17 Juli 2020

Dilema Ketika Para Bocah Mesti Belajar Dari Rumah



Pagi ini saya scroll salah satu media sosial, facebook, melihat timeline, mbaca status teman. Era media sosial seperti sekarang, banyak cerita hidup yang sengaja dipajang.  Dari itu, sebenarnya kita bisa belajar, ataupun menjadikannya  bahan postingan  renungan. 

Satu teman memposting foto dua anaknya, satu  usia  Sekolah Dasar dan yang satu sepertinya duduk di bangku SMP. Teman tadi bercerita,  tentang si anak yang  sudah terbiasa dengan model belajar online, bisa mandiri, tanpa pendampingan, hingga si Ibu bisa melenggang dengan nyaman ke tempat kerja.  Wuih...saya bayangkan betapa bahagianya si orang tua. 

Kepengen, tapi belum bisa sama. 




Ada lagi, teman yang menulis besar-besar di timeline nya “Apa kabar sistem belajar online?” yang kemudian rame komentar netizen. 

Ini yang menarik, karena kebanyakan para komentator adalah para netizen golongan orang tua yang mulai  mengeluh  curhat dengan sistem belajar online, termasuk saya..wkk..wkk.

Sambat masalah kuota yang bengkak. Yes, anda tak sendiri. Saya pun mengalami. Tapi sebenarnya ini bisa diakali. Pos biaya transportasi/ bensin saat anak-anak sekolah, bisa dialihkan untuk kebutuhan ini.

Ngeluh yang anaknya justru  bukan tambah pinter mapel yang diajarkan guru, tapi makin pinter ngegame. Aih, Toss! Dua anak saya semakin sering berinteraksi dengan smartphone. Sedikit porsi untuk mengerjakan tugas, dan lebih banyak porsi yang lain untuk main bareng game-game online atau melihat konten-konten buatan para gamer. Syedih saya. 

Ada pula curhat yang sekolah di era Corona ini mirip bimbel, jam singkat, tapi SPP tetap.  Untuk kasus ini, untungnya saya tidak mengalami, ada potongan 50% untuk pembayaran SPP Alya. Sementara Raka, sekolah di SMP Negeri, jadi tidak ada biaya SPP yang dibebankan tiap bulan.

Termasuk betapa tidak mudah mengontrol anak-anak untuk bisa mengambil porsi seimbang antara waktu belajar (menggunakan gadget) dan menggunakan gadget mereka untuk keperluan yang sifatnya rekreatif. 

Beberapa kebiasaan baik yang selama ini sudah tertib dijalankan, mulai mengikis. Sebut saja, bangun pagi, waktu ibadah. 

Boleh kok kalau ada yang komentar , "Lah..itukan tugasnya orangtua...Ibu apalagi...mendidik anak selama di rumah kan tugas utama? Tempat belajar terbaik adalah rumah"

Iya, ngerti. 

Kelihatannya mudah, wong tinggal meminta anak untuk tertib selama di rumah. Tapi prakteknya tidak semudah saat kalimat itu diucapkan.. 

Saat di rumah, entah berapa kali saya mesti ngingetin untuk tertib sholat. Tetap membaca. 

"Nanti...!". Itu jawaban yang paling sering saat di rumah, berbeda dengan saat di sekolah

Hikmah setelah pembelajaran online berlangsung lebih dari 3 bulan? Tahu rasanya dan sepenuhnya sadar, tidak mudah  jadi orang tua. Harap dimaklumi juga, tidak semua ilmu yang dimiliki para guru, dikuasa para orang tua (baca: Ibu)

Kalau di posisi anak-anakpun, sepertinya juga tidak enak sebenarnya. Gerak terbatas, interaksi terbatas, eh giliran nemu mainan yang tidak membosankan....sering kena “cut” para mamak.

Memang serba sulit keadaannya.

Di satu sisi banyak guru, orang tua, anak-anak yang belum siap dengan sistem pembelajaran online yang efektif dan menyenangkan. Tidak semua rumah punya  stok kuota data yang melimpah, ataupun koneksi internet yang stabil. Belum semua orang tua melek teknologi. Dan tidak semua orang tua, punya waktu luang untuk  mengawal anak-anak mereka mengikuti kelas online.

Di sisi guru pun juga. Belum semua guru bisa membuat konten-konten video menarik dan informatif untuk diberikan ke anak didik. Sering yang terjadi adalah, guru hanya memberikan tugas tanpa penyampaian materi layaknya pada sebuah kelas tatap muka. 

Konsekuensi yang mungkin terjadi siswa bosan, dan kemudian abai.

Dan realitanya, kurva  pasien yang terkonfirmasi positif  Corona masih terus bergerak naik. Entah sampai kapan. Masih terlalu riskan, mengembalikan anak-anak kembali ke sekolahan.

Arrggghhh!!!

memang harus dibuat enjoy sepertinya. Seperti pesan seorang kawan, Kuat dilakoni, ora kuat ditinggal ngopi :-D

1 komentar:

  1. Itulah. Sebetulnya aku berharap tahun ajaran diundur sampe bulan Januari aja. Ada waktu untuk pembiasaan kalo nanti corona belum pergi.

    Sebagai doa juga supaya pas masuk nanti corona sdh ga ada.

    Dari gadget ke gadget. Simbok stres sebetulnya tapi ga boleh protes.

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Untuk menghindari spam, untuk sementara kolom komentar saya moderasi dulu ya. Komentar berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin

 
Top