“Bu…sakniki regi ne mundhak nggih…” Ucap Pak Udin, penjual sayur langganan sambil memasukkan sebungkus jamur tiram ke dalam kresek, sembari menghitung totalan belanja pagi itu. Jamur tiram yang biasanya 6000 perbungkus, pagi itu dijual 7000 rupiah setiap bungkusnya.
“Nggih mas…”
Sedih sih, tapi mau gimana. Saya hanya bisa mengiyakan.
Konsumen seperti saya, bisanya cuma maklum. Pak Udin dan para pedagang yang lain, pasti juga hanya mengikuti pasar. Harga kulakan naik, maka ia lantas mengikuti saat produk sampai ke tangan pelanggan.
Itu baru satu item, dari dunia per-sayur mayuran. Di ranah lauk-pauk, saya merasa harga yang stabil cuma tahu dan tempe. Itupun kalau harganya nggak naik, pasti ukurannya mengecil. Atau kalau tidak, kualitasnya yang turun.
Barang-barang kebutuhan yang diproduksi pabrik? Jangan ditanya. Di tahun 2026 ini hampir semuanya mengalami kenaikan harga. Ya, kadang cuma 500 rupiah atau seribu, atau bahkan 200 rupiah per item…tapi coba dikalikan ke berapa puluh barang yang tiap hari/bulan menjadi kebutuhan skala rumah tangga. Sepertinya, cuma Masako aataupun permen yang harganya masih sama, dan tetap harus suka rela dipake sebagai “genepan” saat susah nyari kembalian 500 perak😊
Saya yakin, saat ini banyak manager sekaligus menteri keuangan rumah tangga yang hari-harinya menjadi semakin menantang. Challenge utamanya tentu saja mencukupkan agar pemasukan keluarga bisa memenuhi kebutuhan, sebisa mungkin tanpa meninggalkan hutang. Meskipun terkadang mau nggak mau mesti nombok, ngambil dana simpanan/tabungan.
Idealnya, ketika kran pengeluaran terasa semakin banyak maka yang mesti dilakukan adalah menambah sumber pemasukan. Sayangnya, dalam tataran praktek, solusi ini tak semudah membalik telapak tangan. Solusi yang kemudian paling logis untuk diambil adalah downgrading; mencari barang atau layanan yang lebih murah, memilih gaya hidup yang lebih terjangkau. Bukan hemat pangkal kaya, tapi lebih ke hemat biar cukup. Itu intinya.
Saat ini saya yakin banyak yang menerapkan pola hidup downgrading di level keluarga. In this economy --seandainya diberlakukan sistem member card –yakin keanggotan kaum mendang-mending akan semakin membludak. Saya? Ikut lahh.
Contoh kecil adalah saat belanja kebutuhan rumah sehari-hari. filter utama yang saya pakai saat ini adalah harga, bukan lagi merk. Ada promo, terasa lebih murah, dan memang barang yang dibutuhkan, beli.
Keluar menggunakan mobil, hanya jika pergi lebih dari 3 orang barengan. Pertamaks ganti ke pertalite. Boncos soalnya klo tetap bertahan dengan pertamaks di harga mendekati 20 ribu perliter.
Sudah sekian lama nggak jajan dan dolan-dolan lagi. Refreshingnya ganti jogging. Yang penting uang sekolah + UKT anak terbayar lancar. Intinya, di luar kebutuhan yang terkait dengan pendidikan anak-anak dan kesehatan, saya milih downgrade lifestyle. Yang 2026 ini lagi mengaktifkan mode bertahan, yuk, kita gandengan.


Posting Komentar
Posting Komentar