Cari Blog Ini

30 September 2019

# kesehatan # Perlu Tahu

Pengalaman Saat Anak Terkena Cacar Air

S aya ingat, hari itu Jum'at  malam dan Alya baru saja selesai belajar. Esok hari adalah UTS (sekarang istilahnya Penilaian Tengah Semester) pertamanya semenjak duduk di bangku SD.




"Bu ..tanganku ada bentolnya .." Kata si bocah sambil menunjukkan tangan kanannya. Satu lentingan merah berisi air, berukuran sedang terlihat di sana.

"Waduh, kena cacar air Nok.." Kata saya sambil buru-buru mengamati bagian tubuh lainnya. Ternyata ada 1 lentingan besar  3 lentingan kecil di kepala. Nyaris tidak terlihat karena tertutup rambut.

"Besok nggak usah sekolah dulu ya..UTS nya ikut susulan".

Saya beresi buku-buku belajarnya. Sebagai ibu sedih juga, harusnya ujian kok malah sakit. Tapi untung Alya biasa, nggak demam, nggak rewel, dan nggak sedih mikir UTS yang kepending. Anak-anak mah gitu, saat ujian kadang ibunya yang lebih sibuk dibanding anaknya.


"Asyik..kalau susulan nanti malah aku ngerjain soalnya di kantor guru, ada AC nya..

Untung si bocah malah semangat  mesti statusnya nyusul. Tanpa banyak menunggu, malam itu juga, saya minta ayahnya segera ke apotek terdekat membeli Acyclovir tablet, dan juga Acyclovir salep. 

Cacar Air, Salah Satu Penyakit Yang Gampang Sekali Menular


Sebenarnya  sejak beberapa hari sebelumnya pun saya sudah was-was kalau Alya bakalan terjangkiti cacar air. Dalam satu Minggu itu, 7 dari teman sekelasnya tercatat absen tidak masuk sekolah karena cacar air.

Ee...ternyata Alya menjadi yang ke 8 dari total 32 anak. Itu baru dari satu kelas paralel, entah kelas 1 yang lain dan kakak kelas lainnya.
Cacar air, memang sering mewabah di musim kemarau dan biasanya menyerang anak-anak di bawah usia 10 tahun, 1x seumur hidup (meskipun dalam beberapa kasus ada juga yang justru terkena saat dewasa, dan bisa saja lebih dari 1x terserang).

Virus Varicella Zoster si penyebab cacar air, gampang sekali menyebar. Sebuah situs kesehatan menyebutkan bahwa virus ini menyebar melalui udara saat penderita batuk, bersin, kontak langsung dari lendir, air ludah atau cairan luka lepuh. Itulah alasan kenapa penderita yang sedang terjangkiti cacar air hendaknya meminimalisir kontak dengan orang lain. Ya, kalau anak-anak solusinya tidak usah ke sekolah dan tidak main di luar rumah dulu.

Gejala yang Umum Dialami Penderita Cacar Air dan Penangannya.


Gejala khas yang paling mudah diamati adalah munculnya ruam pada kulit, seperti lepuhan. Beberapa akan didahului dengan keluhan tidak nyaman pada badan, atau bisa juga demam.

Kalau kasusnya Alya tempo hari, malam sebelum lepuhannya muncul ia mengeluh capek dan minta dipijit, serta tidurnya gelisah. Untungnya, gejala-gejala tadi tidak disertai demam. Jadi, bisa disimpulkan bahwa tidak semua  gejala cacar air disertai dengan kenaikan suhu tubuh/demam.

Di daerah saya, masyarakat biasa menyebut cacar air dengan cangkrangen. Di era saya kecil, obat yang paling mujarab untuk mengobati gejala cangkrangen adalah daun dari pohon cangkring yang diambil sarinya, untuk digunakan sebagai campuran air mandi.

Sayang, saat ini pohon cangkring makin langka dan susah untuk ditemui. Kalau yang belum tahu pohon cangkring seperti apa, berikut fotonya. Sumber foto, googling di google image😊


Erythruna Fusca, atau tanaman cangkring yang kini semakin langka

Ketika saya bertanya kepada teman-teman via fb terhadap penanganan anak yang terkena cacar air, ternyata ada beberapa obat herbal/medis yang  mereka terapkan untuk mengobati cacar air, seperti:
  • Mengoleskan propolis pada lentingan
  • Mandi dengan air yang sudah dicampur dengan kayu secang
  • Mengoleskan obat luka pada lentingan cacar air
  • Mengoleskan lidah buaya pada lentingan yang sudah kering, agar bekas lentingan cepat pudar/tidak membekas
  • Menggunakan paduan Acyclovir salep+Acyclovir tablet
  • Menambahkan serbuk Pk dalam air mandi
Beberapa penanganan ini bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi, tapi tempo hari saya menggunakan treatment medis dengan memberikan acyclovir tablet+acyclovir salep+bubuk PK dan juga perisai untuk daya tahan tubuh, yakni imboost sirup.
"Enak bu..kalau disalep pakai ini..dingin!" Komentar Alya tentang Acyclovir salep. 

Pernah, saya mau nyoba olesi dengan obat luka yang kata teman bisa mempercepat pengeringan, tapi Alyanya nggak mau. Ya sudah, dan ternyata dengan obat-obatan yang saya gunakan itupun kemajuannya juga lumayan cepat. Si bocah tetap mandi 2 kali sehari, dan tanpa ada pantangan makanan. Justru saya minta Alya untuk banyak konsumsi makanan sehat.

Berapa Lama Gejala Cacar Air Sembuh?

"Mbak...kalau cacar air itu...orang tuanya kudu sabar," kata seorang teman.

Nasehat yang benar,  karena memang dari munculnya lentingan sampai benar-benar kering,  waktu yang dibutuhkan lumayan panjang. Bahkan seberapa banyak jumlah lentingan yang munculpun tidak sama, ada yang jumlahnya banyak hampir merata seluruh tubuh, tapi ada juga yang sedikit.  Bersyukur, karena Alya termasuk yang sedikit.

Lalu berapa lama sembuh? Kalau untuk yang benar-benar kulit kembali bersih (sampai bagian hitam bekas luka cacar mengelupas sempurna, bisa jadi butuh waktu satu sampai dua minggu.  Tapi karena pertimbangan luka cacar  sudah kering, dan semua teman-temannya sudah masuk sekolah kembali, akhirnya 6 hari pasca terjangkiti cacar air Alya masuk sekolah. Jadwal ujian susulan sudah menunggu juga soalnya.

Hari ke 5, cacar yang di wajah sudah mengelupas. Besok paginya sudah berangkat sekolah lagi😁

Semoga saja sih aman, sudah nggak ada lagi yang bakal tertular penyakit cacar  air ini.

Teman-teman punya pengalaman seputar cacar air juga? Boleh lho sharing di kolom komentar...


1 komentar:

  1. Ya kudu sabar yah mba... anak yang terkena juga harus diisolasi biar sodara2nya gak tertular.

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Untuk menghindari spam, untuk sementara kolom komentar saya moderasi dulu ya. Komentar berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin

Follow Us @soratemplates