23 November 2015


Sebenarnya, nulis ini juga karena ada pemantiknya juga. Kemarin mbaca postingan teman blogger tentang bedanya orang tua sekarang vs orang tua jaman dulu saat menasehati anak. Bener juga...beda jaman, memang beda cara. Jamannya saya kecil....ibu, bude bahkan bulik saya masih sering bilang " ayo..nyapunya yang bersih..nanti ndak suaminya brengosen ( berjambang, kumis..) Dalam hati, benernya saya protes juga kala itu...apa hubungannya coba? Klo pun suami saya brengosen...toh ada yang jual silet cukur . Harganya juga ga mahal. 

Tapi heran...kok saya nggak protes ya kala itu. Intinya saya nggak mau punya suami brengosen, jadi acara nyapunya sebisa mungkin bersih. Takut karma, dapet suami penuh bulu...hi..hi. 

Memang sih..beberapa nasehat para sesepuh kita jadul itu kadang nggak ada hubungannya...kayak yang diatas tadi. Menurut saya kalau yang itu termasuk MITOS, tapi kalau dipikir, disambung- sambungin...beberapa nasehat kadang ada titik temunya juga. Misalnya:

  • Anak perawan, nggak boleh makan di depan pintu...nanti jodohnya " jauh" alias seret.

Pernah denger nasehat ini..? Benernya jauh juga hubungan lokasi makan ma jodoh.. Tapi kayaknya ni pesan berhubungan ma norma kesopanan. Pintu kan biasanya di depan, ada tamu...pasti pertama kali lewat pintu. Nah...kalo tamu yang berkunjung adalah sang arjuna...dan tiba-tiba langsung ketemu putri yang cara makannya kayak nggak pernah makan nasi 3 hari...nggak jadi kepincut kan arjunanya... Jadi menurut saya, nasehat ini masuk kategori FAKTA.

18 November 2015

"Hati-hati...kalau ada yang njelasin, diperhatikan ya. 
Oh..ya, bareng teman. Jangan sampai terpisah dari rombongan!" 


Pesan  saya kepada Raka menjelang berangkat sekolah kemarin. Kalau diperhatikan baik- baik, pasti wajah anak saya lebih sumringah dibanding hari- hari biasanya. Semangat 45 pokoknya. Pakai pinjem topi ayahnya segala, meski endingnya tu topi nggak kebawa pulang lagi, lupa ditaruh mana ( setelah itu didenda nggak boleh nge- game. bhua..ha..ha) Memang mau kemana tho Nak, mruput pagi- pagi dah pada naik bis segala?

action sebelum bis meluncur

Baca ini dulu boleh: Outing Kelas Dua


Selasa (17/11) kemarin Raka dan teman- teman sekolah di kelas 3, 4 dan 5 ceritanya fieldtrip alias outing ke PT. KPI atau Kepurun Pawana Indonesia, yang berlokasi di Desa Kepurun, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah. 

PT KPI sendiri merupakan perusahaan swasta nasional joinan antara Yayasan YPK-PLN dan Ir. Djiteng Marsudi yang bergerak dalam bidang pertanian, perikanan, dan juga peternakan. Sesuai dengan lokasinya, pokoknya fieldtrip taon ini edisi mbolang habis!

14 November 2015

 

Tidak banyak sebenarnya koleksi buku yang saya punya. Apalagi sekarang, budget untuk buku diutamakan untuk kepentingan anak-anak. Giliran emaknya, nunggu edisi diskon atau obral. Kalau harga sesuai, apapun genrenya bisa saya embat. Walau begitu, diantara segelintir buku yang saya punya, ada satu fiksi ilmiah yang saya suka dan entah berapa kali saya baca ( ulang), dan ini satu diantaranya.



Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh



Bagi yang mengalami remaja di tahun 2000an awal, tentu masih ingat masa booming novel ini. Seingat saya, bahkan untuk bisa semakin menjangkau banyak kalangan, Supernova bagian pertama ini dicetak dalam beberapa versi. Yang paling merakyat, isi berbahan kertas buram, lalu yang istimewa memakai kertas putih- tebal, plus tanda tangan Dewi Lesteri alias Dee, penulisnya. Termiliki diawal tahun 2002, sejak membaca halaman prolognya pun, saya sudah terpana.

Saya bukan Guru. Anda bukan Murid. 
Saya hanya pembeber fakta.
Perunut jaring laba-laba. Pengamat simpul- simpul dari untaian benang perak yang tak terputus.

Hanya ada satu paradigma di sini: KEUTUHAN. Bergerak untuk SATU tujuan: menciptakan hidup yang lebih baik. Bagi kita. Bagi Dunia.

Supernova bukan okultisme. Bukan institusi religi. Bukan kursus filsafat.

Sekilas tentangnya.

Berkisah tentang Ruben dan Dimas, dua mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah kuliah di Amerika. Pertemuan mereka dalam sebuah pesta bahan kimia( narkoba?) menjadi titik awal kebersamaan sebagai pasangan gay. Di moment itu pula, mereka membuat kesepakatan untuk membuat sebuah masterpiece; Supernova. Dari starting point itu, lahir sosok Fere-Rana-Arwin- dan Diva. 
Fere Si ksatria
Rana adalah Putri
dan Diva si Bintang Jatuh.

Fere adalah eksekutif muda, tampan, kaya dan banyak digandrungi wanita. Rana, reporter yang ditugaskan untuk mewawancarai Fere untuk mengisi salah satu rubrik di majalahnya. Pertemuan pertama mereka, menjadi awal sebuah cerita. Fere yang masih single, Rana yang sudah bersuamikan Arwin, akhirnya terlibat dalam cinta segitiga. Ada tokoh cyber avatar bernama Supernova yang kerap menjadi konsultan maya ketiganya, yang tak lain adalah Diva, peragawati sekaligus pelacur kelas atas yang berotak brilian; dan tinggal berhadapan dengan rumah mewah Fere. Endingnya, Rana kembali ke pelukan Arwin. Fere yang nyaris bunuh ciri akhirnya dekat dengan Diva. Namun karena perannya sebagai Supernova, Diva pun harus pergi meninggalkan Fere. 

Istimewanya Supernova

Ada cerita dalam cerita. Itu uniknya novel ini menurut saya. Poin menarik berikutnya, supernova juga memadukan sains dan sastra dalam racikan yang kadang kala memaksa saya untuk mengerutkan kening, lalu mencari makna kata di catatan kaki. Kalau novel yang lain mungkin hanya satu kali membaca, ngerti isinya, dan selesai, tidak demikian dengan buku ini. Saya sendiri, masih bingung dan meraba- raba saat membaca novel ini pertama kali. Butuh beberapa kali dan pemahaman yang cukup panjang. Magnet khusus yang dimiliki novel ini adalah begitu kaya akan untaian kata yang membius.

Seperti saat Fere dan Rana dimabuk cinta

Sudah kumenangkan taruhan ini, bahkan dengan amat adil. Jauh sebelum kau menyerahkan kertas dan pensil. Karena rinduku menetas sebanyak tetes gerimis. Tidak butuh kertas, atau corengan garis. Genggamlah jantungku dan hitung denyutannya.... Sebanyak itulah aku merindukanmu, Puteri.




Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan, Puteri. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu. 

Tak ada sesuatu yang istimewa tentang Ruben dan Dimas. Isu gay, sengaja diangakat Dee memang karena waktu novel ini terbit, tengah populer. Fere, sosoknya yang digambarkan sempurna dan berbakat pujangga, di kehidupan nyata mungkin ada, meski satu dalam seribu. Saya angkat dua jempol untuk Dee yang menghadirkan sosok Diva, perempuan yang tampak luarnya bisa jadi dianggap kotor, namun sesungguhnya ia memiliki kemampuan yang luar biasa. Jangan menilai orang dari sisi luarnya saja, itu poinnya. Arwin yang mengenalkan tentang makna cinta yang sesungguhnya; cinta itu tidak mengekang, tapi membebaskan. Rana, profesinya pernah membuat saya penasaran, seberapa menantang menjadi bagian dari industri media. 

Ok, versi buku saya sudah punya dan sudah khatam baca. Edisi film, saya sudah ketinggalan kereta alias belum pernah nonton, dan cari link untuk dapat download gratisan, sepertinya itu yang harus saya lakukan berikutnya :-)


11 November 2015

Sore kemarin, ada pesan dengan nomor asing menyapa saya via WA. "Sulis...apa kabar...?" Telisik punya telisik ternyata teman saya jaman SMA, yang udah lama banget nggak ketemu. Sebenarnya dulu juga kuliah satu fakultas, tapi beda jurusan. Jadinya memang jarang ketemu. 

Sebut saja nama nya Nur. Setelah lama tak bertukar kabar, rupanya ia sudah bersuami dan ber anak 2, dan memiliki pekerjaan mapan. Kehidupan yang sempurna! Dipertemukan oleh lembaga yang bernama sekolah..jadilah tema obrolan menarik yang jadi bahan nostalgia adalah guru. Mengenang guru- guru jaman sekolah dulu. Namanya anak IPS...kok ya sama. Saya juga baru tau kalau ternyata Nur juga malas dengan Pak Zaini, pengajar matematika yang killer, dan mengidolakan Bu Prapti, guru Sosiologi yang humoris. Ibarat jam pelajaran sosiologi ditambah menjadi 6 kali pertemuanpun dalam seminggu, kayaknya saya juga mau. 

5 November 2015


Bagi saya, nama tak sekedar identitas. Fungsinya tak berhenti sebatas pembeda antara anak yang satu dengan yang lain. Adakalanya, sebuah peristiwa ingin dikenang dibalik pemberian nama pada bayi. Tak jarang, doa- doa dan harapan terbersit dalam sebuah nama yang di sandang.

Dalam perkembangannya, namapun menurut saya memiliki periodisasi masing- masing. Jaman dulu, biar gampang kakek-nenek atau buyut kita menamai anak- anak mereka dengan nama hari yang kadang digabungkan dengan pasaran jawa. Lahirlah nama-nama Kemiskidi ( lahir di hari Kamis), Ponirah ( lahir pas pasaran Pon), Wagimin ( lahir pas Wage) dan konco- konconya. 

Era berganti. Kehidupan semakin modern. Ada televisi, radio, hingga namapun kian variatif. Di era kelahiran saya, nama Dewi, Ratih, Danang, Bambang, Erni, Tri, Dwi, Eka, Catur, adalah nama- nama yang laku di pasaran. Kemunculan artis sinetron dan telenovela melalui layar kaca di tanah air, menurut saya membawa dampak yang cukup signifikan dalam kancah dunia "pernamaan" juga. 

Kalau awalnya ada semacam kastanisasi dalam memberi nama seorang anak ( nama Pringgo, Yuwono, identik untuk anak ningrat. Sementara kaum jelata, biasanya memakai nama- nama umum misalnya Danang, Bambang, Jono), di era ini semua mendapatkan kebebasan. Muncullah nama- nama asing di pelosok-pelosok desa, seperti Thalia, Calista, Joni. Saya ingat betul, ada tetangga kampung saya dulu yang memberi nama anaknya Merry Carlina. Kenapa coba? Karena mengidolakan penyayi dangdut Merri Andani dan Nini Carlina. Pintarnya Desi Anwar dan Atika Suri dalam membawakan berita, ternyata mengilhami paman saya dalam menamai putrinya yang lahir di era 90 an dengan nama Atika Desita. 

Well, era dunia dalam genggaman, semakin bebaslah para orang tua untuk memberikan nama. Kedua anak saya, saya akui memiliki nama yang cukup pasaran. Raka Adhi Gunattama dan Alya Amira Salsabila. Nama Raka saya ambil dari kamus bahasa sansakerta yang artinya kakak yang sholeh dan unggul atau pintar. Sementara Alya, dari bahasa Arab yang artinya perempuan yang memiliki derajat tinggi, dan sejuk layaknya mata air surga. Terus terang, saya dan suami kala itu tidak pede untuk menyandangi anak kami dengan nama- nama di luar kebiasan. Apalah kami ini... Tapi meskipun nama anak- anak kami banyak kembarannya, kami tetap pada satu harapan, semoga anak- anak tumbuh menjadi manusia yang bisa dibanggakan. Aamin. 

Terlepas dari ketidakpede an itu, sampai saat ini...ada sebuah nama yang unik dan terus saya ingat sampai sekarang. Iya, bahkan saya belum pernah ketemu dengan si pemilik nama. ANGIRING LAKUNING SURYA, sebuah nama unik dan tidak biasa, yang tercantum pada lukisan anak yang tertempel pada kantor di mana saya bekerja dulu. Karena unik itulah, maka saya terus ingat, bahkan setelah beberapa tahun berlalu. 

Mengikuti jalannya matahari, begitulah kira- kira artinya dalam bahasa Indonesia. Entahlah, peristiwa apa yang hendak dikenang si pemberi nama dibalik tetenger tersebut. Bisa jadi proses kelahirannya yang lama dari matahari terbit hingga matahari tenggelam. Yang jelas, secara feeling, nama tersebut memang pas untuk seorang seniman. 

Iseng- iseng, ketika nama tersebut saya ketikkan di kolom google....ternyata si pemilik adalah siswa kelas 6 salah satu SD di Yogyakarta yang memang jago melukis dan menang lomba dimana- mana. 
Nama yang unik, nyeni, mbedani ( tidak pasaran) dan pas untuk si empunya bakat nyeni pula.

 

3 November 2015


"Ibu mau nitip apa?" *mengayuh sepeda, trus berkeliling ruangan yang ia anggap sbagai pasar. Ha..ha, 2 hari ini Alya lagi hobi main peran sama saya. Saya berperan sebagai ibu yang hobi nitip belanjaan, sementara dia yang sibuk mengitari ruangan yang ia anggap sebagai pasar, dan berbelanja dengan kerajang sepedanya. Awalnya sih dia seneng masak- masakan atau mobil- mobilan kalau dirumah. Tak lain dan tak bukan, karena mainannya bertambah satu, sebuah sepeda roda tiga atau tricycle warna merah. Tricycle ini gratiss lo! Kok bisa?

ini dia penampakan Alya dansepedanya

Seperti biasa, untuk belanja kebutuhan sehari-hari yang produksi pabrikan seperti sabun, pasta gigi, minyak goreng dan juga susu formulanya anak- anak, saya lebih suka belanja di pusat perkulakan. Yang paling dekat rumah, kebetulan Indogrosir. Kenapa Indogrosir? Pertama, saya tetep masih bisa mbeli dengan jumlah satuan, kedua untuk kantong plastik belanjaan disediakan dari toko, tanpa biaya tambahan. Ketiga..untuk menjadi membernya gratis, tanpa bayar dan banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan kartu member tersebut. 

Balik lagi ke sepeda roda tiga. Habis maghrib, Indogrosir Jogja.