Lagi-Lagi Rakyat (Kecil) Kena Imbasnya

Posting Komentar
Duh, rakyat yang kena


Kenapa ya belakangan rakyat Indonesia itu kayak banyak beban pikiran banget. Harga sembako, naik. Sumber protein, terutama harga daging sapi  makin mahal. Bahkan, tempe-tahu –protein yang paling merakyat pun terancam naik harga atau kalau tidak bakal menyusut ukurannya gara-gara kenaikan harga kedelai impor. Satu lagi barang yang juga mengalami kenaikan harga drastis, yaitu plastik.

Harga plastik (terutama bahan baku dan kemasan) dilaporkan naik sekitar 14-15% secara umum, bahkan untuk jenis polimer tertentu, lonjakan harga bahkan mendekati 100%. WOW banget kan. Konon perang Amerika-Iran lah penyebabnya. Iran memblokade selat Hormuz, distribusi minyak dunia terganggu, harganya naik, dan plastik yang memang berbahan baku minyak bumi, mau tidak mau ikutan ganti harga. 

Padahal tahu sendiri kan, betapa masyarakat Indonesia itu sedemikian butuhnya dengan plastik. Hampir semua bahan pangan –baik produksi pabrik ataupun UMKM terbungkus dalam kemasan plastik.  Detergen, minyak goreng, jajanan bocah, termasuk  cilok untuk dibawa pulang, bungkusnya mke plastik. Beli sayuran, abang tukang sayuranpun pasti mengemas barang belanjaan dengan plastik. Haus terus butuh minum teh? Rata-rata disajikan dalam gelas plastik juga.

Kenaikan harga plastik ini, pastinya akan membawa pengaruh. Pabrik besar yang memproduksi barang berkemasan plastik, bisa jadi mengambil strategi menaikkan harga atau mengurangi kuantitas produk. UMKM level menengah atau menengah ke bawah yang pusing tujuh keliling. Mereka juga terimba, tapi maju-mundur untuk bisa mengakalinya.  

Sepertinya golongan ini hanya punya dua opsi; bisa bertahan di harga yang sama, tapi mengambil langkah mengurangi kuantitas maupun kualitas produk. Atau kalau tidak, mengambil opsi yang satunya yaitu menaikkan harga, tapi tanpa ada pengurangan kualitas maupun kuantitas barang produksi.

Sedih sih, kalau opsi naik harga yang dipilih. Keadaan ini akan membuat 2 pihak galau, ya penjual dan juga pembeli. Nah, pemerintah yang harusnya jadi “penengah” melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Tapi melihat dan mendengar  statement-statement yang keluar dari pejabat yang bersliweran di media sosial,  kenapa bawaannya pesimis mlulu ya? Kalau teman-teman, bagaimana? 

Sulis
Hai, saya Sulis! Seorang ibu dari raka-alya, bisa dihubungi di raka.adhi(at) gmail.com, sulistiyowatitri98(at) yahoo.co.id, atau t.sulistiyowati80(at)gmail.com
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar