Masuk UGM lewat Jalur Mandiri Lebih Mudah, Masa Iya??

Posting Komentar


Mahasiswa baru UGM

“Ah, asal ada duit buat bayar IPI…masuk UGM lewat jalur mandiri mah gampang!”

Pernah nggak denger atau baca komentar bernada menyepelekan, yang pada intinya bilang kalau kuncinya jalur mandiri/UTUL UGM itu adalah duit?

Saya beberapa kali nemu pendapat  seperti itu di  beberapa platform media sosial.  Kalau ada yang masih punya anggapan seperti itu, saran saya…coba ikut langsung berlaga atau minimal mendampingi anak, saat ikut berjuang untuk lolos seleksi UGM via jalur mandiri ini. Setelah itu, coba dinilai apakah pendapatnya masih sama? 

Bagi lulusan SMA/SMK yang hendak melanjutkan pendidikan di jenjang bangku kuliah, untuk kelas reguler selain melalui jalur SNBP dan juga  SNBT, cara lain yang bisa digunakan untuk berebut kursi di PTN adalah melewati jalur tes mandiri; jalur test yang diadakan oleh pihak kampus. 

Kalau tidak keliru, kebijakan ini lahir semenjak adanya perubahan tata kelola PTN di Indonesia; mulai otonomi kampus dan juga konsep PTN Badan Hukum. Jalur mandiri memungkinkan PTN –termasuk UGM tentu saja, menjaring calon mahasiswa tambahan di luar jalur nasional. 

Untuk  persentase kuota, setiap kampus memiliki kebijakan masing-masing. Di UGM sendiri, mengutip dari web resmi mereka, perbandingan  daya tampung untuk  jalur SNBP : SNBT : mandiri  adalah 30 : 30 : 40. Artinya, 30% mahasiswa baru akan dijaring melalui SNBP, 30% melalui SNBT, 40% nya dijaring melalui seleksi ujian mandiri atau yang biasa dikenal dengan UM/UTUL UGM.

Benarkah Masuk  UGM Melalui Jalur Mandiri Lebih Mudah?

Bisa iya, bisa tidak. 

Bisa jadi pendapat ini benar, tapi bukan karena faktor ber uang atau tidak beruang lho ya. Kunci utama sukses test tetap saja pada skor test. 

Sangat mungkin, soal-soal pada di ujian mandiri berasa lebih ringan karena persiapan anak yang jauh sudah lebih matang, baik dari persiapan materi maupun emosi.

Meskipun jadwal tidak bisa dipastikan di tanggal yang sama setiap tahunnya , tapi UM  dilakukan setelah SNBT selesai. Bisa dikatakan, jalur mandiri adalah harapan terakhir untuk calon maba yang tertolak di jalur SNBP/SNBT—kecuali sengaja untuk gap year atau semi gap year terlebih dahulu.

Logis kalau kemudian banyak anak mengerahkan kemampuannya semaksimal mungkin di jalur ini. Saat dalam posisi tertekan, fokus, konsentrasi, bisa jadi malah jadi maksimal. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, begitu ditolak UGM via jalur SNBT anak saya bersiap dengan mempelajari beragam soal-soal UM dari  ringkasan, mengikuti TO online, dan juga mengerjakan soal-soal cetak yang dibeli  di placemarket. Jadi memang ada fase all out untuk belajar menjelang ujian. 

Selain persiapan yang lebih matang, tingkat keketatan di ujian mandiri “lebih lumayan” daripada di dua jalur terdahulu (SNBP/SNBT). Kalau di dua jalur sebelumya, kuota 30% diperebutkan secara nasional, maka di jalur mandiri, kuota 40% diperebutkan di jalur yang lebih bersifat “lokal”. 

Ya, meskipun tidak ada batasan daerah asal calon mahasiswa baru, tapi ujian mandiri UGM tahun ini hanya diselenggarakan di 2 lokasi tes, yakni di Yogyakarta dan Jakarta. Untuk tahun 2026 ini,  sekitar 5000an peserta melangsungkan test di Jakarta, dan lebih dari 30.000an calon maba lainnya, test di Yogyakarta. 

Bagi anak Jogja dan sekitarnya, ini termasuk rejeki; paling tidak mengurangi saingan. Peluang untuk menjadi satu diantara 3900an mahasiwa baru yang diterima lewat jalur ini akan meningkat. Ya, meskipun persaingannya tetap ketat. 

Selain faktor-faktor tersebut, kejelian dalam memilih jurusan di UGM juga sangat penting. Ya begitulah,  persaingan memperebutkan kursi di PTN memang membutuhkan strategi tersendiri. Mau punya uang, tapi nggak mempersiapkan diri untuk "bertempur" saat test, ya percuma juga. Itu intinya. 

Setelah dinyatakan Lolos, Apa yang Kemudian Harus Dilakukan?

Pastinya akan merasa lega karena diterima. Setelah itu, bersiaplah ke tahap berikutnya yang  tak kalah mendebarkan. 

Kalau di bagian test masuk yang banyak berjuang si anak,  setelah ini adalah wilayah para orang tua. Tak lain dan tak bukan, karena sudah di fase pembayaran.

Kalau di jalur SNBP/SNBP urusan bayar-membayar hanya terkait dengan UKT, maka kalau di jalur mandiri ini, orang tua/mahasiswa yang bersangkutan juga harus mengetahui keberadaan IPI atau Iuran Pengembangan Insitusi. Semacam uang pangkal yang dibayarkan sekali, selama masa kuliah. 

Hanya UGM yang IPI nya pasti. Kalau tidak 20 juta, ya 30 juta. Sesuai dengan kategori jurusan yang dipilih. 

Informasi mengenai IPI UGM ini sebenarnya bisa ditemukan dengan jelas di web resmi kampus, tapi sering terlewat. 

Banyak yang menyangka, kalau semua mahasiswa baru yang masuk via jalur mandiri UGM berarti wajib membayar IPI dengan besaran 20 juta (soshum) dan 30 juta  (saintek). Padahal tidak seperti itu sebenarnya. IPI hanya dibebankan untuk mahasiswa baru, jika UKT nya masuk golongan yang tertinggi. 

Lantas, bagaimana cara orang tua tahu anaknya masuk golongan UKT yang mana?

UGM membagi golongan UKT mahasiswanya ke dalam 6 golongan, mulai 0 rupiah-25 jutaan rupiah per semester. Beda jurusan/fakultas, beda nominal.

IPI hanya dibebankan bagi yang UKTnya masuk golongan 6. Golongan 1-5, bebas IPI.

Untuk bisa tahu kita berada di golongan berapa, ada yang namanya tahap verifikasi. Di tahap ini mahasiswa baru diminta untuk mengupload beberapa data seperti scan foto rumah dan beberapa bagian-bagiannya, slip gaji orang tua, bukti pembayaran listrik, mutasi rekening orang tua, dan juga bukti pembayaran PBB. Data itulah yang kemudian menjadi acuan pihak kampus untuk menentukan besaran UKT. 

Di UGM, di jalur masuk apapun, penggolongan UKT berdasarkan keadaan ekonomi orang tua mahasiswa baru. Hal-hal terkait dengan pembayaran, diurus setelah dinyatakan lolos test. Jadi, kalau ada yang bilang kalau jalur mandiri adalah jalur yang hanya mengutamakan uang, itu adalah sebuah informasi yang harus diluruskan ya. 

Sulis
Hai, saya Sulis! Domisili di Jogja, pernah bekerja di media, dan sekarang blog inilah media menulis saya. Untuk kerjasama, bisa dihubungi t.sulistiyowati80 (at)gmail.com, atau sulistiyowatitri98(at) yahoo.co.id
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar