26 Agustus 2015

(Masih) Banyak Ubur-ubur di Pantai Selatan Gunung Kidul

Diantara banyak tempat liburan asyik di Jogja, akhir-akhir ini yang lagi booming adalah obyek wisata baru di seputaran Gunung Kidul. Kalau 1 dekade silam Gunung Kidul identik hanya seputaran Baron-Krakal-Kukup-Sundak saja, saat ini makin banyak pilihan yang disajikan. 

Yang senang bercengkrama dengan stalaktit dan stalakmit, ada Goa pindul. Yang hobi dengan air terjun, ada Air Terjun Sri Gethuk di wilayah Playen. Tak jauh dari wilayah ngoro-oro Pathuk yang awalnya hanya di kenal sebagai "rumah" para BTS para operator seluler dan stasiun relay tv-tv nasional maupun lokal, kini ada Gunung Api Purba Nglanggeran yang menantang untuk ditaklukkan.

Yang hobi nge-pantai? Weis, tambah banyak pilihan! Tinggal pilih mau mampir ke pantai mana. Belakangan ini, paska Pantai Pulang Sawal (di kenal dengan pantai Indrayanti) maju dan berkembang pesat berkat sentuhan investor swasta, masyarakat lokal seakan berlomba-lomba untuk membuka jalur baru, dan mengembangkan potensi-potensi wisata pantai di Gunung Kidul ini. Sekarang ini telah lahir beberapa pantai baru, sebut saja Sadranan, Pok Tunggal, Sepanjang, dan juga Slili. 

Percepatan pembangunan kerasa banget di jalur-jalur utama menuju pantai. Kalau dulunya daerah-daerah seputaran pantai hanyalah perbukitan kapur yang kering dengan pohon jati di sana-sini, sekarang banyak penginapan-penginapan, resto-resto bernuansa alam yang tengah dalam taraf pembangunan. Kalau prediksi saya, 5 tahun lagi gunungkidul akan manglingiatau bikin pangling! 

Kok tiba-tiba ngomongin Gunung Kidul dan pantai-pantainya? Semuanya berawal dari.......

"Ibu..aku mau ke Pantai, mau nyari ikan.. kangen e".... Tiba-tiba Alya yang lagi bangun tidur siang beberapa hari lalu request untuk ke pantai.

Memang sih...cukup lama kami ndak main ke Pantai, ada saja acara kalau pas Minggu. Kadang syawalan, njagong manten, beres-beres, nyari perlengkapan sekolah, atau lainnya. Satu lagi, pas liburan sekolah sama lebaran kemaren, kami sering baca via media juga kalau jalur pantai selatan lagi musim ubur-ubur. Banyak wisatawan yang harus dilarikan ke puskesmas atau rumah sakit karena sengatannya. Ngerii kan...? 

Berharap musim ubur-ubur telah usai ( karena pemberitaan media sepertinya sudah reda)...akhirnya Minggu kemarin, kami memenuhi permintaannya Alya...pagi-pagi, sehabis sholat subuh mruput ngacir ke Gunung Kidul. Biar sampai sana pas udara masih segar, dan sinar matahari juga masih hangat. Tujuan utamanya adalah pantai Krakal --pantai yang masih sejalur dengan pantai Baron dan Kukup. Dari pintu masuk pantai Krakal nantinya kami mau mencoba pantai Slili dan juga Sadranan. Krakal-Slili-dan Sadranan secara lokasi memang berdekatan, jadi bisa dijangkau dari satu tempat parkir sekaligus. Sekitar pukul 6.30 kami sudah menapakkan kaki di hamparan pasir putih pantai Krakal. Minggu pagi, suasana masih cukup sepi, hanya ada satu-dua pengunjung lain . Rupanya pantai tengah surut....dan beginilah penampakannya.

pantai surut
pantai yang tengah surut
jernihhh 😊😊
.
Anak-anak yang sejak awal sudah niat banget berburu ikan hias dan berbagai satwa laut, kontan jejingkrakan, senang sekali! Air surut, artinya akan mempermudah mereka menangkap ikan-ikan mungil yang terjebak dibebatuan karang. Eh...tapi meskipun sering melihat gerombolan ikan hias berlarian...tapi tetap susah juga nangkapnya. 

Hinga kemudian seorang bapak-bapak penduduk sekitar mendekati kami..... "Ampun ngantos nyekel biru-biru niki.... Niki penyakit, memolo....angel tombonipun" ( Jangan sampai menyentuh yang biru-biru, ini penyakit, berbahaya....kalau sampai kena obatnya susah). Oalah....ternyata ubur-ubur laut itu seperti ini tho bentuknya..... **bener, baru ngerti kemarin....dulu kemana ya kalo pelajaran biologi?

ini dia ubur-ubur laut, mirip Jelly
Bentuknya memang menarik, apalagi dimata anak-anak, mirip-mirip balon soalnya. Setelah itu, saya langsung warning ke Raka dan Alya...harus lebih hati-hati. Selalu lihat ke bawah, dan menjauh bila nemu ubur-ubur. Konon, musim ubur-ubur ini sudah berlangsung beberapa bulan, dan biasanya akan berakhir pada bulan September. Dan memang benar, sepanjang kami menyusuri Krakal-Slili, ratusan ubur-ubur yang kami temui. Kadang di beningnya air, banyak pula yang sudah terdampar di hamparan pasir...


Bisa dijangkau dengan jalan kaki dari pantai Krakal


Trus acara ke Sadranannya? Awalnya pengen juga ke pantai yang letaknya persis di timur Slili ini. Pantai Sadranan terkenal dengan fasilitas snorklingnya, tapi berhubung ngeri dengan sengatan ubur-ubur....pending saja dulu. Kapan-kapan lagi, kalau ubur-uburnya dah pada pergi... So, pesan saya kalau ada yang punya agenda mau nge-pantai di Jogja, nikmati saja...tapi jangan lupa ekstra hati-hati, terutama yang berencana bawa anak kecil. Atau kalau mau lebih amannya, cari alternatif lain dulu saja...daripada kenapa-kenapa. Ya nggak?

20 Agustus 2015

Semarak 70 Tahun Merdeka

"Jaman sekarang itu sudah enak.... sudah tidak ada rakyat pakai celana goni....makan singkong sebagai menu sehari-hari....sudah tidak ada lagi cerita harus lari pontang-panting menyembunyikan diri masuk ke tumpukan jerami saat ada "capung" di udara.... " 
( Petikan obrolan dengan seorang veteran, beberapa tahun silam)


Terimakasih pahlawan, dan para pejuang Indonesia. Untuk sekedar membayangkan seandainya saya hidup di era sebelum teks proklamasi di kumandangkan, saya kok sudah ngeri. Sengsara, berat, dan berdarah-darah. Sadar atau tidak, perjalanan panjang selama 70 tahun belakangan, apa yang kita kenal sebagai pembangunan telah mengantarkan kita ke era dengan berbagai macam kenyamanan dan kemudahan. 

15 Agustus 2015

Refleksi 70 Tahun Indonesia Merdeka; Menunggu Era Bangkitnya Lagu Anak-Anak,

Prihatin atau seneng ya...kalau ponakan yang tinggal di sebelah rumah seneng nyanyi. Duduk di depan pintu, nyalain musik via hape kakaknya, trus ikutan berdendang. Senengnya....yaa, kali aja ada bakat seni. Prihatinnya...lagunya itu lho...lha kok "cinta satu malam", padahal umur juga masih 5 tahun-an. 

Untung anak-anak saya belum ketularan virus nyanyiin lagu-lagu dewasa. Kalau Raka, kayaknya memang nggak suka nyanyi semenjak SD ini. Adiknya saja yang sudah mulai kemayu..senengnya niruin lagu sambil joget-joget. Untunglah, sampai hampir menginjak usia 3 tahun ini, selera Alya masih tertib. Sepanjang yang saya dengar, meski kadang pelafalan dan nada jadi jauh dari versi aslinya...tapi masih di jalur lagu anak-anak.

Ini alya nyanyi..micnya pake mainan

11 Agustus 2015

Ngrumpi Pagi-pagi Tentang Sapi

Nyimak berita TV... salah satu hot issue belakangan ini adalah harga daging sapi yang terus naik di beberapa wilayah, hingga para penjualnya yang milih duduk-duduk santai alias mogok berdagang.Dalam skala besar, mungkin akan banyak yang dirugikan atas musibah ekonomi ini. Para pedagang daging yang awalnya beromzet ratusan ribu hingga jutaan rupiah, jadi malas jualan lagi karena stok daging susah dicari, kalaupun dapat, nanti jarang pembeli. 

Sebagai turunannya, ribuan pedagang bakso, soto, dan aneka kuliner lain yang berbahan dasar daging sapi mau nggak mau akan merasakan akibatnya pula. Paling-paling akan menaikkan harga jual, menurunkan kualitas, ataupun mengurangi kuantitas. Yaa...yang penting tidak mengganti bahan baku mereka dengan jenis daging-daging yang lain ( babi misalnya, atau paling ekstrim tikus sawah * efek keseringan nonton reportase investigasinya transtv)

8 Agustus 2015

4 Agustus 2015

Yaqawiyyu; Harmonisasi Tradisi Dan Wisata Religi

Berbicara tentang tradisi Jawa yang sampai saat ini masih terus lestari, ingatan saya langsung terkenang pada sebuah cerita bapak yang sering diulangnya berkali-kali waktu saya kecil. Cerita tentang perjalanannya bersepeda onthel bersama salah satu kakek (almarhum) menuju Jatinom Klaten, demi melakukan sholat Jum'at di sana, dan menyaksikan tradisi Yaqawiyyu


Jatinom merupakan salah satu kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Klaten, Jawa tengah dan terletak berada pada jalur utama yang menghubungkan antara Kabupaten Klaten dan Kabupaten Boyolali. Sejarah mencatat, ratusan tahun lalu, di wilayah tersebut hiduplah seorang penyebar Islam bernama Wasibagno Timur, yang konon merupakan cucu dari Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit, yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Gribig.
Diberdayakan oleh Blogger.