27 Desember 2014

Alhamdulillah, salah satu kewajiban kami selaku orang tua dari seorang anak laki-laki sudah tertunaikan. Hari Jum'at, 26 Desember 2014, Raka menjalani khitan atau sunat. Sebenarnya ini adalah acara dadakan, bahkan nyaris tanpa rencana. Semuanya berawal dari kakak ipar yang sudah merencanakan untuk mengkhitankan sulungnya --pramudya, yang kini duduk di kelas 4 SD pada liburan sekolah kali ini. Begitu tahu rencana tersebut, sekitar tanggal 20an Desember kemarin suami saya iseng-iseng nanya ke Raka,"Le, kamu sunatan bareng mas Pram sekalian, mau?" "Haa...sunatan? Takut!" Begitu jawab Raka kala itu. "Nanti ayah kasih hadiah uang kalau mau...cukup buat beli mobil remot yang gede." Namanya anak-anak. Mendengar ada mainan disebut, kontan saja semringah. "Cukup buat beli mobil remot gede?" "Mau...." Begitulah asal muasalnya hingga raka, sulung kami yang awal Januari besok genap 8 tahun, berani untuk di sunat. Ada empat sayarat yang ia ajukan sebelum menjalani prosesi sunatan. Satu, begitu pulang sunat, langsung membeli mobil-mobilan remote control ukuran besar. Dua, diperbolehkan nge-game/memegang tablet selama prosesi sunat, dan ketiga, dibelikan permen lolipop yang akan ia emut selama ia di sunat....Wah, untuk syarat yang ketiga, terinspirasi Upin dan Ipin rupanya:-) dan yang terakhir, jalan-jalan dulu ke kebun binatang Gembira Loka sebelum sunatan. Tapi, It's Ok, syarat yang ajukan masih masuk akal. Setelah itu, ditetapkanlah hari "H" nya, Jum'at 26 Desember.
Satu hari sebelum sunat, ke kebun binatang dulu...

Sebelum hari H, sebenarny kami gambling saja dengan keberaniannya. Jangan-jangan, nanti begitu sampai klinik Raka berubah pikiran. Tapi kalaupun itu terjadi, kami akan memaklumi, toh usianya masih relatif kecil. Ditempat kami, rata-rata anak laki-laki akan menjalani prosesi sunat saat ia berusia 10 tahun. Singkat cerita, apa yang terjadi kemudian begitu sampai klinik? Rupanya iming-iming berupa mobil remote mengalahkan rasa takutnya Raka. Alhamdulillah...prosesi sunat yang berjalan sekitar 20 menit berjalan lancar. Ada yang punya anak laki-laki dan masih takut di sunat? Membangkitkan keberanian anak dengan model reward sepertinya bisa diujicobakan:-)
Raka dan mobil remote barunya

23 Desember 2014

Lagi-lagi saya kelupaan. Lupa kalau kemarin sudah tanggal 22 Desember, otomatis lupa pula kalau kemarin itu hari Ibu. Polosnya, yang saya ingat kemarin hanyalah hari Senin, Senin yang sama dengan Senin-Senin yang lain. Senin dimana suami kembali ngantor setelah libur 2 hari, Raka yang libur sekolah tapi sorenya mesti mengantar ia ngaji, dan Alya yang sudah bisa protes kalau ibunya Momong sambil nyambi. Ndilalah seharian alat komunikasi juga di monopoli anak-anak...Ngegame dan nonton Vcd. Mau bagaimana lagi? Resiko jadi ibu kali...:-) 

Postingan ini memang terlambat, agak basi, tapi daripada tidak sama sekali. Bukankah kasih ibu kepada anak-anaknya, dan juga sebaliknya cinta anak ke ibunya tak terbatas waktu dan tempat. Tidak melulu hanya di hari ibu? Kasih diantara mereka adalah maha luas, seluas samudra. Kasih seperti itu pulalah yang dikisahkan 125 blogger Indonesia dalam sebuah buku yang di launching Senin, 22 Desember 2014 kemarin. Berisikan 125 cerita yang berbeda, membuat buku ini kaya warna. Menguras air mata, namun sarat makna.

22 Desember 2014


  musim penghujan hadir tanpa pesan 
bawa kenangan lama tlah menghilang 
saat yang indah dikau dipelukan 
setiap nafasku adalah milikmu 
(Lirik lagu GERIMIS, Kla project) 


Hujan itu inspiratif. Kalau ada yang bilang hujan itu juga romantis, saya pun akan ikut angkat jari. Buktinya begitu banyak tembang dengan lirik-lirik puitis yang sepertinya tak jauh dari suasana hujan. Kalau tak percaya, coba saja minta tolong mr.google untuk mencarikan lirik lagu dengan tema hujan, maka sederet panjang kudu lbh urip yang memenuhi kriteria pencarianpun akan segera terpampang. Jadi kepikiran, jangan-jangan dulu Ibu Sud dan juga AT. Mahmud punya ide nulis lirik "Tik-tik Bunyi Hujan" dan "Hujan rintik-rintik" saat berada ditengah gerimis, atau justru lebatnya hujan. :-) 

15 Desember 2014




Hei bangun! Sudah mau ganti tahun....Blogmu sudah lumutan!

Seandainya blog saya ini bisa ngomong, mungkin dia akan berteriak seperti itu dan tak berlebihan kalau saya nobatkan tahun 2014 sebagai tahun istimewa. Cerita lengkapnya seperti ini. Blog pribadi ini lahir di tahun 2007. Di awal keberadaannya, saya tengok ia hampir setiap hari, saya jadikan ia sebagai salah satu tempat berbagi cerita sehari-hari. Lahirlah berbagai tulisan dengan beberapa label, dengan isi yang bervariasi mulai cerita perkembangan buah hati, curhat, sekedar foto dan juga beberapa tulisan fiksi. Semuanya masih bisa terjaga ditahun 2008 sampai tahun 2009. 

Ditahun 2009, Setelah tersibukkan dengan kegiatan baru, rupanya saya mulai melupakan media ini. Alasannya sederhana. Kala itu, internet masih belum bersifat massif seperti hari ini. Untuk mengupload saya harus mengetik di komputer rumah, memindah file, dan kemudian ke warnet untuk memposting file. Sungguh merepotkan, apalagi saat itu saya punya tanggung jawab mengurus segala sesuatu di rumah dan juga mendampingi serta mengawasi buah hati. Alhasil, blog yang saya buat dengan penuh cinta ini terbengkelai begitu saja.

Sumber gambar dari sini 

Lima tahun berlalu dan tanpa satu postingan apapun. Saya pun hampir lupa dengan keberadaan blog ini. Terinspirasi dari perjumpaan dengan seorang sahabat lama di dunia maya, cerita tentang betapa luasnya dunia yang kini ia punya, akhirnya hati saya terketuk untuk kembali menata blog ini. Saya kukuhkan niat saya untuk kembali menulis pada postingan pertama di tahun 2014.

Sampai dengan medio Desember ini, baru 8 tulisan yang bisa saya torehkan. Menilik perjalanannya selama 2 bulan terakhir, tulisan yang paling berkesan adalah cerita tentang sosok seorang ibu di mata saya, yang kisahnya saya tuangkan di sini. Kenapa ini istimewa? Karena melalui tulisan inilah untuk pertama kalinya saya membawa blog ini ke "dunia" yang lebih luas, menjadikannya agar lebih bisa dinikmati banyak orang melalui ajang Give Away. Dari langkah awal tersebut, mulailah saya belajar hal-hal baru yang awalnya memang saya tidak tahu. Jujur, di awal keberadaannya, blog ini tak lebih hanyalah sebuah buku harian yang isinya hanya saya nikmati secara pribadi. 

Resolusi tahun 2015? Sangat simpel. Mendayagunakan blog ini. Bagi saya, kemampuan menulis sama halnya pisau di dapur yang saya pakai setiap hari. Tumpul dan karatan kalau saya biarkan terdiam. Semakin ia saya pakai, semakin banyak manfaat yang ia datangkan. Demikian juga tulisan-tulisan yang akan bermunculan kelak. Semoga ia berguna untuk saya dan orang lain yang membacanya. Aamiin


Postingan ini diikutsertakan dalam lomba tengak-tengok blog sendiri berhadiah yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer

11 Desember 2014

Sesuai dengan namanya, kurikulum ini lahir di tahun 2013. Latar belakang kehadirannya tentu saja sebagai penyempurnaan kurikulum sebelumnya, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP yang diterapkan semenjak tahun 2006. Tahun lalu, beberapa sekolah ditunjuk sebagai pilot project hingga otomatis hanya beberapa sekolah saja yang menggunakan kurikulum tahun 2013. Mulai ajaran baru 2014 atau sekitar bulan Juli lalu,barulah kurikulum ini diberlakukan secara serentak di seluruh wilayah nusantara, untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. 

Masih segar dalam ingatan kita beberapa bulan yang lalu, ketika kurikulum ini mulai diberlakukan. Serentetan masalah pun mengiringi, dari distribusi buku paket yang mengalami keterlambatan, sosialisasi ke para guru yang waktunya mepet, hingga keluh kesah para guru saat harus melakukan penilaian kepada para siswanya. Kesan yang kemudian muncul adalah, kurikulum ini terlalu dipaksakan pelaksanaannya. Menanggapi hal tersebut, wajar kalau kemudian muncul kebijakan dari menteri pendidikan kita yang baru ; Stop pelaksanaan kurikulum 20013 bagi sekolah yang belum siap menerapkannya.
Gambar dari static.republika.co.id


"Jadi guru itu sekarang enak kok mbak....sekarang kan anak-anak yang diberi banyak tugas. Selain itu, bisa nggak bisa mereka kan tetep naik kelas. Jadi ibaratnya saya mau ngajar 'semau gue' toh anak-anak pasti naik kelas." ( statement seorang guru SD, berstatus PNS, suatu sore beberapa bulan yang lalu ketika ia bercerita ke saya bahwa di sekolahnya yang berada di lereng bukitpun kini sudah dilengkapi wi-fi oleh pemerintah) 

Waduh...kok begitu ya, batin saya kala itu. Sudah dibiayai negara pakai uang rakyat, masih mau bekerja seenaknya sendiri. Kalau banyak oknum guru yang memiliki pemikiran serupa dengan tetangga saya itu...bisa kacau ini negara! 

Nah, kalau yang ini, saya dapatkan saat mengantar anak saya sekolah. Gerutuan seorang ibu, kalau tidak salah anaknya duduk di kelas 5. "Anakku tuh tiap hari ada saja tugasnya.. Suruh bikin kliping, tapi nggak boleh cari dari internet...harus versi cetak. Lha sekarang kalo waktu mepet, cari yang cetak kan susah...mana saya langganannya cuma tabloid wanita. Klo sudah gitu, ibunya yang repot!" Kalau gerutuan yang ini, untung saya belum melakoni. Selama ini tugas yang diberikan guru ke anak sulung saya yang duduk di kelas 2 SD masih terhandle dengan baik --meskipun adakalanya berubah posisi, tugas anak menjadi tugas ibunya :-) 

Kembali ke topik semula. Sebagai masyarakat awam, saya menilai sebenarnya tujuan dari kurikulum 2013 cukup baik. Pembelajaran dibuat tematik integratif, dengan tema-tema yang dekat dengan keseharian anak misalnya Keluargaku, Aktivitasku Sehari-hari, Mengenal gejala alam, dsb. Buku pelajaran yang dibagikan gratis dari pemerintah, yang juga sekaligus berfungsi sebagai LKS kalau saya amati, minim "catatan" atau materi tetapi lebih kepada lembaran-lembaran kerja yang mengarahkan siswa untuk berdiskusi, seperti kalau jaman saya dulu CBSA. Pertanyaan-pertanyaan pun sepertinya ada pergeseran, kalau di buku-buku kurikulum terdahulu lebih banyak kata "sebutkan"....tapi dalam buku-buku kurikulum 2013, adalah "apa yang akan kamu lakukan jika......". Poinnya adalah mengajak para siswanya kepada sesuatu yang lebih riil. 

Efek dari sistem tematik integratif, adalah buku pelajaran yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Kalau di kurikulum sebelumnya mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, Bhs. Indonesia, PKn, Olahraga, Seni merupakan pelajaran yang berdiri sendiri, tapi dalam kurikulum 2013, beberapa pelajaran digabung. Khusus untuk jenjang SD, satu tema merupakan gabungan dari mata pelajaran Pkn, Bhs. Indonesia, IPA/IPS, Matematika, Olahraga, dan Seni. Rame kan? Yah..klo itu makanan mungkin mirip-mirip gado-gado :-) Sisi enaknya adalah muatan tas anak tak terlalu berat. Sisi repotnya adalah saat orang tua melakukan pendampingan saat belajar, terutama bagi siswa sekolah dasar, khususnya level awal. Ini yang saya alami. Karena catatan minim, susah melacak materi apa yang hari ini di berikan oleh guru, sebaliknya susah juga memberikan bekal materi untuk pelajarannya esok hari. Pernah suatu malam, saya asah Raka dengan materi hitungan, ee...ternyata esoknya sudah masuk materi penulisan tanda kapital. 

Dalam hal evaluasi hasil belajar, proses penilaian yang awalnya lebih bersifat kuantitatif, kemudian dialihkan kepada hal-hal yang sifatnya kualitatif dengan model sang guru menuliskannya dalam bentuk deskriptif ke dalam raport. Kalau diposisi orang tua, jujur saya lebih senang menerima hasil evaluasi dan prestasi anak saya dalam bentuk angka. Lebih gampang memantau seberapa pemahaman anak terhadap materi ketika yang disuguhkan adalah angka-angka. Puass rasanya kalau mendampingi anak belajar, kemudian ulangan, dan ketika dibagikan ada angka 90 atau 100 di kertas lembar jawaban. Saya yakin kalau untuk pendapat saya ini, saya tak sendiri. Kalu sifatnya deskriptif-analitis, kok sepertinya rentan dengan subyektifitas guru, sangat bisa dipengaruhi faktorlike and dislike, dan pinter-pinternya guru membuat diskripsi saja. Sayapun juga pernah menanyakan ketika ada forum orangtua-wali kelas bertemu, kalau sistem yang dipakai sekarang adalah penilaian deskriptif, penilaian bersifat kualitatif, kenapa untuk masuk ke jenjang berikutnya (SMP) yang digunakan masih saja indikator kuantitatif berupa skor UAN atau ujian sekolah? Dan jawaban yang diberikan adalah "belum ada petunjuk lebih lanjut dari dinas terkait"

Ah, sepertinya kurikulum 2013 memang mesti berbenah kembali. Tak enak rasanya menjadikan anak-anak itu sebagai bahan eksperimen sesuatu yang lahir terburu-buru. Alangkah indahnya kalau suatu saat ia datang kembali ke tengah warga, sudah dalam kondisi yang mendekati sempurna. Semoga.

2 Desember 2014

Alya Amira Salsabila, atau Alya, begitu ia biasa disapa. Ah, cepat sekali ia tumbuh dan besar. Tak terasa kini usianya sudah hampir 27 bulan, dan ternyata apa yang pernah dikatakan beberapa teman ke saya waktu itu memang benar...
Laki-laki dan perempuan memang setara. Tapi saya sepakat kalau ada yang menyatakan mereka berbeda. Jadi membiarkannya berbeda, menurut saya itu lebih baik. Kok malah ngomongin gender? Tentu saja bukan ke arah sana, tetapi sekedar teringat celetuk teman beberapa minggu setelah saya melahirkan Alya, "punya anak perempuan asyik lho...biasanya lebih ceriwis dan kemayu. Coba lihat saja nanti kalau tidak percaya".

28 November 2014

Air mata itu spontan tumpah, senyum di bibirpun merekah, dan kebahagiaan yang membuncah begitu tangisan nyaring itu terdengar. Alhamdulillah nak...akhirnya engkau lahir ke dunia, dan sempurnalah ibu sebagai seorang wanita.
Raka Adhi Gunattama


Awalnya saya tak mengira kalau kebiasaan buruk saya, yaitu malas minum akan berakibat pada kondisi kehamilan. Ini berawal dari kebiasaan baru begitu hamil, yaitu beser --istilah bahasa Jawa, sering merasa kebelet pipis. Waktu itu saya punya alasan sendiri, ribet kalau sebentar-sebentar harus ke toilet untuk buang air kecil. Kalau toiletnya dekat dan gampang dicari, mungkin tak begitu masalah. Tapi kalau keberadaannya sang toilet entah dimana, repot sendiri saya. Terlebih waktu itu saya masih berstatus sebagai awak media, banyak berada dilapangan dan jalanan, karena mobilitas yang cukup tinggi. 

23 November 2014

 
 .                                   Foto:dok. Harian Jogja
Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat perempuan saya bercerita bahwa ia sedang berada dalam kegalauan yang luar biasa. Apa yang terjadi? Rupanya sang mantan, belahan jiwa14 tahun silam, kembali hadir dalam kehidupannya. Tak hanya rajin menyapa melalui situs jejaring sosial, the ex-man nya itu bahkan sampai "mengejar" sahabat saya saat ia tengah menjemput sang buah hati di sekolah. 


Melihat gencarnya upaya sang mantan untuk (kembali) menaklukkan pujaan hati, jelas saja sahabat saya diliputi rasa bimbang. Kenangan indah bersama sang mantan kekasih, atau cinta dan kebaikan sang suami yang telah menemani hampir selama 8 tahun? Yang pasti, ada perasaan bersalah dalam posisinya sebagai istri, dan kini permasalahan itu ia rasakan sebagai beban berat yang harus ia curahkan. Bahkan sebuah pertanyaan pun terlontar dari mulutnya, "sudah gagalkah aku menjadi istri yang baik untuk suamiku....?"


 *** 

Menikah secara mudah bisa kita definisikan sebagai sebuah komitmen dihadapan Tuhan yang dibuat secara sadar, serius, sangat serius bahkan, antara seorang perempuan dan laki-laki untuk membentuk dan menjalankan sebuah biduk rumah tangga. Seiring adanya komitmen tersebut lahir pulalah hal-hal baru yang melingkupi kedua mempelai; status baru (suami dan istri), kesepakatan dan kompromi-kompromi baru, dan tak ketinggalan hak dan kewajiban yang baru untuk mereka. Hal yang wajar kalau kemudian sang suami berusaha menjadi suami terbaik bagi istrinya, begitupula sang istri; menjadi yang terbaik untuk suaminya. 


Seiring berjalannya waktu, adakalanya komitmen, kompromi, dan kesepakatan-kesepakan tadi harus tergoncang atau bahkan terkoyak oleh hal-hal yang tak bisa kita hindarkan. Seperti kisah sahabat saya tadi misalnya. Tanpa sedikitpun maksud untuk menggurui, saya meminta sahabat saya untuk tegas bersikap dan bertindak. Anggap saja pertemuannya dengan si "masa lalu" adalah ujian untuk mata kuliah KESETIAAN DAN KESADARAN PADA KOMITMEN. Saya yakin sepenuhnya, dengan kedewasaan sikap, salah satu mata kuliah dalam kehidupan perkawinan tersebut akan bisa terlampaui dengan baik. 


Lalu, seperti apakah istri yang baik itu? Memang tak mudah untuk memberikan gambaran pasti, misalnya saja seperti ini: Menjadi full time mother bagi anak-anak dan menjadi istri siaga bagi suami adalah pilihan baik. Tapi bukan berarti menjatuhkan pilihan pada selain full time mother adalah pilihan yang salah. Baik menurut saya mahaluas dan relatif. Kadar baik, tentu saja berbeda antar orang perorang. Menjadi istri yang baik, adalah ketika kita bisa menempatkan segala sesuatunya dengan pas atau tepat. Menjadi baik adalah ketika kita bisa menjaga keseimbangan sehingga langkah kita tidak timpang. Istri yang baik adalah ketika orang-orang yang ada di samping kita merasa nyaman dengan keberadaan kita. Semoga kita menjadi salah satu diantaranya.

