14 Agustus 2009

Pulang jemput Raka dari Kelompok Bermain. Seperti biasa, saya memutar jalan kampung untuk menghindar agar tak lewat dari warung tempat saya belanja sayuran. Kalau tak saya gunakan strategi memutar jalan ini, Raka akan merengek-rengek minta jajan permen begitu melintas didepan warung. Saya masih sayang gigi putihnya, itu intinya.

Tapi sepertinya strategi saya hari itu tak berjalan mulus. Sukses melewati satu warung, ternyata mata raka masih bisa menangkap serentengan jajanan yang dijajakan warung satunya lagi yang memang harus saya lewati, karena hanya berjarak beberapa meter dari rumah.

Bukan rupiahnya yang saya sayangkan, tapi saya tahu, jajanan yang ia inginkan adalah makanan yang bisa dikategorikan makanan sampah alias junk food. Tapi apakah anak 2,5 tahun sudah bisa menerima kalau saya terangkan “nak, makanan itu tidak baik untuk tubuhmu, banyak MSG nya, ada bahan pewarna, ada pemanis buatan, bla..bla”Ah, tapi mudah-mudahan bisa. 

Akhirnya saya biarkan siang itu Raka menangis karena tak mendapat apa yang ia mau. Setelah tangisannya reda, baru saya nasehati dia, hingga kemudian ia memilih minum susu, dan kemudian tertidur. Sudah ngantuk rupanya.

Baru dua hari yang lalu teman saya, kebetulan seorang ibu baru dengan bayi berumur 3 bulan, juga berkirim pesan, seperti ini isinya; “bu, punya referensi nggak seseorang yang punya resep macam chiki, taro, dsb tapi yang sehat, agar nanti anakku tidak kecanduan junkfood. Ntar aku pengen buat sendiri.” Karena memang tidak punya, ya akhirnya saya cuma saling cerita dan berbagi strategi.

Rupanya saya tak sendiri. Mungkin begitu banyak ibu-ibu yang khawatir dengan menjamurnya aneka jajanan, dengan kualitas yang tidak tidak terjamin, ya..karena itu tadi ..kalau tak MSG, pemanis maupun pewarna buatan plus pengawet. Idealnya sih, berbagai bahan kimia tersebut tak dikonsumsi oleh tubuh, toh ada gula tebu yang lebih sehat, daun pandan, kunir, atau daun jati yang bisa menjadi pewarna alami, atau kaldu ayam kalau ingin makanan menjadi gurih. Tapi apa daya??? Serbuan berbagai jajanan “sampah” begitu menggoda, dengan kemasan memikat, dan iklan yang gencar selalu di depan mata, anak-anak pun menjadi pasar yang begitu potensial.

Ini adalah kisah nyata. Agar Raka bisa istirahat (dan kami juga bisa leyeh2 tentunya), pada jam-jam prime time biasanya kami menghidupkan Tv. Begitu ada iklan, raka akan bertanya, “itu apa bu?” “Minuman ale-ale Ka, jawab saya, “Ale-ale bu...,” ia akan merengek. Biasanya saya akan menjawab, “Ka itu bisa bikin kamu batuk. Makan jeruk saja ya...” “yo..ben!!!” jawab raka. Begitu seterusnya... Waduh..........!! Sekian banyak memori makanan yang sudah tersimpan diotaknya, dan kemudian akan ia lampiaskan saat ia kami ajak berbelanja...

Jaman saya dulu, saya masih nrimo dengan berbagai panganan tradisional dan aneka jajan pasar, yang sampai saat inipun masih saya suka. Lebih sehat sepertinya.Tapi anak sekarang, apa masih bisa??? Yang bisa saya lakukan saat ini ya cuma meminimalisir saja. 

Untuk menghindarkan berbagai zat kimia dalam makanan itu agar samasekali tak masuk ke tubuh, apa masih ada ibu yang bisa, saya masih ragu. Kadang saat Raka ikut ke pasar, dan kemudian tertarik dengan jely yang rasanya cenderung pahit, maka saya akan mencicipi dan pura2 muntah...Rakapun akhirnya hanya mencicipi sedikit, dan menyuruh saya membuang makanan tersebut....Itu satu strategi yang lain di samping memutar jalan. 

Untuk stock snacknya, gak mungkin 100% buatan saya. Paling cuma agar-agar, sama-sama buatan pabrik, tapi saya berusaha mencari warna yang bening.Saya masak sendiri, dengan menambahkan gula kelapa. Cukup enak dan sehat. Yang saya herankan, kenapa ya...saya hampir tak pernah menjumpai makanan buatan pabrik yang bebas MSG, pemanis, ataupun pewarna. Kalaupun bebas MSG ataupun Mononatrium, pasti ada pemanis atau pewarna.. 

Seandainya saja, ada makanan yang lezat, di sukai anak-anak tapi sehatt!! 

21 April 2009

Seorang teman saya pernah komplain, karena akhir-akhir ini saya selalu telat untuk membaca ataupun membalas sms. “Padahal kan kamu sekarang di rumah, dulu masih kerja, ada sms cepet balesnya.” Asumsinya adalah, dulu kerja aja masih sempat bales sms, sekarang kok telat mlulu. Jadi ibu RT kok tambah sibuk. Tapi setelah saya renungkan, bener juga... Sering sekali saya telat bales sms teman-teman atau membiarkan (tak sengaja ) sebuah panggilan menjadi missedcall. Kenapa ya..??
Seorang teman di periklanan dulu, kini di Bandung mengikuti suami. Popi namanya. Sudah cukup lama menjadi ibu Rumah tangga.Pernah ia berbagi kepada saya , pekerjaan rumah tangga itu nggak ada habisnya, ada dan selalu ada. Dulu, saya pernah memandang sebelah mata pekerjaan domestik. Tapi setelah menjalaninya...ternyata benar juga.. Tak jauh seperti pekerjaan publik, pekerjaan rumah tangga pun datang dan pergi bergantian. Bagaimana saya harus memanage rupiah agar bisa cukup untuk keperluan kami sekeluarga, membelanjakannya, mengolahnya. Mengatur rumah dan seisinya agar nyaman dilihat. Tampaknya sepele, tapi bisa juga serius. Apalagi punya anak kecil yang sedang mulai bandel dan hobi nyebar mainan ke penjuru rumah seperti Raka..... Gambaran nyatanya seperti ini, urusan anak selesai (mandi, makan, main atau mengantarnya sekolah, hingga kemudian ia tidur) kok nggak tega liat rumah berantakan. Dapur yang kotor, atau kulkas yang menuntut untuk dibersihkan. Pakaian tercuci, kering, masak gak di setrika?
“Bosan nggak jadi ibu Rumah Tangga?”, pertanyaan yang terlontar dari teman saya sekantor dulu setelah beberapa bulan tak bertemu. “Belum.” Jawab saya. Soal bosan apa nggak...relatif dan manusiawi sepertinya. Orang yang bekerja kantoran pun pasti ada titik jenuhnya alias bosan. Saat saya masih berkecimpung di luar rumah, saya pernah bosan dengan rutinitas terburu2 berangkat kantor-liputan-tulis naskah-pulang dengan terburu-buru juga. Saya pun harus siap jika suatu hari nanti saya merasa jenuh jadi ibu RT. Tergantung cara mensiasatinya menurut saya. Bagi saya, saat ini pekerjaan domestik ataupun publik sama berartinya. Semua ada sisi positifnya, ada sisi buruknya pula. Yang paling kentara membedakan adalah “penikmat hasil kerja kita”. Kalau dulu, saya dan teman-teman satu kru membuat sesuatu yang bisa dinikmati, ditonton banyak orang. Sedangkan klo sekarang, saya mengerjakan sesuatu yang hanya bisa dinikmati sedikit orang (untuk keluarga terutama). Itu juga mungkin yang membuat profesi ibu rumah tangga dipandang sebelah mata.Disepelekan. Bener nggak sih??
Jujur, dalam menjalani profesi yang sudah hampir terjalani setengah tahun ini..kadar keikhlasan saya pun masih turun-naik. Kadang masih ngiri juga lihat teman seangkatan, seumuran yang masih bebas “terbang tinggi” mengejar karir. Saya hanya bisa meredamnya dengan “kondisi kami berbeda, itu yang membuat jalan hidup kami berbeda”. Yang harus saya syukuri adalah, hidup saya sudah lengkap. Pernah saya membuat sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang, sekarang tiba waktu saya untuk berkarya untuk keluarga. Suatu saat nanti, saat anak-anak saya sudah bisa “dilepas”...kepengen sekali bisa kembali melakukan sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang. Akhirnya..Selamat Hari Kartini!!
Burung Kakatua
Uyung kaka ua…
Nggap ndela….
Nek dah ua…
Gigina ngga dua….
Tek dung… tek dung…tek dung…la..la
Tek dung…tek dung…tek dung..la..la…urung kaka ua!
Bangun Tidur
Ngun du yus ndi…..
Ndak pa sok gigi…
Bis ndi yong ibu…
Kan mpat du ku….
Topi Saya Bundar
Opi aya ndan..
Ndan opi aya..
Klo nda ndan...
Ukan opi aya...
Semenjak beberapa bulan lalu, tepatnya saat mendekati umur dua tahun, alhamdulillah Raka mulai senang bernyanyi, tepatnya ngikut saat diajari ibu atau ayahnya menyanyi. Awalnya hanya beberapa bunyi belakang yang ia ikuti, misalnya naek-naek ke puncak gunung ya cuma “nung” nya yang nyuara…tapi lama2 dengan bahasa yang masih seadanya, ia berusaha untuk mengikuti semua syair lagu yang ia dengar dari Vcd, computer ataupun kami nyanyikan sendiri. Belakangan ini, aksinya ia lengkapi dengan gerakan badan dengan membawa mic mainan. Hmmm….suka nyanyi ya Le?
“Raka ngomongnya dah banyak belum?” Sebuah sms, dari pak dhe Raka yang ada di Bandung saya terima beberapa saat yang lalu. Beberapa waktu lalu, kemampuan verbal Raka memang sempat membuat kami cemas. Kala usianya satu setengah tahun, masih sedikit sekali kata yang jelas ia ucapkan atau bisa kami mengerti. Itu jugalah yang kemudian mengenalkan kami pada PAUD Annur Sleman, mengantarkan saya untuk berdiskusi dengan para ustadzah di sana, atau sharing antar orang tua kala bertemu.
Dari hasil ngobrol-ngobrol itulah, saya menjadi tenang karena apa yang terjadi pada Raka kerap juga terjadi pada anak-anak yang lain, dan masih dalam tahap normal. Banyak hal yang memicu hingga kemampuan verbal anak kurang terasah, misalnya:
  • Kurang stimulasi. Ini yang membuat saya kerap bertanya, apa kemampuan verbal Raka kurang terstimulasi ya..? Sepertinya sejak dalam kandungan, saya rajin mengajaknya ngobrol, mengajaknya mendengar lagu anak2, musik klasik, bahkan lantunan juzz amma. Atau (mantan) pembantu di rumah kurang mengajaknya ngobrol?
  • Bingung bahasa. Bisa jadi. Di rumah raka memiliki beberapa Vcd lagu anak2 bahasa Indonesia dan bahasa inggris yang kerap ia putar. Dulu pembantu mengajaknya ngobrol dengan bahasa jawa logat jawatimuran. Saya dan ayahnya mengajaknya bicara dengan bahasa Indonesia campur bahasa Jawa versi Jogja.
  • Genetik. Ayah Raka termasuk pendiam. Jangan harap ayahnya akan bercerita panjang, bahkan klo nggak ditanya duluan, ni ayah jarang sekali ngomong. Nah..ibunya raka yang lebih ceriwis (dibandingkan ayah) (dulu) kalo pagi dah berangkat kerja, pulang dah maghrib, raka dah ngantuk…..
  • Kecenderungan anak laki-laki memang terlambat bicara, dibandingkan anak seusia yang berjenis kelamin perempuan.
Saya pernah googling di internet, dan menemukan informasi dimana ada satu masa yang dinamakan “ledakan bahasa”; yaitu ketika tiba-tiba tanpa kita sadari vocabulary yang dikuasai anak menjadi banyak. Rata-rata dialami seorang anak menjelang atau saat ia berusia sekitar dua tahun. Alhamdullilah, dengan stimulasi yang terus-menurus kami lakukan, pelan tapi pasti dari hari ke hari kemampuan bahasa raka kian bertambah. Sekarang Raka sudah bisa kami ajak ngobrol ataupun kami minta menceritakan apa yang barusan ia lihat. Misalnya saat ditanya:
Ibu : Raka ntar yen gede mo jadi apa?
R : Dok tel
I : Dokter nolong orang yang apa ka?
R : akit
I : Nanti klo ibu sakit, ibu di kasih apa?
R : obat..
I : Kok di kasih obat?
R : mbuh … (biar sembuh maksudnya)
I : baju dokter warnanya apa le?
R : Ijo (hijau)
I : (Amiin)
………….
Ibu : Raka. Klo siang ayah kemana?
R : ja (kerja)
Ibu : kerja dimana le ?
R : Tol (kantor)
Ibu : Emang kantornya ayah dimana?
R : eMan (Sleman)
Ibu : Klo pulang ayah bawa apa?
Raka : Dos. Dua. (he2, ayah raka memang hampir selalu lembur, sebagai oleh-oleh jatah nasi ataupun snack sering dibawa pulang untuk anak-istri)
Ibu : Isinya apa
R : Ayam, hah (pedas)
Sepulang dari jalan-jalan ke Taman kyai Langgeng, Magelang. Disana raka bertemu dengan badut berbaju poo, tokoh dalam film anak-anak teletubbies.
Ibu : Raka tadi liat apa?
R : Poo...
Ibu : Poo pake baju apa Le?
R : eyah (merah)
I : Trus Raka ngapain sama poo?
R : aYim (salim, salaman maksudnya)
Konon kebiasaan yang baik, harus ditanamkan sejak dini. Sudah lebih dari sebulan, kami membiasakan Raka sholat berjamaah di masjid di kala Maghrib. Suatu petang, sambil berjalan di masjid saya bercerita kepadanya, kalau masjid itu rumah Alloh, dan kita harus meneladani Nabi Muhammad. Satu hari kemudian, saya ingin ngetes dia..masihkah dia ingat dengan apa yang kemarin saya katakan:
Ibu : Le, kita mau ke masjid. Masjid itu rumah siapa?
Raka : Awoh (Alloh)
Ibu : Kalau Nabi kita siapa?
Raka : Amat (Muhammad)
Alhamdulillah........
Lagi bu… Mimik Teh, Mimik Susu bu…. Da da ayahhh!!..... Mbas yon (tumbas balon)… (sambil merajuk)ayah...jem mbak (game tembak2an), dll ..senengnya karena sekarang raka mulai banyak ngomong, gemar meniru apa yang barusan kami ucapkan atau barusan ia dengar.Makin besar, ternyata makin pinter juga dia ngeles sebuah jawaban dari ayah /ibunya.
Seperti sore itu, kala hujan dibulan April masih menyisakan sediki gerimis, adzan mahgrib berkumandang.
Raka : ayah...dzan, udu! (ayah, adzan, ayuk wudhu)
Ayah : Hujan ka, sholat rumah aja
Raka : Ayung! (payung)
Ayah : Senyum2...

24 Maret 2009



Beberapa minggu lali, saya sempat curhat sama suami saya...”mas, ntar klo gaji 13 turun, beli komputer yuk!! Komputer tua punyaku tuh dah sering ngadat...kadang mo hidup, kadang gak. Pake ngetik juga sering tau-tau hang”.
Semenjak jadi ibu rumah tangga, saya memang jadi “jauh” dengan komputer, terpisah dengan dunia reportase, tulis-menulis yang hampir lima tahun saya terjuni. Ada keinginan, disaat raka sedang sekolah dan pekerjaan rumah terselesaikan, saya bisa kembali menulis, entah apapun bentuknya. Alhamdulillah...suami saya sangat mengerti. Tak harus menunggu gaji ke-13, beberapa hari lalu, sekembali dari rumah simbah di Bantul, ada satu anggota baru di rumah, disertai pesan yang ditulis ayah dalam satu file.

Coretan kecil…
Komputer ini ku persembahkan untuk anak dan istriku. Aku numapang aja he..he..
Bagi anakku sebagai media belajar biar ga’ gatek dan tp spy pinter..
Untuk istriku sebagai media menuangkan ide-idenya, imajinasinya ato apapun itu namanya, sekaligus pengusir rasa bosan ‘ mungkin’… . Maksude dulu sering meninggalkan rumah alias kerja, sekarang lbh banyak di rumah ngurusi rumah..Tp enggak tho nok?? Ayah klo libur dah sering ngajak maen tho …he…he..he..
Semoga ada manfaatnya.. Amien..amien..amien


Terima kasih ya ayah. Hadiah ini sepertinya terlalu bagus…Sekarang ibu bisa edit foto Raka lagi, bisa dengerin lagu lewat winamp lagi. Nanti ibu ajari Raka mengenal computer…. Ibu pun ingin berkarya dengan computer ini. Alhamdulillah, terimakasih ……..


Kalo mo lihat gajah beneran, tentu saja kami harus ke kebun binatang GembiraLoka. Tapi yang ini hanyalah patung gajah besar (kalo bahasanya raka “huede”, gede maksudnya) yang menghiasi taman bermain Denggung Sleman. Meski keberadaannya belum begitu lama, tapi tempat ini lumayan rame, terutama di hari libur ataupun sore hari. Bisa ditebak, pengunjung tempat ini mayoritas para orang tua dengan anak batita atau balita mereka.

14 Maret 2009

Suatu hari, tanpa sengaja saya bertemu dengan dua teman lama yang terpisahkan sekian tahun. Dari mereka saya tahu, sekarang mereka bekerja pada sebuah Rumah Produksi (Prodution House) di Jogja.

Kepada saya mereka bercerita ada satu rekan kantor yang baru saja keluar, dan ada peluang bagi saya untuk menggantikannya. Ah, betapa gembiranya hati saya. Tanpa menunggu, segera saya buat surat lamaran, dan ingin mengantarnya secepat mungkin. Tapi kemudian saya teringat, Raka bagaimana kalau saya tinggal kerja? Pembantu lagi? ogah! Di sekolah sepanjang hari? Apa saya tega membiarkannya gak makan kalau menu makan siang atau snack di sekolahnya tak ia suka?

Baru sampai disitu..........saya mendengar adzan berkumandang. Sudah Subuh rupanya. Hmmm..........rupanya saya cuma mimpi; bunga tidur. Mungkin Raka memang lebih membutuhkan saya saat ini. Tenang nak....ibu di rumah, kita main puzzle atau bikin gedung bertingkat pakai balok yukk!! Besok kita ajak ayah main perosotan sambil liat patung gajah di Taman Denggung yaa...

12 Januari 2009

Suatu pagi, raka abis mandi. Ama ibu didandanin pke baju hadiah dari bude Endah-bude Raka di bantul. Kebetulan ada sisa batere di kamera, trus Raka ibu jadiin model untuk di foto. Begini nih hasilnya.....baru nyadar ternyata Raka pinter bergaya!!




Nah, klo yang dibawah ini foto-foto keluarga kami waktu liburan akhir tahun kemarin. Ibu pengen sekali ngenalin pesawat secara langsung ama Raka , nggak cuma liat di halaman belakang rumah kala ada pesawat melintas. Akhirnya kami memilih museum dirgantara Yogya. Ngajak simbah, ponakan, liburanpun tambah rame deh!



Siapa pengen menyantap ikan sepuasnya? Klo sedang ke Jogja, mampirlah ke pantai Depok. Ceritanya, ayahnya Raka lagi pengen makan ikan, sambil ngajak raka kepantai katanya. Ibu sih ayukk aja...dah lama juga nggak ngrasain udara pantai, deburan ombak, serta suasana pantai yang menghanyutkan jiwa. Ceilee!!


Happy Bday Raka!! 4 Januari Kemaren, Raka genap berumur 2 tahun. Sama seperti ultah pertamanya, nggak ada pesta di rumah. Hanya ada simbah yang kebetulan berkunjung(karena tahu cucunya ultah kali yaa), pak de sudar serta bude eti yang lagi mudik dari bandung, serta para ponakan terdekat, Mas Pram, nisa, ilham dan Zahra. Sebagai tanda sayang, ayah menghadiahkan sebuah Ride on. Dari ibu...hadiahnya do'a aja ya nakk....semoga panjang umur, sehat selalu, pinter,menjadi anak sholeh dan berbakti pada ayah-ibu. Amiin