bisa berdagang dengan modal minimal tetapi hasil maksimal.

Usaha Menjual Dagangan Online

Berdagang online dapat Anda lakukan di mana dan kapan saja. Dengan modal gadget dan data Anda sudah dapat menjalankan usaha ini. Berbagai jenis toko online tumbuh begitu subur dewasa ini. Hal ini membuktikan bahwa usaha ini banyak menjanjikan peluang sukses. 

Apapun jenis usaha kecil menengah yang Anda pilih, kuncinya hanya satu, yakni tekun dan pantang menyerah. Sejatinya tak ada usaha tanpa risiko. Tugas kita  adalah untuk meminimalisir risiko dengan semaksimal mungkin. Ambil risiko dan raihlah impian sukses Anda. 




24 Juli 2017

Bagi saya, sepeda motor adalah salah satu partner hidup. Sejak SMA-kuliah-bekerja- dan sampai sekarang, inilah moda transportasi yang paling banyak mengantarkan saya ke tujuan. Saya nggak bisa bayangin, kalau saya nggak bisa mengemudikan motor, sementara tempat tinggal saya jauh dari jangkauan angkutan umum. 

Sharing Pengalaman; Dari Manual ke Matic


Saya ingat, begitu masuk SMA kakaklah yang ngajarin teknik/cara mengemudikan sepeda motor. Dibekalinya juga saya sedikit ilmu; kapan harus servis, kapan harus isi oli, dimana letaknya busi, dan untuk belajar titen saat di jalan (tau dimana ada tukang tambal, penjual bensin eceran, dan letak bengkel) kalau sewaktu-waktu butuh bahan bakar, motornya mengalami kebocoran ban atau ngadat nggak mau jalan.  

Setelah lancar, baru saya boleh membawanya ke sekolah. Era itu, seingat saya semua motor bertransmisi manual. Cuma ada dua pilihan, 2 tak dan 4 tak. Saat SMA, motor saya tipe bebek 2 tak. Yang saya ingat, tarikan gasnya agak berat, sedikit berasap pada knalpot, dan ada indikator di panel stang yang menyala merah ketika oli mesin mesti ditambah.

21 Juli 2017

Minggu pertama tahun ajaran baru semester ganjil, hampir terlewat. Apa kabar ibu-ibu, sudah terkondisikan stabil semuanya..? Ha..ha, kelamaan libur..kadang perlu adaptasi ulang. Ya anaknya, ya orang tuanya. Termasuk saya.


Libur pasca raport an yang nyambung ke libur lebaran kemaren ini, memang lumayan panjang menurut saya. Jadinya..gitu deh, terlena. Pas giliran harus siap sedia, ah..ternyata pagi-paginya ketemu beberapa "kenyataan hidup"

19 Juli 2017

Pantai Watulawang

Unik, kaya akan nuansa etnis. Itulah kesan pertama yang saya dapatkan begitu melihat beberapa gasebo yang berdiri di pinggiran pantai Watulawang GunungKidul, Yogyakarta. Tiba-tiba saya keingat dengan Honai, rumah adat papua. Ha..ha, belum pernah ke Papua sih, tapi ingat aja pas kemarin mbelajari Raka pas materi rumah adat. Meskipun nggak sama persis,  bentuknya agak-agak mirip 😁

Watulawang Gunung Kidul
Mau duduk atau lari-larian? Lapang... 😊😊

Hampir semua gasebo dipantai ini terbuat dari kayu (kayu bekas,atau batang pohon yang dibiarkan utuh, natural tp malah jadinya bagus), beratap bulat yang dibuat dari anyaman jerami atau juga daun tebu. Kesan klasiknya ngena banget

"Mau naik jembatan, dan foto di sana Bu? Bayarnya dua aja, nanti adik-adiknya gratis." 

Seorang pemuda berseragam POKDARWIS menawari kami untuk menyeberang menaiki jembatan batu, untuk kemudian berfoto. Tarif untuk menaiki jembatan dan menikmati pantai dari gasebo sebesar 5000 rupiah/orang. Kepengen sih..tapi anak-anak pada nggak mau, takut nyebrang katanya. Padahal dibawahnya juga pasir, bukan air laut karena laut pas surut. Tapi ya sudah lah..resiko bawa anak-anak kecil. 

"Rame mas?" Saya membuka obrolan dengan mas penjaga jembatan tadi. 
"Masih sepi Bu.., maklum lah...pantainya  masih baru"

Sore itu saya memang hanya melihat serombongan anak-anak muda, sekitar 5 orang yang tengah nongkrong-nongkrong di gasebo. Selebihnya, 2 petugas, dan kami berempat, saya , pak suami, dan dua bocil. Jadi memang masih relatif sepi. Padahal kami datang sore-sore pas week end, setelah maen ke Baron Technopark dan mbiarin anak-anak berpuas-puas berburu ikan di Pantai Krakal.

Baca Juga 
5 Hal Keren ini Menjadikan Pantai Krakal Gunung Kidul Sayang untuk Dilewatkan

Dinamakan watu lawang, karena di pantai ini ada batu karang yang bentuknya menyerupai pintu. Pantai ini pas banget bagi yang menyukai hal-hal yang masih natural, belum banyak terjamah banyak tangan. Mungkin, karena baru dua tahun pantai ini dikembangkan sebagai salah satu tujuan wisata pantai di Gunung Kidul.



Jalur Untuk Mencapai Watulawang

Pantai Watulawang terletak di Kecamatan Tepus, Gunungkidul dan  memiliki pintu retribusi yang sama dengan kawasan pantai Baron, Krakal, Kukup, Sepanjang, Drini, dan juga pantai Pulang Sawal/Indrayanti.  Posisi pantai berada di timur pantai Pulang Sawal/Indrayanti(antara Indrayanti dan Pok Tunggal). 

Sayangnya, saat ini hanya ada satu akses jalan menuju  Pantai Watu Lawang, yakni melewati jalan cor di sisi timur parkiran Pantai Indrayanti. Bisa, tapi lumayan sempit untuk kendaraan roda 4. 

"Masalahnya kalau Indrayanti rame, parkiran mereka penuh..jalan kami ketutup mba.., ini mau bikin jalan baru..tapi masih proses"  cerita mas-mas penjaga jembatan. Oh..jadi mungkin ini juga yang menyebabkan pengunjung pantai ini relatif sepi. Padahal, kalau mau...dari Pantai Indrayanti juga bisa lho berjalan kaki, paling sekitar 300 meteran. Sekilas posisi pantai ini agak nyempil, ndelik klo orang Jogja bilang...tapi modal nanya penduduk lokal atau manfaatin aplikasi Maps, ternyata gampang dicari kok.

Apa yang Bisa Dinikmati di Pantai Watulawang?


Hamparan laut lepas, karang, dan juga pasir putih yang membentang. Meskipun sudah di lengkapi beberapa sarana akomodasi, tapi secara kuantitas dan kualitas, memang masih sederhana.

Pantai Watulawang, Gunung Kidul
warung-warung sederhana, sudah ada kok


Pantai Watulawang, adalah pantai yang ideal untuk menyatu dengan alam, misalnya aja untuk nge-camp. Alami banget pokoknya suasana pantainya. Kalau misalnya untuk segmen keluarga,  bisa juga..tapi saran saya bawa pelengkap tambahan, misal cemilan untuk anak-anak plus mukena sendiri. Soalnya pas kemaren saya kesana menjelang maghrib, warung-warung sudah tutup plus nggak nemu mushola.

Gunungkidul dengan wisata pantainya, bagi saya mirip sebuah toko serba ada. Kalau diibaratkan dagangan, tinggal kita yang mau milih..mau pantai rame dengan fasilitas yang komplit, atau pantai-pantai baru yang mungkin justru banyak dicari. Ya, karena mereka lebih alami.




14 Juli 2017



Apa yang masuk ke tubuh kita sekarang, menentukan level kesehatan  di masa mendatang. Saya sepakat dengan itu. Meskipun yang namanya sehat-sakit, pendek-panjangnya usia semua adalah bagian suratan takdir, tapi sebagai manusia berakal tentulah kita punya cara untuk berusaha. Termasuk menjaga apa yang kita konsumsi, terlebih untuk anak-anak. Ya..iya, masa depan mereka masih jauh lebih panjang. 

11 Juli 2017

Papan nama bertulis Baron Technopark, selalu saya baca  setiap kali melintas di Jalur Jalan Lintas Selatan saat kami mau maen ke pantai seputaran Gunung Kidul. Iya, saya baca thok, karena mikirnya...ah, pasti harus pake ijin, ah..paling itu isinya semacam lab dan tempat penelitian gitu. Lha wong punyanya BPPT (Badan Pengkajian Penerapan Teknologi), apalah saya,  tanpa ID card instansi apapun, akses ke tempat seperti itu pasti terbatas.

Tapi baca-baca di beberapa tulisan, katanya Baron Technopark kini dibuka untuk umum, bisa digunakan untuk wisata edukasi. Apalagi sekarang sudah ada jam matahari. Weis, Bagus donk. Apalagi untuk anak-anak, kok kayaknya menunjang banget. Ya, biar jalan-jalan sekalian belajar.

7 Juli 2017


Balita itu klo nanya bahkan njawab pertanyaan, lucu dan kadang ajaib.
Kayak pas saya iseng nanya cita cita ke Alya (ha..ha, ini pertanyaan standar orang tua ke anak deh sepertinya)😎

Saya : Nok...klo sudah besar mau jadi apa?
Alya. : mau jadi dokter, trus masinis. Nanti habis nyopir kereta..trus ngobatin orang sakit.
Saya : Ya..boleh. Berarti harus rajin belajar lho.
Alya  : Eh..ada lagi. Aku juga mau jadi PEMBANTU
Saya: Pembantu???
Alya : Iya. Pembantunya ibu. Jadi nanti kalo sudah besar..aku yang goreng tempe...ibu yang masak sayur.
Saya : Oalah..
😊😊
***
Suatu malam, pas kami njajan bakmi goreng. Minuman, kami pesen teh dan jeruk anget. Belum juga mba yang mbawain minum pergi dari meja dimana kami duduk, tiba2 Alya kelihatan heran dengan sesuatu yang dilihatnya digelas.

Alya : Ini apa tho?
Ayah : Gula batu...
Alya : Batu apa? (Polos..ekspresi nanya beneran gitu)
***

3 Juli 2017

Lebaran dan silaturahmi itu bagai dua sisi mata uang, keduanya nggak bisa dipisahkan. Biasanya moment silaturahmi ini diadakan setelah sholat Ied, berlanjut dengan acara halal-bihalal, sungkeman, saling memaafkan.

Untuk tradisi silaturahmi ini, mungkin masing-masing tempat berbeda tradisinya. Setidaknya ada tiga yang saya tahu:
  1. Ada yang cukup berkumpul di masjid, kemudian saling memaafkan, nanti kalau misalnya mau diteruskan dengan acara kunjungan dari rumah ke rumah..ya monggo..nggak pun nggak apa-apa, karena sudah ada ikrar saling memaafkan pas di masjid.
  2. Ada yang berkunjung dari rumah ke rumah, ngobrol sebentar dengan tuan rumah mencicip suguhan lalu pamit.
  3. Ada pula yang berkunjung  rumah, dan kemudian dipersilakan oleh tuan rumah untuk menikmati hidangan besar alias makan.