31 Desember 2016

Sumber: www.pixabay.com

Kenapa timun pahit? Tempo hari, sepulang ngantor suami membawa pulang ayam goreng plus lalapan. Syukuran rekan kerja yang lairan katanya. Mendapat "oleh-oleh" tentulah kami senang..nggak perlu masak lauk lagi kalau saya. Dua bocil saya juga girang..langsung nyemil-nyemil sembari nonton upin-ipin di tv. 

"Bah..nggak enak, pahit!" teriak Raka beberapa saat setelah nyomot timun si lalapan.

"Bu...kenapa timun ada yang pahit..ada yang nggak tho?" tanyanya spontan.

"Ya, mirip-mirip kamu makan mangga itu..kadang ada yang kecut, kadang ada yang manis. Nggak usah dimakan kalau pahit"

Jawaban saya adalah jawaban tipe malas mikir. Yang penting njawab. Tetapi setelahnya, saya yang justru mikir..kenapa ya ada ketimun yang 100% enak dimakan, tapi ada juga ketimun yang ada berasa pahit dipangkal buah..? Kok saya malah jadi penasaran.

28 Desember 2016

23 Desember 2016


Sedang liburan di Jogja kah? Hampir semua tahu kalau Jogja salah satu destinasi wisata yang tersohor di Nusantara. Dari 4 wilayah kabupaten dan 1 Kota yang di miliki, masing-masing punya icon wisatanya sendiri, dan semuanya siap menyambut kedatangan wisatawan yang siap merayakan pergantian tahun di wilayah ini.

Salah satu kabupaten di Jogja yang kini tengah moncer alias banyak diperbincangkan karena potensi wisatanya adalah Kulon Progo. Apalagi, ditambah dengan rencana pemindahan bandara Adisucipto beberapa tahun ke depan, maka bisa diprediksikan wilayah Kabupaten ini akan semakin ramai di sektor ekonomi, dan juga wisata.

Beberapa tahun yang lalu, mungkin kabupaten ini hanya dikenal masyarakat karena  makanan tradisionalnya yang unik, yakni geblek dan tempe koro, pantai Glagah Indah, Pantai  Congot atau pun Waduk Sermonya. Tapi sekarang, jangan sekali-kali memandang sebelah mata. Diam-diam, Kulon Progo kaya pesona alam lho...

20 Desember 2016



ğŸŽ¶"Libur tlah tiba..libur tlah tiba..hore!..hore!"ğŸŽ¶

Mendadak ingat lagunya Tasya pas dia masih imut. Saya suka lagu itu, termasuk pipi penyanyinya yang gembil-gembil lucu.Tapi bener, ini bukan mo ngomongin lagunya Tasya kok. Tentang liburan anak-anak yang sudah dimulai minggu ini.

"Kamu enak..setiap anak dan suami libur..jalan-jalan mlulu.."

komentar seorang teman, yang sering nge-like status di medsos saya. Lha iya, wong status fb saya isinya update an blog dan biasanya saya pilih yang bagian jalan-jalan dan makan-makan. Coba kalau nulis statusnya aktivitas saya dari Senin sampe Sabtu..pasti isinya tak jauh dari acara momong anak, masak, dan beberes rumah...hi..hi😀😀

17 Desember 2016


Dalam beberapa hari ke depan, tahun 2016 akan berakhir. Kalau sudah seperti itu, biasanya saya berada diantara rasa sedih dan senang. Sedih..karena taon depan pasti uban yang mulai muncul pasti akan bertambah, termasuk keriput di wajah (hi..hi, realistis kan?!) 😀😀 Senangnya..karena saya berhasil melewati 2016 dengan sehat dan selamat. Secara kesehatan, tak ada hal-hal yang mengkhawatirkan tahun ini. Selamat, karena beberapa masalah hidup yang muncul pun masih bisa ke handle dengan baik. Alhamdulillah 😄😄

15 Desember 2016


Area kolam renang masih sepi. Maklum, masih pagi, masih dingin

Taman Wisata Kopeng

Pagi itu kawasan Kopeng masih sepi....Rrrrrhh...dingin banget!! Tapi sumpah, saya suka dingin yang seperti ini, menusuk tulang, tapi seger!

Ternyata kami terlalu pagi dari Jogja, hingga akhirnya baru setengah tujuh pagi kami sudah sampai Taman Wisata Kopeng. Hi..hi, memilih berangkat sepagi mungkin adalah salah satu strategi kami menghindari macet. Meski hari libur, rupanya lalu lintas dari Jogja-Magelang-Pertigaan Canguk-Jalan Kopeng pagi itu lancar jaya. 

12 Desember 2016

Postingan kali ini lagi-lagi tentang makanan. Tapi bedanya, ini bukannya njajan tapi saya masak sendiri. Dunia para Emak gitu lho.. Bukan ahli masak juga sebenarnya, tapi motivasi utamanya adalah anak lanang a.k.a Raka yang hobi banget pesen seafood asam manis kalo ada kesempatan makan di luar. Kalau boleh dibilang, makanan favorit pertama.

9 Desember 2016


"Bu..aku besok Senin libur.." 
"Lha..kenapa?"
"Tanggal merah tho.."
Begitu laporan sulung saya tempo hari, pasca pulang sekolah. Otomatis kepala saya berputar ke arah kalender yang tertempel di dinding. Oalaah...libur Maulud Nabi ternyata. 

Status seorang ibu yang tak terikat jam kerja, dimana lebih sering tak mengenal hari kerja tanpa peduli ini hari apa atau tanggal berapa, memang sering membuat saya lupa pada kalender. Kadang masih hari Sabtu, juga di kira sudah Minggu..hi..hi. 

"Ini...ada pengumuman dari sekolah " lanjutnya sambil menyodorkan selembar kertas. Pengumuman libur sekolah dan jadwal penerimaan rapor tanggal 17 Desember mendatang. Sementara untuk PAUDnya Si kecil, pengambilan raport jatuh tanggal 13 besok. 

8 Desember 2016

mangrove pantai pasir kadilangu


Wkk..judulnya kayak sinetron. Tapi memang awalnya tujuan kami ndak  ke Hutan Bakau Pantai Pasir Kadilangu. Begini cerita selengkapnya..

Tak Sengaja Berlabuh di Hutan Mangrove Pantai Pasir Kadilangu
Minggu pagi, awal Desember. Mumpung libur, daripada di rumah anak-anak cuma nge-gadget mlulu, oke lah...kami pengen ajak anak-anak melihat secara langsung hutan bakau.  Masalahnya, Raka yang sudah mulai harus mengerti mana akar tunggang-mana serabut masih sering salah sebut, ia pikir tanaman bakau sama dengan tembakau. Masih sering kacau pokoknya.

Masalah kedua, saya dan suami pun belum pernah maen ke lokasi hutan bakau. Jogja hanya punya dua lokasi hutan bakau, satu di Bantul dan satu lagi di Kulon Progo, cuma yang lagi ngehits sepertinya yang di Kulon Progo. Deal, akhirnya kami sepakat ke Kulon Progo, tapi memang belum tahu lokasi persisnya.

Mengandalkan navigator, akhirnya sampai juga di di sebuah desa di tepi jalan Deandels Kulonprogo. Ada papan petunjuk besar, bertulis hutan mangrove Wanatirta. Oke, berarti ketemu. Kemudian kami masuk mengikuti anak panah, masuk ke sebuah kampung yang belakangan saya tahu namanya Desa Jangkaran, Temon, Kulonprogo. 

6 Desember 2016


Di jagat maya, cerita tentang enaknya bakso Ironayan alias bakso Pak Jam sering saya temui. Dan malangnya...saya yang pecinta hidangan sejuta umat itu malah belum pernah mencobanya. Padahal, secara lokasi warung bakso itu posisinya se Kecamatan dengan tempat asal saya. Bener-bener kebangeten!

4 Desember 2016

Sudah pernah cerita kan, kalau tempat saya tinggal, sering banget hujan. Tapi kalau kemarin (Sabtu), sepertinya  hujan cukup merata di semua wilayah Jogja. Matahari benar- benar sembunyi sepanjang hari. Kalau sudah begini, abaikan sejenak program diet. Ditambah provokasi teman-teman di WA grup yang gencar saling mengirim foto makanan, jadilah godaan untuk "khilaf" dalam hal makan semakin besar..hi..hi.

Kalau biasanya saya tertib hanya ngemil buah sampai jam makan siang, tapi hari itu saya tergoda. Apalagi pasca acara belanja bulanan, sebelum agenda njemput anak sekolah,  pak suami justru membelokkan kendaraan ke lain arah, "Ke Pak Lanjar dulu...udah lapar.." katanya. Padahal, baru jam 10 pagi...dan kebetulan anak-anak bubar  sekolah jam 11 karena week end.

Warung Pak Lanjar
Warung Pak Lanjar, masih banyak space di parkiran karena masih pagi

Menurut saya, lokasi warung ini cukup nyempil, agak susah dicari, karena cukup jauh dari jalan utama ( Bisa dijangkau dari Jl. Magelang, atau Jl. Monjali). Sepertinya, warung ini memang mengusung konsep alami, ketenangan, karena posisinya benar-benar di areal persawahan, di dusun Banteran, Donoharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta.

30 November 2016

Image dari www.shopanddrive.com

Kejadian ini sudah beberapa bulan yang lalu sebenarnya. Pas saya, suami, dan dua bocil kami main di Pantai Parangtritis Jogja. Sebenarnya kami sudah berniat balik ke rumah karena  sudah cukup lama berada di kawasan pantai. Tapi kok ya ndilalah anak-anak belum mau diajak pulang. Sambil nyemil udang goreng yang kami beli pada mbak-mbak yang jualan, kami berteduh dibawah sebatang pohon, tak jauh dari parkiran mobil. Didepan kami duduk, ada sebuah mobil yang para penumpangnya tampak sibuk.  Ada apa gerangan? **Biasa..emak-emak kan naluri ke kepoannya lebih tinggi..hi..hi😀😁

28 November 2016

Meskipun frekuensinya tidak terlalu sering, tapi paling tidak saya sudah merasakan enaknya belanja dengan sistem online. Milih barang-bayar-dan tinggal nunggu barang diantar. Termasuk saat saya mbeliin sepatu untuk suami beberapa saat yang lalu.

26 November 2016

Bisa nebak para bocah ini pada ngapain?



Dikubu cowok, anak-anak ini lagi ngrubutin satu tablet yang lagi nayangin tutorial salah satu game, dan mereka dengan sangat khusuk menyimaknya. Sementara, satu bocil cewek...ikut-ikutan dengan modal smartphone bapaknya; nge game balapan mobil!!


18 November 2016

Selain pantai, salah satu hal menarik lain yang saya suka dari Gunung Kidul adalah hutan jati. Yup, ada begitu banyak bukit-bukit kapur maupun kawasan hutan di kawasan ini yang terisi dengan batang-batang tanaman jati. Panorama alam yang paling saya suka adalah melintas di kawasan hutan atau perkebunan jati di pagi hari, dan menyaksikan garis pancaran matahari di antara pohon-pohon. Nggak ngerti dimana letak bagusnya, tapi suka aja liatnya.

Diantara bentangan perkebunan jati dan persawahan warga, ada satu yang juga sering menarik perhatian saya. Sebuah resto yang parkirannya hampir selalu penuh dengan bis-bis wisata. Penasaran juga, apa karena makanannya enak?Apa karena harganya terjangkau? Atau karena tempatnya yang nyaman? Biasanya faktor itu kan yang paling berpengaruh?

14 November 2016

"Aku sudah pangling sama Jogja. Lebih macet, banyak hotel, banyak mall"  
 (Komentar seorang teman, setelah sekian lama meninggalkan Jogja, trus balik untuk liburan)


Ini nanti mo jadi resto atau penginapan ya? Kita tunggu saja☺
Benar kalau ada yang bilang pembangunan fisik di Jogja kian pesat.   Kalau tak percaya, tengok saja Kabupaten Gunung Kidul. Memang, intensitas saya ke Kabupaten di sisi timur jogja itu juga nggak sering banget. Paling dua bulan sekali, kalau pas lagi kangen untuk nge-pantai. Tapi setiap kali ke sana, ada saja yang berubah.  Pembangunan SPBU  baru, pembangunan Toserba lumayan gede, semakin banyak penginapan-penginapan bernuansa alam, dan yang paling update banyak pelebaran-pelebaran badan jalan di jalur kawasan pantai. Banyak bukit-bukit kapur yang kemudian dipotong, demi pembangunan sarana dan prasarana pariwisata. Kayaknya para investor lagi pada rame-rame nanem modal di gunung kidul nih.☺

13 November 2016

Meski hujan adalah berkah dan anugrah, namun adakalanya hujan adalah musim yang rawan. Rawan bencana bagi sebagian tempat, dan rawan penyakit bagi sebagian orang. Udara yang cenderung lebih dingin, genangan air yang bisa jadi kotor, akhirnya memicu timbulnya beberapa gejala penyakit, yang biasanya gampang menular. Salah satunya diare.



Karena usia semakin besar dan faktor imunitas yang semakin baik, beruntung anak-anak  sudah jarang sekali terserang diare. Saya pun merasa lebih nyaman dengan pola makan sarapan buah yang sudah terjalani sekitar setengah tahunan. Jadinya jarang sakit. Malah Pak suami yang sering terkena gangguan pencernaan. Kayaknya perutnya tipe-tipe susah adaptasi. Makan bakso, sambel kebanyakan dikit,...diare. Makan buah berasa asem, perut protes dan jadinya bolak-balik WC. Kedinginan, masuk angin..eh larinya ke diare lagi.

Walau begitu, biasanya kalau ada salah satu dari kami ada yang terserang diare atau perut nggak nyaman,  penangan pertama, pasrahkan "dapur dan kebun" dulu. Maksudnya? Sebisa mungkin obati dengan bahan-bahan di sekitar yang gampang dicari.  Alasan utamanya lebih alami. Apa saja mereka?

10 November 2016


Tidak begitu ramai, ambil fotonya udah agak siang☺

Pernah mendengar atau membaca tradisi ngembun atau mengunjungi pantai di pagi hari? Meski awalnya hanya milik masyarakat pesisir, tapi kemudian banyak masyarakat percaya, tradisi ngembun ini memberikan banyak efek positif bagi kesehatan paru-paru.

Cuaca yang tak menentu, siang panas kemudian seringkali hujan menjelang sore, akhirnya berimbas pula ke bocil saya Alya. Batuk-pileknya awet. Sudah ke dokter, tapi saat ingus hampir kering, ketemu lagi teman di sekolah yang mulai pilek. Ketularan lagi. Begitu berulang. Jadi semacam flu bergilir di PAUD ☺

8 November 2016

Sumber: youtube
"Okey,  Aku akan menikah, tapi setelah lulus S2. Aku juga harus terpelajar, punya karir bagus, biar bisa sama dia -- dan jadi jodoh yang pas. Jadi sama kan?"

Kalau yang sering lihat TV, pasti akrab sama petikan dialog diatas. Meskipun sebenarnya saya juga masih mikir, apa hubungan antara nikah - S2- dan pencerah wajah. Yang justru saya tangkap adalah, bahwa iklan tersebut turut menyepakati, kalau dunia para perempuan tak lepas dari hal-hal dilematis.

4 November 2016


Suatu hari..pas kondisi capek..atau PMS..entahlah..agak lupa. Tapi Raka yang jadi sasaran. Waktu itu dia lagi kumat bandel..hingga emosi saya naik.  Biasanya karena telinganya yang ngilang. Terlalu sering bilang "nanti"..atau kalau nggak gitu njawab "iya.." tapi tetap nggak beranjak dari tablet atau tv.

"Ka...klo kamu bandel..tak balikin ke perut ibu lho!" (teori parenting..nggak boleh ancam2 anak..tapi fakta di lapangan..sering lupa sama teori..wkkk..wkk)"

2 November 2016

"Ogah ah..panas"! Biasanya itu komentar standar kalau ngomongin tentang wisata candi. Saya termasuk di dalamnya, tentu saja itu hasil pengalaman kunjungan ke beberapa candi yang ada di Jogja. Meski area seputaran candi rata-rata sudah dipenuhi pohon perindang, tapi untuk ke bagian inti candi tetep aja harus berkompromi dengan sengatan terik matahari.

30 Oktober 2016

Dua anak saya adalah pecinta susu.  Saat di rumah, biasanya saya menyediakan susu model susu bubuk full cream, meskipun konsekuensinya memang harus lebih repot mencuci gelas dan menyeduhnya dalam air hangat. Saat bepergian atau di sekolah, saya lebih suka membekali mereka dengan susu kotak alias UHT. Pertimbangannya lebih praktis, sekali minum habis, jadi nggak bakalan ada cerita anak minum susu yang sudah basi.

Tapi, beberapa hari lalu saya punya pengalaman yang tidak menyenangkan tenutang susu UHT ini. Seperti biasa, selesai jam bermain di PAUD Alya nagih susu kotaknya. Saya berikan, dan langsung ia sedot. Satu kali sedotan, tumben-tumbenan ia komplain, "Ibu..susunya nggak enak" sambil menyerahkan susu kotaknya. Reflek, segera saya cicipi.. Ternyata kecut. Agak-agak berlendir di lidah. Saya tuang sedikit susu ke lantai..tekstur cairan susu seperti santan yang sudah pecah. 

27 Oktober 2016

Di luar masih gelap. Adzan subuh berkumandang bersahutan dari beberapa masjid di kampung-kampung terdekat. Kalau menuruti keinginan, paling enak tetap meringkuk di bawah selimut. Apalagi kalau di luar hujan, melanjutkan tidur adalah godaan yang sukar dilawan. Tapi realitasnya, ada anak yang pukul 5 pagi sarapannya harus siap. 

Yeah, saya mesti bangun ketika anak-anak dan suami kadang masih terlelap. Ada panggilan tugas rutin sebagai ibu yang menunggu; memasak, menyiapkan dua anak sekolah, sampai kemudian mengantarnya.

Setelah anak-anak sekolah dan suami ngantor, selesaikah semuanya? Oh, tidak! Ada piring-piring kotor, jemuran, dan tetek bengek urusan rumah tangga yang harus dibereskan. Setrikaan, lantai kotor, dapur penuh minyak, cek dan ricek kebutuhan rumah tangga dan memastikan ketersediaan mereka, hingga kemudian tiba saatnya jemput anak-anak,  adalah kesibukan harian saya. Lebih dari 3/4 waktu dalam sehari, saya habiskan di dalam rumah.

