28 Agustus 2016

Sesi penimbangan sampah
 
"Bu..jangan lupa, besok pagi Alya bawa sampah ya..untuk ditabung."

"Nabung sampah? Maksudnya?" 

Jujur. Kening saya berkerut mendengar permintaan guru di PAUDnya Alya beberapa minggu lalu.

"Iya.. Nanti setiap hari Sabtu, anak-anak diharap membawa barang-barang yang sudah dianggap sampah di rumah, dibawa ke sekolah. "

"Misalnya?"

"Kertas bekas, botol plastik, atau apapun
benda yang bisa didaur ulang."

"Trus mekanismenya?"

"Sampah akan ditimbang, kemudian akan dipilah-pilah menurut jenisnya. Kemudian akan dihargai, dan itu masuk buku tabungan sampah"

"Tapi secara nominal...pasti sedikit sekali?"

"Iya. Mungkin tidak seberapa...tapi paling tidak dengan cara ini anak-anak akan lebih bijak mengelola sampah. Pertama, anak akan terbiasa menaruh sampah ditempat yang benar. Kedua, ia belajar untuk tidak asal membuang, ..tapi berusaha memilah menurut jenisnya. Yang ketiga, menanamkan niat menabung, yang bisa di daur ulang, pasti akan langsung "diniatkan" untuk dibawa ke sekolah."

"Nanti sampah-sampah yang terkumpul..akan dibawa kemana?"

"Tiap Sabtu siang sudah ada pengepul yang akan membawa semua ini ke tempat pengolahan sampah, dan barang-barang bekas"

"Oo.." saya sekedar manggut-manggut. Ini tho BSE, Bank Sampah Edukatif yang katanya sudah dijalankan sekolah setahun terakhir. Baguslah kalau begitu.
***

23 Agustus 2016





"Ibu..aku mau dibelikan jam tangan baru, soalnya jam dinding yang di kelasku rusak. Nggak tau kenapa belum dibenerin sama bu guru. Tapi pengennya aku jam yang kayak punya Ditto itu..."


Tiada angin, tiada hujan  dan tiba-tiba si sulung merajuk minta jam tangan baru. Alasannya sih katanya karena jam dinding di sekolah rusak. Tapi kayaknya modus juga, pengen tampil lebih modis di sekolah. Nambah  list kebutuhan kan jadinya. Memang sih, tidak se-urgent beli beras atau obat di kala sakit, tapi jam tangan baru, sepertinya dia memang memerlukan. Oke, diantara deretan panjang kebutuhan...sepertinya saya mesti meng-insert-kan sebuah jam tangan anak. Lalu tentang embel-embel "seperti punya Ditto...?"

19 Agustus 2016

Pesan yang dalam. Saya dapatkan dalam perjalanan dari bangunan candi ke dua menuju kelompok candi ketiga


Bagi warga Semarang dan sekitarnya, tentu mereka  sangat familiar dengan keberadaan candi Gedong Songo; candi peninggalan kebudayaan Hindu yang berlokasi di Desa Candi, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah.  Diantara beberapa lokasi wisata, candi ini pantas dijadikan primadona karena daya tarik yang dimilikinya. Saya yang notabene warga luar Jawa Tengah pun, rasanya nggak bakalan bosan seandainya suatu saat nanti bisa kembali menikmati keindahan alamnya.


Menurut saya, ada beberapa alasan masuk akal yang membuat kompleks wisata ini selalu ramai pengunjung, terlebih di hari libur:

1. Harga tiket masuk yang relatif murah

Harga, bagi saya tetap hal yang sensitif. Sebagus apapun tempat wisata...seandainya harga tidak terjangkau atau membuat kantong jebol...saya milih mundur teratur.  #PenganutPahamIritologi. Nah..bagi yang sepaham, nggak perlu khawatir, untuk bisa meng-eksplore keindahan alam di kawasan kompleks candi Gedong Songo, pengunjung hanya dikenai tarif masuk seharga Rp.7500/ orang. Sementara anak berusia dibawah 5 tahun, belum dikenakan tarif. Hemat kan!?

17 Agustus 2016

Lama blog ini nggak di isi postingan tentang Pantai. Liburan nggak pernah ke Pantai? Nggak juga sih...masih seneng juga kok pagi-pagi dibela-belain bangun dinihari...untuk bisa mencium aroma udara pantai di pagi hari. Cuma biasanya suami yang males klo nyoba rute-rute baru, akhirnya ya cuma seputaran pantai terdekat di Kulon Progo, atau Pantai Baron-Krakal-Kukup-Drini di Gunungkidul.

Ke Ngrenehan dan Ngobaran yuk! Request saya ke suami. Anak-anak yang belum pernah ke dua pantai tersebut langsung ribut, dan bersorak.."horeee...mau cari ikannnn...!". Sedikit info, Ngrenehan dan Ngobaran merupakan pantai yang terletak di sisi barat Gunung Kidul, tepatnya di Kecamatan Saptosari. Dua pantai ini memang hanya bisa di jangkau dengan kendaraan pribadi, dengan jalur melewati kota wonosari, atau bisa melewati jalur selatan (Parangtritis ).

Dengan pertimbangan jalan yang lebih ramai (soalnya berangkatnya pagi), kami memilih lewat jalur Jogja-Wonosari. Nggak nyesel lewat jalur ini, bahkan kami sempat berhenti sejenak menikmati Bukit Bintang, yang pagi itu di selimuti kabut tebal.

Bukit Bintang; Negeri di atas awan

13 Agustus 2016



Topik lumayan basi sebenarnya...tapi, sekedar opini boleh lah..

Beberapa hari, saya memang tidak memantau medsos yang ramai pro-kontra tentang isu hangat yang dilempar pak Menteri Pendidikan terkait sekolah seharian alias  full day. Pertama tahu tentang ini, juga gara-gara running text ditengah tayangan ipin-upin atau kalau nggak gitu Super Dede (tv dirumah banyak dibajak anak-anak). Dan begitu wacana itu dilempar publik..saya langsung mbatin..aduh ini apa lagi sih, masalah penerapan kurikulum saja masih mbingungi...ada yang make Kurtilas, ada yang KTSP..ini sudah mau ganti tema lagi...

5 Agustus 2016



Tahun ajaran baru ini, gadis cilik saya, Alya mulai masuk Kelompok Bermain. Sebelum masuk, semangatnya untuk bertemu dengan lingkungan, teman-teman baru, begitu membara. Heboh pokoknya. Pagi hari menjelang berangkat...masih full senyum. Sampai di sekolah...bayangannya (sepertinya) adalah bebas bermain prosotan dan ayunan seharian, tanpa aturan, tanpa gantian, dan ditunggui ibunya.

"...kami mending anak-anak nangis diawal..daripada nanti-nanti, dan mereka tidak segera belajar  mandiri. Nggak apa-apa anak-anak nangis. Keluar dari zona nyaman itu memang perlu adaptasi" Begitu kata  salah satu ustadzah (guru), tentang kebijakan sekolah, kalau anak-anak lebih baik langsung ditinggal, tanpa ditunggui. Ada toleransi, anak-anak bisa ditunggu maksimal 7 hari pertama.