31 Desember 2015

Sumber gambarterbaru.com


Tinggal hitungan jam 2015 akan segera kita tinggalkan. Kalau sudah begini, jadinya waktu kayak berlari yaa...cepet banget! Rasanya baru kemarin kita melewati tahun baru 2015, eh....sekarang sekarang dah siap- siap untuk menjelang datangnya 2016. Ngomongin tentang tahun baru, beberapa tradisi ini akan segera kita jumpai dan kita temui.

Tradisi pertama, membunyikan terompet.

Toooot...!!

Bunyi ini bakal mendominasi, bersahut-sahutan ditiup, terlebih di malam pergantian tahun. Tahun baru dan terompet? Kok bisa yaa..?
Mengutip dari beberapa sumber, tradisi membunyikan terompet di malam tahun baru berasal dari budaya masyarakat Yahudi. Terompet diperkirakan sudah ada sejak tahun 1.500 sebelum Masehi. Awalnya, alat musik jenis ini diperuntukkan untuk keperluan ritual agama (sebagai alat untuk memanggil umat untuk berkumpul di tempat peribadatan), dan juga digunakan dalam militer terutama saat akan berperang.

Hingga dalam perkembangannya kemudian terompet digunakan sebagai sarana pelengkap bangsa Yahudi saat melakukan malam instrospeksi di penghujung tahun.
Di Indonesia sendiri, saya belum nemu literatur yang menerangkan sejak kapan tradisi ini ada. Tapi seingat saya, sejak kecilpun begitu menjelang tahun baru, maka akan muncul banyak pedagang terompet dengan berbagai bentuk dan desain di pinggir-pinggir jalan.

Oh, ya..malah tiba- tiba jadi ingat pesan via medsos yang beberapa kali saya baca tentang higienitas terompet-terompet yang katanya bisa menjadi media penularan berbagai penyakit berbahaya. Disatu sisi, pesan tersebut mengingatkan kita untuk lebih hati-hati, namun di sisi lainnya, kok pesan itu jadinya malah menyudutkan pedagang terompetnya. Kasian kan, baru mau menambah pendapatan sekali dalam setahun, (calon) pembeli sudah di hantui berita yang entah benar, atau hiperbolis semata.

28 Desember 2015



Sebagai seorang ibu, pernah nggak mati gaya ngadepin anak-anak yang tengah libur sekolah cukup panjang. Saya sering!
“ Ni anak mau pada ngapain aja ya selama libur sekolah..? Begitu tu intinya. Kalau pas libur biasa, nggak begitu bermasalah mungkin. Diajak jalan-jalan keluar,pasti mereka seneng. Tapi kalau keseringan ya dompet yang jadinya kurus kering.

27 Desember 2015

Kalau ngomongin tentang kehidupan dinosaurus, biasanya ingatan otomatis akan tertuju ke film Jurassic Park atau film anak- anak Dinosaurus yang masih sering diputer di tv. Lha...iya, lah...wong jenis binatang ini sudah punah.

Yang tertinggal sekedar fosil dan cerita tentang kehidupan binatang bertubuh besar ini. Tapi...merasakan atmosfer kehidupan dinosaurus dan seolah- olah ada di habitat mereka, sekarang bisa lho kita coba. Nggak perlu jauh...masih di Jogja aja, di Taman Pintar tepatnya.

25 Desember 2015

“Sekarang foto dulu, edit sama postingnya nanti...” pinta seorang gadis kepada cowok di sebelahnya yang saya lirik tengah asyik dengan gadgetnya. Saya sendiri sibuk membenarkan posisi topi Alya yang miring-miring terkena tiupan angin malam.

Dingin udara pegunungan memang menusuk tulang. Di langit bulan terlihat terang memancarkan sinar. Kawasan menara pandang Kaliurang yang biasanya relatif sepi di waktu malam, hari ini tumpah ruah oleh pengunjung anak-anak, tua- muda. Romantis untuk pasangan muda, dan menarik untuk segmen rombongan keluarga seperti saya. Apa pasal?


Festival of Light, gelaran acara yang diusung dinas pariwisata Sleman bareng PT. Taman Pelangi yang sudah berlangsung beberapa minggu terakhir mampu membuat kawasan bukit Turgo tampak semarak. Hamparan lampu beraneka warna yang ditata sedemikian rupa, lampion cantik dengan bentuk menarik, saya akui memang menimbulkan hasrat untuk segera memaksimalkan fungsi kamera dan tongsis sesegara mungkin.Instagramable, istilahnya. Apalagi di jaman dimana masyarakat hobi meng upload foto-foto di media sosial. Untuk menikmati ini semua, pengunjung cukup membayar 20 ribu/orang pas week end, atau 15 ribu saja di hari biasa.



Seandainya nggak suka berfoto? Menikmati suasana yang berbeda dari ketinggian menara pandang bisa juga.
Kehadiran panggung dan live musik di tengah area, plus api unggun alami, menjadikan suasana makin manis dan romantissss... Apalagi ditambah seporsi jadah bakar plus wedang ronde. Mau? Tenang...Festival of Light di Kaliurang rencananya akan digelar sampai 31 Januari 2016. So, don't miss it!


Jangan lupa bawa jaket, dingin soalnya :-)

1 Desember 2015


Yang pasti, beberapa hari terakhir saya memang serasa kembali ke masa lampau... Dan masa lampau itu ternyata sudah .....isinya operator doankkkkk...hi..hi. Ngerti nggak maksudnya?

Jadi selama tab sakit2an hang, hilang signal...saya mbalik ke hape jadul yang hanya bisa moto, sms ma telponan. Dalam beberapa hari...minim bngt sms yang saya terima...ada beberapa dari teman. Selebihnya, nomor-nomor nggak jelas promo layanan ganti suara, nada sambung...

23 November 2015


Sebenarnya, nulis ini juga karena ada pemantiknya juga. Kemarin mbaca postingan teman blogger tentang bedanya orang tua sekarang vs orang tua jaman dulu saat menasehati anak. Bener juga...beda jaman, memang beda cara. Jamannya saya kecil....ibu, bude bahkan bulik saya masih sering bilang " ayo..nyapunya yang bersih..nanti ndak suaminya brengosen ( berjambang, kumis..) Dalam hati, benernya saya protes juga kala itu...apa hubungannya coba? Klo pun suami saya brengosen...toh ada yang jual silet cukur . Harganya juga ga mahal. 

Tapi heran...kok saya nggak protes ya kala itu. Intinya saya nggak mau punya suami brengosen, jadi acara nyapunya sebisa mungkin bersih. Takut karma, dapet suami penuh bulu...hi..hi. 

Memang sih..beberapa nasehat para sesepuh kita jadul itu kadang nggak ada hubungannya...kayak yang diatas tadi. Menurut saya kalau yang itu termasuk MITOS, tapi kalau dipikir, disambung- sambungin...beberapa nasehat kadang ada titik temunya juga. Misalnya:

  • Anak perawan, nggak boleh makan di depan pintu...nanti jodohnya " jauh" alias seret.

Pernah denger nasehat ini..? Benernya jauh juga hubungan lokasi makan ma jodoh.. Tapi kayaknya ni pesan berhubungan ma norma kesopanan. Pintu kan biasanya di depan, ada tamu...pasti pertama kali lewat pintu. Nah...kalo tamu yang berkunjung adalah sang arjuna...dan tiba-tiba langsung ketemu putri yang cara makannya kayak nggak pernah makan nasi 3 hari...nggak jadi kepincut kan arjunanya... Jadi menurut saya, nasehat ini masuk kategori FAKTA.

18 November 2015

"Hati-hati...kalau ada yang njelasin, diperhatikan ya. 
Oh..ya, bareng teman. Jangan sampai terpisah dari rombongan!" 


