Behel Journey Part 6: Operasi Windowing Gigi

Posting Komentar
M

inggu, 5 Juli 2026 kemarin, perawatan behel Alya bisa dibilang sampe ke bagian inti, yakni tindakan windowing atau open window. 

Sesuai dengan namanya, tindakan bedah mulut ini dilakukan untuk membuka jaringan gusi yang menutupi gigi terpendam (impaksi). 

Kenapa harus windowing? Ceritanya bakalan panjang. Berawal gigi seri susu yang nggak kunjung ganti ke gigi permanen, dan ternyata jalurnya tertutup odontoma. Odontoma diambil, tapi rupanya gigi tak kunjung erupsi secara alami juga. 

Jadi, mau nggak mau memang harus minta bantuan seorang ortodontist.

Lebih lengkapnya teman-teman bisa search di halaman utama blog ini, cari gambar kaca pembesar..trus ketik "behel  journey", nanti bakal nemu tulisan-tulisan terdahulu terkait perjalanan behelnya Alya.

Urusan per behel an nya Alya ini kami percayakan pada sebuah klinik perawatan gigi --Duwa Dental dan dihandle oleh salah satu dokter spesialis orto di Jogja,  drg Prima Ananta, Sp. Ort. Dalam tindakan open window kali ini, dokter Prima akan bekerja bareng dengan dengan Drg Bramastyo Purbo Sejati, Sp. BM, dokter bedah mulut dari klinik yang sama. 

Kenapa harus dua dokter yang terlibat? Tentu ini berkaitan dengan tujuan utamanya. 

Tindakan open windowing bertujuan agar mahkota gigi yang impaksi terlihat, sehingga dokter gigi spesialis ortodonti dapat memasangkan alat orto untuk menarik gigi ke posisi lengkung rahang yang benar.

Jadi teknisnya, dokter spesialis bedah mulut yang bertugas membuka sedikit gusi, kemudian dokter spesialis orto akan memasang alat, lantas dokter spesialis bedah mulut akan menutup kembali sayatan. 

Persiapan Pra Windowing

Kalau dalam perawatan behel biasa standardnya dokter hanya membutuhkan rontgen panoramic dan Cephalometri, maka untuk kasus gigi impaksi dokter juga membutuhkan rontgen 3D atau CBCT  (Cone Beam Computed Tomography)

Hasil rontgen CBCT
Hasil rontgen CBCT

Bagi seorang spesialis bedah mulut, CBCT sangat penting untuk melihat posisi akar yang akurat, serta memetakan jarak gigi ke saraf dan sinus guna menghindari komplikasi selama operasi. 

Sementara bagi ortodontist, hasil dari rontgen CBCT akan sangat membantu dokter melihat posisi pasti gigi yang terpendam, mengecek risiko kerusakan akar gigi tetangga, serta menghindari cedera saraf di dalam tulang rahang sebelum tindakan dilakukan.


Proses Operasi Open Window/Windowing 

Karena pernah mengalami tindakan bedah gusi saat pengambilan odontoma, jadi saya lihat secara mental Alya sudah siap. Tidak ada lagi rasa kekhawatiran yang berlebih. 

Ditahap awal, dokter bedah mulut menanyakan kepada kami apakah Alya sudah sarapan dan memiliki alergi terhadap obat tertentu. Selanjutnya perawat gigi melakukan pengukuran tekanan darah. 

Semua aman, tindakan windowing gigi pun segera dimulai. 

Termasuk bedah ringan, tentu saja bius yang digunakan adalah bius lokal. Bius oles terlebih dahulu, baru kemudian bius yang dimasukkan dengan jarum suntik. 

Beberapa saat setelah bius bekerja, barulah dokter Bramastyo membuka area gigi yang impaksi, menyesuaikan dengan lokasi dan posisi gigi yang impaksi.

Tahap "pembukaan" beres, giliran Ortodontist yang bekerja. Sebuah alat orto berbentuk rantai dengan ujung berbentuk bulatan --yang kemudian saya tahu itu bernama eruption chain, di tempel kan ke mahkota gigi Alya yang impaksi. Dalam tahap ini, berkali-kali dokter menanyakan ke Alya apakah merasa sakit, dan kata Alya dia dalam kondisi baik-baik saja. 

Tak butuh waktu lama untuk memastikan button pada eruption chain menempel dengan baik. Setelahnya, dokter orto menautkan ujung rantai pada salah satu bracket yang sudah terpasang. 

Proses windowing gigi seri

Kalau tidak salah, nanti eruption chain inilah yang akan "menarik dan membimbing" gigi bergerak perlahan mengikuti arah tarikan hingga erupsi ke posisi yang diinginkan.

Tugas ortodontist selesai, sesi berikutnya adalah bagian dokter spesialis bedah mulut; menutup kembali sayatan yang tadi terbuka. Total waktu yang dibutuhkan untuk tindakan windowing gigi Alya sekitar 1 jam. 


Do & Don't Pasca Operasi Windowing

Karena ini POV nya orang tua si pasien, maka tentu yang saya tulis di sini apa yang saya ingat dan saya lihat ya. 

Setelah tindakan windowing, dokter meresepkan dua macam obat: antibiotik dan obat pereda nyeri. 

Sampai H+5 saya menulis artikel ini, Alya hanya mengkonsumsi 3x obat pereda nyeri, dan masih punya PR untuk menghabiskan antibiotiknya (masih sisa 2 tablet). 

Dua puluh empat jam pertama setelah tindakan windowing, dokter melarang makan/minum dengan suhu tinggi dan menganjurkan untuk mengkonsumsi sesuatu yang sifatnya dingin, untuk mempercepat pembekuan darah pada luka bekas sayatan di gusi.

Dua hari pertama, area bekas sayatan tidak boleh terkena sikat gigi. Jadi untuk acara menyikat gigi area gigi belakang, Alya menggunakan sikat gigi jari yang punya bayi itu. 

Sedikit kesulitan untuk mengunyah makanan di hari pertama paska tindakan,  bisa terselesaikan dengan baik dengan pertolongan Energen dingin😀. Tablet penghilang nyeri masih dibutuhan di 24 jam pertama. 

Hari kedua, Alya makan bubur ayam. Hari ketiga, semangkok soto, beberapa potong roti basah sudah bisa dihabiskan tanpa ada masalah. Ada sedikit bengkak di area bibir...tapi tipis. Nyaris tak terlihat. 

Hari ke empat, kembali ke menu makan biasa..tapi saya usahakan masak yang berkuah untuk memudahkannya. Saya lihat, H+4 operasi windowing Alya sudah bisa ngemil biskuit kentang😊

H+5, hampir semuanya sudah kembali normal. Alya sudah bisa kembali menggunakan sikat gigi ortonya, sudah bolak balik buka-tutup kulkas untuk nyari cemilan favoritnya.

Alhamdulillah, semoga tahap-tahap ke depan yang masih harus dijalankan, juga senantiasa lancar dan dimudahkan. Aamiin.

Sulis
Hai, saya Sulis! Seorang ibu dari raka-alya, bisa dihubungi di raka.adhi(at) gmail.com, sulistiyowatitri98(at) yahoo.co.id, atau t.sulistiyowati80(at)gmail.com
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar