29 Januari 2015


Rupanya gadis mungil saya sedang hobi berimaginasi. Gambar aneka buahnya seringkali ia andaikan sebagai tanaman betulan, yang kemudian sering ia panen beberapa menit menjelang tidur. "Ibu, mau buah apa?", tanyanya. Sayapun akan mengimbangi alam imaginasinya dengan me-request beberapa jenis buah yang ada digambar, dan Alyapun akan sibuk dengan kebun buah khayalannya. Eits...bukankah ada sepetak kebun mungil dibelakang rumah? Kalau saya meluangkan waktu untuk menatanya, pasti akan lebih cantik, dan lebih bermanfaat. Bahkan tidak mungkin, nantinya Alya dan saya bisa memanen sayur dan buah-buah segar dari sana. 

26 Januari 2015

"wah....ganti kurikulum, biaya beli buku neh yaa.... " 

(Sms dari seorang teman, sesama wali murid di SD tempat anak saya sekolah)

  Reply


"Iyo e..nyah, mana tanggal tuo...itu buku yang tema 6,7,8 dibarter buku kurikulum lawas ke penerbit lagi oleh ora yooo?" send. delivered. 

Trus nengok isi dompet ma kalender :-) Tapi memang belum ada dalam sejarah kok ya...buku yang sudah dibeli, trus bisa ditukarkan. Mau-maunya ibunya raka aja, demi penyelamatan anggaran belanja keluarga :-) Tapi, ada apa tho, kok tiba-tiba meributkan buku? Begini lho ceritanya..
sumber animasi wajahbocah.com
Anak saya Raka, kelas 2 SD. Dari awal sengaja milih swasta. Pengen dia dapat bekal agama yang lebih banyak, pengen dia belajar di lingkungan yang kompetitif, dan karena faktor umur juga (waktu masuk 6,5 th). Begitu masuk kelas 1 per Agustus 2013, ia mulai belajar dengan model tematik. Buku paket yang digunakan kala itu dari penerbit platinum, dibeli secara kolektif melalui sekolah, 8 tema sekaligus dibayarkan beberapa minggu sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. 

Pertengahan 2014, pembelajaran tematik-integratif diberlakukan serentak secara nasional. Raka sudah naik kelas. Kembali kami harus membeli buku tematik 1-8, kali ini dari penerbit Yudhistira. Dengan buku pendamping ini kami sangat tertolong, karena distribusi buku paket yang resmi dari pemerintah sempat tersendat hingga terlambat. Hingga kemudian melalui pemerintahan barunya, pemerintah mengkoreksi ulang pemberlakuan kurikulum 2013. 

Apa yang terjadi? Beberapa sekolah memilih langsung kembali ke kurikulum 2006, namun tak sedikit pula yang bertahan tetap melanjutkan ke kurikulum 2013. Tentu ada alasan masing-masing, yang mungkin berbeda satu sekolah dengan sekolah lain. Untuk berita selengkapnya, saya nge-link surat kabar mawon nggih... 

"Untuk semester genap ini kami akan tetap sistem tematik dulu bu, nanggung soalnya...baru kemudian nanti kami lihat sistem penerimaan untuk jenjang smp besok, sistemnya gimana....kalau masih skor ujian yang digunakan, sekolah akan kembali ke kurikulum 2006" kata ibu guru wali kelas, saat pengambilan raport akhir Desember kemarin. Sebagai orang tua, tentu saja kami setuju. Tanggung, sudah terlanjur berjalan setengah tahun. Buku-buku penunjang juga sudah lengkap ditangan. 

Setelah semester genap berjalan kurang lebih 3 minggu, TERNYATA kebijakan baru diberlakukan kembali, semua sekolah di wilayah Kabupaten Sleman HARUS kembali ke kurikulum 2006, paling lambat per 28 Januari besok, semua harus kembali ke kurikulum 2006. Masa transisi yang diberikanpun sangat singkat menurut saya, 1 minggu saja. beritanya ada di sini juga. Haduh, ini bagaimana? Kalau memang harus ganti, kenapa tidak dari awal semester? atau tunggu 4 bulan lagi, ketika semester genap berakhir...? Bukankan kebijakan ini menyangkut banyak pihak? 

Klo dari sisi ibu rumah tangga seperti saya, salah satu kerugiannya itu tadi, masalah buku pelajaran, jadi extra budgeting. Belum lagi harus kembali hunting buku pelajaran kurikulum lama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kalo dari sisi penerbit, wah..pasti mereka lebih repot lagi. Yang kemarin sudah ditarik, terlanjur diobral murah barangkali....sekarang harus dibuat lagi. Anak-anak? Mungkin akan kaget, karena perubahan terjadi ditengah jalan, tapi semoga mereka cepat menyesuaikan. Tapi bagaimana lagi? Palu sudah diketok, keputusan sudah harus segera dijalankan. Mengingat kisah kurikulum 2013, kok jadi teringat kasus E-KTP di Indonesia, serupa tapi tak sama. Menelan banyak biaya, tapi tak tau endingnya gimana....

24 Januari 2015

S KE, apaan itu? Sengaja, biar pada penasaran. SKE adalah kependekan dari Sindu Kusuma Edupark, wahana wisata baru di Jogja yang baru di soft launching akhir Desember 2014 kemarin. Yeah, bisa dibilang masih kinyis-kinyis lah! Lokasinya? Gampang sekali di cari, karena berada tak jauh dari pusat kotanya Jogja. Sindu Kusuma Edupark terhampar luas di Jl. Magelang km 3, Jambon, Sleman. 

19 Januari 2015

Gambar diolah dari berbagai sumber

Keren ya alat-alat olahraganya....:-) Andai punya satu saja diantaranya....Tapi sayang...harganya itu loh! Kalau harus membelinya dari kantong pribadi, sepertinya juga harus mikir beribu kali. Mending untuk kebutuhan anak-anak dulu aja. Berhubung temanya saya lagi kepengen kado apa....ya itu aja, alat olahraga..he..he 

Kok bisa tiba-tiba pengen alat olahraga? Sudah agak lama timbangan badan di rumah rusak gara-gara dipakai mainan. Dulu terakhir nimbang badan, pas bulan-bulan ASI ekslusifnya Alya. Waktu itu masih diposisi 51, atau 52 kg....lumayanlah, tidak begitu jauh dari angka ideal 48 kg. Nah, sekitar sebulan yang lalu, pas main kerumah sahabat dekat --mbak A, gitu aja namanya -- iseng-iseng nimbang di timbangan digital miliknya....54,3 kg. Woow...ternyata berat badan saya naik dengan sukses tanpa saya sadari. "Mbak, minum nutrisi ku aja...nanti tak programin, paling nggak sampai 2 bulan beratnya dah dibawah angka 50 kg", begitu pesan sahabat saya itu, yang memang belakangan ini sibuk jualan produk pelangsing tubuh yang katanya terbuat dari kedelai. 

Terus terang, kalau produk yang dijual via M-L-M, kok belum bisa tertarik ya. Kalau bahannya dari kedelai, mending buat beli tahu sama tempe...murah, meriah dan banyak yang diuntungkan...hi..hi. Akhirnya, saya pun gagal diprospek dan memilih untuk pamit pulang saja. "Oooo...,pantesan saya merasa cepat lelah, celana juga serasa pada kesempitan....lha wong badan melar tanpa terasa gini. Wah, berarti diantara banyak resolusi 2015....harus nambah satu lagi nih...mengontrol pertambahan berat badan. Yang naik timbangannya biar Raka dan Alya, ibunya cukup..sudah berlebihan soalnya. 

Pelangsingan secara instant, terus terang menggoda, tapi saya punya cerita sedih yang menimpa tetangga di kampung asal dulu. Cantik, badan yang sempurna, tapi divonis gagal ginjal dan akhirnya meninggal di usia muda. Usut punya usut...ternyata dia rajin mengkonsumsi jamu merk x yang fungsinya memang merampingkan badan. Cara yang menurut saya paling efektif, ya olahraga. Cara yang paling murah, ya joging atau bersepeda.... .Tapi seru juga kalau punya alat olahraga pribadi di rumah. Bisa momong anak, sambil mbakar lemak :-)

Tapi kalau ternyata ada yang mau ngado saya alat olahraga yang gede itu...pasti ribet deh bawanya. Kalo motoran aja, pasti ga kebawa. Eh, tapi kan banyak perusahaan yang bergerak dalam jasa pengantaran barang. Berarti harus pinter dan selektif milihnya. Nah, untuk urusan antar mengantar atau kirim-mengirim, kan bisa di percayakan via JNE. Jaman maju gini...saat belanja barang kan nggak harus datang sendiri ke toko, trus repot mbawanya. Pakai saja cara on-line, trus pakai jasa pengiriman JNE , oke !?

Tulisan ini disertakan dalam GA kado yang aku mau

18 Januari 2015

Semasa kecil saya itu anak yang masuk kategori malas membantu pekerjaan rumahan alias urusan domestiknya ibu. Kalo ndak disuruh...ya tidak melakukan. Itulah saya dulu. Kalo sekarang? Jelas beda.... :-) Makanya, agak kaget juga ketika sudah menikah, menjadi orang tua, trus tahu betapa beragamnya "pekerjaan rumahan" itu. "Ni anak, tahunya cuma sekolah, nonton tv, mbaca buku....sama main mlulu", mungkin itu gerutu orang tua saya kala itu.

Nah, di posisi saya sekarang...terus terang risih juga kalo ada kejadian dimana orang tua jumpalitan menyelesaikan pekerjaan, sementara si anak yang seharusnya sudah bisa membantu meringankan...justru asyik dengan acaranya sendiri. Ya, saya pun setuju kalau semuanya memang ada waktunya sendiri, anak-anak porsi terbesarnya bermain, dengan catatan jangan lupa belajar, remaja hura-hura, eh, belajar....dan dewasa adalah waktunya bekerja. 

13 Januari 2015

Sumber gambar dari www.disehat.com




Sebagian ibu tentu tak asing dengan tanaman satu ini. Bernama latin Ocillum basilum ferina citratum, di daerah saya tanaman ini akrab di sebut kemangi. Aromanya daunnya yang khas, kerap kali dimanfaatkan masyarakat sebagai pelengkap atau bahkan sebagai bumbu aneka masakan.

Kebetulan, saya termasuk perempuan penyuka dedaunan, (ha...ha, kayak kambing ya ) termasuk daun kemangi ini. Biasanya, kemangi saya gunakan sebagai lalapan, saya tambahkan pada soto ayam, atau beberapa jenis pepesan. Disamping aromanya yang membuat semakin lezat masakan, ternyata daun kemangipun menyimpan begitu banyak manfaat, seperti mencegah bau badan, mengobati sariawan, obat bagi yang panu-an, dan bahkan baik bagi yang punya masalah dalam mendapatkan keturunan. Woww...ternyata, meski bentuknya mungil, seabrek juga manfaatnya. 

Pada musim hujan, tanaman kemangi mudah ditemukan. Daunnya banyak dijual baik pasar tradisional maupun pasar swalayan. Saya sendiri biasa mendapatkan daun kemangi dari penjaja sayuran yang setiap hari lewat depan rumah, cukup 500 rupiah untuk 1 ikat yang berisi sekitar 10 batang kemangi. Murahkan? Tapi, sepertinya lebih enak kalau membudidayakan tanaman ini sendiri, dengan catatan ada waktu luang, dan juga sedikit lahan. Lagian...mumpung masih musim hujan, waktu yang paling tepat untuk bercocok tanam bukan?

gambar dari ratnaputriwijayanti.blogspot.com


Tanaman kemangi, berkembang biak melalui biji. Pada umur tertentu, tanaman ini akan menghasilkan bunga dengan biji di dalamnya. Saat bunga sudah berwarna coklat kehitaman, itu lah tanda biji yang terdapat di dalam bunga siap untuk di semaikan. 

Cara inilah yang jamak digunakan masyarakat untuk mengembangbiakkan tanaman kemangi. Namun, ternyata ada sebuah cara lagi yang lebih mudah dan lebih cepat. TERNYATA dengan hanya memetik dahan/pohon kemangi begitu saja dari pohon induk, lantas kita tanam di tanah, akan tumbuh tanaman kemangi baru. Untuk istilah pertaniannya, dengan cara stek batang mungkin. 

Awalnya saya hanya membeli dua ikat kemangi pada penjual sayur. Satu ikat untuk kami konsumsi, dan satu ikat lagi untuk saya ujicobakan tanam di halaman belakang. Karena masih seringnya turun hujan, saya tak perlu lagi menyiramnya. Cukup ditanam, di pot, polibag, atau tanah. Sekitar satu minggu pertama, tumbuhan kemangi terlihat agak layu. Tapi beberapa hari kemudian batang kemangi terlihat segar. Iseng, saya cabut kembali dan amati..oh, ternyata sudah tumbuh akar-akar mungil di sana. Jadi, untuk memiliki banyak pohon kemangi, saya tak lagi harus menunggu si pohon induk berbiji, untuk kemudian disemai.... cukup langsung memetik batangnya, dan segera pertemukan ia dengan tanah. Jangan lupa kondisikan tanah supaya tetap basah. Selamat mencoba!

11 Januari 2015


Bukit Bintang. Entahlah, sejak kapan nama itu di sandang. Awalnya, ia bukankah satu dari deretan panjang kawasan wisata di Jogja. Bisa dikatakan ia hanyalah tempat singgah untuk melepas lelah. Tapi satu yang pasti, tempat ini tak pernah sepi saat kami melintas di pagi ataupun sore hari. Itulah awal ketertarikan kami untuk ikut mendatangi tempat ini.

Bukit Bintang ato dikenal bukit Hargodumilah, secara administratif masih termasuk wilayah Kabupaten Bantul yang berbatasan dengan wilayah Pathuk, Gunung Kidul. Karena itu, ia justru lebih familiar disebut Bukit Bintang, Pathuk Gunung Kidul.

Tempatnya mudah sekali di cari, karena ia berada persis di sisi jalan yang menghubungkan kota Jogja dengan Kota Wonosari. Lalu, apa daya tarik tempat ini? Yup, tepat! Pemandangan alamnyanya...!

Menikmati Bukit Bintang, bisa kita lakukan di pagi dini hari, ataupun senja ketika matahari bersiap untuk pergi. Saat dini hari, tak hanya segarnya udara pegunungan yang kita dapatkan dan rasakan. Dari tempat ini pula kita bisa menikmati panorama Kota Jogja yang terselimuti kabut sembari menunggu munculnya mentari. Di sore hari yang cerah, menu utama tempat singgah ini adalah kita bisa menyaksikan "transisi" bumi yang begitu menawan dari ketinggian. Mumpung tidak hujan, sore kemarin kami sempatkan diri untuk ikut menikmati eksotisme Bukit Bintang saat menjelang malam.

Hampir pukul 6 sore kami sampai di parkiran. Dulunya, tempat ini hanyalah dataran tanpa bangunan. Seingat saya hanya satu atau dua hotel dan restoran yang ada di sana. Tapi seiring waktu berjalan, banyak sekali rumah makan permanen maupun semi permanen yang kemudian didirikan. Hampir semuanya mengusung konsep sama, rumah panggung yang berdiri di tepi jurang. Meski bukan akhir pekan, petang itu Bukit Bintang cukup ramai. Banyak pengunjung memilih menikmati pemandangan sembari duduk di tepian jalan di temani sepotong jagung bakar, ataupun minuman yang banyak di jajakan pedagang. Ada pula yang memilih mencari tempat duduk yang lebih representatif, dengan memilih salah satu dari banyak rumah makan yang ada.

Berhubung membawa dua anak kecil, kami memilih cara yang ke dua. Berkali-kali melintas, ini pertama kalinya meniatkan untuk mampir...itung-itung sekaligus wisata kuliner. Saya lupa, apa nama warung makan yang kami singgahi sore itu. Lumayan sepi. Waktu kami masuk, hanya ada sepasang remaja yang tengah menikmati suasana. Yang jelas, konsepnya lesehan....pas, karena itu lebih nyaman dan aman buat Raka dan Alya. Menu makanan dan minuman yang ditawarkan, cukup beragam. View dari tempat ini lumayan bagus. Setelahnya kami memesan 1 jagung bakar+kelapa muda untuk raka, 2 mangkok bakso+ 2 gelas teh anget untuk saya dan suami. Alya? Dari rumah, saya membawakannya bekal nasi dan juga roti untuknya.


Kalau mata saya cukup terpuaskan dengan ribuan "bintang" yang ada dibawah sana...rupanya anak-anak lebih tertarik untuk menikmati kelap-kelip lampu pesawat terbang yang juga nampak jelas. Traffict Bandara Adisucipto tengah sibuk rupanya, Sebentar-sebentar Raka dan Alya berteriak kegirangan, begitu menyaksikan pancaran lampu pesawat terbang yang hendak mengudara ataupun landing. Hmm...tak rugi memilih tempat ini untuk menikmati kebersamaan bersama kelurga.

Tapi...saran saya,

  • Mendingan JANGAN kalau hari sedang hujan atau angin kencang. Meskipun konstruksi bangunan adalah cor semen yang notabene cukup kuat, tempat ini berada di perbukitan, dengan banyak jurang. Takut saja kalau terjadi tanah longsor dan semacamnya. 
  • Saat memilih menikmati tempat ini di waktu malam, lengkapi anak dengan jaket, topi, atau baju hangat. Dingin soalnya, itu saja. Tak terasa, waktu beranjak semakin larut. Hidangan yang kami pesan dan bekal Alya, juga sudah ludes tanpa sisa. Berikutnya? Menuju ke kasir, untuk selanjutnya pulang saja. Sekedar informasi daftar harga: jagung bakar @ 7000, Teh panas @3000, Bakso @8000, Kelapa muda utuh @10.000. Tertarik juga untuk datang ke Bukit Bintang?

6 Januari 2015

Membaca, sejak kecil saya menyukainya. "Oh, kamu sudah bisa membaca ya?", saya ingat komentar ibu saya dulu ketika dengan spontan saya membaca merk tas kecil yang barusan dibelikan ibu. Umur berapa waktu itu, saya lupa. Yang pasti, begitu mengenal Budi, Wati, Iwan, beserta ibu dan bapaknya melalui buku paket SD terbitan Balai Pustaka, saya betah sekali belajar Bahasa Indonesia. INI IBU BUDI. INI BAPAK BUDI. IBU MEMASAK DI DAPUR. BAPAK BERANGKAT KE KANTOR. WATI MENYAPU HALAMAN. Ada yang ingat potongan-potongan kalimat di depan? Yups, inilah cikal-bakal ketrampilan membaca para murid SD di era 80-an. Nggak tau juga..untuk semua SD, atau hanya di sekolah di pelosok desa seperti tempat saya. Yang jelas, itulah buku pertama saya, yang sering saya baca keras-keras sepulang sekolah, sambil duduk di depan pintu rumah. Hi..hi, geli sendiri kalau mengingatnya.

Tidak seperti anak jaman sekarang, di jaman saya dulu jarang sekali orang tua memfasilitasi anak dengan "buku pendamping" atau bahan bacaan. Definisi buku kala itu ya cuma 3, buku tulis, buku gambar, dan buku pelajaran. Itu yang saya alami, mungkin berbeda bagi mereka yang terlahir dari keluarga kategori berada. 

"Ini apa Bu?" tanya saya ketika menemukan sepotong kertas, bergambar bagus, dan berwarna menarik bertuliskan BOBO. Sebuah sampul majalah anak-anak. Kala itu ia hanyalah secuil kertas yang difungsikan sebagai pembungkus makanan yang ibu beli di warung. "Kamu mau?", tanya Ibu dan saya pun mengangguk. Kalau tidak salah waktu itu saya kelas dua atau tiga sekolah dasar. Hingga suatu hari, di luar kebiasaan (biasanya sepulang dari pasar ibu membelikan dawet atau jajan pasar yang lain) ibu membelikan oleh-oleh berupa 2 buah majalah BOBO bekas pakai. Harganya kala itu, kata ibu seratus rupiah pereksemplar, sementara untuk harga barunya sekitar 600 rupiah kalau tidak salah. Tidak terbayangkan, betapa senangnya saya..!
Majalah jadul, awal ketertarikan untuk membaca


Dari situlah, saya mulai berkenalan dengan Bobo dan keluarganya, Juwita dan si Sirik, serial bersambung Paman Janggut, Oki dan Nirmala, Bona dan Rong-rong serta kisah Jenaka Paman Kikuk, Husin, dan Asta. Semenjak hari itu, begitu ibu ke pasar...oleh-oleh yang saya nantikan bukan lagi makanan atau minuman, melainkan majalah anak-anak (bekas). Beberapa majalah anak-anak yang sering dibelikan ibu untuk saya antara lain, BOBO, Ananda, Gatotkaca (majalah anak-anak terbitan Jogja, satu grup Kedaulatan Rakyat, sekarang sudah tidak terbit), dan juga KUNCUNG (kalau tidak salah ini adalah majalah terbitan Jawa Timur). 


Lalu apa yang saya dapatkan kala itu dengan membaca? Saya merasa dunia saya lebih luas dibandingkan dengan teman-teman sepermainan. Penguasaan vocabulary saya lebih lengkap. Saya ingat, ketika dalam sebuah ulangan ada sebuah soal seperti ini..."kata lain dari diskon atau potongan harga adalah....." dengan mantap saya menuliskan kata RABAT di kertas ulangan. Saya tahu karena pernah menemukan istilah itu pada majalah yang saya baca. Pernah saya mendapat pujian dari wali kelas ketika kelas 5 SD, waktu itu pelajaran membuat kalimat...kata beliau "Kalimat yang kamu buat bagus"... Siapa yang tidak bangga coba? :-) 


Memasuki remaja, genre bahan bacaan saya berubah. Dari yang awalnya kisah-kisah dongeng imaginatif ala Cinderella, Timun emas ataupun kisah-kisah putri dan pangeran dari Antah Brantah beralih ke kisah-kisah petualangan berbentuk novel. Bacaan favorit saya kala itu kisah Lima Sekawan dan juga Trio Detektif. Oh, ya...adakalanya juga saya membaca novel Wiro Sableng, dan juga novel-novel romantis karya Mira W. Untuk majalah, bacaan favorit saya kala remaja jatuh pada majalah Aneka dan juga Anita Cemerlang. Penuh dengan cerita pendek. Itu yang membuat saya suka. Lalu dari mana saya dapatkan berbagai bahan bacaan tersebut? Membaca atau meminjamnya di perpustakaan sekolah! Murah dan mudah.. 


"Sepertinya enak, kalau banyak buku terkumpul, mau mbaca tinggal pilih..." Ide sederhana itu pernah saya realisasikan bersama teman-teman kampung, diakhir tahun 90-an. Bersama dengan rekan-rekan remaja masjid, kami pernah meminta bantuan kepada warga sekitar berupa buku baru ataupun bekas. Memanfaatkan sebuah ruangan di masjid, sebuah perpustakaan sederhana pun berdiri. Kami berharap, setelah membaca Iqra selepas sholat Maghrib, anak-anak bisa membaca majalah ataupun membaca buku pelajaran yang ada. Awalnya perpustakaan yang kami kelola ramai-lancar, tapi lambat laun meredup karena koleksi buku yang makin lama makin menipis (rusak, ataupun dipinjam tapi tidak pulang alias hilang). Kesibukan para pengelolanya juga membuat perpustakaan masjid ini menjadi terabaikan, nyaris terlupakan. 

