Cari Blog Ini

17 Februari 2019

# buku # Random Post

[Buku] Terjebak di Dunia Maya

"Ka...itu seragam kotormu..mbok diberesin. Sepatu dan tas juga. Kenapa to, asal taruh depan pintu gitu?"

"Iya..."

Tik.tok.tik.tok jam bergeser ke kanan. 15 menit kemudian...

Kondisi masih tetap sama. Seragam kotor tetap teronggok di lantai, sepatu dan tas juga masih  di posisi semula, diombrokkan tak jauh dari pintu depan. Lha anaknya kemana? 

Di kamar. Sibuk sama Mobile Legend. Sudah bilang "iya" tapi nggak segera terlaksana. Sering nemu cerita yang senada nggak? 

Anakku sulung sering. Nggak tiap hari sih. Tapi asal sudah keasyikan pegang ponsel diminta tanggung jawab sama barang-barang pribadinya saja, susah. Omongan ibunya serasa dianggap angin lalu. 

Huft!

Kalau sudah begitu jadi nyebelin kan? 

Ya begitulah ajaibnya games di smartphone.  Kalau sudah asyik, seringnya lupa. Nggak orang dewasa, anak-anakpun pasti iya. 

Sebagai orang tua, ngomongin baik-baik ke anak..seandainya semua hal dalam hidup ada porsinya masing-masing; termasuk main game tentu sudah. Berkali-kali malah. Kadang sampai bosan dan tiba-tiba intonasi otomatis naik, ketika sudah berkali-kali diulang...tetap tanpa perubahan. 

Baiklah. Saya atau kita mungkin, memang berbeda era dengan anak-anak. Mereka lahir di era teknologi. Milenial. Memutus hubungan sama sekali anak dengan gadget, aneka game, jelas tidak mungkin dan tak adil. Tapi membiasakan mereka untuk sadar dan mengerti takaran; kapan bisa main game dan kapan untuk berganti ke aktivitas lain itu sungguh bukan pekerjaan mudah. Mesti menggunakan banyak cara. Kadang sukses, kadang nggak, itu pengalaman pribadi saya dengan dua anak di rumah.

Belakangan, pengen ngasih tahu anak dengan sesuatu yang tak begitu kentara; dengan buku. Dan tempo hari, secara nggak sengaja nemu judul buku ini pas lagi maen ke perpusda Sleman. Judulnya Terjebak di Dunia Maya (Cara Sehat Menggunakan Internet Untuk Anak-Anak). Ini buku anak-anak? Yess! Jadi buku ini memang buku untuk dibaca anak-anak, bukan buku panduan parenting untuk orang tua. 

Seperti inilah tampilan bukunya. Cetakan pertama, terbit tahun 2015

Terjebak di Dunia Maya; Memberikan Pesan Melalui Cerita


Kalau saya anak-anak umur 10-14 tahunan, pasti saya tertarik dengan buku karangan Rita Nurlita Setia ini. Ya, bisa jadi memang "target" pembaca buku ini memang anak-anak umur-umur nanggung. Pra-ABG yang kadang sok jadi anak gede, padahal juga belum. 

Judulnya menarik dan pas untuk anak-anak milenial. Terjebak di Dunia Maya. Ilustrasi sampul juga menarik, di dalamnya banyak grafis-grafis yang sesuai. Cuma mungkin ukuran bukunya aja yang menurut saya kegedean, jadi berasa buku pelajaran. 

Seandainya buku terbitan DAR! Mizan dicetak seukuran sama dengan novel-novel Lima Sekawan atau Trio Detektif itu kayaknya akan berasa lebih seru. Yaa..meski resikonya ukuran font akan lebih kecil sih. Bisa jadi, ukuran asli yang 100 halaman juga menjadi lebih tebal lagi. 

Fiksi ini mengambil tokoh utama Alfath, siswa SD yang tinggal bersama dengan pembantu dan ibunya.  Seperti kebanyakan anak-anak, kegemaran utama Alfath adalah bertualang tapi di dunia maya.

Hari-hari Alfath kebanyakan diisi dengan sekolah di pagi hari, dan sisanya adalah bermain game melalui sebuah tablet. Kegemarannya itu, kemudian mengenalkannya dengan Sekar, Bintang dan juga Rama, rekan chat yang kerap bertegur sapa sekaligus bermain game online bersama. 

Ukuran fontnya besar, gambar ilustrasinya lumayan menarik untuk anak-anak

Hingga suatu hari, ada sebuah aplikasi yang mempertemukan mereka dan membawa mereka ke sebuah dunia misterius. Dunia maya. Di sana mereka ketemu banyak anak-anak lain, yang sudah dikuasai oleh Raja GameHozt. 

Di negeri tersebut anak-anak bebes bermain game sepuasnya, tapi lama kelamaan kondisinya akan memprihatinkan. Dekil, kurus, mudah marah, hingga kemudian anak-anak tadi sadar dan mereka ingin kembali ke dunia nyata. 

Apakah mereka bisa? Nah, di sinilah menariknya. Bagaimana perjuangan dan petualangan anak-anak ini di "dunia game" dituturkan dengan runtut dan riil. 

Tapi, serius dari kacamata orang tua pun isi buku ini seru. Nggak cuma pesan positif yang didapat, buku ini juga membawa anak-anak untuk lebih tau tentang teknologi internet. Ada semacam informasi tambahan yang diselipkan diantara cerita, yang diberi titel Trivia. Meski secara kamus  Trivia itu berarti kumpulan informasi yang tidak penting, tapi sebenarnya...infomasi yang masuk ke kolom Trivia ini perlu diketahu banget, misalnya:

Kalau mau berteman di dunia maya, untuk kalian yang berusia dibawah 13 tahun, bisa coba mendaftar di empat situs pertemanan yang aman bagi anak-anak yaitu Yoursphere, kidzvuz, foozkids, dan Ohanarama. Meskipun namanya jarang terdengar, keempat situs pertemanan tersebut dijamin aman, mencerdaskan, dan sangat menyenangkan untuk anak-anak" (halaman 22)
Bagian Trivia ini semacam informasi tambahan yang juga sekaligus nasehat untuk pembacanya

Internet punya banyak pengaruh buruk buat anak-anak. Tetapi, internet juga punya banyak sekali manfaat lho. Mau tahu apa saja manfaatnya? Menurut Direktorat Jendral Aplikasi Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, manfaat internet untuk anak-anak adalah: browsing atau searching. Kalian bisa mencari informasi, data, gambar, dan pengetahuan tentang pelajaran, pemerintah, perdagangan, maupun untuk mencari teman.
Game online. Permainan dalam game online harus disesuaikan dengan usia kalian. Dan jangan lupa, main games tidak boleh lama-lama, ya! Kalian bisa memakai internet untuk belajar menulis, membuat blog, atau mencari informasi untuk menambah pengetahuan (halaman 59)
Sering ngalami kan kalau anak-anak itu terkadang lebih "mempan"  dinasehati atau diberi pencerahan oleh pihak ketiga? Nah, buku ini recommended dijadikan pihak ketiga tadi. 

Biarkan anak-anak membaca, asyik turut bertualang di dalamnya, dan paham akan pesan-pesan yang dibawanya.

4 komentar:

  1. Sering sekali menjumpai anak kecil zaman sekarang sudah main hp. Apalagi kalau dirumah sdh ada wifi. Sudah diberi password masih bisa dibobol. Hebat anak2 zaman sekarang sebaiknya orang tua harus selalu waspada. Ada juga yang main hp sampai tengah malam.

    BalasHapus
  2. Wah mbak, benar sekali.. Saya yang usianya 25 tahun aja tertarik buat beli bukunya karna grafisnya bagus wahahahahah..

    Semoga kedepannya banyak buku-buku yang mencerdaskan tentang baik-buruknya teknologi ya mbak. aamiin..

    BalasHapus
  3. Memang zaman kini sulit sekali melepaskan diri dari gawaii, termasuklah aku. Tapi yaa Alhamdulillah masih bisa menahan diri

    BalasHapus
  4. Iya saya prihatin sekali dengan kenyataan bahwa anak-anak balita sudah kecanduan ponsel, terutama buat ngegame. Nggak usah jauh-jauh deh, keponakan saya sendiri saking nggak mau pisah dengan ponsel, sampai bapaknya ngalah ponselnya diberikan ke anaknya, sementara bapaknya kerja tanpa bawa ponsel. Alasannya kalau nggak dikasih ntar ngamuk. Haduuhh, ini cara yang salah mendidik anak ya Mbak :(

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Untuk menghindari spam, untuk sementara kolom komentar saya moderasi dulu ya. Komentar berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin

Follow Us @soratemplates