Kalau ada yang bilang generasi yang lahir di era 80an ini beruntung.. boleh lah. Lha gimana, disadari atau tidak, kami adalah generasi yang berhasil melewati banyak era.
Dari segi teknologi misalnya..kami ngalami jaman telp rumah, kejayaan bisnis wartel, hp jadul, sampe era smartphone.
Di dunia hiburan, generasi ini adalah penikmat layar tancap, hingga sampe saat fasilitas hiburan bisa dinikmati sambil rebahan.
Masih segar dalam ingatan, ketika akses informasi hanya bisa datang dari koran pagi, berita televisi malam hari, atau obrolan dari mulut ke mulut.
Dulu, kalau ada peristiwa besar terjadi di kota lain, belum tentu kami tahu langsung di hari yang sama. Bahkan untuk sekadar berkabar dengan teman atau keluarga yang tinggal jauh, kami harus menunggu telepon rumah atau menulis surat. Jauh berbeda dengan saat ini, dimana dalam hitungan detik, kabar dari belahan dunia lain sudah muncul di genggaman tangan.
Perubahan besar itulah yang dibawa oleh media sosial
Eits, jangan salah...tahun 200an awal pun kami mengenal media sosial. Tapi seingat saya, fungsinya lebih banyak sebagai sarana chat atau ngobrol. Mana yang dulu hobi ke warnet hanya untuk Mirc an atau YM an?😀😀
Sekarang, penggunaan media sosial lebih dimaksimalkan dan beragam.
Media sosial telah memberikan banyak kemudahan yang membuat hidup terasa lebih praktis. Salah satu manfaat yang paling nyata adalah kecepatan informasi. Begitu ada kejadian penting, masyarakat bisa langsung mengetahui perkembangannya secara real time. Bahkan sering kali informasi sudah beredar luas sebelum media massa sempat menayangkannya. Kalau saya pribadi, X dan Instagram adalah media favorit untuk mengupdate berita.
Menariknya, sekarang bukan hanya wartawan yang bisa menyampaikan berita. Masyarakat biasa pun dapat menjadi saksi sekaligus penyebar informasi. Berkat keberadaan jurnalis warga atau citizen journalist, berbagai peristiwa dapat diketahui dengan cepat dari sudut pandang yang lebih beragam.
Pembaca tinggal menyusuri kolom komentar untuk mendapatkan data yang lebih banyak meskipun validitasnya kurang bisa dipertanggungjawabkan 😃
Media sosial juga menjadi sumber inspirasi yang nyaris tidak ada habisnya. Dulu, kalau ingin mencari ide dekorasi rumah, kita mungkin harus membeli majalah atau menunggu tayangan televisi tertentu. Jika ingin mencoba resep baru, kita mencari buku masak atau bertanya kepada kerabat.
Sekarang semuanya tersedia dalam hitungan detik. Mau mencari inspirasi menata ruang tamu, resep masakan rumahan, cara merawat tanaman, hingga ide usaha sampingan, semuanya tinggal ketik dan cari. Dalam beberapa menit, kita sudah mendapatkan puluhan bahkan ratusan referensi.
Hal lain yang terasa berbeda adalah cara kita menghadapi waktu luang. Masih ingat masa ketika sedang menunggu antrean di bank, menunggu anak pulang sekolah, atau menunggu kereta datang? Dulu, momen-momen seperti itu sering terasa membosankan. Kita hanya bisa melihat sekitar, membaca koran, atau sekadar melamun.
Sekarang, beberapa menit yang kosong bisa terisi begitu saja oleh media sosial. Tanpa terasa, waktu berlalu lebih cepat karena selalu ada video, cerita, atau informasi baru yang bisa dilihat.
Tidak hanya itu, media sosial juga membuka peluang ekonomi yang dulu hampir tidak terbayangkan. Pada masa muda kita, pilihan pekerjaan relatif lebih terbatas. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan biasanya diperlukan modal usaha atau pekerjaan sampingan tertentu.
Kini situasinya berbeda. Banyak orang yang memulai dari sekadar pengguna biasa, kemudian aktif membuat konten, membangun komunitas, hingga memperoleh penghasilan dari aktivitas mereka di media sosial. Bahkan tidak sedikit usaha kecil yang berkembang pesat karena promosi melalui platform digital.
Namun, di balik semua kemudahan itu, ada perubahan-perubahan lain yang juga perlu kita sadari.
Salah satu yang paling terasa adalah pergeseran norma dalam masyarakat.
Dulu kata "anjing" adalah bentuk umpatan. Generasi sekarang, dengan entengnya menggunakan kata anjing --yang kemudian diubah menjadi "anjir" dengan begitu mudahnya, tanpa rasa segan/bersalah.
Dulu ada batas yang cukup jelas antara kehidupan pribadi dan ruang publik. Tidak semua hal perlu diketahui orang lain. Banyak urusan keluarga, pencapaian pribadi, bahkan masalah hidup disimpan dalam lingkaran yang terbatas.
Sekarang batas itu menjadi semakin tipis. Banyak hal yang dahulu dianggap terlalu pribadi untuk dibagikan, kini menjadi konsumsi publik. Pernah kan lihat konten creator yang menggunakan baju minim di depan kamera sembari mengumbar kemesraan di depan kamera?
Atau pasangan yang menunjukkan gaya hidup tinggal bersama, meski belum ada ikatan pernikahan yang sah?
Lambat laun, apa yang sering terlihat akan dianggap biasa, meskipun dulu mungkin dipandang berbeda.
Selain itu, media sosial juga membuat kita lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat foto liburan, pencapaian karier, rumah baru, kendaraan baru, atau kehidupan yang tampak sempurna.
Padahal yang ditampilkan sering kali hanyalah potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang.
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai layar ponsel membuat kita lupa mensyukuri kehidupan nyata yang ada di depan mata.
Hal lain yang juga sering terjadi adalah rasa terlena. Awalnya hanya ingin membuka media sosial selama beberapa menit, tetapi tahu-tahu satu jam berlalu. Kita merasa sibuk, padahal belum tentu produktif. Waktu yang dulu digunakan untuk mengobrol dengan keluarga, membaca buku, atau menikmati suasana sekitar perlahan bisa tergeser oleh kebiasaan scrolling tanpa tujuan.
Mungkin inilah ironi terbesar kehidupan modern. Teknologi diciptakan untuk menghemat waktu, tetapi sering kali justru membuat kita kehilangan banyak waktu tanpa sadar.
Pada akhirnya, media sosial bukanlah musuh, tetapi juga bukan sesuatu yang harus diterima tanpa kritis. Ia telah membawa banyak manfaat: mempercepat informasi, menyediakan inspirasi tanpa batas, mengurangi kejenuhan, dan membuka peluang ekonomi yang besar. Namun pada saat yang sama, ia juga ikut mengubah cara kita berinteraksi, berpikir, dan memandang kehidupan.
Sebagai generasi yang pernah hidup di dua zaman—zaman sebelum media sosial dan zaman ketika media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—mungkin kita memiliki keuntungan tersendiri. Kita tahu bagaimana rasanya hidup tanpa media sosial, sehingga kita juga bisa lebih bijak dalam menggunakannya.
Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa sering kita membuka media sosial, melainkan seberapa baik kita mengendalikan diri saat menggunakannya.


Posting Komentar
Posting Komentar