18 Oktober 2008

Minggu pertama setelah ibu masuk kerja, raka ma ibu tidur di rumah simbah di Bantul. Sementara ayah jagain rumah di Sleman sambil nunggin proses renovasi eternit kamar tamu yang rusak. Meski dua puluh lima tahun ibu hidup di rumah simbah...tapi kalau statusnya sudah berumah tangga...kok beda ya rasanya. Kalau jaman dulu sih cuek2 aja bangun siang. Tapi klo sekarang, ngerasa aneh aja klo ibu tetap tidur, sementara orang tua selalu bangun dan langsung ke masjid saat adzan subuh berkumandang. Capek juga karena ibu harus ngrasain jadi single parent. Sebelum dan sepulang kerja, ibu harus ngurus Raka. Meski simbah selalu siap sedia membantu, tapi kan rikuh juga. Jadi tahu......betapa beratnya pasangan suami-istri-anak yang terpisahkan jarak. Letih fisik, letih batin. Langkah ini adalah solusi sementara. Minggu berikutnya, kala sekolah Raka masuk, raka kami titipkan di Annur, tiap hari, 6x dalam seminggu, full day school, rata2 di jemput pukul 14:30. Saat alternative ini kami ambil, ayah mengeluh...”pekerjaan kantorku keteteran karena harus jemput Raka tiap hari”. Jalan keluar selanjutnya... akhir bulan ini ibu harus resign dari kantor. Demi Raka. Demi kebaikan keluarga kami.

“sayang Lis...cari pekerjaan kan susah. Hampir lima tahun kamu disini, bahkan sejak kantor ini baru dirintis. Kamu sudah karyawan tetap, kenapa di lepas”. Puluhan kali ibu mendengar komentar itu. Dari tetangga. Sesama rekan kantor, bahkan dari keluarga sendiri.

“iya, tapi kalo saya bekerja sepanjang hari....siapa yang jaga Raka?” Kalau saya dan Raka tetap di Bantul, sementara suami di Sleman, apa gunanya saya menikah dan puya keluarga sendiri? itulah jawaban saya.

“Cari pembantu baru donk...gampang kan?”
Mencari pembantu sebenarnya mungkin pekerjaan mudah. Cari di agen toh bisa. Tapi mencari yang bisa dipercaya, yang bisa mengasuh serta mendidik anak, mau dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan Raka, dan mau dengan sabar menyuapi Raka...itu tidak mudah. Gak bisa membayangkan juga klo akhirnya raka lebih dekat dengan pembantu , drpd ibunya.

“Lalu kamu siap dengan rutinitas baru kamu di rumah, karena selama ini kamu terbiasa dengan mobilitas yang tingggi?”
“Saya harus siap. Saya mau meninggalan pekerjaan saya saat ini,bukan berarti saya gak mau bekerja. Saya pun berharap, suatu hari nanti saya mendapatkan pekerjaan yang tidak menuntut saya meninggalkan rumah seharian, pekerjaan dengan jam kerja yang teratur”

“soal finansial keluarga?”
Bukankan dalam Islam perempuan statusnya hanya “membantu” ekonomi keluarga? Suamiku...dengan pekerjaannya saat ini, aku rasa bisa kami andalkan. Kata “cukup” akan sangat relatif, tergantung yang menjalani. Kalau terus menerus mengikuti keinginan, kapan manusia bisa merasa cukup? Mungkin saat ini tenaga dan pikiranku lebih dibutuhkan untuk urusan domestik. Itulah hikmah yang bisa aku ambil. Kalau aku bersikukuh dengan karierku saat ini, tanpa mempedulikan nasib anak kami...bukankah itu Egois?
Entahlah, ada berapa orang yang akan menilaiku bodoh dengan keputusanku (kesepakatan aku serta suamiku tepatnya). Tapi yang jelas, semuanya demi Raka anak kami. Kami menghargai masa emas yang kini tengah dilaluinya. Di masa itulah, kami ingin memberikan fondasi yang baik serta kokoh yang akan menentukan masa depannya kelak. Satu yang pasti, ibu lebih bangga memiliki anak yang bisa dibanggakan, daripada pekerjaan ibu saat ini.

15 Oktober 2008

Kulirik jam dinding. Hampir pukul duabelas siang. Sejak 3 jam terakhir, entah berapa lembar tisu telah berpindah ke tepat sampah di sudut ruangan. Menyebalkan! Sudah dua hari ini tubuhku dilanda flu serta batuk. Tak ada naskah yang kejar tayang, hingga tanganku pun hanya menari tak menentu diatas keybord. Asal ngetik. Sesekali membuka file-file lama, adakalnya membuka folder foto, saat sedang memproduksi sebuah tayangan Tv atau foto-foto anakku yang aku dokumentasikan dengan rapi di pc ini.
Aku pikir, dua hari terakhir stamina tubuhku memang sedang benar-benar drop. Meski libur panjang dari kantor baru saja aku miliki, tapi sepertinya raga ini belum benar-benar bisa menikmati liburan lebaran. Menjelang lebaran, anakku, Raka sakit, sedikit demam disertai diare. Diagnosa dokter, raka terkena disentri ringan. Meski kerewelannya tak menjadi-jadi, tapi tetap saja naluri keibuanku tak bisa tinggal diam. Untunglah, beberapa hari setelah itu raka bisa kembali sehat.
Silaturahmi ke tetangga, sanak saudara serta keluarga adalah ritual biasa yang senantiasa mewarnai suasana Lebaran. Itu pula yang kami lakukan beberapa hari lalu. Sungguh indah merajut benang persaudaraan yang sekian lama terputus oleh kesibukan dan berbagai kepentingan. Namun sepertinya keindahan itu harus aku bayar dengan menurunnya kondisi tubuhku secara drastis. Ah, sudahlah! Kenapa sesuatu yang dianjurkan justru aku kambing hitamkan. Mungkin bukan karena aku yang terlalu capek, tapi cuaca musim pancaroba kali ini memang sedang tak bersahabat.
Kembali ku ambil selembar tisu. Kuseka ingus yang mulai memenuhi lubang hidung, hingga akhirnya tisu yang telah kotor itu kembali mengisi tempat sampah di sudut ruangan. Sepertinya otak ini masih malas untuk berpikir terlalu berat.
Hanya satu yang dipaksa berpikir keras hari ini, satu komputer tak jauh dari tempatku duduk. Dengan kemampuan procesor yang pas-pasan serta jaringan internet yang sangat lambat, beberapa teman tampak googling lowongan CPNS tingkat pusat yang memang lagi marak. Sepertinya apa yang pernah dikatakan salah satu temanku ada benarnya juga, “fasilitas internet yang disediakan kantor, mayoritas justru digunakan karyawannya untuk berburu pekerjaan baru”.
Aku tersenyum kecut. Hampir lima tahun menjadi bagian perusahaan ini, menjadikanku tahu mengapa sebagian besar karyawan hanya menjadikan tempat ini sebagai batu loncatan, persinggahan sementara. Andaikan ada yang bertahan lama, pastilah karena keberuntungan yang belum berpihak. Seperti halnya nasibku dan beberapa karyawan senior di ruangan ini. Tapi dibalik kesemrawutan managemen yang seringkali jadi gunjingan para pekerja disini, aku harus akui juga, banyak hal yang aku dapatkan selama aku bekerja di tempat ini. Ilmu, persahabatan, segelintir rupiah, dan berjuta pengalaman yang takkan terlupa.
“..ada film baru nih,” kata salah satu teman satu profesi, satu angkatan. Rupanya si pencinta film itu baru datang. Tak banyak menunggu, ku pinjam kepingan Vcd darinya.... Nonton Film Ahhhh....
***

30 Agustus 2008


Ramadhan di depan mata. Alhamdulillah, kalau ngitung usianya ibu sih...berarti sudah 28 kali menikmati bulan suci ini. Kalau ayah?? Wah...pasti lebih banyak lagi. Ramadhan tahun ini... adalah ramadhan kedua untuk anak kami, Raka.

Flashback;puasa ala anak kampung
Ngomongin tentang puasa...jadi inget waktu kecil. Seingat ibu, dulu pertama kali puasa saat masih SD, kalau nggak salah kelas 3. Seperti kebanyakan anak-anak, pertama kali puasa bukannya sehari penuh, tapi diawal bulan, ibu boleh makan & minum saat tengah hari (kala adzan dhuhur berkumandang). Kalau dikampung, tradisi puasa ala anak2 tersebut di kenal “puasa mbedug”. Nah..kalau dah lolos puasa mbedug dan semakin terbiasa, levelpun perlahan dinaikkan, jadi puasa ashar. Jadi sekitar jam 3 ibu boleh buka, habis itu puasa lagi sampai maghrib. Kalau nggak salah lagi...kelas 5 ibu baru bisa lulus untuk puasa satu hari penuh, sebulan penuh. Hadiahnya??? Baju baru....sepatu/sandal baru.

Saat masih kecil dulu, kalaupun perut lapar, tapi kalau pas puasa... bawaannya asyik aja!! Lha gimana nggak...pagi-pagi abis subuh, jalan2 rame2 ma teman-teman selalu jadi agenda. Di sekolahpun pelajaran terasa lebih nyantai, pulang selalu lebih awal dari biasanya. Pulang sekolah lantas ngapain?? Main lagi!! Biasanya acara favorit anak2 desa kala puasa di siang hari adalah mandi di sungai (SStt...ibunya raka ini badung sejak kecil, meski nggak bisa berenang, tapi nggak pernah ketinggalan kalau ada acara mandi di sungai, tapi sungai jaman dulu masih bersih ma banyak ikannya, asyikk!)

Nah..kalau hari sudah beranjak sore, baru deh pulang ke rumah, siap2 untuk ikut takjilan. Takjilan adalah buka puasa bersama-sama di Masjid. Walau menunya paling sering Nasi+sayur tempe+mie+telur.....Nikmat euyy!! Tinggal menunggu waktu tarawih. Soal tarawih, ibu inget punya kebiasaan yang nggak layak ditiru. Dulu jamannya ibu...saat ramadhan tiba, pasti dikasih “buku kegiatan” sama guru agama, salah satu poin yang dinilai adalah kerajinan dalam melakukan sholat Tarawih. Karena alasan capek...sholat yang harusnya 11 rakaat, ibu ikuti hanya ujung dan pangkalnya saja. Bahkan kadang2 cuma ikut sholat witirnya aja....abis itu tinggal minta tanda tangan ke imam, beres!! Hmmm...mengenang masa kecil memang menyenangkan....!!

Ramadhan 2008...semoga berkah senantiasa menanungi keluarga kami.
Tahun ini, keempat kalinya ibu menjalani Ramadhan bersama ayah. Ramadhan 2006, Raka masih di perut, puasa 2007 raka masih imut.....2008, Raka makin kiyut! (he..he). Yang pasti...suasananya pasti dah beda kalo dibandingkan saat kecil dulu. Kepengennya sih bener2 menjalakan puasa tak hanya menahan lapar thok...tapi juga menahan marah klo lagi jengkel, mengontrol kesabaran. Tapi bisa nggak yaa...??? Strategi: Minimalisir jadwal produksi program di lapangan (klo sudah di lapangan tuh...bener deh!!! Paling gampang laper ma haus..palagi musim kemarau kayak gini, jogja puanass!. Sementara suasana perut ma kestabilan emosi hukumnya berbanding lurus... intinya sih tahun ini adalah Ramadhan penuh tantangan. Semoga bisa terjalani dengan baik. Strategi ayah menghadapi pusing2nya kala lapar (ha..ha), biar ayah yang cerita sendiri.

Setelah sekitar 1,5 bulan ikut di kelas “kupu-kupu” alias kelas batitanya Annur...kemajuan yang tampak lumayan juga. Yang pasti kemandirian bocah imut ini bertambah, misalnya pengennya melakukan sesuatu sendiri, misalnya minum, makan, bahkan terkadang mencoba memakai kaos kaki sendiri. Tapi ga enaknya sih, sejak masuk sekolah...raka jadi sering flu (ini termasuk salah satu resiko nitipin anak di tempat umum, anak2 klo flu pasti gantian...satu sembuh, satunya lagi sakit, padahal flu cepat bgt menular). Tapi yang paling ibu senang...ibu ngerasa “sejuk” aja klo udah masuk lingkungan sekolah Raka (satu kompleks ma masjid, pesantren, guru2 berjilbab lebar dengan panggilan ustadzah. Rasanya secara psikologis Raka lebih terdidik di tempat ini daripada di rumah bareng mbak pengasuh.


Nah, ini masalahnya.... beberapa hari yang lalu mbak yang sehari2 ngasuh Raka pamitan sama kami, katanya lebaran nanti mo mudik dan nggak lagi balik ke Jogja. Maklum, sudah usia nikah, kemungkinan disuruh merid ma ortunya di Magetan. Ya sudahlah... harus diikhlaskan. Masalah yang kemudian muncul adalah, lalu siapa yang momong Raka kalau ditinggal ayah ma ibunya kerja?? Sebetulnya ada beberapa pilihan untuk mengatasi masalah ini:


Pertama, mencari pengasuh baru. Ayah sepakat dengan usul ini, tapi ibu keberatan. Mencari pengasuh bukan hal mudah, apalagi sekarang raka lagi dalam tahap usia emasnya. Ibu takut, pergantian pengasuh akan mempengaruhi kondisi psikologis Raka. Kecuali dalam satu bulan terakhir kami menemukan orang yang benar2 bisa dipercaya.


Kedua, Raka dititipkan di Annur 6x dalam seminggu. Kalau ditanya, mungkin Raka tak keberatan, toh ia kini sudah tak lagi menangis dan sudah bisa beradaptasi dengan teman2 di sekolahnya. Ibu tidak masalah. Masalahnya, Raka mau “ditaruh” dimana kala kelas sudah usai?? Meski menerapkan sistem full day, tapi rata2 jam 3 sore raka harus di jemput. Bagaimana kalo ayahnya Raka mesti lembur (kalau sudah awal tahun anggaran atau disibukkan dengan berbagai laporan keuangan, ayah pulang kala anak-istrinya sudah tidur), sementara ibu rata2 nyampe rumah jam 5 sore lebih??


Ketiga, pindah rumah/nyari kontrakan yang dekat rumahnya simbah Raka di bantul. Opsi ini menarik dan banyak disarankan beberapa teman ibu, tapi sepertinya tidak mungkin terjalani..... Kenangan ayah akan jerih payahnya kala membangun rumah di Sleman sudah mendarah daging. Ibu hanya bisa maklum.


Keempat, setiap hari Raka ikut berangkat kerja ibu, lantas dititipkan di rumah simbah Bantul. Logis, tapi kasihan Raka. Jarak yang harus ditempuh lumayan jauh, dengan motor pula.


Kelima, Ibu dan Raka “nebeng” dirumah simbah bantul. Seminggu sekali mudik. Ayah jagain rumah di Sleman. Dengan opsi ini, raka mungkin dalam posisi aman...dijagain sama mbah yang begitu menyayanginya. Tapi bagaimana dengan sekolahnya di Annur? Rakapun akan kehilangan figur seorang ayah. Ibu?? Capek..karena di rumah simbah gak da mesin cuci..... he...he


Ke enam, ibu resign dari pekerjaan. Tugas baru ibu adalah menjaga dan mendidik Raka di rumah. Jadi ingat kata seorang sahabat beberapa tahun lalu “perempuan itu, kalau sudah punya anak...masa depannya pindah ke anaknya”. Benar juga sih... Anak kan investasi jangka panjang...

1 Agustus 2008


Menyenangkan, mendebarkan, sekaligus menegangkan. Menurutku, itulah rasa menjadi orang tua. Menjadi menyenangkan ketika kita begitu capek, dan kemudian disambut celoteh serta tawa si kecil yang tumbuh sehat. Mendebarkan adalah saat melihatnya belajar sesuatu, hingga kemudian ia bisa melakukannya. Sementara melihatnya sakit, megetahui ketidaknyamanan yang dirasakan buah hati, akan melahirkan rasa yang menegangkan. Tentu menegangkan di sini jauh berbeda dengan ketegangan yang dirasakan saat kita berlomba, atau nonton film untuk menunggu ending.

Belum sembuh benar luka di bawah mata karena jatuh saat berlarian di depan rumah, tanggal 25-27 Juli kemaren Raka demam. Semuanya berawal kamis malam. Tak ada tanda-tanda awal, kecuai eek Raka yang lebih encer dari biasanya. “Ah mungkin raka kebanyakan makan jeruk, toh raka tetap aktif seperti biasanya”, pikirku. Seperti bisa, setengah tujuh malam Raka bobok dengan pulas. Pukul 10 malam Raka terjaga, kebelet pipis & haus. Dengan sigap ayah ke dapur membuatkankan susu, sementara ibu menggendong raka untuk pipis. Sehabis minum, biasanya raka akan kembali terlelap, tapi entah kenapa malam itu raka justru terbangun, dan tak mau bobok lagi. Kuraba keningnya, agak hangat. Tak seperti biasanya. Suhu tubuh raka 36,7. Tak lama kemudian, susu yang barusan dia minum kembali keluar. Malam itu raka muntah 2x. Sekali membasahi baju ibu, dan sekali membasahi ayah. Mungkin raka masuk angin, itulah dugaan awal kami, mengingat kamis siang raka sempat main air di kran belakang rumah bude win. Ramuan tradisonal bawang merah-minyak telonpun kemudian menjadi pilihan kami untuk menurunkan suhu tubuh dan membuatnya lebih nyaman. Pukul 12 malam, raka kembali tidur,meski tidurnya terlihat gelisah, dan sering terjaga.

Jum’at, 25 juli. Ayah berangkat kekantor. Meski sebenarnya ada jadwal untuk produksi program, melihat keadaan Raka semalam, aku ga tega untuk berangkat. Produksi untuk 1 episode program aku batalkan. Apalagi lokasi pengambilan gambar di gunung kidul, cukup terpencil, tanpa sinyal. Takutnya ada apa2 dengan raka. Untung teman-teman kantor mengerti. Meski badannya masih hangat, pagi itu kondisi raka tampak membaik. Sepertinya ia begitu senang dijagain ibu di rumah...sampai2 nempel terus sama ibu’e. Makan pagi, meski ga habis, tapi lumayan. Siang...suhu tubuhnya semakin tinggi, mencapai 38 derajat celcius. Sanmol, obat penurun panas yang ibu berikan di muntahkan, hingga baru menjelang sore 0,8 ml sanmol drop berhasil masuk ke tubuh Raka.

Suhu tubuhnya berangsur2 turun. Sore itu raka juga tidur dengan mudah dan nyenyak, meski seharian hanya sedikit makanan yang masuk ke perutnya. Tengah malam, raka kembali terjaga. Ya..ampun! ternyata suhu tubuhnya mencapai 39,2 derajat (normal 36,3). Tak mau turun dari gendongan, mata raka tertutup, tapi sepertinya ia tak tidur. Kadang raka juga tampak seperti mengigau..Raka akan segera menangis kalau kembali diletakkan di tempat tidur. Tengah malam, ayah dan ibu mengompres raka dengan air hangat. Sedih, cemas, panik, nggak tega melihat keadaan Raka. “semoga cepat pagi...., dan kami bisa membawa raka ke dokter secepatnya”, itulah harapan kami. Sabtu dini hari, kembali kami berikan sanmol untuk menurunkan suhu tubuhnya. Hampir subuh raka baru bisa terlelap, diatas pangkuan ibu yang duduk jagain raka sambil bersandar di tembok (pengorbanan seorang ibu euy!!)

Sabtu, 26 Juli. Raka bangun agak kesiangan. Sesekali batuk, dan ada sedikit ingus di hidung. Tapi ia tampak sehat, tubuhnyapun tak panas lagi. “ berarti panas semalem karena raka mau flu aja”, pikir kami. Agar tak panas lagi...sebelum aku berangkat kerja, raka kami obati dengan baby cough..sirup batuk-pilek bayi dosis rendah. Tengah hari, aku pulang. Semalem, kami berencana membawa raka ke dokter sore ini, tapi melihat kondisinya yang sudah cerah-ceria...rencana itu kami urungkan. Malam kembali tiba. Setelah tidur nyenyak di sore hari...tengah malam, demam Raka kembali meninggi. Suhu tubuhnya mencapai 39,8!! Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Raka? Bukankah siang tadi ia sudah tampak sehat? Kenapa setiap tengah malam-dini hari suhu tubuhnya menjadi meninggi? “Tuhan....maafkan kami. Raka maafkan ibu.... Ibu sayang raka, ayah sayang raka, Raka sabar ya le...kamu yang kuat....besok kita ke dokter. ” itulah kata2 yang senantiasa diucapkan ibu sambil menggendong Raka, sementara ayah dengan telaten mengganti kompres di kening Raka. Menjelang pagi, kembali suhu tubuhnya menurun. Alhamdulillah....malam sudah berganti pagi.

Minggu, 27 juli ayah libur. Sementara ibu seharusnya ada liputan, tapi untung ada teman yang bersedia menggantikan (terimakasih tante titissss). Hampir tak ada dokter terdekat yang buka praktek di hari libur. Pagi2 kami telp beberapa klinik, menanyakan adakah dokter anak yang standby hari ini. Jawaban melegakan kami dapatkan dari klinik ibu dan Anak semar di babarsari, ada dokter anak yang jaga dari pukul 8 sampai 10 pagi. Tak banyak menunggu, dengan motor kami melaju ke daerah babarsari.....meski cukup jauh.....yang penting raka cepat sembuh. Setelah mendaftarkan raka, fo klinik meminta kami menunggu. Kenapa belum dipanggil juga ya? Karena penasaran, akhirnya ibu nanya ke petugas fo...”mbak, dokter anak nya lagi ngapain to?” Maaf bu, dokternya lagi kami telp, rumahnya cuma belakang klinik ini. Sebentar ya.... Kami kembali menunggu. Beberapa saat mbak fo nya kemali....”bu, mohon maaf...dokternya ga bisa dihubungi...trus ada satu dokter lagi, tapi sekarang sedang di internasional hospital” Hah!!!! Pengennya marah sih...apa gunanya tadi telp....jauh2 dari perbatasan magelang ke babarsari....kenapa tadi bilangnya ada dokter anak yang standby....????? Tapi ya sudah....cukup umpatan dalam hati KAPOK & NGGAK AKAN KE SEMAR LAGI!!!!!

Keluar dari parkiran....sempat bingung....raka mau dibawa berobat kemana?? Kemudian ayah memberi insiatif, raka dibawa ke RS Bethesda aja. Konon di sana perawatan untuk anaknya bagus. Meski belum begitu siang, tapi matahari bersinar terik. Dari jogja bagian timur, kami ke tengah kota.....dengan satu harapan....kami segera tau apa yang terjadi dengan tubuh raka dan mendapatkan obatnya.

 Pengisian form pendaftaran di RS bethesda cukup memakan banyak waktu, karena ini pertama kalinya raka menjadi pasien RS ini. Sementara raka mulai terlihat capek dan mulai rewel. Masuk di klinik 24 jam, raka kmdn ditangani satu dokter perempuan (namanya lupa), diukur suhu tubuhnya ( kmi ngecek terakhir 37,7). Melihat pola demamnya raka yang meninggi dimalam hari, dokter menyarankan untuk test darah untuk memastikan demamnya karena virus ato bakteri. Kalau bakteri, maka ia akan meresepkan antibiotik, kalau virus nggak perlu (sippp!!!, jarang ada dokter yang gini...biasanya asal demam, pasien asal dikasih antibiotik) .

Kami dan Raka ke lab, sample darah diambil, hasil keluar dengan cepat. Hasil kemudian diserahkan ke dokter. Hasilnya, kadar lekosit raka diatas normal. Sementara trombositnya normal, jadi tak ada indikasi ke serangan DB. Kata dokter, itu artinya demam raka disebabkan infeksi bakteri yang masuk lewat makanan/minuman. 

Lega..karena kata dokter raka ga perlu opname, lega juga karena dah tau apa sakitnya Raka. Beberapa obat yang diresepkan, lactobe (semacam su2 fermentasi untuk anak2), antibiotik, serta obat racikan untuk influenzanya. Di rumah, obat diminumkan...dan alhamdullilah.....minggu malam raka tidur nyenyak, suhu tubuhnyapun sudah kembali seperti semula. Nafsu makan yang sempat 2 hari ilang...pelan2 kembali pulih. Terimakasih ya Alloh......, akhirnya malam2 yang menegangkan itu segera berakhir. Salut ma Bethesda atas pelayanannya yang prima!

Nb: setelah demam ilang...muncul bintik merah2 di kulit Raka, awalnya di muka, kemudian di sekujur tubuh. Orang jawa bilang Raka terkena gabag/gabagen.

15 Juli 2008


Menyadari lingkungan rumah kami yang minim anak-anak sebaya Raka, dan takut itu mempengaruhi perkembangan kemampuan verbal serta psikologisnya, akhirnya mulai tahun pelajaran ini raka kami daftarkan untuk mengikuti kelas batita di TPA An Nuur, Sleman, yogyakarta. Memiliki kemampuan sosialisasi yang lebih baik, serta potensi-potensinya dapat terstimulasi lebih baik, itulah harapan kami.

12 Juli kemarin, hari pertamanya mengenal lingkungan sekolahnya. Meski TPA tempat ia belajar menerapkan sistem full day dari senin sampai sabtu..untuk tahun ini kami memilih kelas insidental dulu. Untuk tahap awal, Raka hanya masuk di hari sabtu, dengan tarif harian, yang nanti diakumulasi di akhir bulan. Jalan tengah. Biar Raka tidak tercerabut dari lingkungan rumah, namun ia juga punya kesempatan bersosialisasi di luar . Ngirit ongkos juga.. (karena kami juga harus membayar si mbak yang bertugas jagain Raka kala ditinggal ayah-ibue kerja, ngangkat jemuran di kala hujan) Itulah alasan kami...

Hari pertama di sekolah, raka diantar sama ibu. Tas baru, sepatu baru, kaos baru...cakep pokoknya J Begitu sampai..raka langsung diajak kenalan sama teman barunya (tapi ibu lupa namanya siapa). Beberapa ustadzah sudah standby...menunggui beberapa anak yang masih sarapan atau makan snack. Naluri penjelajahnya mulai timbul; raka mulai berani menjelajahi lingkungan sekolah, tapi ya itu...tangan ibu digandeng, atau kalau ga gitu ibu ga boleh jauh2 dari raka.

Nggak sampai lima belas menit, raka mau membaur ma teman-temanya..ikut duduk sambil mainin pigeon mag2 yang ia bawa dr rumah. Ibupun sembunyi sambil bilang ke ustadzah “mbak..Raka saya tinggal ya”. EE..ternyata raka masih inget klo ia sama ibue...dicari...tapi nggak ketemu. (lha ibu ngumpet dibalik tembok). Nangisss!!! Huaa..Hua... trus dialihkan perhatiannya ma bu ustadzah...diem deh! Ibu bisa tersenyum.... “ibu berangkat kerja dulu ya ka...” (dalam hati tentunya).

Dikantor, ibu kok ya tetap kepikiran Raka.. ditempat baru, apakah ia banyak menangis, apakah ia mau makan, apakah ia mau berbaur dan bermain bersama teman-teman. Sesuai kesepakatan, ayah yang bertugas menjemput Raka, karena kantor tempat bekerja ayah cukup dekat dengan sekolah Raka. Via sms ibu wanti-wanti ke ayah...”yah, nanti klo pas jemput, tanya ke ustadzahnya..raka eek ga, nakal ga, mau makan ga, trus mau gabung ma teman-temannya nggak”.
Begitu pukul dua siang, bergegas ibu cabut dari kantor. Tidak sabar menunggu sms dan cerita ayah saat jemput Raka. Kangen dengan Raka juga tentunya.. dijalan menuju rumah, hp ibu berbunyi...penasaran, langsung ibu buka”Raka tak jemput langsung nangis. Td bangun tidur. Blm eek, maem dikit, sekarang lg dibikinin mie. Tdr 1 jam, mau maen ama temenne” sender: ayah
Bb/Tb : 11,1 kg/84cm
Motorik : lari-lari, sukanya ngejar ayam, kucing... sudah bisa minum pake gelas & pipet, tapi kalo maem masih disuapin meski seringnya pengen megang sendok sendiri alias maem sendiri.
Verbal : Maem, mbah, de (bude), emoh (jw), Moo (boneka sapi), memek (minum, tapi jarang diucapkan). Sebenarnya banyak mengeluarkan suara/teriak...tapi masih sulit dipahami artinya.
Sosial :Gemar meniru apa yang dilakukan orang sekitarnya (liat ayahnya cuci motor raka ambil ember kecil, ikut2an nyuci, bisa ngepel, nyapu). Mengerti setiap perintah sederhana, mis: “tolong ka...bawa ke tempat sampah”. “duduk ka”. “pura-pura tidur yuuk”. “cilukk-Baa”, “ayah disayang (cium)”, dll. Dah lumayan pemberani. Salaman ma orang baru dah mau.. Da..da, kissbye. Senang klo ketemu anak sebaya. Setiap mendengar adzan, raka langsung pasang tampang serius, mendengarkan baik2..trus mengangkat tangan&bersedekap J Mau menirukan saat diajari ibu “tepuk anak sholeh” ato gerakan lagu “topi saya bundar”.
Waktu saya masih kuliah, melihat para reporter/wartawan yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, bisa tau kejadian/peristiwa sebelum orang lain tau...sepertinya menantang dan menyenangkan sekali. Dulu sempat berfikir..”andai ada stasiun TV di Jogja....pasti asyik. Apalagi saya bisa menjadi bagian di dalamnya”.




Sepertinya tidak berlebihan, kalau saya bilang tempat ini sebagai obyek wisata wajib bagi wisatawan yang berlibur di Jogja. Apalagi bagi warga asli Jogja, aneh rasanya kalau belum pernah menikmati segarnya udara Kaliurang.

Sama-sama berada di kaki Merapi, sebetulnya obyek wisata ini cukup dekat dengan tempat tinggal kami. Kerinduan ayah akan teman-temannya yang selalu dapat jatah piket tiap minggu (pas masih di dinpar), kekangenan ibu menikmati kembali aroma alam pegunungan, dan keinginan kami menunjukkan banyak hal ke Raka, akhirnya membawa kami kembali ke tempat ini.

Sekitar dua tahun kami melupakan tempat indah ini. Meski ada pembangunan dan pembenahan di sana-sini, tapi tak banyak yang berubah. Segar...dingin....banyak orang pacaran! J Lalu apa yang bisa dinikmati anak-anak seusia Raka di tempat romantis ini?
Naik kereta mini yang mengelilingi kawasan Tlogo putri. Beruntung, saat naik kereta ini, ibu bertemu dengan teman lama semasa di SMU 5 dulu, bersama suami serta anaknya. Silaturahmi yang sekian tahun telah terputus, bisa terjalin kembali J
Melihat kesenian tradisional jathilan. Waktu jamannya ayah atau ibu..kesenian ini masih sering dimainkan dikampung-kampung. Tapi kalau sekarang, jarang sekali kesenian rakyat ini dipentaskan. Walau hidup di jaman modern, rasanya ga da salahnya Raka tau. Yah, sekedar tahu sudah cukup, soale ibu juga takut lihat tarian ini kalo yang nari dah pada ngamuk.
Menikmati aneka permainan modern, seperti ini misalnya...

7 Juni 2008


Foto diatas adalah hasil jepretan satu tahun yang lalu , disandingkan dengan foto terbarunya Raka. Cakepan mana ya??? Kalo yang menilai ayah dan ibu sih...semuanya cakep! He..he......
Sampai sekarang, kebiasaan Raka yang sering bikin kami geleng-geleng kepala plus cemas:

Tak pernah berjalan pelan, klo orang jawa bilang “ngudung”...asal lari, gak peduli ada meja, tangga atau tembok di depan mata. Jadi klo raka jalan mesti di liatin ato diikuti sekalian, takutnya lupa ngerem n nabrak.
Sukanya main di tanah. Bangun tidur, biasanya langsung ke dapur, ambil sendok, wadah, trus minta dibukain pintu. Maunya langsung main ke samping/belakang rumah....mengisi wadah dengan tanah, trus ngejar ayam (maunya ngasih makan ayam, tapi dengan tanah; soalnya raka sering liat pakdenya ngasih maem ayam)
Aktif bergerak. Kalo raka sedang ga tidur, jangan harap bisa istirahat. Ada saja yang dilakukan.... klo nemu kasur, Raka paling hobi salto. Kalo kami yang jagain lengah....bisa-bisa tubuhnya mbentur tembok.
Hobi nonton Teletubis sama didongengkan ibu pake boneka. Inilah strategi para “dayang” dalam mengistirahatkan Boss kecil ini.
Suka sama lampu. Entah kenapa, sejak masih kecil banget anak ini senang sekali setiap melihat lampu. Kalo diajak jalan-jalan atau ke suatu tempat trus ada lampu (mati atau hidup), pasti di komentarin. (nunjuk sambil bilang “eh’”)
Selera makannya gak menentu. Sejak bisa berjalan, aktivitas fisiknya makin banyak...seharusnya sih porsi makannya bertambah. Tapi ternyata??? Adakalanya raka susah makan, terutama nasi. Dulu sih pengennya nyuapin Raka di rumah, biar terbiasa makan di rumah, menanamkan kebiasaan yang baik. Tapi idealisme itu ternyata harus runtuh demi beberapa suap nasi. Sekarang Raka lebih sering makan sambil jalan-jalan ke sana-kemari...liat sapi...liat mobil..... Kalo menu di piring hampir habis/ato bahkan habis.....ibu lega sekali rasanya!!!
Kok ngomongnya masih dikit ya yang bener??? Raka sih kalo ditanya..”mana hidung, mana mulut, mana telinga, mana gigi, mana perut, mana kaki, mana tangan....langsung nunjuk dengan benar. Begitu pula kalo di suruh melambaikan tangan, kissbye, sholat (sedekap), geleng2, menakuti,sisiran, pake parfum dll sudah bisa. Tapi kalo suruh ngomong, suara asal keluar aja, belum ada artinya alias susah dipahami. paling cuma “neh” (lagi)...”nak”(enak)....bubue (ibu mungkin) . Kata pertama raka pas 11 bulanan “maem”...sekarang hampir tak pernah lagi diucapkan. Dulu sempat pernah bisa ngomong “dadah (gajah)...”mbah” (simbah)...”ah” (ayah)...tapi sekarang kok lupa lagi. ... Aduh, kenapa sih nakkk...sepertinya ibu juga sudah ceriwis ngajak kamu ngobrol??? Ato ibu yang kurang sabaran saja? ....cepat bisa ngobrol ya cintanya ayah, sayangnya ibu, nanti kita berbagi cerita bersama... Semoga senantiasa sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Amiin









Akhir bulan Mei kemarin, ayah raka dan teman-teman sekantor menikmati studi banding plus plesiran plus shopping di pulau Dewata. Bisa di tebak, Raka lah yang menjadi “target” utama oleh-oleh ayah. Beberapa baju khas Bali, serta kaos legendaris “Joger”. Beginilah hasilnya kalo raka bergaya!

23 Mei 2008





Lama nggak ngapdete blog….alhamdullilah kabar keluarga kami baik-baik saja. Raka sempat terkena sedikit batuk sebagai imbas pancaroba, tapi untunglah cuma sesaat. Ibu yang sempat beberapa hari batuk-pilek –tapi itu semua membuat sadar –betapa nikmatnya sehat dan pentingnya menjaga kesehatan (untuk point yang ini, ayah ga boleh protes kalo ibu tetep kekeh ga mo pake rompi ato jaket kulit kalo brngkt-pulang kerja; ga mau seperti robocop! He..he)

By the way......banyak cerita yang sudah terkumpul dan siap untuk dibagikan. Masih ingat shopping centre Yogyakarta? Saat saya masih kuliah, disanalah tempat strategis untuk mencari buku-buku entah itu baru ataupun bekas dengan harga murah. Di tahun 2005 ato 2006 (lupa!) para pedagang di pasar buku ini direlokasi (dirapikan juga)oleh pemerintah kota yogya, dan di lokasi lama di bangun taman pintar –-sarana publik yang menurut kami sarat pendidikan.

Minggu, untuk kedua kalinya kami ajak Raka ke Taman Pintar, setelah beberapa minggu sebelumnya kami ajak raka menikmati liburan di tempat yang sama. Meski tahap pembangunan dan penyempurnaan masih terus berlangsung, tapi sarana publik ini memang selalu ramai di hari libur, entah itu wisatawan asli jogja atau luar kota/daerah. Menarik dan murah! Itulah kunci utamanya menurut kami.

Secara garis besar, Taman pintar terdiri dari beberapa bagian, dengan Gedung Oval sebagai pusat. Disinilah daya tarik utama tempat ini ditawarkan kepada pengunjung. Dengan hanya 3000 rupiah/orang, pengunjung akan disambut aquarium raksasa dengan ikan darat yang bersliweran diatas kepala, kemudian dilanjutkan dengan aneka koleksi yang berkaitan ilmu sejarah, ilmu sosial, dan ilmu alam. Di gedung ini pula pengunjung bisa menikmati akses internet gratis, beberapa permainan terkait dengan bumi yang kita tinggali, dan yang lebih penting penemuan2 pelajar Jogja yang berkaitan dengan teknologi dan informasi dipamerkan di ruang ini. Sebagai pendukung kenyamanan, gedung oval juga dilengkapi dengan foodcourt yang menjajakan aneka makanan. Kalo kita menyusuri gedung oval sampai tuntas, maka akan tembus ke kios-kios buku para pedagang yang dulunya berjualan di shopping centre. Nah, di sini kita bisa memilih aneka buku, majalah dengan harga cukup bersaing. Tidak ada larangan bagi pembeli untuk menawar. Atau mo cari jiblakan makalah/skripsi? Ada juga!!!

Di sayap barat dan sayap timur, terdapat gedung PAUD (Pedidikan Anak Usia Dini). Harga tiket di sini jauh lebih murah, hanya 500 rupiah/anak. Harusnya, gedung ini diperuntukkan hanya untuk anak 2 tahun keatas, dan orang tua menunggui diluar, namun karena sudah terlanjur membeli tiket dgn alasan penasaran...akhirnya Raka diperbolehkan masuk. Didampingi ibu tentunya..Ayah nunggu di luar.

Apa yang ditawarkan gedung PAUD? Masuk kedalamnya..serasa masuk dalam lingkungan playgroup atau TK. Dinding-dinding yang bergambar warna-warni, mainan perosotan, ayunan, rumah-rumahan, dan juga banyak komputer dengan game-game edukatif yang bisa digunakan anak sampai bosan. Bayangkan, 500 rupiah sampai bosan!! Asyik kan??

Di luar gedung-gedung itulah, sebuah taman bermain bisa diakses gratis dan sepuasnya oleh pengunjung. Tak sembarang alat permainan, rata-rata alat permainan yang ada memiliki tujuan “memberikan ilmu” bagi yang menggunakannya, misalnya saja dinding berdendang. Tembok yang dilengkapi alat musik ini bertujuan melatih indra pendengaran anak, agar mereka bisa membedakan suara drum yang berukuran besar dan yang kecil. Ada juga permainan air yang melatih motorik anak. Sebenarnya raka pengen main ini...nunjuk2 setiap melewati dan melihat anak2 yang tengah berbasah2 ria, tapi takut masuk angin dan baju ganti terbatas...”besok lain kali aja ya le..” begitu ayah bilang.

Asyik menikmati suasana dan berbagai permainan, tak terasa rupanya hari semakin siang. Panas dikulit pun makin terasa menyengat. Sementara, masih ada satu agenda lagi yang harus kami selesaikan hari itu. Simbah Raka di Bantul kangen, jadilah dari taman pintar kami bablas ke Bantul –kampung tumpah darahnya ibu. Kebiasaan dirumah sepi, gak banyak teman, raka menemukan suasana yang betul-betul beda. Di rumah simbah, raka betul2 dimanja...bebas bermain tanah bersama mas pram (sepupu raka), mas amin, dan juga teman-teman barunya yang lain.. Senangnya melihat raka yang begitu riang!


24 April 2008


Aksi raka yang berdiri di tepian kolam renang, mengingatkan kita pada film dewasa beberapa tahun lalu, BAYWATCH. Tapi ini jelas beda... orang Raka juga masih kecil, mana bisa jadi SAR pantai..

Ceritanya, minggu (13/4) kami mengajak raka ke kolam renang. Ini adalah pelajaran dan pengalaman pertama raka. Beberapa artikel yang menyatakan berenang merupakan olahraga yang baik untuk perkembangan motorik anak-anak, menjadi alasan pertama. Alasan kedua, raka gak boleh seperti ibu; gak bisa berenang sama sekali. Mumpung libur, ada kolam renang umum di dekat rumah, kenapa nggak?

Jadilah kami bertiga(aku, suamiku, Raka) berangkat. Sebelum nyampe lokasi, beli peralatan dulu tentunya; karena raka memang belum punya. Sempat bingung juga..efektif pelampung yang berbentuk bulat menyerupai ban atau baju ya? Dengan beberapa pertimbangan, pilihan kami jatuh pada baju pelampung berwarna orange, masih kebesaran, tapi itulah yang terkecil yang dimiliki toko. Harga lumayan juga, 27.000 rupiah. Tapi tak apalah, demi anak, toh juga tak sekali pakai.

Sore itu kolam renang cukup ramai, maklum hari libur. Tiga kolam dengan kedalaman yang berbeda, meski tak penuh sesak, semuanya terisi. Raka tentu saja kami pilihkan kolam renang yang paling dangkal. Geli waktu melihat reaksi pertama raka saat tubuhnya dicemplungkan ke air... Awalnya, ia ketakutan, pegangan erat dengan tubuh ayah, dan tidak mau dipisah, lengket. Tapi setelah beberapa menit di air, bisa ditebak, sifat alami anak-anak yang begitu menyukai air pun tampak. Tangannya berkecipak..bermain air..mulai berani dijauhkan dari tubuh ayahnya pelan-pelan, dan ogah diajak naik! Ah, dasar anak-anak, bisa aja!!

8 April 2008




Saat ini, televisi sudah menjadi media yang amat personal, begitu dekat dengan masyarakat. Hampir tak ada rumah tanpa televisi di dalamnya, bahkan bagi sebagian orang bisa jadi televisi menjadi property wajib pengisi kamar.

Wajar kalau ada yang menyebut televisi sebagai kotak ajaib. Dari kotak ini kita bisa menyaksikan dunia dan segala hal tanpa berpindah tempat. Lalu apa hubungan si kotak ajaib ini dengan Raka?

Hanya kotak ajaib alias si televisi inilah yang membuat Raka bisa anteng, diam dan menyimak baik-baik apa yang tampak di layar, dalam jangka waktu yang lumayan lama. Bahaya sinar biru?? Iya, sebetulnya kami tahu itu tidak baik untuk mata. Tapi daripada makan harus gendongan, jalan-jalan ke sana-kemari, toh Raka makan wortel tiap hari he..he.

Saat makan, abis mandi (karena raka sering lari kalo mo dipakein celana), dan ibu capek ngikutin raka yang jalan terus kesana-kemari, maka TV lah yang menjadi senjata. Untuk materi tayangan, kami tentu tidak menyerahkan sepenuhnya pada stasiun-stasiun televisi kita yang hanya mengobral mimpi dan cenderung merusak ( jadi prihatin klo liat tayangan TV kita sekarang, kontas/lomba nyanyi anak2, anak SD nyanyinya dah “mari bercinta”). Kalo ibu yang paling rajin ngajak raka nonton TV, ayah adalah sosok yang paling sering beliin vcd lagu anak-anak untuk raka, meski ada beberapa juga vcd yang gratisan alias hadiah.

Tak cuplikin ya beberapa lagu kesayangan Raka (ga tau karena lagunya yang bagus, atau klipnya yang warna-warni..yang jelas raka senyum2 dan ngasih coment klo klip ini yang muncul). Semoga nantinya raka pinter nyanyi, tapi matanya juga tetap sehat..

“semut..sini donk, jangan gigit melisa ya”
Semut, semut kecil
Saya mau tanya..apakah kamu di dalam sana tidak takut gelap
Semut-semut kecil
Saya mau tanya..apakah kamu di dalam sana tidak takut setan
Dst.. (he2 ibu ga hapal, dari lagu MELISA)

Susan, susan..besok gede mau jadi apa
Aku kepengen pintar, biar jadi dokter
Kalau..kalau sudah jd dokter, susan mau apa
Mau suntik orang lewat..jus..jus
Dst... ( Ria Enes & Susan)


Twinkle-twinkle little stars
How I wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
Twinkle-twinkle little stars
How I wonder what you are
(kumpulan lagu ceria,hadiah dr nestle)
Back to Nature. Itulah yang kami lakukan ketika raka sedang tak enak badan atau sakit. Semangat kembali menggunakan bahan-bahan alami memang telah lama menjadi kesepakatan kami, orang tua raka, bahkan semenjak raka masih dalam kandungan. Walau begitu bukan berarti keluarga raka anti dokter lho yaa, tapi sebisa mungkin kami meminimalisir obat-obatan kimia, apalagi antibiotik masuk ke tubuh anak kami (tentang efek antibiotik, bisa search via google). Berikut beberapa obat tradisional yang sering kami pake ke Raka, hasil googling juga

Kembung : bawang merah parut+minyak telon, balurin ke tubuh
Demam ringan : bawang merah parut, minyak telon, air jeruk nipis, balurin ke tubuh
Pilek : Kunir, dikupas, trus ditarus didepan hidung anak pas tidur, sekitar 15 menit biar aroma kunir terhisap. Berjemur di matahari pagi.

Batuk berdahak : air jeruk nipis di campur kecap. Sekali minum 5ml, 3x sehari.

Semoga bermanfaat.....



Si criwis, tapi masih banyakan bahasa planet daripada bahasa “benernya”. Itulah berita terbaru tentang Raka. Berita tentang Ibu dan ayahnya Raka? Ibu lagi bosen ma pekerjaan, jenuh jadi PERS ( katanya menerima amplop dari narasumber adalah tindak kriminal, tapi gaji ga dinaikin juga), takjub dengan harga-harga barang konsumsi sehari-hari yang terus meninggi. Sementara ayah lagi senyum-senyum gara-gara ga sering overtime lagi, plus gaji PNS yang naik sekian persen mulai tahun ini.

Kembali ke topik awal, tentang Raka tentunya. Sepertinya baru kemaren ayah-dan ibu sering begadang jagain raka yang hanya bisa menagis kala pipis-haus-gerah-ataupun eek, nggak terasa sekarang Raka dah makin gede. Di rumah, kini raka jadi penjelajah ulung,hampir tak ada sudut dan barang di rumah yang ia lewatkan dan belum terkena “sentuhan” tangannya (kecuali stop kontak & kabel-kabel listrik...ga usah penasaran ma mereka ya kaa).

Hobi Raka sekarang? Jalan-jalan, main di tanah, memindah saluran TV dengan remote, mengambil sesuatu dan memasukkannya ke dalam wadah, mencocokkan tutup dengan wadah, menggambar benang kusut di kertas dengan spidol warna-warni. Tapi kadang kalau sudah bosan dengan kertas, lantai, karpet, celana, kaki & tangan Rakapun bisa jadi media gambar. Kalau sudah begini..kami hanya bisa geleng-geleng kepala.

Soal makan?? Selera makan rakalah yang membuat ibu rajin masak tiap pagi, khusus untuk Raka ( maaf ya, ayah hanya selalu di belikan sayur matang di warung, seadanya). Alhamdulillah, raka memiliki nafsu makan yang bagus alias doyan makan. Telur OK, ikan mau, tempe gak pa-pa,perkedel boleh, sop ato sayur bening suka! Apalagi di tambah pake abon sapi, makannya pasti akan lebih lahap. Tapi paling susah kalo raka lagi pilek, batuk, apalagi demam. Nafsu makan merosot,itu jelas. Tapi kami kembali bersyukur, raka jarang sakit..

4 April kemaren, Raka genap berusia 15 bulan. Sehat selalu ya sayang... Senyum manismu adalah obat bagi segala keletihan dan kelelahan kami..

27 Februari 2008



Kring..kring ada sepeda, sepeda roda dua.. (eh, 4 ding)
Kudapat dari ibu..karena rajin membantu…


Bulik…bude, om, pakde, mbah, teman-teman, raka senang banget! Soalnya kemarin minggu (24 Feb), raka dibelikan sepeda baru oleh ayah-ibu. Warnanya biru. Trus ada bel lucu di depan, klo dipencet keluar “mbekkkk”, kayak suara kambing gitu. Kata ibu..sepeda ini hadiah karena raka rajin latihan jalan. Sekarang raka udah lancar jalannya. Malah ibu yang kadang takut kalo-kalo raka jatuh atau nabrak sesuatu, tapi raka udah ogah jalan sambil dipegangi kayak dulu. He..he, sepeda raka memang masih kebesaran. Biar awet, sampe raka sekolah, gitu kata ayah. Jadinya..kaki raka belum nyampe pedal deh! Meski masih kegedean..makasih ya yah…makasih ya bu…..Ntar raka diajarin ma ditemenin ya naek sepedanya…..

6 Februari 2008





Minggu, 3 Februari, untuk kedua kalinya kami mengajak raka menikmati liburan di Kebun binatang Gembiraloka. Kunjungan pertama, beberapa bulan lalu saat Raka berusia sekitar 7 bulan. Sayang, sepertinya raka tak begitu menikmati kunjungan pertamanya (hanya rusa yang bisa membuatnya tertawa, serta beberapa binatang bergerak dan berwarna mencolok yang bisa membuatnya tertarik). Di kunjungan kedua kali ini, kami berharap, Raka bisa menikmati kebersamaan bersama kedua orang tuanya sekaligus belajar mengenal alam sekitarnya yang maha luas (abis klo di rumah, adanya cuma ayamnya bude, anjingnya tetangga, sapinya tetangga)

Diiringi hangatnya sinar mentari, sekitar pukul 8 kami berangkat. Maklum, jarak yang harus kami tempuh cukup jauh. Kebun binatang Gembiraloka berada di tengah kota Jogja, sementara kami tinggal di kaki Merapi, 17 Km dari pusat kota. Sepanjang perjalanan, untung Raka tertidur lelap, hingga ia tak perlu merasakan beberapa titik kemacetan yang harus kami lalui.

Kebun binatang masih cukup sepi ketika kami sampai, kalau tidak salah sekitar pukul sembilan. Oh..iya, begitu sampai parkiran, raka langsung bangun, tapi dengan tampang yang masih agak bingung (“kita di mana sih ?”) Lumayan, tak perlu antri untuk membeli kartu tanda masuk. Delapan ribu rupiah, untuk satu karcis. Berarti kami harus membayar Rp. 16.000, untuk aku dan suamiku, sementara Raka gratis karena masih dibawah 5 tahun.

Secara garis besar, ada beberapa daya tarik yang ditawarkan kebun binatang ini meliputi: koleksi berbagai satwa (termasuk aquarium ikan2, pertunjukan aksi binatang, yang bisa diakses secara gratis), taman bermain dengan aneka mainan, serta taman yang dilengkapi dengan gua2 buatan. Beberapa fasilitas penunjang juga disediakan, seperti kereta kelinci dan bebek air.

Seperti yang kami duga dan kami harapkan, kunjungan kedua kali ini, Raka sudah berubah. Di beberapa kandang (terutamakudanil dam ikan) Raka enggan diajak beranjak saat asyik melihat binatang, dan kami harus mengalihkan perhatiannya. Puas melihat binatang.......ngapain yach??! Akhirnya kami memilih becak air. Dengan Rp.5000, kami bisa menyewa 1 buah bebek2an, dan berkeliling kolam buatan yang terletak ditengah2 obyek wisata ini. Lumayan capek, karena lama sekali kaki tak digunakan untuk mengayuh...tapi puasss...!!!

Tak di sadari, matahari semakin tinggi. Raka juga sudah terlihat capek & ngantuk. Karena masih ada agenda berikutnya, yaitu mampir ke rumah simbah di Bantul, tengah hari kami meninggalkan kebun binatang dengan berbagai rasa, capek di badan ;tapi pikiran cukup segar!! Semoga liburan kali ini mendatagkan banyak manfaat, terutama untuk Raka.

29 Januari 2008



26 Januari, menjadi hari yang istimewa untuk kami sekeluarga, dan juga Raka tentunya. Dengan mata kepala sendiri, kami melihat Raka melangkahkan kaki tanpa berpegangan perabot rumah tangga atau benda-benda yang ada di sekitarnya Alhamdulillah.. di usia 12 bulan 3 minggu, akhirnya Raka mampu dan berani jalan sendiri. Seperti kebanyakan balita yang baru berada dalam taraf “pejalan” pemula, maka seperti itu juga lah anak kami. Tangan ke depan sebagai pengendali keseimbangan, badan terhuyung-huyung, kaki menapak maju tiga atau empat langkah dan kemudian brukk..jatuh terduduk...dan kemudian tertawa riang. Belajar tanpa mengenal lelah, tak putus asa..bahkan bisa tersenyum setelah jatuh. Sebuah pelajaran berharga dari seorang bayi yang sebenarnya bisa kami (atau kita )terapkan dalam hidup ini.

9 Januari 2008


Nah ini dia...ternyata boneka bukan monopoli mainannya para perempuan. Di rumah, raka memiliki boneka yang masing-masing memiliki nama: mas kucing, mas beruang, mbak miki, mas burung, mas bebek...dan mas kelinci. Dengan boneka2 ini, biasanya ayah-ibu mendongeng atau bermain peran. Di samping itu...boneka2 ini ternyata mampu menjadi teman-teman raka yang menyenangkan.

kebetulan, di belakang rumah kami masih tersisa sepetak lahan kosong. Dulunya, kami sempat menanaminya dengan beberapa jenis sayuran. Tapi karena kesibukan, ato memang males yaaa..akhirnya nasib beberapa tanaman mengenaskan. Beberapa tanaman bayam tampak tinggi menjulang, dengan bunga2 yang tak sedap dipandang. Tak lagi bisa dimanfaatkan sebagai sayuran. Walau begitu...rupanya tempat ini menarik buat raka. Hati2 loh kaa...jangan sampai kena bulu ulat


Menapakkan kaki, dan kemudian melangkah mantap, bagi bayi tentu saja merupakan sesuatu yang sulit. Untuk mencapai tahap tersebut, dibutuhkan proses yang cukup panjang, Di hari-hari pertamanya, kemampuan motorik bayi hanya sebatas menggerakkan tangan, kaki, dan tubuhnya dalam posisi telentang. Menginjak dua atau tiga bulan, kebanyakan bayi telah mampu memiringkan badan, dan kemudian tengkurap. Kemampuan tersebut lantas dilanjutkan dengan kemampuan-kemampuannya yang lain seperti membolak-balik badan dari tengkurap-telentang, duduk, merayap, merangkak, berdiri sambil berpegangan, melangkahkan kaki ke samping,dan kemudian berjalan. Bagi orang tua, berjalan bisa jadi merupakan puncak dari perkembangan motorik seorang anak.
Raka, anak kami baru saja melewatkan ulang tahun pertamanya. Kini usianya 12 bulan lebih beberapa hari. “Anaknya sudah bisa jalan belum??” Pertanyaan yang amat jamak dilontarkan para tetangga, saudara, teman kepada kami. Tak hanya kami yang mengalaminya, berani taruhan..pasti banyak orang tua-orangtua lain yang mengalami pengalaman serupa. Kalau sudah begitu, jadi ingat ketika masih menjalani masa-masa kuliah, begitu akrab dengan pertanyaan “kapan wisuda”...atau selepas wisuda “kerja dimana sekarang?”....”kapan nikah?”....atau setelah nikah “kapan punya anak?”. Aduuh, pusing!!
Sedikit flashback, raka pertama kali tengkurap di usia 3 bulan 10 hr, duduk di usia 6 bulan, kemudian merayap, merangkak dan merambat di usia 8 bulan. Di awal 9 bulan, raka mulai gemar di tetah. Menilik perkembangan demi perkembangan yang dilalui, sebenarnya tak ada yang salah dengan perkembangan motorik raka. Semuanya lancar sesuai milestone perkembangan motorik. Dari beberapa artikel yang kami baca, setiap anak memiliki pola perkembangan yang berbeda, selama masih dalam tahap normal, tak perlu ada yang dicemaskan. Konon, rata-rata anak akan berjalan di usia 13 atau 14 bulan dan melangkahkan kaki secara mantap di bulan ke 15. Dari segi medis, kalau sampai 2 tahun belum bisa berjalan, baru mesti diwaspadai. Tapi namanya orang tua, kekhawatiran itu masih saja ada, apalagi kalau ada yang bercerita “anak saya 11 bulan sudah bisa jalan”.
Apa raka kurang stimulus?? Sepertinya tidak, kami selalu mewanti-wanti mbak rus untuk membiarkan raka bergerak bebas (tidak banyak gendong, kecuali lg sakit). Raka juga amat jarang sakit, kalaupun ke dokter...biasanya masalah kulit yang masih sensitif. Jadi sepertinya, hanya kami yang terlalu khawatir. Untuk alat melatih berjalan, sejak awal, kami sengaja tak menggunakan baby walker. Banyak tulisan yang berkisah tentang negative effect baby walker, membuat kami lebih memilih alat tradisional dari bambu. Simbah raka menyebutnya GERITAN. Murah, meriah..dan buktinya raka suka. Sempat beberapa saat tidak digunakan karena rusak, tanggal 6 januari kmrn GERITAN buatan Simbah Raka difungsikan lagi (setelah diperbaiki tentunya) dan...ooo, raka senang sekali memakainya. AYO, SEMANGAT LATIHANNYA KA!!KAMU PASTI BISA!!





4 Januari 2008…….raka genap berumur 1 tahun. Alhamdulillah.... Tak ada perayaan di rumah, toh Raka masih terlalu kecil untuk sebuah pesta. Hanya ada ayah-ibu (ibu sengaja ngambil libur, sementara ayah ijin pulang lebih pagi), mbak rus, mas ilham, mbak nisa dan bude win yang tinggal di sebelah rumah. Ngumpul bareng di ruang tamu, nyanyiin lagu ultah buat raka...dan sebuah lilin teramat sederhana (yang dipake klo lagi mati lampu), eeh...ternyata raka belum bisa tiup lilin....he..he.
Tak banyak kado, tapi tak mengapa....Raka tumbuh menjadi anak yang sehat, sholeh, dan pintar adalah kado yang sangat berharga dari Allah SWT untuk ayah dan ibu. Sebuah boneka kelinci diberikan Mas Ilham dan Mbak Nisa sebagai kado ultah Raka, di sertai doa “semoga cepat bisa jalan sendiri yaa kaaa”. Amiiin. Di usianya yang ke 12 bulan..raka memang belum berani kalau jalan sendiri, mesti pegangan perabot rumah atau tetah. Tak ketinggalan, pak de dan bude menghadiahkan mini kue tart di sertai sebuah lilin berangka 1 ( maafkan ibu ya nak...ga sempat belikan raka kue). Agar setiap moment indah keluarga kami terabadikan dan tingkah polah raka raka yang lucu bisa kami rekam, ayah membeli sebuah kamera digital. Untuk sayangnya ibu, Ibu belikan sebuah kuda2an kayu disertai pesan “raka tetap rajin latihan jalan ya nak”. Sebagai ungkapan syukur, ayah dan ibu membagikan bingkisan makanan kecil ke teman-teman Raka di kampung.
SELAMAT ULANG TAHUN RAKA SAYANG......SEMOGA SENANTIASA DALAM LINDUNGAN-NYA

Namaku mas beruang. Aku tak tinggal dihutan seperti beruang-beruang yang lain. Ah..tubuhku pun aneh, bulat panjang…… kenapa aku tak punya kaki seperti hewan-hewan sebangsaku?? Oh..iya, aku lupa!! Aku kan hanya boneka berbentuk guling…..
Meski begitu, aku tetap bahagia. Kehadiranku bisa membuat seorang anak senang dan tertidur pulas baik siang maupun malam.
Raka : “ mas beruang gak usah main jauh-jauh yaa… sini bobok aja ama raka”
Beruang : OK boss!!