27 Desember 2014

Alhamdulillah, salah satu kewajiban kami selaku orang tua dari seorang anak laki-laki sudah tertunaikan. Hari Jum'at, 26 Desember 2014, Raka menjalani khitan atau sunat. Sebenarnya ini adalah acara dadakan, bahkan nyaris tanpa rencana. Semuanya berawal dari kakak ipar yang sudah merencanakan untuk mengkhitankan sulungnya --pramudya, yang kini duduk di kelas 4 SD pada liburan sekolah kali ini. Begitu tahu rencana tersebut, sekitar tanggal 20an Desember kemarin suami saya iseng-iseng nanya ke Raka,"Le, kamu sunatan bareng mas Pram sekalian, mau?" "Haa...sunatan? Takut!" Begitu jawab Raka kala itu. "Nanti ayah kasih hadiah uang kalau mau...cukup buat beli mobil remot yang gede." Namanya anak-anak. Mendengar ada mainan disebut, kontan saja semringah. "Cukup buat beli mobil remot gede?" "Mau...." Begitulah asal muasalnya hingga raka, sulung kami yang awal Januari besok genap 8 tahun, berani untuk di sunat. Ada empat sayarat yang ia ajukan sebelum menjalani prosesi sunatan. Satu, begitu pulang sunat, langsung membeli mobil-mobilan remote control ukuran besar. Dua, diperbolehkan nge-game/memegang tablet selama prosesi sunat, dan ketiga, dibelikan permen lolipop yang akan ia emut selama ia di sunat....Wah, untuk syarat yang ketiga, terinspirasi Upin dan Ipin rupanya:-) dan yang terakhir, jalan-jalan dulu ke kebun binatang Gembira Loka sebelum sunatan. Tapi, It's Ok, syarat yang ajukan masih masuk akal. Setelah itu, ditetapkanlah hari "H" nya, Jum'at 26 Desember.
Satu hari sebelum sunat, ke kebun binatang dulu...

Sebelum hari H, sebenarny kami gambling saja dengan keberaniannya. Jangan-jangan, nanti begitu sampai klinik Raka berubah pikiran. Tapi kalaupun itu terjadi, kami akan memaklumi, toh usianya masih relatif kecil. Ditempat kami, rata-rata anak laki-laki akan menjalani prosesi sunat saat ia berusia 10 tahun. Singkat cerita, apa yang terjadi kemudian begitu sampai klinik? Rupanya iming-iming berupa mobil remote mengalahkan rasa takutnya Raka. Alhamdulillah...prosesi sunat yang berjalan sekitar 20 menit berjalan lancar. Ada yang punya anak laki-laki dan masih takut di sunat? Membangkitkan keberanian anak dengan model reward sepertinya bisa diujicobakan:-)
Raka dan mobil remote barunya

23 Desember 2014

Lagi-lagi saya kelupaan. Lupa kalau kemarin sudah tanggal 22 Desember, otomatis lupa pula kalau kemarin itu hari Ibu. Polosnya, yang saya ingat kemarin hanyalah hari Senin, Senin yang sama dengan Senin-Senin yang lain. Senin dimana suami kembali ngantor setelah libur 2 hari, Raka yang libur sekolah tapi sorenya mesti mengantar ia ngaji, dan Alya yang sudah bisa protes kalau ibunya Momong sambil nyambi. Ndilalah seharian alat komunikasi juga di monopoli anak-anak...Ngegame dan nonton Vcd. Mau bagaimana lagi? Resiko jadi ibu kali...:-) 

Postingan ini memang terlambat, agak basi, tapi daripada tidak sama sekali. Bukankah kasih ibu kepada anak-anaknya, dan juga sebaliknya cinta anak ke ibunya tak terbatas waktu dan tempat. Tidak melulu hanya di hari ibu? Kasih diantara mereka adalah maha luas, seluas samudra. Kasih seperti itu pulalah yang dikisahkan 125 blogger Indonesia dalam sebuah buku yang di launching Senin, 22 Desember 2014 kemarin. Berisikan 125 cerita yang berbeda, membuat buku ini kaya warna. Menguras air mata, namun sarat makna.

22 Desember 2014


  musim penghujan hadir tanpa pesan 
bawa kenangan lama tlah menghilang 
saat yang indah dikau dipelukan 
setiap nafasku adalah milikmu 
(Lirik lagu GERIMIS, Kla project) 


Hujan itu inspiratif. Kalau ada yang bilang hujan itu juga romantis, saya pun akan ikut angkat jari. Buktinya begitu banyak tembang dengan lirik-lirik puitis yang sepertinya tak jauh dari suasana hujan. Kalau tak percaya, coba saja minta tolong mr.google untuk mencarikan lirik lagu dengan tema hujan, maka sederet panjang kudu lbh urip yang memenuhi kriteria pencarianpun akan segera terpampang. Jadi kepikiran, jangan-jangan dulu Ibu Sud dan juga AT. Mahmud punya ide nulis lirik "Tik-tik Bunyi Hujan" dan "Hujan rintik-rintik" saat berada ditengah gerimis, atau justru lebatnya hujan. :-) 

15 Desember 2014




Hei bangun! Sudah mau ganti tahun....Blogmu sudah lumutan!

Seandainya blog saya ini bisa ngomong, mungkin dia akan berteriak seperti itu dan tak berlebihan kalau saya nobatkan tahun 2014 sebagai tahun istimewa. Cerita lengkapnya seperti ini. Blog pribadi ini lahir di tahun 2007. Di awal keberadaannya, saya tengok ia hampir setiap hari, saya jadikan ia sebagai salah satu tempat berbagi cerita sehari-hari. Lahirlah berbagai tulisan dengan beberapa label, dengan isi yang bervariasi mulai cerita perkembangan buah hati, curhat, sekedar foto dan juga beberapa tulisan fiksi. Semuanya masih bisa terjaga ditahun 2008 sampai tahun 2009. 

Ditahun 2009, Setelah tersibukkan dengan kegiatan baru, rupanya saya mulai melupakan media ini. Alasannya sederhana. Kala itu, internet masih belum bersifat massif seperti hari ini. Untuk mengupload saya harus mengetik di komputer rumah, memindah file, dan kemudian ke warnet untuk memposting file. Sungguh merepotkan, apalagi saat itu saya punya tanggung jawab mengurus segala sesuatu di rumah dan juga mendampingi serta mengawasi buah hati. Alhasil, blog yang saya buat dengan penuh cinta ini terbengkelai begitu saja.

Sumber gambar dari sini 

Lima tahun berlalu dan tanpa satu postingan apapun. Saya pun hampir lupa dengan keberadaan blog ini. Terinspirasi dari perjumpaan dengan seorang sahabat lama di dunia maya, cerita tentang betapa luasnya dunia yang kini ia punya, akhirnya hati saya terketuk untuk kembali menata blog ini. Saya kukuhkan niat saya untuk kembali menulis pada postingan pertama di tahun 2014.

Sampai dengan medio Desember ini, baru 8 tulisan yang bisa saya torehkan. Menilik perjalanannya selama 2 bulan terakhir, tulisan yang paling berkesan adalah cerita tentang sosok seorang ibu di mata saya, yang kisahnya saya tuangkan di sini. Kenapa ini istimewa? Karena melalui tulisan inilah untuk pertama kalinya saya membawa blog ini ke "dunia" yang lebih luas, menjadikannya agar lebih bisa dinikmati banyak orang melalui ajang Give Away. Dari langkah awal tersebut, mulailah saya belajar hal-hal baru yang awalnya memang saya tidak tahu. Jujur, di awal keberadaannya, blog ini tak lebih hanyalah sebuah buku harian yang isinya hanya saya nikmati secara pribadi. 

Resolusi tahun 2015? Sangat simpel. Mendayagunakan blog ini. Bagi saya, kemampuan menulis sama halnya pisau di dapur yang saya pakai setiap hari. Tumpul dan karatan kalau saya biarkan terdiam. Semakin ia saya pakai, semakin banyak manfaat yang ia datangkan. Demikian juga tulisan-tulisan yang akan bermunculan kelak. Semoga ia berguna untuk saya dan orang lain yang membacanya. Aamiin


Postingan ini diikutsertakan dalam lomba tengak-tengok blog sendiri berhadiah yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer

11 Desember 2014

Sesuai dengan namanya, kurikulum ini lahir di tahun 2013. Latar belakang kehadirannya tentu saja sebagai penyempurnaan kurikulum sebelumnya, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP yang diterapkan semenjak tahun 2006. Tahun lalu, beberapa sekolah ditunjuk sebagai pilot project hingga otomatis hanya beberapa sekolah saja yang menggunakan kurikulum tahun 2013. Mulai ajaran baru 2014 atau sekitar bulan Juli lalu,barulah kurikulum ini diberlakukan secara serentak di seluruh wilayah nusantara, untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. 

Masih segar dalam ingatan kita beberapa bulan yang lalu, ketika kurikulum ini mulai diberlakukan. Serentetan masalah pun mengiringi, dari distribusi buku paket yang mengalami keterlambatan, sosialisasi ke para guru yang waktunya mepet, hingga keluh kesah para guru saat harus melakukan penilaian kepada para siswanya. Kesan yang kemudian muncul adalah, kurikulum ini terlalu dipaksakan pelaksanaannya. Menanggapi hal tersebut, wajar kalau kemudian muncul kebijakan dari menteri pendidikan kita yang baru ; Stop pelaksanaan kurikulum 20013 bagi sekolah yang belum siap menerapkannya.
Gambar dari static.republika.co.id


"Jadi guru itu sekarang enak kok mbak....sekarang kan anak-anak yang diberi banyak tugas. Selain itu, bisa nggak bisa mereka kan tetep naik kelas. Jadi ibaratnya saya mau ngajar 'semau gue' toh anak-anak pasti naik kelas." ( statement seorang guru SD, berstatus PNS, suatu sore beberapa bulan yang lalu ketika ia bercerita ke saya bahwa di sekolahnya yang berada di lereng bukitpun kini sudah dilengkapi wi-fi oleh pemerintah) 

Waduh...kok begitu ya, batin saya kala itu. Sudah dibiayai negara pakai uang rakyat, masih mau bekerja seenaknya sendiri. Kalau banyak oknum guru yang memiliki pemikiran serupa dengan tetangga saya itu...bisa kacau ini negara! 

Nah, kalau yang ini, saya dapatkan saat mengantar anak saya sekolah. Gerutuan seorang ibu, kalau tidak salah anaknya duduk di kelas 5. "Anakku tuh tiap hari ada saja tugasnya.. Suruh bikin kliping, tapi nggak boleh cari dari internet...harus versi cetak. Lha sekarang kalo waktu mepet, cari yang cetak kan susah...mana saya langganannya cuma tabloid wanita. Klo sudah gitu, ibunya yang repot!" Kalau gerutuan yang ini, untung saya belum melakoni. Selama ini tugas yang diberikan guru ke anak sulung saya yang duduk di kelas 2 SD masih terhandle dengan baik --meskipun adakalanya berubah posisi, tugas anak menjadi tugas ibunya :-) 

Kembali ke topik semula. Sebagai masyarakat awam, saya menilai sebenarnya tujuan dari kurikulum 2013 cukup baik. Pembelajaran dibuat tematik integratif, dengan tema-tema yang dekat dengan keseharian anak misalnya Keluargaku, Aktivitasku Sehari-hari, Mengenal gejala alam, dsb. Buku pelajaran yang dibagikan gratis dari pemerintah, yang juga sekaligus berfungsi sebagai LKS kalau saya amati, minim "catatan" atau materi tetapi lebih kepada lembaran-lembaran kerja yang mengarahkan siswa untuk berdiskusi, seperti kalau jaman saya dulu CBSA. Pertanyaan-pertanyaan pun sepertinya ada pergeseran, kalau di buku-buku kurikulum terdahulu lebih banyak kata "sebutkan"....tapi dalam buku-buku kurikulum 2013, adalah "apa yang akan kamu lakukan jika......". Poinnya adalah mengajak para siswanya kepada sesuatu yang lebih riil. 

Efek dari sistem tematik integratif, adalah buku pelajaran yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Kalau di kurikulum sebelumnya mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, Bhs. Indonesia, PKn, Olahraga, Seni merupakan pelajaran yang berdiri sendiri, tapi dalam kurikulum 2013, beberapa pelajaran digabung. Khusus untuk jenjang SD, satu tema merupakan gabungan dari mata pelajaran Pkn, Bhs. Indonesia, IPA/IPS, Matematika, Olahraga, dan Seni. Rame kan? Yah..klo itu makanan mungkin mirip-mirip gado-gado :-) Sisi enaknya adalah muatan tas anak tak terlalu berat. Sisi repotnya adalah saat orang tua melakukan pendampingan saat belajar, terutama bagi siswa sekolah dasar, khususnya level awal. Ini yang saya alami. Karena catatan minim, susah melacak materi apa yang hari ini di berikan oleh guru, sebaliknya susah juga memberikan bekal materi untuk pelajarannya esok hari. Pernah suatu malam, saya asah Raka dengan materi hitungan, ee...ternyata esoknya sudah masuk materi penulisan tanda kapital. 

Dalam hal evaluasi hasil belajar, proses penilaian yang awalnya lebih bersifat kuantitatif, kemudian dialihkan kepada hal-hal yang sifatnya kualitatif dengan model sang guru menuliskannya dalam bentuk deskriptif ke dalam raport. Kalau diposisi orang tua, jujur saya lebih senang menerima hasil evaluasi dan prestasi anak saya dalam bentuk angka. Lebih gampang memantau seberapa pemahaman anak terhadap materi ketika yang disuguhkan adalah angka-angka. Puass rasanya kalau mendampingi anak belajar, kemudian ulangan, dan ketika dibagikan ada angka 90 atau 100 di kertas lembar jawaban. Saya yakin kalau untuk pendapat saya ini, saya tak sendiri. Kalu sifatnya deskriptif-analitis, kok sepertinya rentan dengan subyektifitas guru, sangat bisa dipengaruhi faktorlike and dislike, dan pinter-pinternya guru membuat diskripsi saja. Sayapun juga pernah menanyakan ketika ada forum orangtua-wali kelas bertemu, kalau sistem yang dipakai sekarang adalah penilaian deskriptif, penilaian bersifat kualitatif, kenapa untuk masuk ke jenjang berikutnya (SMP) yang digunakan masih saja indikator kuantitatif berupa skor UAN atau ujian sekolah? Dan jawaban yang diberikan adalah "belum ada petunjuk lebih lanjut dari dinas terkait"

Ah, sepertinya kurikulum 2013 memang mesti berbenah kembali. Tak enak rasanya menjadikan anak-anak itu sebagai bahan eksperimen sesuatu yang lahir terburu-buru. Alangkah indahnya kalau suatu saat ia datang kembali ke tengah warga, sudah dalam kondisi yang mendekati sempurna. Semoga.

2 Desember 2014

Alya Amira Salsabila, atau Alya, begitu ia biasa disapa. Ah, cepat sekali ia tumbuh dan besar. Tak terasa kini usianya sudah hampir 27 bulan, dan ternyata apa yang pernah dikatakan beberapa teman ke saya waktu itu memang benar...
Laki-laki dan perempuan memang setara. Tapi saya sepakat kalau ada yang menyatakan mereka berbeda. Jadi membiarkannya berbeda, menurut saya itu lebih baik. Kok malah ngomongin gender? Tentu saja bukan ke arah sana, tetapi sekedar teringat celetuk teman beberapa minggu setelah saya melahirkan Alya, "punya anak perempuan asyik lho...biasanya lebih ceriwis dan kemayu. Coba lihat saja nanti kalau tidak percaya".