18 Oktober 2008

Minggu pertama setelah ibu masuk kerja, raka ma ibu tidur di rumah simbah di Bantul. Sementara ayah jagain rumah di Sleman sambil nunggin proses renovasi eternit kamar tamu yang rusak. Meski dua puluh lima tahun ibu hidup di rumah simbah...tapi kalau statusnya sudah berumah tangga...kok beda ya rasanya. Kalau jaman dulu sih cuek2 aja bangun siang. Tapi klo sekarang, ngerasa aneh aja klo ibu tetap tidur, sementara orang tua selalu bangun dan langsung ke masjid saat adzan subuh berkumandang. Capek juga karena ibu harus ngrasain jadi single parent. Sebelum dan sepulang kerja, ibu harus ngurus Raka. Meski simbah selalu siap sedia membantu, tapi kan rikuh juga. Jadi tahu......betapa beratnya pasangan suami-istri-anak yang terpisahkan jarak. Letih fisik, letih batin. Langkah ini adalah solusi sementara. Minggu berikutnya, kala sekolah Raka masuk, raka kami titipkan di Annur, tiap hari, 6x dalam seminggu, full day school, rata2 di jemput pukul 14:30. Saat alternative ini kami ambil, ayah mengeluh...”pekerjaan kantorku keteteran karena harus jemput Raka tiap hari”. Jalan keluar selanjutnya... akhir bulan ini ibu harus resign dari kantor. Demi Raka. Demi kebaikan keluarga kami.

“sayang Lis...cari pekerjaan kan susah. Hampir lima tahun kamu disini, bahkan sejak kantor ini baru dirintis. Kamu sudah karyawan tetap, kenapa di lepas”. Puluhan kali ibu mendengar komentar itu. Dari tetangga. Sesama rekan kantor, bahkan dari keluarga sendiri.

“iya, tapi kalo saya bekerja sepanjang hari....siapa yang jaga Raka?” Kalau saya dan Raka tetap di Bantul, sementara suami di Sleman, apa gunanya saya menikah dan puya keluarga sendiri? itulah jawaban saya.

“Cari pembantu baru donk...gampang kan?”
Mencari pembantu sebenarnya mungkin pekerjaan mudah. Cari di agen toh bisa. Tapi mencari yang bisa dipercaya, yang bisa mengasuh serta mendidik anak, mau dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan Raka, dan mau dengan sabar menyuapi Raka...itu tidak mudah. Gak bisa membayangkan juga klo akhirnya raka lebih dekat dengan pembantu , drpd ibunya.

“Lalu kamu siap dengan rutinitas baru kamu di rumah, karena selama ini kamu terbiasa dengan mobilitas yang tingggi?”
“Saya harus siap. Saya mau meninggalan pekerjaan saya saat ini,bukan berarti saya gak mau bekerja. Saya pun berharap, suatu hari nanti saya mendapatkan pekerjaan yang tidak menuntut saya meninggalkan rumah seharian, pekerjaan dengan jam kerja yang teratur”

“soal finansial keluarga?”
Bukankan dalam Islam perempuan statusnya hanya “membantu” ekonomi keluarga? Suamiku...dengan pekerjaannya saat ini, aku rasa bisa kami andalkan. Kata “cukup” akan sangat relatif, tergantung yang menjalani. Kalau terus menerus mengikuti keinginan, kapan manusia bisa merasa cukup? Mungkin saat ini tenaga dan pikiranku lebih dibutuhkan untuk urusan domestik. Itulah hikmah yang bisa aku ambil. Kalau aku bersikukuh dengan karierku saat ini, tanpa mempedulikan nasib anak kami...bukankah itu Egois?
Entahlah, ada berapa orang yang akan menilaiku bodoh dengan keputusanku (kesepakatan aku serta suamiku tepatnya). Tapi yang jelas, semuanya demi Raka anak kami. Kami menghargai masa emas yang kini tengah dilaluinya. Di masa itulah, kami ingin memberikan fondasi yang baik serta kokoh yang akan menentukan masa depannya kelak. Satu yang pasti, ibu lebih bangga memiliki anak yang bisa dibanggakan, daripada pekerjaan ibu saat ini.

15 Oktober 2008

Kulirik jam dinding. Hampir pukul duabelas siang. Sejak 3 jam terakhir, entah berapa lembar tisu telah berpindah ke tepat sampah di sudut ruangan. Menyebalkan! Sudah dua hari ini tubuhku dilanda flu serta batuk. Tak ada naskah yang kejar tayang, hingga tanganku pun hanya menari tak menentu diatas keybord. Asal ngetik. Sesekali membuka file-file lama, adakalnya membuka folder foto, saat sedang memproduksi sebuah tayangan Tv atau foto-foto anakku yang aku dokumentasikan dengan rapi di pc ini.
Aku pikir, dua hari terakhir stamina tubuhku memang sedang benar-benar drop. Meski libur panjang dari kantor baru saja aku miliki, tapi sepertinya raga ini belum benar-benar bisa menikmati liburan lebaran. Menjelang lebaran, anakku, Raka sakit, sedikit demam disertai diare. Diagnosa dokter, raka terkena disentri ringan. Meski kerewelannya tak menjadi-jadi, tapi tetap saja naluri keibuanku tak bisa tinggal diam. Untunglah, beberapa hari setelah itu raka bisa kembali sehat.
Silaturahmi ke tetangga, sanak saudara serta keluarga adalah ritual biasa yang senantiasa mewarnai suasana Lebaran. Itu pula yang kami lakukan beberapa hari lalu. Sungguh indah merajut benang persaudaraan yang sekian lama terputus oleh kesibukan dan berbagai kepentingan. Namun sepertinya keindahan itu harus aku bayar dengan menurunnya kondisi tubuhku secara drastis. Ah, sudahlah! Kenapa sesuatu yang dianjurkan justru aku kambing hitamkan. Mungkin bukan karena aku yang terlalu capek, tapi cuaca musim pancaroba kali ini memang sedang tak bersahabat.
Kembali ku ambil selembar tisu. Kuseka ingus yang mulai memenuhi lubang hidung, hingga akhirnya tisu yang telah kotor itu kembali mengisi tempat sampah di sudut ruangan. Sepertinya otak ini masih malas untuk berpikir terlalu berat.
Hanya satu yang dipaksa berpikir keras hari ini, satu komputer tak jauh dari tempatku duduk. Dengan kemampuan procesor yang pas-pasan serta jaringan internet yang sangat lambat, beberapa teman tampak googling lowongan CPNS tingkat pusat yang memang lagi marak. Sepertinya apa yang pernah dikatakan salah satu temanku ada benarnya juga, “fasilitas internet yang disediakan kantor, mayoritas justru digunakan karyawannya untuk berburu pekerjaan baru”.
Aku tersenyum kecut. Hampir lima tahun menjadi bagian perusahaan ini, menjadikanku tahu mengapa sebagian besar karyawan hanya menjadikan tempat ini sebagai batu loncatan, persinggahan sementara. Andaikan ada yang bertahan lama, pastilah karena keberuntungan yang belum berpihak. Seperti halnya nasibku dan beberapa karyawan senior di ruangan ini. Tapi dibalik kesemrawutan managemen yang seringkali jadi gunjingan para pekerja disini, aku harus akui juga, banyak hal yang aku dapatkan selama aku bekerja di tempat ini. Ilmu, persahabatan, segelintir rupiah, dan berjuta pengalaman yang takkan terlupa.
“..ada film baru nih,” kata salah satu teman satu profesi, satu angkatan. Rupanya si pencinta film itu baru datang. Tak banyak menunggu, ku pinjam kepingan Vcd darinya.... Nonton Film Ahhhh....
***