Pesan  saya kepada Raka menjelang berangkat sekolah kemarin. Kalau diperhatikan baik- baik, pasti wajah anak saya lebih sumringah dibanding hari- hari biasanya. Semangat 45 pokoknya. Pakai pinjem topi ayahnya segala, meski endingnya tu topi nggak kebawa pulang lagi, lupa ditaruh mana ( setelah itu didenda nggak boleh nge- game. bhua..ha..ha) Memang mau kemana tho Nak, mruput pagi- pagi dah pada naik bis segala?

action sebelum bis meluncur

Baca ini dulu boleh: Outing Kelas Dua


Selasa (17/11) kemarin Raka dan teman- teman sekolah di kelas 3, 4 dan 5 ceritanya fieldtrip alias outing ke PT. KPI atau Kepurun Pawana Indonesia, yang berlokasi di Desa Kepurun, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah. 

PT KPI sendiri merupakan perusahaan swasta nasional joinan antara Yayasan YPK-PLN dan Ir. Djiteng Marsudi yang bergerak dalam bidang pertanian, perikanan, dan juga peternakan. Sesuai dengan lokasinya, pokoknya fieldtrip taon ini edisi mbolang habis!

14 November 2015

 

Tidak banyak sebenarnya koleksi buku yang saya punya. Apalagi sekarang, budget untuk buku diutamakan untuk kepentingan anak-anak. Giliran emaknya, nunggu edisi diskon atau obral. Kalau harga sesuai, apapun genrenya bisa saya embat. Walau begitu, diantara segelintir buku yang saya punya, ada satu fiksi ilmiah yang saya suka dan entah berapa kali saya baca ( ulang), dan ini satu diantaranya.



Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh



Bagi yang mengalami remaja di tahun 2000an awal, tentu masih ingat masa booming novel ini. Seingat saya, bahkan untuk bisa semakin menjangkau banyak kalangan, Supernova bagian pertama ini dicetak dalam beberapa versi. Yang paling merakyat, isi berbahan kertas buram, lalu yang istimewa memakai kertas putih- tebal, plus tanda tangan Dewi Lesteri alias Dee, penulisnya. Termiliki diawal tahun 2002, sejak membaca halaman prolognya pun, saya sudah terpana.

Saya bukan Guru. Anda bukan Murid. 
Saya hanya pembeber fakta.
Perunut jaring laba-laba. Pengamat simpul- simpul dari untaian benang perak yang tak terputus.

Hanya ada satu paradigma di sini: KEUTUHAN. Bergerak untuk SATU tujuan: menciptakan hidup yang lebih baik. Bagi kita. Bagi Dunia.

Supernova bukan okultisme. Bukan institusi religi. Bukan kursus filsafat.

Sekilas tentangnya.

Berkisah tentang Ruben dan Dimas, dua mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah kuliah di Amerika. Pertemuan mereka dalam sebuah pesta bahan kimia( narkoba?) menjadi titik awal kebersamaan sebagai pasangan gay. Di moment itu pula, mereka membuat kesepakatan untuk membuat sebuah masterpiece; Supernova. Dari starting point itu, lahir sosok Fere-Rana-Arwin- dan Diva. 
Fere Si ksatria
Rana adalah Putri
dan Diva si Bintang Jatuh.

Fere adalah eksekutif muda, tampan, kaya dan banyak digandrungi wanita. Rana, reporter yang ditugaskan untuk mewawancarai Fere untuk mengisi salah satu rubrik di majalahnya. Pertemuan pertama mereka, menjadi awal sebuah cerita. Fere yang masih single, Rana yang sudah bersuamikan Arwin, akhirnya terlibat dalam cinta segitiga. Ada tokoh cyber avatar bernama Supernova yang kerap menjadi konsultan maya ketiganya, yang tak lain adalah Diva, peragawati sekaligus pelacur kelas atas yang berotak brilian; dan tinggal berhadapan dengan rumah mewah Fere. Endingnya, Rana kembali ke pelukan Arwin. Fere yang nyaris bunuh ciri akhirnya dekat dengan Diva. Namun karena perannya sebagai Supernova, Diva pun harus pergi meninggalkan Fere. 

Istimewanya Supernova

Ada cerita dalam cerita. Itu uniknya novel ini menurut saya. Poin menarik berikutnya, supernova juga memadukan sains dan sastra dalam racikan yang kadang kala memaksa saya untuk mengerutkan kening, lalu mencari makna kata di catatan kaki. Kalau novel yang lain mungkin hanya satu kali membaca, ngerti isinya, dan selesai, tidak demikian dengan buku ini. Saya sendiri, masih bingung dan meraba- raba saat membaca novel ini pertama kali. Butuh beberapa kali dan pemahaman yang cukup panjang. Magnet khusus yang dimiliki novel ini adalah begitu kaya akan untaian kata yang membius.

Seperti saat Fere dan Rana dimabuk cinta

Sudah kumenangkan taruhan ini, bahkan dengan amat adil. Jauh sebelum kau menyerahkan kertas dan pensil. Karena rinduku menetas sebanyak tetes gerimis. Tidak butuh kertas, atau corengan garis. Genggamlah jantungku dan hitung denyutannya.... Sebanyak itulah aku merindukanmu, Puteri.




Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan, Puteri. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu. 

Tak ada sesuatu yang istimewa tentang Ruben dan Dimas. Isu gay, sengaja diangakat Dee memang karena waktu novel ini terbit, tengah populer. Fere, sosoknya yang digambarkan sempurna dan berbakat pujangga, di kehidupan nyata mungkin ada, meski satu dalam seribu. Saya angkat dua jempol untuk Dee yang menghadirkan sosok Diva, perempuan yang tampak luarnya bisa jadi dianggap kotor, namun sesungguhnya ia memiliki kemampuan yang luar biasa. Jangan menilai orang dari sisi luarnya saja, itu poinnya. Arwin yang mengenalkan tentang makna cinta yang sesungguhnya; cinta itu tidak mengekang, tapi membebaskan. Rana, profesinya pernah membuat saya penasaran, seberapa menantang menjadi bagian dari industri media. 

Ok, versi buku saya sudah punya dan sudah khatam baca. Edisi film, saya sudah ketinggalan kereta alias belum pernah nonton, dan cari link untuk dapat download gratisan, sepertinya itu yang harus saya lakukan berikutnya :-)


11 November 2015

Sore kemarin, ada pesan dengan nomor asing menyapa saya via WA. "Sulis...apa kabar...?" Telisik punya telisik ternyata teman saya jaman SMA, yang udah lama banget nggak ketemu. Sebenarnya dulu juga kuliah satu fakultas, tapi beda jurusan. Jadinya memang jarang ketemu. 

Sebut saja nama nya Nur. Setelah lama tak bertukar kabar, rupanya ia sudah bersuami dan ber anak 2, dan memiliki pekerjaan mapan. Kehidupan yang sempurna! Dipertemukan oleh lembaga yang bernama sekolah..jadilah tema obrolan menarik yang jadi bahan nostalgia adalah guru. Mengenang guru- guru jaman sekolah dulu. Namanya anak IPS...kok ya sama. Saya juga baru tau kalau ternyata Nur juga malas dengan Pak Zaini, pengajar matematika yang killer, dan mengidolakan Bu Prapti, guru Sosiologi yang humoris. Ibarat jam pelajaran sosiologi ditambah menjadi 6 kali pertemuanpun dalam seminggu, kayaknya saya juga mau. 

5 November 2015


Bagi saya, nama tak sekedar identitas. Fungsinya tak berhenti sebatas pembeda antara anak yang satu dengan yang lain. Adakalanya, sebuah peristiwa ingin dikenang dibalik pemberian nama pada bayi. Tak jarang, doa- doa dan harapan terbersit dalam sebuah nama yang di sandang.

Dalam perkembangannya, namapun menurut saya memiliki periodisasi masing- masing. Jaman dulu, biar gampang kakek-nenek atau buyut kita menamai anak- anak mereka dengan nama hari yang kadang digabungkan dengan pasaran jawa. Lahirlah nama-nama Kemiskidi ( lahir di hari Kamis), Ponirah ( lahir pas pasaran Pon), Wagimin ( lahir pas Wage) dan konco- konconya. 

Era berganti. Kehidupan semakin modern. Ada televisi, radio, hingga namapun kian variatif. Di era kelahiran saya, nama Dewi, Ratih, Danang, Bambang, Erni, Tri, Dwi, Eka, Catur, adalah nama- nama yang laku di pasaran. Kemunculan artis sinetron dan telenovela melalui layar kaca di tanah air, menurut saya membawa dampak yang cukup signifikan dalam kancah dunia "pernamaan" juga. 

Kalau awalnya ada semacam kastanisasi dalam memberi nama seorang anak ( nama Pringgo, Yuwono, identik untuk anak ningrat. Sementara kaum jelata, biasanya memakai nama- nama umum misalnya Danang, Bambang, Jono), di era ini semua mendapatkan kebebasan. Muncullah nama- nama asing di pelosok-pelosok desa, seperti Thalia, Calista, Joni. Saya ingat betul, ada tetangga kampung saya dulu yang memberi nama anaknya Merry Carlina. Kenapa coba? Karena mengidolakan penyayi dangdut Merri Andani dan Nini Carlina. Pintarnya Desi Anwar dan Atika Suri dalam membawakan berita, ternyata mengilhami paman saya dalam menamai putrinya yang lahir di era 90 an dengan nama Atika Desita. 

Well, era dunia dalam genggaman, semakin bebaslah para orang tua untuk memberikan nama. Kedua anak saya, saya akui memiliki nama yang cukup pasaran. Raka Adhi Gunattama dan Alya Amira Salsabila. Nama Raka saya ambil dari kamus bahasa sansakerta yang artinya kakak yang sholeh dan unggul atau pintar. Sementara Alya, dari bahasa Arab yang artinya perempuan yang memiliki derajat tinggi, dan sejuk layaknya mata air surga. Terus terang, saya dan suami kala itu tidak pede untuk menyandangi anak kami dengan nama- nama di luar kebiasan. Apalah kami ini... Tapi meskipun nama anak- anak kami banyak kembarannya, kami tetap pada satu harapan, semoga anak- anak tumbuh menjadi manusia yang bisa dibanggakan. Aamin. 

Terlepas dari ketidakpede an itu, sampai saat ini...ada sebuah nama yang unik dan terus saya ingat sampai sekarang. Iya, bahkan saya belum pernah ketemu dengan si pemilik nama. ANGIRING LAKUNING SURYA, sebuah nama unik dan tidak biasa, yang tercantum pada lukisan anak yang tertempel pada kantor di mana saya bekerja dulu. Karena unik itulah, maka saya terus ingat, bahkan setelah beberapa tahun berlalu. 

Mengikuti jalannya matahari, begitulah kira- kira artinya dalam bahasa Indonesia. Entahlah, peristiwa apa yang hendak dikenang si pemberi nama dibalik tetenger tersebut. Bisa jadi proses kelahirannya yang lama dari matahari terbit hingga matahari tenggelam. Yang jelas, secara feeling, nama tersebut memang pas untuk seorang seniman. 

Iseng- iseng, ketika nama tersebut saya ketikkan di kolom google....ternyata si pemilik adalah siswa kelas 6 salah satu SD di Yogyakarta yang memang jago melukis dan menang lomba dimana- mana. 
Nama yang unik, nyeni, mbedani ( tidak pasaran) dan pas untuk si empunya bakat nyeni pula.

 

3 November 2015


"Ibu mau nitip apa?" *mengayuh sepeda, trus berkeliling ruangan yang ia anggap sbagai pasar. Ha..ha, 2 hari ini Alya lagi hobi main peran sama saya. Saya berperan sebagai ibu yang hobi nitip belanjaan, sementara dia yang sibuk mengitari ruangan yang ia anggap sebagai pasar, dan berbelanja dengan kerajang sepedanya. Awalnya sih dia seneng masak- masakan atau mobil- mobilan kalau dirumah. Tak lain dan tak bukan, karena mainannya bertambah satu, sebuah sepeda roda tiga atau tricycle warna merah. Tricycle ini gratiss lo! Kok bisa?

ini dia penampakan Alya dansepedanya

Seperti biasa, untuk belanja kebutuhan sehari-hari yang produksi pabrikan seperti sabun, pasta gigi, minyak goreng dan juga susu formulanya anak- anak, saya lebih suka belanja di pusat perkulakan. Yang paling dekat rumah, kebetulan Indogrosir. Kenapa Indogrosir? Pertama, saya tetep masih bisa mbeli dengan jumlah satuan, kedua untuk kantong plastik belanjaan disediakan dari toko, tanpa biaya tambahan. Ketiga..untuk menjadi membernya gratis, tanpa bayar dan banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan kartu member tersebut. 

Balik lagi ke sepeda roda tiga. Habis maghrib, Indogrosir Jogja. 

29 Oktober 2015

Ada yang senasib nggak yaa..kalau di penghujung kemarau ini, harus merasakan dan menyaksikan kondisi tumit yang memprihatinkan? Kasar, pecah-pecah, nggak enak di sentuh...apalagi dilihat. Sering ngiri lihat tumitnya anak- anak yang mulus.... Jadinya langsung keinget iklan favorit jaman dulu, tvc scott emulsion versi baju nggak muat, trus pengen nyanyi... 

 " Tumitku dulu...tak begini...tapi kini tak halus lagi..."

Bisa dilempari batu orang sekampung kalau saya meng- klaim kulit saya halus, mulus, orang perawatan juga ngikut aliran superminimalis. Paling handbody aja..itu juga nggak tiap hari, pas ingat dan sempat aja. Tapi bener..masalah kulit kaki pecah- pecah ini kayaknya belum begitu lama. 

Umur? bisa jadi. Kemarau panjang, bisa juga. Cuaca Jogja belakangan ini panas banget, sampe nembus 34 derajat di siang hari. Debu beterbangan, lantai yang baru disapu aja bentar juga sudah kerasa kotor sama debu lagi. Dan konon katanya...kondisi kaki yang terbuka, sering kena kotoran/ debu gini bisa juga jadi pemicu... * manggut-manggut, pantesan pekerja kantoran mulus-mulus tumitnya, tiap hari ketutup sepatu.

25 Oktober 2015

Judul Sing-Py: Single Happy 
Penulis. : Dedew ( @dewirieka) 
Penerbit. : Loveable
 ISBN. : 978-602-72905-5-6
 Tebal. : iv+208 hlm; 12,7x19 cm



SINOPSIS
Cerita berawal dari tokoh Rania, seorang janda muda yang kecewa dengan yang makhluk bernama Anto, Sang mantan suami. Pengalaman berumah tangga yang hanya seumur jagung, rupanya meninggalkan luka mendalam bagi dirinya. Lepas dari Anto, Rania punya visi- misi khusus; mencetak perempuan- perempuan tangguh yang tidak boleh sama sekali bergantung laki- laki. Melalui lembaga pendidikan? Ha..ha, bukan, tapi melalui rumah Kost, alias kost- kost an.

Bisa mendapatkan tempat kost dengan fasilitas bagus, nyaman dan strategis, tapi dengan harga murah, tentu harapan banget bagi pelajar, mahasiswa, ataupun karyawan yang masih fakir dalam hal tempat tinggal. Nah, kost Rania punya itu semua. Tapi harus ada syarat utama yang mesti di penuhi oleh para (calon) penghuninya, yakni JOMBLO alias single. 

21 Oktober 2015

Hidup...rasanya memang harus punya mimpi. Nggak harus satu, bejibun pun boleh, gratis kok. Biar seneng aja kalau suatu hari mimpi-mimpi itu bakalan tercapai. Sedih dan kecewa saat target dan impian tidak tercapai? Ya, pasti. Tapi ya sudahlah...toh kita bisa beranjak ke mimpi kita yang lain. 

Eh..ngomongin apa sih ni? Mmm... Ada yang ingat tentang GA pertamanya teman blogger mbak EvrinaSP? Di situ...kita diminta untuk menuliskan satu mimpi yang berusaha kita wujudkan. Kebetulan saya dulu ikut setor postingan juga.

16 Oktober 2015

Tumben-tumbenan, suami pulang bawa satu kotak susu kambing.  "Ada toko baru dekat kantor yang njual susu kambing, kali aja nanti badan Raka bisa agak gemukan, " Katanya.

Ia beli sekotak susu kambing ukuran 200 gram dengan harga 25 ribu rupiah. Dibanding dengan harga susu sapi kelas merk menengah...kayaknya memang mahalan dikit susu kambing ini. Saya yang memang nggak suka susu...kok langsung kebayang bau prengus nya kambing. Jangan- jangan baunya juga kayak kambing yaa...hiiii...!

10 Oktober 2015

Ada apaan sih? Mmm...bukan sesuatu yang serius. Ini tentang usaha saya menyapih Alya. Ada sesuatu yang istimewa buat keluarga kami di pertengahan bulan ini. Pertama, suami yang bertambah usia. Kedua, Alya....gadis mungil kami beberapa hari ke depan akan genap berusia 3 tahun. Kenapa dengan 3 tahun? Targetnya, saya akan menyapihnya...dan 3 hari terakhir proses penyapihan memang sedang berlangsung. Bocah hampir 3 tahun dan masih ASI? Yupp!! Sebenarnya, ini bukan usaha penyapihan yang pertama.  

Beberapa bulan yang lalu, saat usianya 2 tahun lebih sedikit saya pernah mencoba mengalihkan Alya dari ASI ke susu gelas. Pernah saya oleskan lipstik di area puting, saya bilang " Ibu digigit laba-laba", eh..ternyata responnya diluar dugaan. Ia ambilkan saya caladin lotion, " dicaladin aja...biar sembuh", ngakak dalam hati kan saya..... 

4 Oktober 2015

Sumber foto kaskus.co.id " 

Bu, nanti aku belajarnya sore aja yaa...mau ada Angry Bird Rio e di tivi.."
"Lha trus gimana...Sore kan ibu mandiin sama nyuapin Alya..."
"Ya...udah, nanti aku dibuatin soal aja...trus tak garape sore...." 

Begitulah kira-kira petikan dialog saya dengan Raka beberapa hari kemarin. Ia merengek minta jam belajarnya dimajukan, gara-gara kepincut promo film disebuah televisi swasta nasional. "Oalah...kadangkala televisi memang penggoda kok...ngerti jam belajar masyarakat, tapi jam segitu seringnya diisi film animasi anak-anak," Nggak teriak sih, saya cukup mbatin dalam hati saja. Tapi memang anak sekarang, kalau nggak dibiasakan belajar takutnya malah anak plus orang tua repot diakhir.

Meski namanya tetap Sekolah Dasar, tapi ngomongin materi pelajarannya, rasanya udah beda jauh banget dengan jamannya saya dulu.....Berasa berat jadi anak-anak sekarang. Banyak yang harus dimengerti dan dipahami di usia dini. Beda jaman, beda tuntutan....gitu mungkin yaa.. Tapi nggak cuma materi pelajaran saja kok yang beda...hampir semuanya...Orang Jawa bilang....Mbiyen-mbiyen...Saiki-saiki...!
**

29 September 2015


Kejadiannya, hampir setahun lalu. Judulnya waktu itu, saya lagi kecewa sama diri sendiri. Seorang sahabat, menyambut keluh-kesah saya dengan kata-kata bijaknya lewat fb messenger. 

"Eh...blog mu masih kan? Nge-blog yuk....Minimal, nggak bakalan bosan lagi. Maksimalnya.....buanyakkk! Banyak lho yang bisa jalan-jalan gratis berkat nge-blog....Gunakan imaginasi, ciptakan peluangmu!."  Rupanya....provokasi sahabat saya berhasil. Blog saya yang sudah 5 tahun bobok manis, dan lumutan sana-sini, saya bangunkan dan urus kembali. Untung, masih ingat kata kunci....hi..hi. 

Seperti namanya, di awal keberadaannya, blog ini sebagian besar hanya berisi cerita-cerita tentang Raka. Maklumlah, dulu ia menjadi 'center of universe' keluarga ... anak pertama gitu loh! Sayang saja kalau moment-moment cakepnya dia yang tertangkap kamera harus menyerah pada jamur, seperti pada foto-foto yang rusak kalau kelamaan ditaruh di album photo. Nggak seru juga kalau saya sebagai ibu melewatkan fase-fase penting tumbuh kembangnya. Nggak lengkap kalau saya ( waktu itu) melewatkan waktu didepan komputer kantor tanpa menulis apapun. Jadilah blog ini gado-gado, campuran postingan foto-cerita-curhat-dan beberapa cerpen. Itulah Visi-Misi awal saat blog ini lahir.  

17 September 2015

"Film terbaru apa ya yang terakhir anda lihat?? " Wah....kalau ada survai begituan, ketahuan saya emak paling kuper...wkkkkk. Yah...namanya emak-emak dengan batita...untuk urusan film, terus terang saya pasrah aja sama yang ditayangin tv. Mau itu film jadul, baru, kalau ada kesempatan nonton film..ya nikmati aja! --Meskipun kesempatan untuk menikmati film dari awal-akhir juga jarang banget sekarang. 

Pergi ke bioskop sendiri atau sama suami...kayaknya itu moment yang sudah lama sekali terjadi. Mau ninggalin anak-anak di kakek-neneknya, sementara kami ngacir enak-enak nonton? Nggak tega. Paling juga nggak bakalan khusuk, tetep kepikiran anak-anak. Mentok-mentoknya malah mending buat beli es krim 5 biji, dimakan rame, dapet dvd film gratis....hi..hi

10 September 2015

Alhamdulillah, saat postingan ini saya tulis...semua dalam keadaan sehat. 
  
  ***** ini sekedar pengingat bagi saya, betapa sehat itu anugrah yang luar biasa**** 


 Prolog baca ini dulu Bagian satu

Kalau pas nggak demam kambuh....begini ni, kayak ga sakit, gara-gara ini pula dokter Wikan sampe akrab sama Raka

Beberapa test darah terjalani, dan menunjuk hasilnya, semuanya baik-baik saja. Juga ketika test kultur darah yang hasilnya harus kami tunggu berhari-hari. Melalui test ini, akan diketahui apakah dalam darah pasien terinfeksi bakteri/ jamur tertentu atau tidak. 

8 September 2015

Foto ini adalah foto lamanya Raka, ketika harus melawan penyakit "aneh" selama tiga minggu. Terjadi akhir 2012, ketika sulung saya masih duduk di TK besar, sementara adiknya belum genap 2 bulan. Sebenarnya, gejala awalnya biasa saja...tapi kemudian menjadi sesuatu yang agak-agak di luar logika... Ah, daripada kelamaan, baiklah...cerita dimulai saja.

Ruang Galilea 306 RS Bethesda, pertama, dan semoga yang terakhir

Saya inget, waktu itu hari Kamis, habis Maghrib...Raka diajak ayahnya keluar sebentar karena ada keperluan di rumah tetangga. Eh...begitu pulang, muntah-muntah. Ya, saya pikir dia masuk angin. Seperti biasa P3K pertama saya minyak kayu putih, dan kemudian tertidur. 

6 September 2015

Ada yang harus bayar pajak kendaraan bermotor bulan ini? Untuk urusan satu ini, setidaknya ada dua pilihan; bayar sendiri di kantor samsat, atau datang ke biro jasa sebentar , membayar uang "jasa" dan terima beres. 

Suami saya paling males untuk urusan birokrasi seperti ini, dan lebih memilih menyerahkannya ke biro jasa. Tapi setelah saya pikir-pikir, lumayan juga biayanya..bisa buat njajan bakso sekeluarga. Makanya, sudah beberapa tahun terakhir, saya yang milih menjadi relawan, tertib nunggu di depan loket demi loket yang harus dilewati di kantor samsat.



Gambar dari "http://%20http//humaspajak.blogspot.co.id/2011_08_01_archive.html?m=1">humaspajak.blogspot.co.id

1 September 2015

"Mbak Lis..pulsa itu seperti apa tho? Anak saya itu jual pulsa...beberapa orang ke rumah nyari dia untuk mbeli, tapi kok saya nggak bisa liat barang dagangannya...."
Senyum.  (bingung gimana mau neranginnya... )
"Oh, memang kalau sekarang, pulsa itu nggak kelihatan kok bu.."

Itu kisah nyata lho...saya alami beberapa bulan lalu. 

Jadi begini, tetangga saya sebelah rumah itu sehari-hari membuat tempe bungkus daun pisang untuk di jual ke pasar. Dari segi umur sih...60 tahunan gitu. Tingkat pendidikan, mungkin lulusan SD atau SMP. Secara profesi, bisa dibilang pekerjaan beliau jauh dari kesan modern apalagi hi-tech, tiap hari ketemu dengan pembeli langsung di pasar tradisional dengan barang dagangan yang kasat mata. Jadi....kalau ada pertanyaan kayak tadi, masih wajar juga siih..... 

26 Agustus 2015

Diantara banyak tempat liburan asyik di Jogja, akhir-akhir ini yang lagi booming adalah obyek wisata baru di seputaran Gunung Kidul. Kalau 1 dekade silam Gunung Kidul identik hanya seputaran Baron-Krakal-Kukup-Sundak saja, saat ini makin banyak pilihan yang disajikan. 

Yang senang bercengkrama dengan stalaktit dan stalakmit, ada Goa pindul. Yang hobi dengan air terjun, ada Air Terjun Sri Gethuk di wilayah Playen. Tak jauh dari wilayah ngoro-oro Pathuk yang awalnya hanya di kenal sebagai "rumah" para BTS para operator seluler dan stasiun relay tv-tv nasional maupun lokal, kini ada Gunung Api Purba Nglanggeran yang menantang untuk ditaklukkan. 

20 Agustus 2015

"Jaman sekarang itu sudah enak.... sudah tidak ada rakyat pakai celana goni....makan singkong sebagai menu sehari-hari....sudah tidak ada lagi cerita harus lari pontang-panting menyembunyikan diri masuk ke tumpukan jerami saat ada "capung" di udara.... " 
( Petikan obrolan dengan seorang veteran, beberapa tahun silam)


Terimakasih pahlawan, dan para pejuang Indonesia. Untuk sekedar membayangkan seandainya saya hidup di era sebelum teks proklamasi di kumandangkan, saya kok sudah ngeri. Sengsara, berat, dan berdarah-darah. Sadar atau tidak, perjalanan panjang selama 70 tahun belakangan, apa yang kita kenal sebagai pembangunan telah mengantarkan kita ke era dengan berbagai macam kenyamanan dan kemudahan. 

15 Agustus 2015

Prihatin atau seneng ya...kalau ponakan yang tinggal di sebelah rumah seneng nyanyi. Duduk di depan pintu, nyalain musik via hape kakaknya, trus ikutan berdendang. Senengnya....yaa, kali aja ada bakat seni. Prihatinnya...lagunya itu lho...lha kok "cinta satu malam", padahal umur juga masih 5 tahun-an. 

Untung anak-anak saya belum ketularan virus nyanyiin lagu-lagu dewasa. Kalau Raka, kayaknya memang nggak suka nyanyi semenjak SD ini. Adiknya saja yang sudah mulai kemayu..senengnya niruin lagu sambil joget-joget. Untunglah, sampai hampir menginjak usia 3 tahun ini, selera Alya masih tertib. Sepanjang yang saya dengar, meski kadang pelafalan dan nada jadi jauh dari versi aslinya...tapi masih di jalur lagu anak-anak.

Ini alya nyanyi..micnya pake mainan

11 Agustus 2015

Nyimak berita TV... salah satu hot issue belakangan ini adalah harga daging sapi yang terus naik di beberapa wilayah, hingga para penjualnya yang milih duduk-duduk santai alias mogok berdagang.Dalam skala besar, mungkin akan banyak yang dirugikan atas musibah ekonomi ini. Para pedagang daging yang awalnya beromzet ratusan ribu hingga jutaan rupiah, jadi malas jualan lagi karena stok daging susah dicari, kalaupun dapat, nanti jarang pembeli. 

Sebagai turunannya, ribuan pedagang bakso, soto, dan aneka kuliner lain yang berbahan dasar daging sapi mau nggak mau akan merasakan akibatnya pula. Paling-paling akan menaikkan harga jual, menurunkan kualitas, ataupun mengurangi kuantitas. Yaa...yang penting tidak mengganti bahan baku mereka dengan jenis daging-daging yang lain ( babi misalnya, atau paling ekstrim tikus sawah * efek keseringan nonton reportase investigasinya transtv)

4 Agustus 2015

Berbicara tentang tradisi Jawa yang sampai saat ini masih terus lestari, ingatan saya langsung terkenang pada sebuah cerita bapak yang sering diulangnya berkali-kali waktu saya kecil. Cerita tentang perjalanannya bersepeda onthel bersama salah satu kakek (almarhum) menuju Jatinom Klaten, demi melakukan sholat Jum'at di sana, dan menyaksikan tradisi Yaqawiyyu


Jatinom merupakan salah satu kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Klaten, Jawa tengah dan terletak berada pada jalur utama yang menghubungkan antara Kabupaten Klaten dan Kabupaten Boyolali. Sejarah mencatat, ratusan tahun lalu, di wilayah tersebut hiduplah seorang penyebar Islam bernama Wasibagno Timur, yang konon merupakan cucu dari Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit, yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Gribig.

30 Juli 2015

Nyali saya yang makin ciut....atau jalanan yang memang semakin ramai ya...? Perasaan ni tangan nggak bisa jauh-jauh dari rem. Melaju bentar, ngerem lagi...begitu seterusnya. Itu yang terlintas dipikiran saya pagi tadi. Mmm...bisa jadi dua-duanya. Yang jelas, frekuensi motoran saya memang sudah ndak seperti dulu. Alya dan saya yang masih satu paket --belum bisa ditinggal sendiri, mesti dibawa kemana-mana --akhirnya membuat saya males keluar, kecuali nebeng suami atau urusan antar-jemput sekolah saja. 

Kayaknya kalau tidak ada pembenahan aturan, nggak sampai 10 tahun ke depan, kemacetan Ibukota menular disini deh. Nggak sempat ngecek berapa angka statistik angka pertambahan kendaraan di Jogja pertahun, tapi sebagai pengguna...kok rasanya jalanan makin sesak aja. Padahal pelebaran jalan, juga belum begitu lama. Apalagi mulai minggu-minggu ini, ketika tahun ajaran baru dimulai.

25 Juli 2015

tampilan depan Toko Kedai Pramuka Jl. Adisucipto

Kalau liat toko dengan nama dan tampilan seperti itu, apa yang langsung terlintas di pikiran? Berkali-kali melintas di depannya, bayangan saya di toko tersebut hanya menjual seragam, tongkat, topi, tali, dan berbagai pernak-pernik kepramukaan saja. Ternyata...dugaan saya salah besar! Untuk urusan seragam sekolah anak, menurut saya inilah yang terlengkap untuk area Jogja. 

