3 Juli 2020

Penerimaan Peserta Didik Baru Sekolah Menengah Berdasarkan Usia? Nggak Fair!


Beberapa hari ini saya sering buka web PPDB sekolah negeri nya Jogja. Paling sering yang level SD ke SMP.  Selo & kepo banget ya saya? Ha..ha, mumpung nggak ada deadline tulisan. 

Scrol-scrol, liat nama anak jaman sekarang yang cakep-cakep tapi makin susah diingat, liat nilai-nilai diperingkat atas sambil mbatin betapa senang dan tenangnya anak + orang tua kalau peringkat sudah di posisi atas seperti ini. 

Pasti akan berbeda dengan yang posisinya peringkatnya di ujung tanduk. Harap-harap cemas dan harus siap dengan beberapa kemungkinan, terlempar di sekolah negeri lain yang bisa jadi hanya "pelarian", atau pindah ke sekolah swasta. 

Kalaupun harus ke swasta, resikonya, harus ada pengeluaran ekstra untuk pos pendidikan. Dan saya yakin, nggak semua orang tua siap untuk ini.


Saya ngerasa PPDB  SMP tahun ini lebih lancar daripada  tahun kemarin, pas Raka masuk SMP. Untuk wilayah Sleman, tempat dimana saya tinggal sekarang  bisa dikatakan tanpa drama, tanpa protes orang tua. 

Tidak ada lagi  data siswa hilang disaat tahap seleksi  disaat  sedang berlangsung, seperti tahun lalu.

PPDB tahun ini, untuk wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta, meskipun secara garis besar masih menerapkan sistem zonasi, tetapi daya tampung untuk jalur prestasi maupun bibit unggul mengalami penambahan kuota.  

Menurut saya penambahan kuota anak untuk jalur bibit unggul dan jalur prestasi ini merupakan langkah positif. Kebijakan ini bisa kita anggap sebagai  bentuk penghargaan pemerintah kepada anak-anak yang telah berusaha untuk mendapatkan poin terbaik, agar bisa belajar di sekolah yang mereka inginkan. Bentuk penghargaan juga kepada orang tua, yang sudah mensuport anak-anak, agar bisa mendapatkan yang terbaik. 

Sayangnya, kebijakan yang lain justru diterapkan di Kabupaten di mana saya lahir dan dibesarkan. Bantul. Untuk pertama kalinya, sistem PPDB menggunakan indikator usia anak untuk menyusun peringkat. Anak yang usianya lebih tua dengan nilai yang biasa saja, bisa menggeser anak berskor tinggi, hanya karena usianya lebih muda. 

Menurut saya kebijakan seperti ini sungguh tidak adil. Tidak fair.  Anak-anak lulusan SD ini sudah bisa memilih, bisa menentukan pengen sekolah dimana, dan mereka juga tentunya sudah berjuang untuk mewujudkan keinginan mereka.

Jadi semestinya biarkan mereka bersaing secara fair dengan modal apa yang telah mereka perjuangkan selama duduk dibangku SD. Jangan tiba-tiba keinginan mereka terhempas karena sesuatu yang ada di luar kendali mereka. Nggak ada kan anak yang bisa men-set tanggal lahir mereka? Memang semakin tua, mereka semakin dewasa? Belum tentu juga kan?

Jujur...saya berharap...seleksi model peringkat usia ini tidak diterapkan lagi. Banyak yang dirugikan, banyak yang protes,  tapi entah kenapa seakan nggak didengar. 

Terserah kalau untuk jenjang PAUD, TK atau SD. Tapi untuk SMP bahkan SMA? Tolong jangan lagi. 

Karena kedepannya kebijakan ini hanya akan membuat anak-anak nglokro dan malas untuk berjuang, berkompetisi

"Sudah kalah duluan kok dari yang masuk sekolahnya telat atau langganan tinggal kelas, buat apa capek-capek nyiapin ujian, bimbel, dll." 

Pemikiran seperti itulah yang saya takutkan akan muncul  kalau kebijakan ini tetap diberlakukan di PPDB tahun depan.

6 komentar:

  1. Setiap kebijakan memang tidak bisa memuaskan orang
    Pasti ada saja yang merasa dirugikan
    Kali ini saya juga melihat didaerah saya, patokannya umur yang menjadi utama
    KArena patokan umur inilah ada sebagian orang tua yang menggampangkan
    Jika tidak diterima tahun ini, daftar tahun depan dan selanjutnya
    Pendaftaran anak SD saja, ada yang umur 12 tahun. Apa tidak gimana gitu
    Pastinya akan menggeser anak-anak dibawah usianya.

    BalasHapus
  2. Hah? Bantul ya gitu? Ampun deh.

    BalasHapus
  3. Kalau yang heboh di Jakarta soal usia itu sama kayak gini atau bukan ya? Koq aneh2 saja ya kebijakan akhir-akhir ini..

    BalasHapus
  4. Semestinya sebelum diterapkan ada urun rembug terlebih dulu atau sosialisasi kira-kira masyarakat bersedia menerima tidaknya keputusan peraturan PPDB.

    BalasHapus
  5. Wahhh saya kira hanya di Jakarta yang menerapkan sistim pendidikan seperti itu, ternyata di Bantul juga yaa Hmm.. Hal seperti ini yang bikin anak nantinya malas untuk berjuang demi meraih sekolah impiannya. karena mereka sudah tau, pasti bakal kalah saing sama orang yang umurnya sudah tua diatas mereka.

    BalasHapus
  6. Agak aneh juga memang jika yang diterima di SMP itu anak yang lebih berumur, bukan yang lebih berprestasi. Apakah keputusan itu sudah final?

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Untuk menghindari spam, untuk sementara kolom komentar saya moderasi dulu ya. Komentar berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin

 
Top