29 Mei 2016

"Bismillah untuk hari ya mbak" 
Sebuah pesan masuk, melalui WA. Dari seorang teman, kenal karena anak-anak kami sekolah di tempat yang sama.

"Iya mbak..semoga anak-anak lancar" begitu balas saya. 

Ternyata saat anak-anak ujian kenaikan kelas, yang cemas dan dag dig dug porsinya lebih banyak ibunya daripada anaknya. Benarkan?

Kamis, 26 Mei memang hari yang istimewa. Sulung saya mengawali Ujian Kenaikan Kelas, atau istilahnya Test Kendali Mutu. Tak seperti sebelumnya, TKM kali ini menggunakan lembar jawab komputer dengan sistem koreksi yang juga terpusat di tingkat kabupaten. Efeknya, anak harus lebih hati-hati dan teliti. 


Hmm...begini menjadi ibu, sering was-was, ketar-ketir...padahal anaknya mah santai aja.  Mungkin karena masih bocah, Raka malah seneng kalau ujian, bisa pulang gasik alias lebih awal, nggak peduli materi yang begitu banyak sudah dikuasai atau belum... 

Sebagai ibu, tentu  kami ingin yang terbaik, anak bisa mengerjakan soal dengan lancar, hasilnya juga memuaskan (Aamiin). Pengennya bisa melepas anak untuk belajar sendiri, tapi dalam prakteknya anak belum bisa dan belum terbiasa, masih harus tetep disiapkan buku-buku yang harus dibaca atau soal-soal mana yang harus dikerjakan untuk latihan.



Tapi, saya bersyukur dengan teknologi saat ini yang begitu memudahkan para orang tua. Ada Pak dhe google yang siap ditanya 24 jam saat saya ragu atau bahkan lupa dengan materi pelajarannya anak kelas 3 SD. Belum lagi buku-buku elektronik yang bisa diunduh dengan mudah, dengan banyak soal latihan di dalamnya yang sering mbikin Raka manyun tiba-tiba sambil berkata, " ini dibaca dan dikerjakan juga? Tapi habis ini istirahat dulu yaa..." (ha..ha..)

Minggu depan, masih ada beberapa mata pelajaran yang menunggu untuk diujikan. Sebagai orang tua, saya hanya bisa berdoa, membantu sebisa yang saya mampu. Sukses ya Nak...minta doanya ya teman-teman...

*maap juga klo BWnya  dan mbalesi coment jadi lemot..






20 Mei 2016

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.
mataharimall-kompetisi




Di rumah, sayalah manager. Meski tidak semua urusan keuangan saya yang pegang (ada beberapa kewenangan yang tetap di handle pak Suami), tapi paling tidak saya turut andil dalam menjaga dan mempertahankan stabilitas perekonomian rumah tangga. Lalu, apakah dalam hal ekonomi, kami anteng, adem ayem, tanpa riak atau masalah? Nggak juga.. 

Namanya manusia, kadang nggak tahan godaan. Begitu masuk pusat perbelanjaan, terlebih di bagian baju-baju anak seukuran dua bocil Raka atau Alya, sering lupa sisa lembaran di dalam dompet berapa.  Sering juga salah hitungan, terlebih untuk pos-pos biaya yang tak terduga, seperti saat ada anggota keluarga yang sakit,   undangan nikahan keluarga, saudara, dan teman yang pada bulan-bulan tertentu bahkan bisa belasan. Kalau sudah begitu, jadilah saya seperti Budi, seperti dalam video ini. 


Cukup, nggak cukup, sebisa mungkin cukup. Ada tabungan, tapi sebisa mungkin tidak diambil, kecuali terpaksa, benar-benar kepepet. Jurus Pengiritan mulai diterapkan! Inilah tiga jurus pengiritan ala saya:


1. Nggak malu dengan menu ala Posyandu.

Biasanya, pertengahan bulan adalah saatnya status "siaga" diterapkan. Cek sisa saldo keuangan, hitung berapa pos wajib yang belum terbayarkan, dan alokasikan sisa budget untuk konsumsi, syukur-syukur bisa rekreasi. Seandainya nominal mendekati batas akhir, harap maklum seandainya menu dapur hanya seputaran tumis kangkung, sayur sop, bening bayam berteman tahu-tempe, atau telur. Jangan komplain pula kalau buah pun dicari yang murah-meriah seperti pepaya atau pisang. Mirip-mirip menu saat putri bungsu saya ikut posyandu. Hemat, tapi yang penting sehat :-)

2. Berusaha disiplin dengan diri sendiri

Ini yang paling berat, karena godaan datang setiap saat. Yang harus saya pegang adalah, nggak boleh besar pasak daripada tiang. Mending pending mbeli, daripada harus ngutang sana-sini. Maka ketika ada godaan datang di depan mata, yang segera dilakukan adalah merapalkan mantra dalam hati "-kebutuhan-apa-keinginan-kebutuhan-apa-keinginan." Setelah mantap, dan sudah melewati proses pertimbangan, barulah tahap pengambilan keputusan.

3. Manfaatkan Promo dan Diskon
Aneka promo dan diskon, bisa diibaratkan 'jembatan penolong' yang menghubungkan konsumen-pedagang. Siapa tho yang tidak mau mendapatkan barang yang dibutuhkan dan diidamkan dengan harga yang sesuai dengan kondisi keuangan? Makanya, angkat dua jempol sekaligus untuk Matahari Mall dengan aneka promo dan diskon di akhir bulan. Dengan cara seperti itu, tidak hanya Budi dan saya saja yang tertolong, tapi juga jutaan manager rumah tangga lainnya di Indonesia, bahkan seantero dunia.

16 Mei 2016


Meminimalisir anak-anak berinteraksi dengan smartphone dan mengembalikannya ke fungsi semula; alat komunikasi, bukan piranti nge-game, itu salah satu upaya saya dan suami sekitar sebulanan terakhir. Memang aneka permainan di smartphone sangat ampuh untuk mengkondisikan anak-anak anteng, dan sibuk sendiri. Tapi kalau dibiarkan berlama-lama, nanti kami yang kelabakan sendiri. Raka yang sudah pendiam (minim ngomong) semakin cuek. Asal sudah pegang hape....kalau diminta melakukan sesuatu jawaban tersering adalah "nanti...." atau "iya", tapi tak beranjak dari tempat semula. Saat sedang asyik, sepertinya ia lupa dengan apa yang ada di sekitarnya. 

Alya yang masih 3 tahunan juga. Asal sudah ngelus-lus kucing di game Tom and Angela, atau berlarian di rel kereta ala Subway Surfer betahnya minta ampun. Untuk mengambil kembali hape dari tangannya, kadang kala pake acara drama segala.
***
Minggu ini sulung saya libur karena ada ujian untuk yang kelas 6. Bersyukur, karena tak lupa gurunya membekali PR yang lumayan banyak. Biar dia ndak lupa dengan materi sekolahnya. Agar tetep ada insert-an belajar diantara waktu bermain. Was-was juga, waktu yang sedemikian banyak di rumah, mau ngapain saja?

"Ke Perpustakaan Sleman ya Ka..."
"Nggak mau..."
"Atau bersih-bersih dan beres-beres rak sepatu, yuk!
" Nggak..."
"Mau pinjam hape ayah..." katanya (Oh..ketahuilah Nak, kami sedang berusaha mengurangi ketertarikanmu dengan aneka game, kembalilah fokus di tugas utamamu)

Untuk mensukseskan program jaga jarak Anak-ponsel, android yang saya pegang, saya buat tidak menarik untuk anak; Raka maupun Alya. Hampir tidak ada game yang terpasang. Saya juga mewanti-wanti kepada dua bocil saya " hape Ibu sering hang, cepat panas, nggak usah download game". Sementara ayahnya, sudah dua mingguan pake taktik pura-pura hapenya ketinggal di kantor. Jadi memang hampir ndak pernah terlihat megang hape saat di depan anak-anak.

Untungnya, ada beberapa teman Raka di rumah masih relatif "bersih" dari efek buruk gadget. Sebut saja Noval dan Kiki. Bukan tidak pernah nge-game, tapi intensitasnya sangat jarang karena orang tua Noval dan Kiki lebih memilih menggunakan hape teknologi terdahulu; sebatas panggilan, sms dan foto. 

Pagi-pagi dua anak sudah nyamperin Raka, dengan mainan dari bambu di tangan masing-masing.

"Ka..ayo main slontop"
"Aku nggak punya e...
" Ya nanti kita bikin sama-sama"

Slontop, Permainan Jadul Namun Mengasyikkan

Slontop. Saat saya kecil, saya mengenalnya dengan nama bedhilan. Entah siapa yang mengenalkan anak-anak ini dengan mainan jadul ini kembali. Bisa jadi ayahnya Noval. Yang jelas, mainan ini relatif gampang dibuat. Hanya potongan ranting bambu yang dibiarkan bulat ( sekitar diameter 1 cm ), dan juga satu bilah bambu berukuran kecil yang dibentuk memanjang. Peluru yang digunakan adalah bubur kertas. Anak-anak senang karena senapan model ini juga bisa menimbulkan bunyi, walau kadang hanya lirih,  Blub!

Pada gotong-royong mbuatin Raka Slontop
Sudah jadi...!
Bagaimana kalau anak-anak generasi digital kembali ke dunia bermain era masa kecil bapak-ibunya? Ternyata.... lumayan juga. Malah karena main nya bareng-bareng, sepertinya lebih seru dibanding tembak-tembakan berteman ponsel pintar berlayar 5 atau 7inch. Cuma ya itu...kok ya para ayam di belakang rumah yang jadi sasaran. 

9 Mei 2016

Sepertinya, semua anak-anak pasti suka kalau ibunya pergi belanja. Ada yang ditunggu dan dinanti soalnya begitu sang Ibu pulang. Benar! Oleh-olehnya. Jaman berganti, waktu berlalu, tapi ada beberapa jajanan tradisional alias oleh-oleh khas  yang menurut saya masih lestari sampai sekarang. Saat berbelanja di pasar, saya masih sering membeli salah satu atau beberapa diantaranya. Pertama, saya memang suka, kedua..biar anak-anak  nggak lupa dengan panganan lokal daerah asalnya. 

"Ini apa tho Bu..." paling begitu komentar pertama anak-anak. Berikutnya, adalah melihat ekspresi mereka yang aneh saat pertama mencicipnya. Kadang mereka akan langsung berhenti di suapan pertama, kadang juga langsung melahap, dan minta suatu saat minta dibelikan lagi.

Tapi ya sudahlah...maklum saja dengan anak-anak jaman sekarang, karena hampir tak ada jajan pasar yang diiklankan di tv apalagi tergambar di papan iklan pinggir jalan. Sehari-hari yang mereka lihat adalah produksi-produksi pabrik yang lebih eye catching di mata anak-anak. 

4 Mei 2016

Semingguan lebih blog ini saya tinggal. Frekuensi megang hape pun benar-benar bisa dihitung dengan jari. Apa pasal? Adek ipar nikahan. 

Di pedesaan seperti tempat saya tinggal saat ini, sistem katering memang masih sangat jarang diterapkan. Katering saja jarang, apalagi strategi memanfaatkan wedding organizer. Yang ada dan sering adalah memasak dengan menggunakan sistem rewangan alias gotong royong dengan tetangga dan keluarga besar. Itu juga yang diterapkan keluarga mertua tempo hari. Ribet, iya. Lebih murah, mungkin. 

Gambar dari lovenafira.blogspot.com
Jujur kalau saya, dengan space rumah terbatas, alat-alat masak seadanya, bahan-bahan mentah yang semuanya juga beli tentu lebih suka menggunakan jasa catering. Tapi karena yang punya gawe adalah mertua dan hajatan juga dirumah beliau..ya sudah, ndherek saja. Selama beberapa hari mesti bolak-balik rumah-mertua, ada beberapa plus-minus yang saya amati, saat kami memilih menggunakan hajatan tanpa pihak ketiga alias hanya mengandalkan keluarga, tetangga dan saudara: