31 Maret 2015




Brrr...dingin! Meski sepertinya sudah memasuki musim pancaroba, tapi beberapa hari terakhir, hampir setiap petang kawasan Jogja utara diguyur hujan. Hawa dingin, kok kayaknya kompakan ma perut ma mulut yang minta diisi (lagi). Paling pas ada cemilan yang kriuk-kriuk, atau anget-anget nikmat. Lengkap lagi, ditemani segelas teh hangat, atau panas mengepul sekalian. Mantap!! 

Ngomongin tentang wedang sejuta umat alias teh, belum lama ini saya "berkenalan" dengan Teh Jamus. Ketemunya juga tidak sengaja, gara-gara dibawakan suami, dari seorang teman asli Magetan yang barusan mudik. Terus terang, nama teh Jamus masih asing bagi saya, karena selama ini merk teh yang saya tahu ya yang itu-itu aja, yang banyak dijual di warung-warung, toko, atau diiklankan di televisi. Menilik kemasannya, Teh Jamus cantik juga, terbungkus kotak dos layaknya beberapa merk teh celup * padahal ini bukan teh celup lho. Satu kemasan teh kecil, berisi 40 gram daun teh kering. Untuk keluarga kecil seperti kami, meski mungil, tapi bisa untuk berhari-hari. 

Saya bukan termasuk pecandu teh maupun kopi. Meminum keduanya juga jarang, kalau kepengen saja. Selebihnya lebih memilih air putih. Tapi, dengan Teh Jamus ini saya langsung penasaran ingin mencobanya. Di luar kemasan, terpampang dengan jelas TEH JAMUS ALAMI, KHAS RASA KOPI (TANPA KOPI). Walah...teh dan kopi kan jenis tanaman yang berbeda, kok bisa menyatu tanpa bertemu ya? Tanpa banyak menunggu, bisa dibayangkan kan adegan yang terjadi berikutnya? Seduh teh dengan air panas, tambahkan gula...dan nikmati aromanya! Bukan lagi wanginya melati seperti kebanyakan teh, tapi yang mampir di hidung saya benar-benar aroma khas kopi. Dari segi warna, tak banyak berbeda, coklat sedikit kehitaman. Tentang rasa? Serasa minum kopi beneran! Padahal yang saya seduh kan daun teh...Jadilah teh-kopi yang NasGiTel. Panas, legi (manis), dan Kentel! 

Setelah mencicip nikmatnya, penasaran juga untuk tahu lebih dalam tentang teh ini. Ternyata oh ternyata, daun kering kecoklatan ini berasal dari perkebunan teh Jamus, perkebunan teh ternama di daerah Ngawi, Jawa Timur. Di produksi oleh KopKar.Sumber Candi Loka Kebun Teh Jamus, teh ini dihasilkan dari pucuk pilihan pohon teh yang sudah berumur ratusan tahun. Hmmm...apa ini ya yang membuat Teh Jamus ini berasa kopi? Mungkin kah ada korelasi antara umur pohon teh dengan kandungan kadar kafein? Mungkin saja kan kadar kafein yang terkandung dalam daun teh pohon "tua" ini mendekati kadar kafein kopi, hingga menjadikan rasa dan aroma mereka benar-benar mirip? Andai suatu hari kami main sampai Ngawi, pengen sekali melihat produksi teh Jamus dan mencari tahu jawaban dari rasa penasaran saya ini. 

Selain rasanya yang unik, ternyata teh ini juga menyimpan kelebihan yang lain, yakni diolah tanpa menggunakan bahan kimia. Meski begitu, seduhan teh yang belum dicampur gula tetap tidak basi, meski telah tersimpan selama 2 hari. Asyik ya! Tapi sedihnya....kenapa ya, teh ini tidak di jual bebas di pasaran saja? Nah, klo ada yang ngasih gratisan atau oleh-oleh kayak saya, lumayan. Tapi gimana dong untuk para pecinta teh yang udah kebelet pengen nyicip? Dari hasil tanya sana-sini, rupanya Teh Jamus rasa kopi bisa didapatkan di daerah perkebunan Jamus, Ngawi atau bisa dipesan secara on line di beberapa reseller. Perkebunan Teh Jamus, tunggu kedatangan keluarga kami ya!! :-)

28 Maret 2015

(Bagun tidur, ucek-ucek mata....liat kalender)

Hah.....sudah akhir bulan! Trus...April.....trus Mei...., Wow...10 tahun! Apanya coba?? Hi...hi, di tanggal 4 Mei mendatang, saya genap 10 tahun menyandang predikat sebagai Istri. Iya, Istri dari suami saya dong, ayahnya Raka dan Alya :-) Wong sudah hampir sepuluh tahun, ya tentu saja banyak suka dan duka dialami. Kerikil-kerikil tajam menghadang? Tentu saja ada, tapi berhasil kami tendang. Kalau topan dan badai, untung sejauh ini belum kami temui...hi..hi:-) Seperti halnya keluarga yang lain, keluarga kamipun penuh warna, seperti pelangi. Kadang ragamnya warna itu memang menjadikan sandungan, tapi adakalanya pula ia justru menjadikan rumah tangga yang kami bina merekah merona.

Gambar dari rjsyahrulloh.blogspot.com 

Tahu sosok diatas? Bagi yang mengalami masa kecil di era 80-an, mungkin kenal dengan aktor Tetsuo Kurata, alias Kotaro Minami atau si Ksatria Baja Hitam. Saya yang saat film itu diputar di televisi masih SD, (saat itu) bisa menilai bahwa ia lah laki-laki paling cakep yang pernah saya lihat. Maklumlah anak-anak, indikator yang dinilai pertama ya pasti fisiknya. Gara-gara si Kotaro Minami ini pula, saat sudah ABG pernah bercita-cita suatu hari nanti, seandainya saya punya pacar lantas bersuami haruslah seganteng dan segagah Si Ksatria Baja Hitam ini.
Nah, kalau yang ini, suami saya. Secara fisik, memang tak mirip dengan Kotaro Minami. Tapi paling tidak dalam beberapa hal, ada kesamaan antara Ksatria Baja Hitam dengan suami saya, misalnya sama-sama berjenis kelamin laki-laki, , baik hati, setia, tidak sombong, rajin menabung selalu siap siaga saat saya ataupun anak-anak membutuhkan pertolongan. Bukannya itu salah satu visi dan misi hidup berumah tangga? Saling bantu, bahu-membahu menghadapi kesulitan yang ada bersama-sama :-) Wah, Nggak kebayang seandainya cita-cita saya mendapatkan suami se level Tetsuo Kurata tercapai, pasti yang terjadi adalah saya yang ngambek tiap hari gara-gara jealous :-)



Kembali ke topik saya dan pasangan, ibarat benda, saya bisa mengandaikan relasi saya dan suami sebagai sepasang sandal kanan dan kiri. **ihik, kasian amat...diumpamakan sandal. Atau kalau dalam bahasa Jawa ada pepatah tumbu oleh tutup. Sedikit berbeda bentuk, tapi akan mencapai fungsi yang maksimal ketika berjalan beriringan. Saya adalah pribadi yang lebih mengutamakan kecepatan, sering kali ceroboh, nggak tlaten, sering lupa kalau naruh sesuatu....eh, kok ya berjodoh dengan laki-laki yang sangat-sangat teliti, memperhatikan sesuatu secara detail, jadinya seimbang kan? Kalau saya lupa, ada yang bisa mengingatkan :-)

Suami saya adalah tipe orang yang begitu terprogram dan sistematis. Ibaratnya mau jalan-jalan saja, dari rumah sebelum berangkat sudah dipikirkan rutenya, berapa lama di sana, kira-kira pulang jam berapa. Sementara saya, tipe orang yang "mengalir"..hal-hal yang bisa dipikirkan sambil jalan, sambil jalan saja. Kalamaan mikir, ujung-ujungnya malah gak jadi dikerjakan, gatot alias gagal total. Nah, dalam praktek kehidupan rumah tangga yang sebenarnya, sepertinya dua kebiasaan yang berbeda tadi bisa dipadu-padankan, biar seimbang. Itu pula yang juga kami usahakan. 

So, poin dari semuanya apa? No body's perfect! Saya dan suami adalah manusia biasa, sama sekali tak sempurna, dan memang berbeda. Dipersatukan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari perbedaan-perbedaan itulah, justru kami bisa belajar. Masing-masing dari kami harus mampu menyesuaikan dengan ritme dan kebiasaan masing-masing, untuk bisa tetap menjadi sepasang sandal. Berjalan beriringan, mengantarkan anak-anak ke gerbang masa depan.

 Tulisan ini diikut sertakan dalam GA Rahasia Hati Suami

24 Maret 2015



Beberapa bulan yang lalu, saya merasakan mulut dan tenggorokan saya bermasalah. Ada semacam bisul kecil terletak persis di bawah lidah. Kadang mengecil, dan kalau saya nekad makan gorengan agak banyak, maka dipastikan si bisul akan membesar, meradang, memerah, dan perihhhh! Persis seperti perihnya saat sariawan. Kalau sudah begitu, bisa dipastikan kelenjar yang berada di bawah rahang kiri saya akan membengkak. Sungguh tak nyaman! 

Karena biasanya kumat disaat saya over makan sesuatu yang berminyak, akhirnya saya membuat diagnosa sendiri...mungkin kena panas dalam atau kurang vitamin c saja. Saat ke warung mencarikan cemilan untuk dua buah hati, tak lupa saya beli juga beberapa strip vitamin c dosis 500 mg. Beberapa hari saya tlaten mengkonsumsi vitamin c, saya minimalisir juga cemil-cemil yang berbau minyak...tapi kenapa bisul belum ilang juga. Masih perih, dan ada sesuatu yang mengganjal dibawah lidah. Aduh kenapa ya?? 

20 Maret 2015



Suatu siang, ketika sulung saya libur sekolah. Banyak waktu dihabiskannya di depan televisi. Di delapan tahun usianya, masih saja ia harus diingatkan untuk melakukan kewajiban penting satu ini. Tidak diingatkan...berarti akan terlewatkan. 

 "Mas...sudah siang, waktunya dhuhur! Sholat dulu... " 

 " Nanti....! Setelah ibu."  

Waduh...jawab apa ya? bukannya saya sedang "berhalangan", itu artinya sholat saya sedang libur. Kalau saya jawab "ibu sudah e Mas ", bukankah sedari tadi ia dirumah, tahu apa yang dilakukan ibunya. Resikonya ia akan menjawab "belum ah, wong ibu setrika dari tadi.." Wah..bisa runyam urusannya, bisa-bisa ia akan mogok sholat. Atau saya bilang kondisi sebenarnya, kalau perempuan itu ada saatnya ia menstruasi, itu artinya sedang tidak boleh untuk sholat? Wah....tapi pasti akan panjang juga penjelasan berikutnya. 

11 Maret 2015



Pernah melihat, atau menemui Ibu yang begitu permisif terhadap anaknya? Apapun yang dilakukan si anak, sepertinya di OK in aja. Mau anak nge-junkfood tiap hari, anak PS an seharian, tapi kok ya si Ibu santai-santai aja. Atau justru sebaliknya, ketemu dengan Ibu yang memperlakukan anak dengan sangat hati-hati, hingga kesannya jadi overprotectiv. Lalu kita termasuk yang mana ya? 

7 Maret 2015



Inget pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari?" Arti pas nya sih saya lupa, ga ada hubungannya sama kencing yang jelas :-). Tapi intinya adalah perbuatan junior tuh nggak bakalan jauh dari senior, bahkan kalo kemudian di junior lebih parah penyimpangannya, itu wajar. Lha wong senior yang pantasnya jadi panutan, yang harusnya ngasih contoh aja belum bener, gimana anak buahnya mau bener? Begitulah kira-kira arti mudahnya menurut saya sodara-sodara:-) 

Ada masalah apa ngomongin senior-junior segala? Ha..ha, ini tentang Raka dan Alya, jagoan dan gadis mungil saya. Anggap saja Raka senior, sementara Alya Juniornya. Di rumah, adakalanya mereka menjelma sebagai sepasang anak manis yang kompak. Namun, adakalanya juga keduanya bagai tokoh film kartun, Tom and Jerry. Ribut, rebutan, kejar-kejaran, berhenti kalau sudah ada salah satu yang nangis. 

Berbicara tentang si junior, ada beberapa perkembangan yang dialami Alya belakangan ini. Alya sudah tidak pernah lagi eek atau BAB di celana. Dia sudah bisa merasakan gejala tidak nyaman ketika ada rasa mulas di perut, hingga kemudian bisa ngomong ke orang yang di dekatnya "mau eek bau". BAK nya? Lumayan.... 

Diumur ke 29 bulan ini, Alya sudah jarang ngompol atau pipis di celana. Bocah yang dulunya masih suka pipis sembarangan, akhir-akhir ini sudah mau di giring ke kamar mandi beberapa jam sekali untuk meminimalisir frekuensi mengompol. Yup, hampir lulus fase toilet training. Namun ada request aneh yang beberapa hari ini selalu ia minta sebelum masuk kamar mandi untuk pipis, " mau air mancur, boleh?" Karena pada awalnya saya belum paham dengan apa yang ia maksud air mancur, ya sudah saya mengangguk saja.

Eh, tapi kenapa Alya tidak mau jongkok seperti biasanya ya, dan sambil berdiri, ia pun pipis sambil bilang ..."koyo (seperti) air mancur"...... .O...o, rupanya ini tho air mancurnya.... Karena ini adalah kebiasaan yang buruk, saya tanya ia " kok, pipis nya berdiri, siapa yang ngajari?". "Kayak Mas aka! " jawabnya sambil tertawa-tawa senang. * si ibu tepok jidat. 

Ah, lupa saya kalau anak kecil seusia Alya adalah peniru yang ulung. Mungkin beberapa kali, tanpa saya sadari Alya melihat mas nya BAK sambil berdiri di kamar mandi. Sewaktu masih TK, sebenarnya si kakak sudah tertib BAK sambil jongkok...tapi memang akhir-akhir ini saya jarang memantaunya. PR buat saya lagi nih, segera mengembalikan sesuatu yang melenceng kembali ke jalur yang benar :-)

3 Maret 2015




Hiii ngeriiii.....Raka sepedaan bareng sama tengkorak! Eh...tapi nggak lah, saya ralat aja. Lebih tepatnya adalah, Raka sedang belajar mengamati anatomi tubuh manusia secara fisik. Ketika kakinya mengayuh pedal sepeda, maka secara berbarengan si tengkorak akan melakukan gerakan yang sama. Jadi ia pun jadi tahu, tulang-tulang mana saja yang terlibat ketika kita melakukan gerakan mengayuh. Asyik kan? Itu baru sebagian kecil, dari banyak banget ilmu yang bakalan kita dapatkan hanya dengan mengunjungi Taman Pintar Yogyakarta. Letaknya yang berada di jantung kota, membuat tempat ini sangat mudah dijangkau. Mau pake motor, mobil, angkutan umum, atau bahkan jalan kaki setelah puas menyusuri trotoar dan pertokoan Malioboro, bisa banget!