21 Oktober 2016

Ilustrasi dari katamotivasi7.blogspot.co.id

Apa kabar Teman?
Perkenalkan, namaku Argo. Lengkapnya Bani Argo. Sekarang umurku 10 tahun, aku duduk di kelas 4 SD. Kata Bapak, Argo artinya gunung, sementara Bani artinya anak. Hi..hi, iya...aku memang anak gunung. Aku, Bapak, Ibu dan Adikku Lani tinggal di Kampung Turgo, sebuah kampung di Punggung Merapi. 


Aku senang tinggal di sini. Temanku banyak, termasuk si Loreng dan Poang. Ha..ha, tahu nggak siapa mereka? Mereka itu sapi-sapi peliharaan Bapak. Setiap pagi kami memerah susu Loreng dan Poang, untuk disetor ke Koperasi. Kalau sudah terkumpul banyak, susu akan diangkut ke pabrik, dan mungkin jadi minuman kalian, anak-anak yang ada di kota.

19 Oktober 2016


Saat kita bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama, destinasi yang cukup jauh, oleh-oleh alias buah tangan menjadi sesuatu yang meski nggak wajib, tapi sering masuk anggaran pengeluaran. Biasanya oleh-oleh dibeli untuk sekedar kenang-kenangan pribadi, berbagi dengan tetangga kanan kiri, atau kadang rekan sejawat di kantornya pak Suami. (Iya...saya kan nggak ngantor)

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat kecewa dengan oleh-oleh yang saya beli. Critanya sepulang dari Lamongan, kalau tidak salah  pas nyampai Ngawi, saya sempat mampir ke sebuah toko oleh-oleh. Waktu itu sudah tengah malam, jadi memang jarang sekali toko yang masih buka. Meski terlihat sepi, akhirnya kami berhenti pada sebuah toko oleh-oleh. Sayang, tidak sempat mengingat nama. Belanjaan tanpa struk juga, karena mbaknya ngitung total belanjaan pake kalkulator. Toko dijaga oleh satu orang bapak-bapak dan satu wanita...mungkin mereka suami istri.

15 Oktober 2016


Sering harus berdamai dengan udara dingin, itu konsekuensi bagi saya yang tinggal di kaki gunung Merapi. Walau begitu, saya tetap bersyukur. Tak semua bisa menghirup udara sesegar yang biasa kami rasakan setiap hari. Toh akses untuk ke pusat kota Jogja tak begitu sulit, paling sekitar setengah jam. Sudah di dukung jalan beraspal halus pula.

Konsekuensi lain adalah curah hujan yang lebih tinggi. Akhir-akhir ini, hampir setiap sore hujan turun. Dampak ikutannya adalah ngelihan atau sering laper..wkk..wkk.

"Cari makan di luar yuk.."

12 Oktober 2016


Sering nemu mobil berstickerkan WBL di kaca belakang kan? Nah..itu titik awal penasaran saya dengan tempat wisata ini. Kayaknya kok keren. Tapi...kok ya jauh. Lamongan, itu artinya sekitar 8 jam perjalanan dari Jogja.

Tapi untungnya..saya punya Pak Lik (Paman, adiknya Bapak), yang tinggal di Lamongan. Ndilalah, kemaren nemu moment yang pas, ngaruhke keadaan Paman setelah pulang Haji, plus Raka sudah kelar UTS. Jadilah kami kunjungan keluarga ke kediaman Pak Lik, plus ngobati penasaran, se keren apakah WBL sesungguhnya?

6 Oktober 2016


Menjadi anak yang "berbeda" dengan saudara kandung yang lain itu kadang berat. Iya, saya berbeda dengan dua kakak laki-laki saya. Sejak awal masuk SD, mereka selalu jadi bintang kelas, sering di kirim lomba antar sekolah, meski dijaman itu belum zamannya olimpiade sains atau lomba-lomba sains sejenis. Sementara saya? Siswa biasa-biasa saja. Bisa masuk 5 besar juga sudah menjelang lulus.

Dua kakak saya memang jago secara akademis. Dan dari lubuk hati yang paling dalam...itu membuat saya minder. Mereka bisa masuk SMA favorit, jadi penghuni kelas exacta, sementara saya? Rutin menjadi peserta remidi untuk ulangan mapel matematika, fisika, dan kimia. Saya ingat, kakak sulung saya sering jengkel dan marah-marah klo ngajari saya mengerjakan PR. Nggak paham-paham dan lemot klo diajari rumus dan hal-hal yang berbau hitungan. Alasan saya waktu itu satu dan teramat sederhana; pelajaran matematika dan IPA, susah dibayangkan. Itu juga yang membulatkan tekad, saya lebih memilih masuk kelas IPS. Termasuk juga karena faktor guru. Saya sudah terlanjur ngeri dengan guru matematika di sekolah. 

Baca juga :
Guru Favorit

Hingga suatu hari menjelang kelulusan orang tua saya, lebih tepatnya bapak berkata, " koe yen ora iso kuliah negeri...ora usah kuliah (kamu kalau nggak bisa masuk PTN, nggak usah kuliah). Walau biaya kuliah diera 90an masih bisa dibilang murah, tapi "gertakan" bapak cukup logis. Alasan utamanya sederhana;motif ekonomi. Bapak hanya petani biasa, sedang dua kakak saya masih berstatus mahasiswa pada PTN yang sama (UGM); satu di MIPA, satu di teknik.

29 September 2016


Sederhana. Lha iya, wong saya bukan ahlinya masak. Nggak begitu banyak tips and trik seputar dunia perdapuran yang saya tahu. Saat gadis, saya pemalas berat urusan masak. Saya makan apa yang di masak ibu aja, hampir tidak pernah reko-reko mbuat atau berkreasi apa gitu di dapur. Kalaupun masak, paling  goreng telur, mie instant, atau ager-ager.

Awal-awal menikah, dapur juga sebatas tempat transit makanan dari warung menuju perut. Sekedar numpang singgah sebentar di dapur. Profesi IRT yang kemudian mengubah semua. Daripada ribet keluarin motor, antri diwarung, akhirnya saya lebih memilih masak sendiri. Lebih hemat, lebih sehat.

Lebih banyak waktu di rumah, akhirnya mengkondisikan saya untuk lebih mengenal tetangga kanan-kiri, lebih bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang. Tapi yang jelas saya bukan sosialita, sekedar penggembira saja. ha..ha.

24 September 2016


Tempat wisata keluarga di Surakarta? Sebagai emak berbocil, pasti pikiran saya langsung ke Taman Jurug, atau Pandawa waterpark. Padahal aslinya kangen pengen wisata belanja di Pusat Grosir Solo atau kalau nggak gitu Pasar Klewer. Tapi tempo hari --pas maen ke tempat adik ipar yang tinggal di Boyolali,  suami ngajakinnya ke Taman Kota Balekambang, Surakarta.

Alasan utama, karena lokasi nggak begitu jauh rumah adik ipar, jadi berribet-macetnya nggak begitu lama. Kebetulan adik ipar tinggal di seputaran Colomadu, sementara taman kota Balekambang berada nggak jauh dari stadion Manahan. Dari daerah Colomadu, sekitar 20 menit perjalanan, dengan kondisi jalan ramai-lancar.

19 September 2016

Hiasan plus barang dagangan
Kampung Flory. Nama yang begitu feminin menurut saya. Melihat banyak tanaman bunga di halaman depan, saya main tebak..mungkin dari kata florist.

Upps..ternyata saya keliru. Ternyata, nama ini diambil dari kata 'flora' yang artinya tumbuhan, karena pada  awal keberadaannya, fokus  tempat ini adalah sentra agribisnis untuk tanaman bunga dan juga berbagai tanaman buah. (Hasil ngobrol dengan salah satu pengelola, tapi bodohnya, saya lupa nanya nama narasumber. Contoh yang tidak patut ditiru, kalo mau nulis  berita)

Berdiri diatas tanah kas desa seluas kurang lebih satu hektar,  latar belakang lahirnya Kampung Flory cukup mulia; mewadahi para generasi muda yang belum mendapatkan tempat di dunia kerja, mengajak mereka untuk lebih mencintai dunia pertanian dan memberikan skill kepada mereka, hingga kemudian usaha ini maju pesat.

16 September 2016


Postingan ini terinspirasi dari chatingan temen-temen di grup WA klo pas Idul Adha. Saya yang banyakan jadi silent reader ...tiba-tiba pengen jadi pengamat.  Dan dari riset dadakan tersebut, lahirlah satu kesimpulan (yang pastinya tidak ilmiah) bahwa  mayoritas teman-teman menjadikan sate sebagai menu pertama masakan beberapa saat setelah daging qurban diserahterimakan. Berarti popularitas sate memang hebat yaa! Jadinya kok penasaran...Ada Apa Dengan Sate ya, kok bisa sedemikian tenar dan mengakar??

7 September 2016

Sumber dari www.pixabay.com
Wuih, sudah September! Itu artinya....bulan depan pak suami ulang taon. Mau ngasih kado apaan yaa...??😊

Di manapun...ulang tahun identik dengan kado. Tidak anak-anak, remaja, bahkan beberapa orang tua. Tujuannya tentu saja agar pihak penerima merasa senang dan terkenang. Hmm..jaman masih belum berbocil dulu, saya dan suami merayakan hari lahir masing-masing dengan saling memberi kado. Tapi akhir-akhir ini..saya akui memang tak pernah lagi, dan cukup menggantinya dengan ritual makan di luar, bareng anak-anak. Tapi saya renungkan ulang, kayaknya kok seru dengan berkado ria ya...

5 September 2016

Sumber gambar: www.e-ktp.com

Diantara banyak warga yang kemudian ribut ngurus e-KTP sebelum program ini ditutup  pemerintah akhir September mendatang, saya salah satu diantaranya.

Apa pasal? Ada kesalahan kecil yang mungkin bisa berakibat merepotkan kalau tidak dibetulkan. Ada kesalahan pengetikan alias typo pada penulisan nama, huruf yang seharusnya i oleh petugas jaman entri identitas dulu di tulis dengan huruf y. Padahal klo dipikir-pikir, wong nama juga pasaran...banyak yang sama, kok ya mesti salah ngetik. Oalah...nasib..😑

28 Agustus 2016

Sesi penimbangan sampah
 
"Bu..jangan lupa, besok pagi Alya bawa sampah ya..untuk ditabung."

"Nabung sampah? Maksudnya?" 

Jujur. Kening saya berkerut mendengar permintaan guru di PAUDnya Alya beberapa minggu lalu.

"Iya.. Nanti setiap hari Sabtu, anak-anak diharap membawa barang-barang yang sudah dianggap sampah di rumah, dibawa ke sekolah. "

"Misalnya?"

"Kertas bekas, botol plastik, atau apapun
benda yang bisa didaur ulang."

"Trus mekanismenya?"

"Sampah akan ditimbang, kemudian akan dipilah-pilah menurut jenisnya. Kemudian akan dihargai, dan itu masuk buku tabungan sampah"

"Tapi secara nominal...pasti sedikit sekali?"

"Iya. Mungkin tidak seberapa...tapi paling tidak dengan cara ini anak-anak akan lebih bijak mengelola sampah. Pertama, anak akan terbiasa menaruh sampah ditempat yang benar. Kedua, ia belajar untuk tidak asal membuang, ..tapi berusaha memilah menurut jenisnya. Yang ketiga, menanamkan niat menabung, yang bisa di daur ulang, pasti akan langsung "diniatkan" untuk dibawa ke sekolah."

"Nanti sampah-sampah yang terkumpul..akan dibawa kemana?"

"Tiap Sabtu siang sudah ada pengepul yang akan membawa semua ini ke tempat pengolahan sampah, dan barang-barang bekas"

"Oo.." saya sekedar manggut-manggut. Ini tho BSE, Bank Sampah Edukatif yang katanya sudah dijalankan sekolah setahun terakhir. Baguslah kalau begitu.
***

23 Agustus 2016





"Ibu..aku mau dibelikan jam tangan baru, soalnya jam dinding yang di kelasku rusak. Nggak tau kenapa belum dibenerin sama bu guru. Tapi pengennya aku jam yang kayak punya Ditto itu..."


Tiada angin, tiada hujan  dan tiba-tiba si sulung merajuk minta jam tangan baru. Alasannya sih katanya karena jam dinding di sekolah rusak. Tapi kayaknya modus juga, pengen tampil lebih modis di sekolah. Nambah  list kebutuhan kan jadinya. Memang sih, tidak se-urgent beli beras atau obat di kala sakit, tapi jam tangan baru, sepertinya dia memang memerlukan. Oke, diantara deretan panjang kebutuhan...sepertinya saya mesti meng-insert-kan sebuah jam tangan anak. Lalu tentang embel-embel "seperti punya Ditto...?"

19 Agustus 2016

Pesan yang dalam. Saya dapatkan dalam perjalanan dari bangunan candi ke dua menuju kelompok candi ketiga


Bagi warga Semarang dan sekitarnya, tentu mereka  sangat familiar dengan keberadaan candi Gedong Songo; candi peninggalan kebudayaan Hindu yang berlokasi di Desa Candi, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah.  Diantara beberapa lokasi wisata, candi ini pantas dijadikan primadona karena daya tarik yang dimilikinya. Saya yang notabene warga luar Jawa Tengah pun, rasanya nggak bakalan bosan seandainya suatu saat nanti bisa kembali menikmati keindahan alamnya.


Menurut saya, ada beberapa alasan masuk akal yang membuat kompleks wisata ini selalu ramai pengunjung, terlebih di hari libur:

1. Harga tiket masuk yang relatif murah

Harga, bagi saya tetap hal yang sensitif. Sebagus apapun tempat wisata...seandainya harga tidak terjangkau atau membuat kantong jebol...saya milih mundur teratur.  #PenganutPahamIritologi. Nah..bagi yang sepaham, nggak perlu khawatir, untuk bisa meng-eksplore keindahan alam di kawasan kompleks candi Gedong Songo, pengunjung hanya dikenai tarif masuk seharga Rp.7500/ orang. Sementara anak berusia dibawah 5 tahun, belum dikenakan tarif. Hemat kan!?

17 Agustus 2016

Lama blog ini nggak di isi postingan tentang Pantai. Liburan nggak pernah ke Pantai? Nggak juga sih...masih seneng juga kok pagi-pagi dibela-belain bangun dinihari...untuk bisa mencium aroma udara pantai di pagi hari. Cuma biasanya suami yang males klo nyoba rute-rute baru, akhirnya ya cuma seputaran pantai terdekat di Kulon Progo, atau Pantai Baron-Krakal-Kukup-Drini di Gunungkidul.

Ke Ngrenehan dan Ngobaran yuk! Request saya ke suami. Anak-anak yang belum pernah ke dua pantai tersebut langsung ribut, dan bersorak.."horeee...mau cari ikannnn...!". Sedikit info, Ngrenehan dan Ngobaran merupakan pantai yang terletak di sisi barat Gunung Kidul, tepatnya di Kecamatan Saptosari. Dua pantai ini memang hanya bisa di jangkau dengan kendaraan pribadi, dengan jalur melewati kota wonosari, atau bisa melewati jalur selatan (Parangtritis ).

Dengan pertimbangan jalan yang lebih ramai (soalnya berangkatnya pagi), kami memilih lewat jalur Jogja-Wonosari. Nggak nyesel lewat jalur ini, bahkan kami sempat berhenti sejenak menikmati Bukit Bintang, yang pagi itu di selimuti kabut tebal.

Bukit Bintang; Negeri di atas awan

13 Agustus 2016



Topik lumayan basi sebenarnya...tapi, sekedar opini boleh lah..

Beberapa hari, saya memang tidak memantau medsos yang ramai pro-kontra tentang isu hangat yang dilempar pak Menteri Pendidikan terkait sekolah seharian alias  full day. Pertama tahu tentang ini, juga gara-gara running text ditengah tayangan ipin-upin atau kalau nggak gitu Super Dede (tv dirumah banyak dibajak anak-anak). Dan begitu wacana itu dilempar publik..saya langsung mbatin..aduh ini apa lagi sih, masalah penerapan kurikulum saja masih mbingungi...ada yang make Kurtilas, ada yang KTSP..ini sudah mau ganti tema lagi...

5 Agustus 2016



Tahun ajaran baru ini, gadis cilik saya, Alya mulai masuk Kelompok Bermain. Sebelum masuk, semangatnya untuk bertemu dengan lingkungan, teman-teman baru, begitu membara. Heboh pokoknya. Pagi hari menjelang berangkat...masih full senyum. Sampai di sekolah...bayangannya (sepertinya) adalah bebas bermain prosotan dan ayunan seharian, tanpa aturan, tanpa gantian, dan ditunggui ibunya.

"...kami mending anak-anak nangis diawal..daripada nanti-nanti, dan mereka tidak segera belajar  mandiri. Nggak apa-apa anak-anak nangis. Keluar dari zona nyaman itu memang perlu adaptasi" Begitu kata  salah satu ustadzah (guru), tentang kebijakan sekolah, kalau anak-anak lebih baik langsung ditinggal, tanpa ditunggui. Ada toleransi, anak-anak bisa ditunggu maksimal 7 hari pertama.

24 Juli 2016

Ruang tunggu pengambilan obat terlihat ramai. Sembari, duduk dikursi panjang yang disediakan pihak klinik, Dimas mengurut-urut perutnya yang berasa di tusuk-tusuk. Badannya lemas. 

Sesungguhnya ia merasa lapar, ingin makan udang asam manis masakan ibu, tapi perutnya terasa mual. Sudah lebih dari 8 kali ia buang air besar hari ini, dan juga muntah-muntah. Ia ingat kata dokter barusan, saat ibunya bertanya tentang penyakit Dimas.

"Salah makan. Nanti saya beri obat untuk 3 hari, insyaalloh akan sembuh. Obat bisa dihentikan begitu keluhan hilang," Begitu dokter Wikan menjelaskan. 

Ingatan Dimas langsung tertuju pada liburannya kemarin.
**
Yess! Dimas bersorak begitu ayahnya mengijinkan sisa libur lebaran dihabiskannya dengan menginap di rumah kakek- nenek. Lumayan, 3 hari..bisa bersenang-senang dengan Mas Desta nanti. Mas Desta adalah kakak sepupu Dimas yang tinggal tak jauh dari rumah kakek dan neneknya Dimas. 

"Hore...aku bisa bebas....!  Aku bisa bermain sepuasnya di rumah nenek. Kakek juga pasti akan menyembelih seekor ayam untuk laukku. Yang pasti, nggak ada ibu yang suka melarang aku."

15 Juli 2016

"Ibu...aku bajunya yang ada sakunya...soalnya nanti klo salim (salaman maksudnya), sering dikasih uang..."



Spontan saya ngakak mendengar permintaan polos Alya beberapa hari yang lalu, sebelum kami berangkat silaturahmi lebaran ke tempat para budhe-pakdhe dari pihak suami. Usia belum genap 4 tahun, ternyata cukup kreatif juga permintaannya... Padahal Alya mah belum ngerti nominal uang..yang penting berlembar-lembar, udah seneng dia 😀

5 Juli 2016

Ramadhan mendekati ujung. Tampak begitu banyak kendaraan yang menjejali parkiran pada sebuah tempat makan yang berada di kawasan Sendangrejo, Minggir, Sleman.


"Maaf.. untuk gubuk sudah penuh. Dengan kursi saja ya.. Di gubug bulat masih banyak kursi tersedia", seorang waitres menyambut kedatangan kami dengan ramah.


" Ya udah, nggak apa-apa mbak,"

Seorang waitres yang lain kemudian mengantarkan kami menuju tempat yang dimaksud. Biasa lah..bawa anak kecil, kalau ada fasilitas yang bisa lesehan, kami milih makan beralas tikar saja. Anak-anak akan lebih leluasa bergerak. Tapi apa mau dikata, rupanya kami datang kesorean. Tempat-tempat makan di penghujung puasa sepertinya lagi pada rame, termasuk Gubuk Mang Engking sore ini.

29 Juni 2016


Pic dari www.unsplash.com

Sebelas tahun bersama, sepertinya cukup untuk mengerti sifat masing-masing dari kami. Seperti sepasang sandal kanan dan kiri, selayaknya kami harus saling melengkapi. Suami saya sangat pendiam, kurang romantis, tapi paling tidak, ia laki-laki yang bertanggungjawab terhadap keluarga. Sebuah cerita mengharukan, masih saya ingat betul...meskipun kejadiannya sudah lebih dari 3 tahun silam.

Semuanya berawal ketika sulung saya demam. Waktu itu ia masih berusia 5,5 tahunan. Sudah dua kali ke dokter umum terdekat, dan tidak juga membaik, akhirnya suami melarikan Raka ke sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Saya, di rumah bersama Alya yang waktu itu masih bayi 2 bulan. Tidak ada saudara yang bisa kami titipi bayi, karena kakak-kakak dan orang tua berbeda kabupaten. Tangis saya pecah ketika via telp suami mengabari, sulung saya harus opname.

16 Juni 2016


Kalau sudah jadi Emak-emak gini..ramadhan rasanya cepet. Tau-tau udah sampe tengahnya aja. Ha..ha, kenapa yaa?😀

Anyway, ini ramadhan pertama bagi sulung saya puasa sehari penuh. Dua ramadhan kemarin, masih puasa setengah hari. Kemarin-kemarin sih alasan kami, masih kasihan aja, takut badannya tambah kurus cungkring. Meski ramadhan tahun ini badan Raka masih tinggi-langsing, meski ayahnya aslinya belum tega, saya sebagai ibunya mesti tega. Udah 9 tahun juga, walau itungannya belum baligh, tetep kudu latihan puasa wajib. Dan mendekati setengah perjalanan ramadhan, alhamdulillah puasa Raka full, belum bolong. Ada drama-drama awal-awal puasa? Woo..ya jelas. Sempat mengeluh pusing di hari pertama, dan langsung sembuh begitu makan dan minum anget. *jadikesimpulannyapusingkarenalapardoang.

Permasalahan berikutnya, susah bangunin saat sahur. Itu pasti, kadang ngunyah nasi sambil mata merem. Untung ada Superdede di tv yang bisa nolong mbuka matanya, meski kadang efeknya jadi lupa sama piring-nasi alias ndomblog!😇 dan tau-tau Imsaakkkk...!! Dan penyelamat berikutnya adalah sereal yang jingle iklannya ğŸŽ¶minum makanan bergiziğŸŽ¶

13 Juni 2016

Masjid yang 25 tahun pertama menemani hidup saya, sebelum akhirnya pindah domisili ikut suami

Masjid=bengkung? Tentu saja tidak. Mereka benda yang berbeda, posisi yang tak sama, tapi menurutku ada kemiripan antar keduanya. Namanya Baiturrahman, dan masjid ini berdiri kokoh diantara  ratusan hunian ummat pedesaan,   pada salah satu kampung di Kabupaten Bantul.

Seperti bengkung ibu yang panjang, masjid ini pun pasti memiliki sejarah yang panjang. Berawal dari bentuk bangunan yang paling sederhana, beberapa kali renovasi hingga bentuk bangunan yang seperti saat ini, kata Bapak, usianya sudah bukan angka puluhan lagi, tapi sudah ratusan tahun.

Ibu selalu menyematkan apa yang ia punya ke dalam bengkung; bak kantong ajaib Doraemon yang bisa menyimpan apapun. Sama dengan fungsi masjid di kampung ini: serbaguna. Di sini lah puluhan anak mengenal huruf Alqur'an untuk pertama kali, bersujud menghadap-Nya 5 kali sehari,  memperdalam ilmu agama bersama Pak Kyai, dan bahkan ketika ada berita dukacita pun, masjid inilah pusatnya informasi.

Tadarus, adalah salah satu kegiatan di masjid ini saat ramadhan

Seperti bengkung yang tiap hari setia melilit di pinggang ibuku, bagi masyarakat desa, masjid adalah tali pemersatu. Di sinilah mereka tiap hari akan bertemu, menjalin relasi vertikal dengan-Nya, dan juga menjaga hubungan sosial antar sesama warga.



Catatan: bengkung, adalah kata lain dari stagen, yakni sabuk kain berukuran panjang, biasanya digunakan perempuan Jawa untuk mempertahankan kesingsetan pinggang ataupun mempererat lilitan kain jarit pada tubuh. 




Jumlah kata : 204 kata


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis: 1001 kisah Masjid



 

7 Juni 2016





"Aku mau ganti ponsel yang ada kameranya"

"Memang yang lama rusak?"

"Belum sih. Tapi hampir semua teman di kantor ponsel nya  pake kamera"

"Lha...kan yang itu masih masih bisa dipakai"

Obrolan antara saya dengan suami ini sudah terjadi lebih dari 9 tahun silam, tapi saya masih ingat. Wong tau istri mau lairan...lha kok malah kepengen ponsel baru, pake kamera segala..harganya kan pastinya lebih mahal. Bukankah ada kebutuhan yang lebih urgent? Kenapa dana tidak dipakai untuk persiapan proses kelahiran anak saja?

Belum ada kesepakatan, eh...tiba-tiba suatu siang suami saya menghilang. Ternyata ia menukartambahkan ponsel lamanya, dengan GSM baru yang dilengkapi fitur kamera. Oalah..yang hamil saya, kok ya yang ngidam  ponsel berkamera suami tho yaaa.. Gara-gara itu, saya sempat mogok ngobrol sama suami, beberapa hari saya milih diem. Berantem.

5 Juni 2016


Hati perempuan itu terluka. Ia butuh  pelarian untuk mengobati perih  hatinya. Untung saja ia masih ingat Tuhan, hingga tak lantas berlari ke rel kereta, atau meminum obat tidur 4 butir sekaligus. Ia masih sholat, masih bisa sesekali tertawa, meski canda akhirnya menjadi langka. Justru ia melangkah memasuki sebuah toko buku, berlama-lama di sana.

Biasanya, ia pergi hanya untuk kepentingan buku-buku kuliah. Tapi hari ini ia ingin sesuatu yang lain. Sebuah buku mungil yang terdisplay di rak , menarik perhatian gadis itu. Ia buka lembar-perlembar, hingga tanpa sadar telah melumat halaman demi halaman, bahkan sampai halaman terakhir. Benar, rupanya perempuan itu terpesona kata demi kata dan cerita yang mengalir darinya.


Enam tahun setelah perpisahan kita
Tujuh dua bulan terpuruk menjerembab kabut
Lima ratus empat pekan melayap bersama angin malam yang menjelaga
Membekap bintang-bintang dalam kelam
Tik tok jam di malam kelahiran
Membuncahkan perasaan
Meradang sukma ini
Dua ribu seratus enam puluh mata hati
Luruh berkalang tanah
Kangenku membentur dinding kenyataanmu

Barangkali itu sebabnya,

Surat-suratmu masih saja indah kubaca

Bagai ricik kali dan taman bunga 
Di padang tandus cintaku

(Wahyudi, Surat Cinta Pupa: 93, Penerbit bukulaela, Yogyakarta, 2002)


Dan gadis yang jatuh cinta pada buku mungil itu adalah saya, lebih dari sepuluh tahun silam saat menenemukan "Surat Cinta Pupa" (SCP) pada sebuah toko buku, di kawasan Gejayan Jogja. Aslinya, dibaca di tokopun juga pasti kelar, karena buku ini mungil. Tapi karena sudah jatuh cinta akhirnya tetep saya bawa ke kasir. Untung nggak mahal untuk ukuran saya yang kala itu masih berstatus fresh graduate tapi masih pengangguran. Sampai sekarang, ini satu-satunya buku kumpulan surat yang saya punya. Bisa  senyum-senyum sendiri saat ingat cerita dibalik termilikinya buku ini.

Jujur, pertama tertarik karena tokoh dalam buku ini, namanya mirip-mirip mantan. (Lebayyyy  kan...ah, tapi harap maklum, orang dulu statusnya masih perempuan labil). Sekarang mah,  mau ada 10 nama yang sama cuek aja! Ha..ha. Trus kedua, buku ini berkisah tentang patah hati alias ditinggal pacar. Bodohnya saya, harusnya klo putus, segera move on...cari penyemangat, buku motivasi atau apa...ini malah nggak, cari tempat lari yang senasib...biar berasa ada teman.. Ketiga, karena kata-kata didalamnya dalam...romantis...plus melankolis. Ah..suka pokoknya! Sedikit cuplikan dari isi buku Surat Cinta Pupa yaa..


Dear Wahyudin
Yud,

Kejadian kemarin

semua seperti mimpi

yang memalingkan makna hari-hari

Pupa seperti telah kehilangan sesuatu

Tapi insya Allah, 

ada banyak "hikmah" di balik itu.

...............

[cerita selanjutnya, tunggu Pupa di Yogya]

...............

InsyaAllah, Pupa pulang hari Kamis (5/9) berangkat pagi, kalau nggak, mungkinm malamnya.
Itu saja,


Mea Culpa

(Surat Cinta Pupa, halaman 86)


Ditulis oleh Wahyudin, seorang penulis Jogja. Surat Cinta Pupa berisi kumpulan surat seorang gadis kepada sahabat (atau pacar?). Berkisah tentang kisah Yud-Mea Culpa (yang kemudian dipanggil Pupa). Keduanya berlatar belakang sebagai mahasiswa-mahasiswi IAIN Sunan Kalijaga di era tahun 96-an, ngekost, dengan semua latar belakang kejadiannya di Jogja semua. Jadi ngerasa deket dan bisa bayangin sambil mbaca. Jadi, SCP itu fiksi atau non fiksi entahlah. Sepertinya kisah pribadi yang kemudian dibukukan, dengan sedikit polesan. 

Salah satu halaman dalam SCP

Kecil, mungil..tapi buku ini punya sejarah. Tidak seperti kenangan sang mantan yang sudah saya buang jauh, namun buku ini masih saya simpan sampai sekarang. Sayang kalau ikut-ikutan dibuang. Teman blogger punya buku "bersejarah" juga? Bagi yuk di kolom komentar :-) Oh..iya, buat pecinta buku, jangan lupa yuk ikutan giveway for booklover di blognya Anne Adzkia. Info lengkapnya ada di sini.