Sebuah niatan untuk menumbuhkan dan memfasilitasi minat baca masyarakat desa, pernah saya jalankan bersama teman-teman KKN di sebuah desa di Kecamatan Gantiwarno Klaten, ditahun 2001. Waktu itu, beberapa proposal untuk mendapatkan bantuan buku kami ajukan ke beberapa toko buku dan juga satu penerbit di Jogja. Hasilnya, puluhan buku terkumpul, dan lagi-lagi kami memilih masjid untuk meletakkannya. Alasannya? Di daerah pedesaan, masjid adalah fasilitas umum yang paling sering di kunjungi masyarakat. Bagaimana nasib buku-buku dan perpustakaan masjid itu kini? Entahlah.... begitu program KKN usai dan mahasiswa ditarik (kembali) ke kampus, kami belum pernah menengok perpustakaan masjid yang kami rintis. Sayang ya... 

Bersyukur, begitu menyelesaikan kuliah, dunia kerja yang saya masuki selalu berhubungan dengan aktivitas membaca dan menulis. Yup, media massa, sebuah area kerja yang lama saya idamkan untuk bisa berkecimpung di dalamnya. Pada level inilah saya bisa benar-benar memuaskan diri untuk membaca dan terus membaca. Tak hanya banyak bahan bacaan yang tersedia di depan mata, ketertarikan saya pada dunia kepenulisan juga tersalurkan, bisa pula dinikmati banyak orang. Saya yakin, ratusan naskah untuk tayangan feature ataupun dokumenter tak akan terlahir, seandainya saya dan teman-teman kala itu tak rajin membaca.
Beberapa buku yang saya tak bosan membacanya

Pergeseran demi pergeseran terus terjadi, seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia. Juga ketika saya harus memilih meninggalkan media demi keluarga. Ternyata peranan sebagai ibu, membawa banyak sekali perubahan. Inilah waktu dimana seorang perempuan harus benar-benar belajar berbagi . Tiba saatnya ketika saya harus me-regenerasikan apa yang saya punya dan apa yang saya bisa untuk anak-anak. Apa yang saya lakukan untuk mereka? Menumbuhkan minat baca dan kecintaan mereka pada buku. Buku dan anak-anak, dalam satu hal mereka sama, INVESTASI. 


Untuk usaha tersebut, adakalanya saya mengadopsi cara-cara ibu. Sengaja saya belikan mereka majalah second atau majalah baru, tapi sudah lewat masa berlaku alias expired yang bisa saya dapatkan dengan mudah di kios-kios majalah atau buku area Taman Pintar Jogja. 

Dengan cara itu saya bisa mendapatkan lebih banyak bahan bacaan dengan harga yang jauh lebih murah. Toh anak-anak tidak begitu mengutamakan segi aktualitas berita, itu menurut saya. Kala anak-anak libur sekolah, saya berusaha mengakrabkan mereka dengan buku dan toko buku. Tidak perlu melulu membeli buku-buku mahal untuk anak-anak. Banyak sekali bacaan anak-anak berkualitas, dengan harga yang relatif terjangkau.
Bacaan anak-anak di rumah

Mengajak anak-anak untuk datang ke perpustakaan umum atau perpustakaan daerah, bisa juga menjadi pilihan. Meskipun untuk yang satu ini terus terang masih jarang saya lakukan. Biasanya waktu menjadi kendala, karena jam buka perpustakaan yang hanya di hari kerja, sementara pada jam-jam tersebut anak masih dibangku sekolah. Cara ini baru saya terapkan ketika libur panjang sekolah saja. 

Memiliki anak-anak dengan minat baca tinggi, itu keinginan saya saat ini. Saya percaya, dengan membaca, kelak mereka akan mampu menggenggam dunia. Rumah, yang dilengkapi perpustakaan keluarga, itu obsesi saya berikutnya. Indah sekali membayangkan mereka bisa bermain, sekaligus belajar untuk bekal kehidupan mereka kelak, aamin.



Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca