30 Januari 2018

Nikmati Wisata Keluarga di Daerah Kuningan, Wisata Desa Sitonjul


Bosan berlibur ke tempat wisata yang ramai seperti kolam renang, pantai, atau kebun binatang. Ingin merasakan sensasi berlibur dengan objek dan tantangan yang berbeda? Cobalah sekali-kali menikmati liburan  ke desa wisata. Dari sekian banyak desa wisata di nusantara,  salah satunya adalah Desa Wisata Sitonjul, Kuningan yang menjadi tempat wisata edukasi terbaik pada banyak berita terbaru hari ini. 

Di Desa Sitonjul Kuningan kamu akan diajak berkeliling desa dengan berjalan kaki sekitar 4 Km. Perjalanan menikmati alam pedesaan ini dimulai dari Dusun Simenyan Kidul, Hutan Rakyat, Makam Umum, Tegalan dan Pesawahan, Dusun Tonjong, Tanggul Irigasi, Bendung Katiga dan terakhir di Dusun Munjul Kaler. 

28 Januari 2018

Njajan Makan Siang di Warung Konco nDeso Yogyakarta

Review-warung-konco-ndeso-yogyakarta


"Sugeng rawuh, monggo pinarak.."

Sapaan hangat dari seorang waiter menyambut kedatangan kami dan juga para pengunjung lainnya. Dalam bahasa Indonesia, artinya "selamat datang, silakan masuk..."

Rasa lapar dan penasaranlah yang mengantar saya, pak suami, dan dua krucil Raka-Alya, untuk mampir di resto ini. Lapar karena memang sudah jam makan siang. Penasaran karena Warung Konco nDeso masih baru banget; belum sebulan dilaunching tapi sudah ramai. Apa tho istimewanya? Begitulah kira-kira.

Tampilan bentuk resto yang depannya berbentuk rumah tradisional Jawa, para waiter yang mengenakan baju surjan-lurik, dan namanya Warung Konco nDeso, menjadikan  tempat ini auranya nJawani...atau nJogja banget. Mirip-mirip suasana di Kopi Panggang Dhaharan nDeso

review-warung-konco-ndeso
Tampilan depan resto, nJawani & nJogja banget

"Yang lesehan ada mas..?" Tanya Pak Suami berikutnya. Biasanya kami milih lesehan, karena untuk anak-anak berasa lebih nyaman aja duduknya. 

"Oh, yang belakang itu untuk lesehan, tapi untuk yang sifatnya rombongan. Minumal 14 orang. Kalau untuk keluarga atau rombongan kecil, di depan pak" Penjelasan dari waiter berikutnya.

Oke lah kalau begitu. Nggak begitu masalah juga sebenarnya. Meskipun sudah ramai, tapi bagian depan masih banyak space kosong. Duduklah kami di meja no 7. Satu buah meja makan gaya jaman dulu, dengan 4 kursi kayu jadul pula.

Di atas meja, ada snack tunggu berupa ceriping singkong dalam toples kaca jadul,  4 piring, kalau saya nyebutnya "piring blek"..atau semacam seng yang ngingetin saya dengan piring-piring budhe saya sekitar 30 tahun silam. 

Sebentar menikmati suasana, seorang waiter kembali menghampiri kami sambil membawa daftar menu dan memberi penjelasan tentang sistem order di warung ini. Intinya, nasi+sayur di kemas dalam menu yang namanya Dhahar Sadumugunipun, atau dalam bahasa Indonesia, makan sepuasnya, ambil sendiri-sendiri, milih sayur menurut selera..harganya sama rata, per porsi 12 ribu.

Lumayan juga untuk ukuran kantong saya. Diblanjain di warung padang, udah satu porsi nasi-sayur, plus lauk๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž. Dasar emak-emak, kemana-mana bawa kalkulator.

Ada dua macam nasi, nasi putih  dan nasi beras merah. Sayurnya, ada beberapa macam, dengan pilihan menu ala  dapurnya masyarakat desa seperti lodeh, bening, asem-asem dan juga sop. Jadi nasi sayur ambil sendiri, sementara lauk, minum, jajan pasar/snack dianter ke meja. 

Harga-dan-menu-warung-konco-ndeso
Menu+harga di Warung Konco nDeso
Gelas blirik + Piring Blek,,, Jadul banget
Pak suami milih makan siang dengan sayur lodeh dan nila, plus jeruk panas. Raka make sop, ayam goreng, jeruk panas. Sementara Alya saya ambilin sayur bening bayam, plus telur dadar. Saya tertarik nyobain wedhang secang, jenis minuman hangat yang jarang ada di warung-warung makan atau restoran. Oh..iya, gulanya di sediain terpisah, make gula batu. Jadi semua minuman diantarkan ke meja, dalam kondisi tawar, tanpa gula.


Namanya selera, tentu saja antar orang perorang akan beda. Kata pak suami sih rasa makanan di tempat ini biasa. "Kurang mantep bumbunya", begitu komentarnya. Untuk lidah saya yang cenderung "gampangan" alias apa saja doyan... Ya...paling nggak rasa masakan chef-chef di Warung Konco nDeso ini lebih enak dari masakan saya. Soal variasi menu..jujur menu-menu tadi sudah akrab untuk lidah saya. Jadi ya biasa. Orang saya tinggal di Desa๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€ Untuk anak-anak saya sih menu-menu nya juga berasa biasa, karena mereka sering saya masakin sayur lodeh, sop, atau sayur bening saat di rumah. 

Makan di Warung Konco nDeso ini pas banget untuk yang lagi kangen atau mau kangen-kangenan dengan suasana ruang makan orang Jogja tempo dulu. Dengan menu-menu Ndeso dan juga jajan pasar seperti lemet, mentho, dan juga pisang goreng.  

Pisang goreng yang fresh from the wajan ๐Ÿ˜Š
Melihat jenis menu yang ada, tampilan penyajian, dan suasana resto, yang lebih enjoy disini mungkin pengunjung-pengunjung usia 30an tahun ke atas. Atau yang lagi kangen sama masakan-masakan rumahan...

Sambil nyuci tangan yang krannya terletak di belakang, saya sempat ambil foto resto bagian belakang, yang dipake untuk rombongan. Asri tempatnya. Cakep!! Masih dalam tahap penyempurnaan juga, karena masih ada tumpukan material kayu-kayu yang belum terpasang.

Area belakang yang buat lesehan/rombongan

Kesimpulannya?? Penasaran saya dengan Warung Konco nDeso ini sudah terjawab. Kalau menurut saya pribadi, resto ini lebih menjual suasana tempat makan, dibanding variasi makanannya. 

Kedua, rasa lapar saya juga dah ilang begitu meninggalkan resto ini. Ha..ha, soalnya saya ngambil nasi+sayurnya buanyak, mumpung sistem prasmanan...jadi saya manfaatin, ambil satu piring berdua, sekalian buat nyuapin Alya.๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Penasaran Warung Konco nDeso ada dimana?? Gampang banget dicari. Utaranya terminal Jombor persis atau tepatnya di Jalan Magelang Km 6,8 Sleman, Yogyakarta




24 Januari 2018

Perdana Nyobain Bikin Nugget Pisang Sederhana




Selama ini, dalam hal masak memasak, olah-mengolah makanan, saya nggak pernah neko-neko. Lempeng aja klo masak. Sayuran, paling sering ditumis. Lauk-pauk mayoritas digoreng. Cemilan...sama, kalo nggak gorengan ya rebusan.

Hingga kemudian suatu hari, saya nemu di jalan --entah, pas lewat di mana, saya lupa, ada yang jual nugget pisang, pake gerobak. Penjualnya pas tutup, hanya ada gerobak plus tulisan.. "Oh..ada ya nugget pisang", batin saya sambil terus jalan. Wkk..ilmu kulineran saya tentang jajanan pisang masih sebatas pisang goreng, pisang rebus, pisang aroma dan pisang bakar ternyata๐Ÿ˜€ Agak ribet dikit mbikinnya, ada carang gesing.

18 Januari 2018

Menjauh dari Tubercolosis (TBC)


Keluarga kami punya cerita buruk, tapi bisa jadi ada pesan yang bisa diambil sari sana. Satu generasi yang lalu,  nenek saya meninggal  karena TBC --masyarakat desa lebih familiar dengan sebutan 'sakit nafas'. Sayapun ingat, ada Bu Lik saya --yang kala itu masih sangat muda, sudah menjalani pengobatan rutin --tapi mungkin karena stadium penyakitnya sudah lanjut, akhirnya meninggal pula, karena penyakit yang sama. Bermasalah dengan paru-paru.

16 Januari 2018

BATAS, Film lama, Tapi Sukaaa!


Gara-gara kuota internet malam yang sering numpuk-numpuk dan sayang klo nggak termanfaatkan, kadang kalo lagi males untuk nulis atau bahkan untuk mbacapun lagi males juga (ya ampunn..saya kok pemalas banget), aktivitas favorit saya pas dini hari adalah cari-cari film di youtubeGo. Kadang langsung tonton, kadang save dulu, liatnya ntar sambil setrika --dan kemudian setrikanya ga kelar-kelar๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Sejak jaman dahulu (ha..ha, kayak judul filmnya anak2) saya sukanya liat film nasional. Biar nggak repot mbaca subtitle. Genrenya, suka yang drama. Pokoknya yang gak ada adegan tembak-menembak, minim kekerasan, dan bukan film horor. Paling suka drama romantis tapi yang realistis. 

Penelusuran dari satu film ke film lain, hingga kemudian saya tertarik dengan judul film BATAS

Iya, Ini Film Lama

Dalam menikmati sebuah film, urusan film baru atau lama, buat saya nggak  begitu penting. Beda dengan berita yang sisi aktualitasnya memang harus dikedepankan. Kayak mbaca cerita fiksi intinya, mau buku baru atau buku lawas, kalau memang isinya bagus, suka, ya ga masalah. Film 'Batas' sendiri dirilis  pada Mei 2011, dan merupakan film besutan Rudi Soedjarwo, sutradara yang nggak perlu diragukan lagi kemampuannya. Seperti kebanyakan film-film nasional, film inipun juga merupakan adopsi dari sebuah novel dengan judul yang sama, karya Akmal Nasery Basval.

Karena film yang sudah lumayan lama, bintang-bintang yang ada dalam 'Batas' pun juga bisa dikategorikan senior. Marcella Zalianti (Jaleswari), Arifin Putra, Ardina Rasti, Jajang C. Noer, Piet Pagau, dan banyak lagi aktor lainnya.

Sinopsis



Film 'Batas' mengambil setting di Jakarta (sedikit sekali) sementara porsi terbesar adalah berlatar belakang  kehidupan masyarakat suku Dayak di Pontianak, Kalimantan Barat.

Film dibuka dengan adegan  seorang perempuan (Adina Rasti), yang berusaha lari dari kejaran dua laki-laki dewasa di tengah hutan. Kalau dari gelagatnya, sepertinya hendak diperkosa. Untungnya, datang beberapa pemuda, yang kemudian menolongnya --salah satunya, Arif (Arifin Putra). Sang Perempuan pingsan, dibawa ke kampung terdekat, dirawat oleh seorang ibu, Nawara (Jajang C Noer). Diceritakan kemudian, perempuan tadi mengalami depresi, bahkan namanya pun ia tak ingat, dan kemudian diberi nama Ubuh.

Adina Rasti sebagai Ubuh
Di sisi yang lain, ada perempuan kota  --Jaleswari ( Marcella Zalianti) yang barusan datang ke Pontianak. Ia merupakan utusan sebuah perusahaan yang bertugas melakukan riset, karena program CSR bidang pendidikan  perusahaan di kantornya selalu gagal, guru yang dikirim selalu berakhir tidak betah.

Medan jalan yang masih sulit, mobil jemputan yang mengalami ban kempes, hingga obrolan antara sopir-Jaleswari tentang bahaya nabrak babi bagi pengguna jalan..merupakan awal ketertarikan saya untuk terus menikmati film ini sampai akhir. "Pasti akan banyak lokalitas-lokalitas yang akan ditampilkan di film ini," batin saya. Dan ternyata memang benar.

Ban mobil yang kempes, mengenalkan Jaleswari dengan Arif. Kemudian ia bertemu dengan Adeus, pemuda asli yang juga memiliki kepedulian terhadap pendidikan, Borneo, bocah pemberani, cucu Panglima, sang Ketua adat.

Di ceritakan, kemudian Jaleswari tinggal serumah dengan Nawara, Borneo, dan juga Ubuh. Ada banyak hal-hal menarik dan saya suka pada bagian ini. Bagaimana Jaleswari berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang jauh dengan mewahnya Jakarta, bagaimana kemudian ia bisa berbaur dengan anak-anak setempat, dan berbagi ilmu dengan mereka, hingga kemudian ia  bisa mengambil benang merah tentang penyebab kegagalan program CSR perusahaannya.

Yang Menarik dari Film BATAS


Pemain bisa menjiwai karakternya masing-masing dengan bagus

Ya, mungkin ini nggak bisa lepas dari pemilihan aktor-aktrisnya yang hampir semuanya adalah wajah-wajah lama, dan sudah memiliki jam terbang tinggi dalam dunia acting, baik itu melalui sinetron maupun dalam film layar lebar. 

Sayasuka sosok Jaleswari yang nggak hanya cantik, tapi juga smart dan juga pemberani. Cewek idaman banget pokoknya. Ada Panglima, sang ketua adat yang berwibawa. Peran seorang polisi intelejen di daerah perbatasanpun apik dimainkan oleh Arifin Putra. Ia bisa membawakan sosok seorang pemuda yang kalem, dengan sorot mata yang tegas --meski sebenarnya ia sedang jatuh cinta.

Batas Indonesia dan Malaysia, di pedalaman Kalimantan

Lokalitas Kalimantannya Nampak Banget

Meski yang nonton bakalan orang se- Indonesia, bahkan luar negeri, tapi karena setting cerita adalah kehidupan masyarakat di Suku Dayak, makan banyak banget obrolan antar pemain menggunakan dialog bahasa daerah, yang dilengkapi terjemahan di layar.

Di film ini, sutradara juga mampu dengan apik menggambarkan kehidupan masyarakat Dayak pedalaman yang masih taat dan patuh banget dengan kepala suku. Masyarakat yang gemar mengadakan berbagai ritual upacara. Habis nonton ini, jadinya malah penasaran..dalam kehidupan nyata, kayak gitu nggak sih hidup mereka? 

Mampu Mengeksplore Bumi Kalimantan yang Cantik


Anak-anak, belajar di alam
Banyak adegan-adegan dalam film ini yang dengan sengaja memanjakan mata saya dengan view-view alam yang mempesona. Sungai-sungai Kalimantan dengan kiri kanannya masih kawasan hutan, gunung hijau, alam pedesaan yang sejuk..Ahh, cakep pokoknya .

Pokoknya, karena ini review film lawas.. bagi yang belum nonton, coba gih nonton sendiri. Siapa tau pendapat kita sama..Eh, tapi kalaupun beda, ya gak apa-apa juga sih.

12 Januari 2018

Tips Memilih Jilbab Instan Terbaru yang Tepat untuk Anda Pakai di Kantor


Bagi seorang muslimah, mengenakan hijab adalah suatu kewajiban. Untungnya, saat ini banyak didesain dan dipasarkan berbagai jenis dan model jilbab yang bisa dipakai oleh para muslimah untuk memenuhi kewajibannya tersebut. Beberapa model jilbab memang terlihat lumayan rumit dalam hal penggunaannya. Untungnya, makin hari makin banyak desainer jilbab yang jago mengakalinya dan makin mempermudah para pemakai jilbab dengan semakin banyaknya  jilbab instan model terbaru,  sehingga kamu tidak perlu bingung untuk membuat kreasi jilbab yang bagus. Dengan jilbab instan pun, kamu tetap terlihat modis dan cantik. 

10 Januari 2018

3 Januari 2018

2 Januari 2018

Diberdayakan oleh Blogger.