23 Juli 2015

Habis lebaran, liburan (anak-anak, suami)..satu hal yang patut saya syukuri....Kami semua sehat! Alhamdulillah.... Padahal biasanya, selalu saja ada diantara anggota keluarga yang sakit --paling sering batuk, kebanyakan sirup sama cemil-cemil yang digoreng. Iseng-iseng tadi baca-baca tulisan lama nemu ini, dah lamaaa nulisnya....beda cerita, tapi momentnya sama, minggu pertama habis lebaran. Jadinya senyum-senyum aja kalau baca kembali. Keinget masa lalu :-)


15 Juli 2015

Libur, menurut saya identik dengan istirahat. Istirahat dari rutinitas sehari-hari, dan kemudian bisa melakukan kegiatan menurut selera masing-masing, menyenangkan, tanpa tekanan.

Bagi pekerja kantoran, hari libur bagi karyawan atau pegawai biasanya didapatkan diakhir pekan, pada hari Sabtu- Minggu, atau Minggu saja. Tapi buat ibu bagi dua anak tanpa ART seperti saya, tak ada hari libur sepertinya. Jalan satu-satunya, ya meliburkan diri. Tapi tetep ada resikonya, bekerjaan menumpuk di hari berikutnya, atau mencicil pekerjaan sehari sebelum meliburkan diri. :-) 

Biasanya, saya meliburkan diri, sejenak lepas dari tetek-bengek urusan beres-beres rumah di hari Minggu. Mumpung suami libur ngantor. Raka si sulung libur sekolah. Kesempatan mengajak Alya jalan-jalan juga. Gadis kecil saya, mirip dengan ibunya...suka sekali dengan acara jalan-jalan :-) 

10 Juli 2015

Ada yang pernah ngalami mata bintitan? Kalo di tempat saya, familiar dengan sebutan "timbilen." Ha..ha, kla jaman kecil dulu...kalo ada temen yang lagi timbilen, pasti langsung kena vonis ...'abis ngintip yaaa'. Tapi, please deh....jangan dipercaya....100% MITOS kok...:-) Tema postingan kali ini tentang bintitan alias Timbilen. Kenapa? Karena saya barusan terbebas lagi timbilen alias bintitan, kali aja ada yang lagi senasib-sepenanggungan...he..he.




Foto dari mediskus.com

7 Juli 2015

Foto dari jogjaheritagecity

Hola..eh halo! Semoga puasanya pada lancar jaya ya... :-) Ndak terasa, ternyata ramadhan dah mau sampai pada ujungnya. Kalau sudah gitu...pasti deh aroma kemacetan bakal tercium dimana-mana. Lha iya lah, wong libur lebaran barengan ma libur sekolah. Jadinya bagi para mudikers acara mudik ke kampung halaman bakal terasa makin khusuk aja. 

Berbeda dengan suasana ibukota yang justru lengang mendekati lebaran, Jogja mah kebalikannya. Habis gimana lagi, sekian persen dari penghuni kota-kota besar adalah warga Jogja dan juga sekitarnya seperti Magelang, Solo, Klaten. Biasanya mereka akan pulang kampung pada moment-moment tertentu, termasuk Idul Fitri. Dari pengamatan saya, untuk wilayah Jogja lonjakan mudik paling kentara terlihat di Jalan Jogja-Wonosari. H-10 lebaran, biasanya kemacetan sudah mulai terjadi, dan mayoritas plat kendaraan tak lagi berplat AB tapi B!

30 Juni 2015

Kalau dulu kepemilikan mobil dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya tersier, perlahan-lahan anggapan itu mengalami pergeseran. Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, dinamika kebutuhan masyarakat, akhirnya menjadikan mobil sebagai salah fasilitas penunjang kehidupan manusia dengan peran yang cukup signifikan. 

Berhubungan dengan mobil, dan mumpung mimpi masih gratis.....baiklah, sebelum bobok manis saya mau bermimpi dulu. Andai saya punya rejeki lebih.....Hmmm, saya pengen punya mobil baru warna putih, berukuran sedang, city car boleh, MPV juga oke. Karena masih dalam dunia khayalan, sebut saja ia 3 in 1. Maksudnya? Sebuah mobil dengan teknologi Se hi-tech Suzuki Karimun Wagon R, body se-sporty All-New Honda Jazz, namun harga tetap terjangkau layaknya Daihatsu Ayla.

gambar dari jeripurba.com 

Duorrrrrrr!
atau kadang-kadang pake awalan.... 
Preketek-preketek......Derrrrr!



Gambar dari pixabay.com


Bukan balon atau ban kendaraan yang meletus. Tapi pasti bisa nebak...yup, mercon alias petasan. Sudah beberapa tahun terakhir, entah kenapa...petasan menjadi salah satu icon ramadhan di Indonesia, termasuk kampung saya. Setiap habis berbuka, jeda antara Maghrib dan Isya seakan menjadi prime time nya beberapa anak dan remaja disekitar tempat tinggal saya untuk menyulut benda satu itu. Di samping rumah lagi.

26 Juni 2015

Panas, tapi dingiiinnn. Seperti itulah kondisi cuaca di tempat saya beberapa miggu terakhir. Alhasil, tubuhpun tumbang oleh flu yang cukup mengganggu. Hidung meler, kepala pening, dan bersin-bersin. Padahal juga sudah mengkonsumsi obat pereda flu, tapi entah...kok virusnya belum juga mau pergi. 

Flu memang mengganggu, tapi sebenarnya masih ada lagi satu rasa tidak nyaman yang saya simpan. Tangan saya, kok sekarang lebih mudah kesemutan. Faktor umur, atau karena penyebab lain...saya juga belum tahu pasti. Yang pasti, jaman masih kinyis-kinyis dulu nggak ada ceritanya harus berhentiin motor dipinggir jalan, dengan alasan tangan kesemutan.


Gambar dari obatobatantradisional

20 Juni 2015

Siapa termasuk pecinta Iga? Ssst....selain rasanya yang gurih, tekstur yang kenyal namun tetap lembut saat dikunyah, ternyata iga Sapi memiliki bejibun manfaat, diantaranya mencegah dan mengatasi anemia, menyehatkan otot, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Karena manfaatnya pula, anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan dan ibu hamil disarankan banyak mengkonsumsi iga sapi ini.

Aduh...tapi masak iga itu repot ya?
Mana sempat, rebusnya kan lama...
Niatnya mau masak makanan berbahan dasar iga ala chef...eh, begitu mateng kok rasanya malah nggak jelas gini? 

Wah..kalau yang terakhir itu, saya banget :-) Perasaan sudah nyimak resep hasil googlingan baik-baik, tapi pas tahapan eksekusi dan dilanjut tahap nyicipi....whu ha..ha, rasanya sering nggak karuan. Nggak mbakat masak kali *menghibur diri.

Masih soal Iga, Nah...ini saya nemunya pas jalan-jalan di daerah Bolon, Colomadu, Karang anyar, tepatnya di Jalan Tentara Pelajar. Ada yang pernah main di seputaran waduk Cengklik, atau mantengin pesawat di Lanud Adi Sumarmo Solo? Nah...si doi ada di seputaran situ tuh... "WarGa Mang Idik" warung Iga yang menurut saya eye catching, di dominasi warna merah sih! :-) Selain bersih, mbak yang nganter makanan dan minuman juga ramah, menu iganya juga komplet.

Pas ke sini masih lumayan pagi, belum jam makan siang, jadi warung masih sepi  



Bisa pilih-pilih kan? Semua menu berbahan iga, dibandrol dengan harga 22 ribu/porsi.


Iga Gongso, menu andalan... Hmm, yummy....:-)


Owner sekaligus manager, untuk tayangan acara kuliner sebuah stasiun tv



Uniknya, kata Sidik Kurniawan selaku manager sekaligus owner , selain menu Iga "WarGa Mang Idik" juga menyediakan menu-menu lain seperti Bakso, Mie Ayam, MpemPek, Chicken steak, Beef Steak, Original Beef, Steak Seafood. Untuk minuman, selain minuman standard --teh dan jeruk maksudnya-- warung makan ini juga mempersenjatai diri dengan berbagai jus buah. Sehat, tapi masih tetap enteng di kantong :-) Eh...ada lagi ternyata, bagi yang kangen dan pengen bernostalgia dengan bubur ayam Bandung, ada kok di WarGa Mang Idik, tapi pas Minggu pagi doang...:-)

Pengennya sih..warung iga ini ada di Jogja, tapi apa daya..untuk sementara masih ada satu, di Colomadu. Nah, buah warga Colomadu dan sekitarnya, pencet hp atau sms atau manfaatin WA di 082191316255, pesanan Iga bisa langsung diantar sampai rumah... melayani Delivery Order juga soalnya. Kapan-kapan, kalau ke Waduk Cengklik lagi...kalau Raka dan Alya nodong untuk diliatin pesawat yang take off atau landing...mampir (lagi) ah ke "WarGa Mang Idik"..habis menunya pas di lidah, masih relatif nyaman juga buat kantong rakyat jelata seperti saya :-)

 =================================
Alamat WarGa Mang Idik: Jl. Tentara Pelajar, Bolon, Colomadu 
Menu Utama : Aneka masakan Iga Sapi, harga 22 ribu per porsi
chicken steak 13 ribu per porsi
beef steak 14 ribu per porsi 
original beef 20 rb per porsi 
Steak seafood 13,5 ribu per porsi 
Info dan delivery 0821-9131-6255 
Hari biasa Buka 09 pagi - 21.00 
Puasa: sore-21.00 ( free takjil)

18 Juni 2015



"Bu, hari ini aku dapat poin 17 kan? Tadi aku TPA, Magrib aku ke Masjid, Isya ke Masjid, trus Tarawih...." 


 "Iya Mas, berarti bisa nukarnya mungkin besok....kan kalau udah 30" 

Itu obrolan saya dan Raka sebelum ia berangkat tidur tadi. Temanya tentang poin :-) . Jadi begini, sebenarnya semuanya berawal dari kebiasaan anak saya beberapa minggu kemarin, pas masa-masa ujian kenaikan kelas (UKK). Saat UKK tengah berlangsung, otomatis ia pulang lebih awal dari biasanya. Istirahat juga cuma sekali, alhasil ia bisa menyisihkan uang jajannya yang sehari saya jatah Rp.3000. Kadang sisa Rp1000, kadang Rp2000, dan kemudian ia kumpulkan. Karena jalan pulang sekolah melewati pasar, saat uangnya dah ia rasa cukup...pasti Raka akan minta mampir ke deretan penjual benih ikan. Membeli 4 ekor benih breskap yang harganya Rp.500/ekor atau 4 benih patin seukuran jari dengan harga 750/ekor. Sampai rumah, ia akan menyatukan ikan-ikan tadi bersama beberapa ekor koi dan nila di kolam samping rumah.

14 Juni 2015



Setelah menjadi ibu, saya baru tahu tentang ilmu ini; betapa kualitas tidur anak begitu penting. Berbekal ilmu titen;(menyimpulkan setelah kejadian berulang), anak-anak akan menjadi cenderung rewel  kalau mereka kurang tidur. Raka akan cenderung ngantukan, ogah-ogahan saat jam belajar tiba. Baru mengerjakan soal beberapa, langsung mengeluh ngantuk. Sementara Alya, akan menjadi gembeng atau cengeng. Sedikit-sedikit salah, ngambek, dan nangis.

10 Juni 2015

Liburan sekolah, di depan mata. Sebentar lagi ramadhan, dilanjut lebaran yang masih dalam suasana liburan :-) Wah, bisa dipastikan tingkat mobilitas kita akan naik drastis. Bisa untuk keperluan mudik lebaran, silaturahmi antar anggota keluarga, ataupun sekedar jalan-jalan untuk keperluan wisata. Durasi hidup yang akan terpakai di jalan bakalan bertambah panjang.

6 Juni 2015

Ada yang tau tradisi nyadran? Dikampung saya, tradisi ini rutin diadakan setiap tahun, menjelang ramadhan. Biasanya, tiap kampung beda pula cara pelaksanaannya. Ada yang ramai-meriah bak upacara adat, adapula yang simple, sederhana, yang penting mengena. 

5 Juni 2015

Mumpung lagi libur Waisak...beberapa hari sebelumnya kami sudah merencanakan pergi mengajak anak-anak ke tempat nenek. Yeah..beberapa kerabat dan nenek moyang suami saya memang tinggal di Kecamatan Wadas Lintang. Sekalian memaksimalkan acara liburan, maka selain acara silaturahmi dan temu kangen dengan keluarga, siang itu kami mampir di kawasan Waduk dan Bendungan Wadas Lintang.
Bendungan Wadas Lintang
Bendungan Wadas Lintang Wonosobo

1 Juni 2015

Hidup dikampung ( baca : desa ) itu ada enaknya, ada enggaknya. Nggak enaknya, sering sekali mesti kerja bakti --padahal lagi pengen pergi, tetangga juga sering pada kepo tingkat tinggi. Enaknya....karena nggak semua rumah terpisahkan tembok tinggi, maka sering sekali saya ikut nebeng menikmati, misalnya banyak tetangga yang petani, trus meski nggak ikut menanam, sering dapat bagian untuk mencicipi...

26 Mei 2015

Foto dari alamatika

"Blonjo Nok..." sapa seorang kakek pada saya, saat hendak mengambil motor seusai membeli sayuran pada sebuah pasar tradisional pagi tadi. Kakek tua yang tak saya kenal siapa namanya, dan dari mana ia berasal. Tidak tahu sudah berapa lama ia terduduk di bawah pohon itu. Satu tangannya membawa payung yang sudah dilipat. Hujan deras memang belum begitu lama reda. Satu tangannya lagi membawa kresek hitam --yang belakangan saya tahu isinya bekal nasi dan minuman. 

25 Mei 2015



Puluhan pemuda tampak dengan lincah menarikan tarian Badui sebagai bentuk penghormatan kepada rombongan pengunjung. Beberapa saat setelah acara penyambutan usai, para tamu pun diajak menyusuri desa dengan kereta mini, mengantarkan mereka untuk melihat desa yang mengusung agrowisata salak pondoh sebagai potensi wisata utama. Setelah puas menikmati salak pondoh asli dari kebun petani, pengunjung mendapatkan jamuan nasi kenduri --suguhan yang bagi sebagian orang mungkin terasa amat istimewa.

"Ibu, kata bu guru sebentar lagi puasa ya..? ''
"berapa hari lagi puasanya bu?"
"Kapan tho bu, puasanya?"

Pertanyaan Raka , yang entah ke berapa, saya lupa. Padahal setiap kali bertanya, sudah saya jawab juga, saya suruh ia melihat kalender, menghitungnya sendiri **dasar ibu pemalas.
Habis, setiap bertanya, pas posisi tanggung, tanggung pegang setrika, tanggung ngidupin kompor ** ah, alasan lagi.

Yang jelas, anak sulung saya terlihat antusias sekali menyambut datangnya Ramadhan tahun ini. Tahu alasannya? Berikut jawabannya:
Satu, pagi nggak perlu diburu-buru ibu saat sarapan
dua, bisa ke masjid takjilan sama teman-teman.

Raka dan alya, ramadhan 2014

23 Mei 2015

Sekitar pukul 10 pagi tadi , saya menyuapi Alya snack  sembari menemaninya melihat ikan-ikan di kolam samping rumah. Tak lama kemudian, Raka anak saya yang dari pagi pamitan bermain muncul bersama Noval, anak tetangga yang kebetulan seumuran. Sekitar satu tahunan ini saya lihat mereka memang akrab satu sama lain. Namanya anak-anak, libur sekolah...ya gitu, puas-puasin bermain :-)

Eits, bukannya pulang ke rumah masing-masing, rupanya mereka masih mau melanjutkan acara bermain, tapi pindah lokasi aja, di kolam! Di tangan mereka saya lihat ada beberapa potong sabut kelapa, atau dalam bahasa kami sepet. Wong sepet yang tengah dijemur tetangga kok ya asal dicomot aja. "Mau mbuat perahu", kata anak-anak ini. "Boleh, tapi setelah selesai main, sepet nya balikin ke yang punya", pesan saya.

"Eh, Fal...kok perahunya nggak seimbang ya...." celetuk Raka saat melihat perahunya oleng saat diletakkan di atas air. "Dibenerin di belakang rumah yuk mas?" ajak Noval. Meski usianya lebih kecil dari Raka, tapi sepertinya, bakat memimpin Noval lebih terlihat.


Dan ternyata...beginilah cara dua bocah ini berkreasi dengan sepet-sepet mereka. Potongan kayu, tali, hiasan dari daun, mereka gunakan agar perahu mereka tidak oleng dan tampak lebih gagah.


Daripada di utak-atik sendiri, kalau dilakukan #berdua, lebih hebat kan?  Tak lama kemudian, saya lihat sulung saya dan Noval --sang teman akrab --asyik bermain dengan perahu hasil karya mereka.



Jumlah kata: 222

18 Mei 2015

Apa yang terlintas di pikiran teman-teman, saat kita ngomongin tentang Magelang? Bagi pecinta kuliner, bisa jadi langsung teringat manis dan legitnya gethuk trio, gurihnya sop senerek, atau nikmatnya tahu bercampur sayuran dalam sepiring kupat tahu khas daerah Blabak. Untuk pecinta jalan-jalan, bisa jadi megahnya candi Borobudur, atau Mendut langsung muncul dipikiran.

14 Mei 2015

Anak saya mulai kecanduan game modern! Diagnosa saya seperti itu. Benernya sudah sejak umur 2 tahunan Raka saya kenalkan dengan komputer, mulai belajar menggerakkan mouse, dan memainkan beberapa game yang ada. Motif awalnya, biar anak ini agak diam secara fisik. Karena termasuk tipikal anak kinestetik, jujur, capek banget ngikutinya. Terlebih, sejak kecil sampai sekarang, Raka punya kebiasaan makan yang bikin kesel, di emut..., satu kali makan, nyuapinnya bisa sampai 1 jam. Makanya agar mau makan , saya sering ambil jalan pintas, dibikin "lupa" dengan acara makannya...saya nyuapin, dia duduk manis depan komputer, ngegame, tanpa ia sadari ia pun mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya.

8 Mei 2015

Saat masih remaja, saya ingat betul kalau saat itu koneksi internet menjadi sesuatu yang cukup mahal dan sangat terbatas. Hanya dimiliki orang-orang kaya, perusahaan besar, dan pemilik bisnis warnet yang jumlahnya pun masih sangat jarang. Paling hanya ada satu-dua, itupun di seputaran kampus ternama. Karena itu pula, manfaat yang dirasakan oleh masyarakat pun belum begitu kentara.

6 Mei 2015



"Wah, asyik bu...seperti petualangan. Di sini banyak tanaman dan hewan-hewan nya pula! " Tadi ada jamur besar, kepik, burung elang....celoteh Raka sambil berjalan menyusuri jalan setapak. Meski jalanan yang kami lalui menanjak, tapi sepertinya ia tak merasa lelah. Sementara, Alya terlihat riang di pundak ayahnya...sambil menirukan lagu naik gunung yang biasa ia lihat dari vcd. Saya yang dibelakang, tut wuri handayani saja, ikut senang kalau kalian senang :-) 

2 Mei 2015

Seorang mahasiswi UPN Veteran Yogyakarta ditemukan meninggal usai melahirkan di kamar kosnya daerah Seturan, Caturtunggal, Depok, Sleman. Diduga korban meninggal sejak dua atau tiga hari lalu, lantaran kondisi badannya yang sudah bengkak dan sudah mengeluarkan bau busuk. Saat ditemukan Rabu (29/4/2015), bayi yang dilahirkan juga dalam keadaan meninggal. Bayi malang itu tergeletak di antara dua kaki sang ibu.  
( tribunjogja.com, rabu 29 April 2015 )

30 April 2015

"Ah, dia kan cuma ibu rumah tangga". Pernah nggak mendengar nyiyiran serupa dari tetangga, teman, atau siapapun juga? Jujur...saya siap-siap pasang tanduk kalau ada yang meremehkan profesi ibu rumah tangga. Meskipun tampak luarnya tak seberapa tapi itung-itungan jam kerja, profesi ini menghendaki kita siap-sedia, 24 jam standby! Terlebih ibu rumah tangga dengan anak-anak yang masih bayi, batita atau balita.

23 April 2015

Secara mudah nyaman bisa di definisikan dengan sesuatu yang mendatangkan perasaan enak, segar, dan menyenangkan. Nah, kalau tidak nyaman? Ya, pasti kebalikannya dong! Untuk rasa nyaman maupun tidak nyaman, faktor pemicunya bisa beragam, dan sangat mungkin berbeda antar orang perorang. Bagi saya, beberapa situasi ini seringkali menimbulkan rasa kurang atau bahkan ketidaknyamanan level akut:

19 April 2015


Gambar dari serbasejarah.wordpress.com

Peringatan hari Kartini, tinggal beberapa hari lagi. Kalau di tempat saya, peringatan ini identik dengan pemakaian baju tradisional secara massif pada lembaga pendidikan. Dari jenjang TK sampai SMA, di hari tersebut biasanya para warga sekolah menyempatkan diri berdandan khusus, berbusana istimewa dengan kostum tradisional.

Sejak kapan tradisi itu muncul? Entahlah..yang pasti, diera saya kecil dulu --era 80-an, tradisi ini sudah ada.Tapi seingat saya hanya teman-teman yang di SD negeri saja yang setiap tahun ribut menyiapkan kebaya mungil, jarit, dan sandal jinjit untuk memperingati event tahunan ini. Setahu saya, dulu bisnis salon dan persewaan baju tidak sebanyak sekarang. Karena itu juga, biasanya orang tua menganggarkan budget ekstra untuk moment Kartinian. Sementara saya yang dulu dipilihkan orangtua untuk belajar di SD non negeri, tak pernah diributkan dengah hal tersebut. Sampai kemudian SMP-SMA-Kuliah-Kerja, kok ya ndak punya pengalaman istimewa apapun terkait peringatan hari Kartini ini.

Baru sudah berkeluarga ini, punya pengalaman menyambut dan merayakan hari Kartini, itu juga karena sulung saya sudah tahun kedua di Sekolah Dasar. Biasa, urusan sewa-menyewa baju untuk anak. Di kelas satu dulu, anak saya ogah pakai pakaian tradisional, jadinya lebih memilih baju profesi. Di kelas 2, barulah pihak sekolah mewajibkan memakai pakaian tradisional. Meski pemberitahuan mendadak, tapi untungnya dipersewaan baju dekat rumah, masih ada stock tersedia. Iya, untuk baju tradisional, menurut saya menyewa lebih ekonomis. Dengan 40 ribu rupiah, anak saya bisa memakai 1 set pakaian Jawa lengkap. Coba kalau harus beli, berapa coba? Wong make nya juga cuma setahun sekali...:-)

Tapi...ngomong-ngomong, kenapa ya Kartinian di daerah saya identik dengan baju tradisional, kirab budaya, dan lomba-lomba peragaan busana untuk anak-anak? Kenapa inti dari emansipasi malah kadang jadi terlupakan ya? Apa karena foto sosok Kartini yang memakai baju tradisional trus kondean itu? Lha memang jaman dulu pakaian perempuan Jawa ya memang begitu tho ya..Nggak Kartini, Partini, Kustilah, dan banyak perempuan Jawa di era itu. Seandainya sosok Kartini digambarkan dengan model pakaian lain, ceritanya akan berbeda kali yaa... Btw, kok jadi penasaran....untuk daerah-daerah yang lain, bagaimana tho cara mereka mengenang dan menghormati jasa pahlawan perempuan kita RA. Kartini? Bagi cerita ke saya ya!?:-)