  Tulisan ini di ikutkan giveaway Istri yang Baik

21 November 2014

Pantai!! Hmm....sungguh menggoda untuk dijadikan destinasi wisata keluarga. Beberapa waktu yang lalu kami mengunjungi pantai Pok Tunggal. Sebenarnya ini adalah kunjungan pertama kami. Hanya berbekal sedikit referensi dari tetangga, sebelum adzan subuh berkumandang, meluncurlah kami menuju salah satu kabupaten di sisi timur Propinsi Yogyakarta. Here we come, Gunung kidul!

14 November 2014


Bernostalgia dengan masa lalu, dimana kita bisa menarik ingatan kita kebelakang, menuntunnya untuk kembali ke masa puluhan tahun yang silam, ternyata menyenangkan. Tak hanya bisa menjadi salah satu kegiatan pengisi waktu luang, dengan aktivitas ini kita bisa mengumpulkan "remah-remah" memori yang awalnya terbuang, dan menjadikannya sebagai sesuatu yang tak terlupakan. Hal itu jugalah yang saya lakukan malam ini.Kini, usia saya mendekati angka 35 tahun. Itu artinya, saya harus membawa ingatan saya kembali ke era 80-an, ke suatu masa dimana figur seorang ibu benar-benar berperan, dan sangat menentukan terhadap pencapaian-pencapaian yang sudah saya raih sampai hari ini.
gambar dari www.blogammar.com


Ibu adalah perempuan desa yang sederhana. Berkain jarit dan kebaya, tanpa pulasan make-up, bersanggul kecil di belakang, seperti itulah penampilan ibu saya sehari-hari. Tugas pokoknya adalah sebagai ibu rumah tangga, selebihnya adalah membantu pekerjaan Bapak sebagai petani. Saya sendiri terlahir sebagai bungsu dari 3 bersaudara. Dua kakak saya laki-laki. Bisa ditebak, posisi tersebut seringkali teramat menguntungkan, satu-satunya anak perempuan, paling kecil lagi. Maka saat itu jadilah saya gadis kecil yang cenderung manja dan tidak mau kalah ataupun mengalah.  

Saya ingat, mungkin umur saya sekitar 6 atau 7 tahun, masa ketika saya sedang senang-senangnya bermain. Saat waktu makan tiba, ibu selalu menyuruh saya untuk pulang untuk makan di rumah. Tapi saya selalu menolak dan memilih untuk tetap bermain bersama teman-teman, dan bisa dipastikan yang kemudian dilakukan ibu adalah menyusul saya dengan semangkuk makanan, menyuapi gadis kecilnya dengan telaten, sementara saya tetap asyik bermain. 

Ada juga cerita lain. Kala itu saya belum masuk Taman Kanak-kanak. Badan saya demam, dan tubuh saya kata ibu mengurus. Suatu sore, sambil memandikan ibu bertanya, "badan kamu kok kurus, kamu pengen apa? "Pengen sepeda mini", sayapun menjawab. Tanpa menunggu lama, ibu bercerita kepada bapak dan paginya bapak langsung membelikan sebuah sepeda mini baru warna biru, dengan juntain pita warna-warni di lubang stang. Harganya kala itu saya dengar dua puluh tiga ribu rupiah. Ah, betapa senangnya saya. Tidak pernah saya pikirkan bagaimana perasaan 2 kakak saya yang meskipun usianya lebih besar, tetapi belum memiliki sepeda. 


Pernah juga saya membuat ibu kalang-kabut. Kejadiannya lupa tahun berapa, tapi sepertinya saat itu saya belum sekolah. Suatu malam, saya melihat sebuah tayangan film di TVRI. Dikisahkan dalam film tersebut sekelompok anak muda yang bertualang ke sebuah pulau, dan satu persatu mereka meninggal secara misterius. Dasar anak kecil, selesai melihat film itu saya begitu takut dengan apa yang namanya MATI. Otak bocah saya kemudian membuat kesimpulan "saya akan mati kalau saya lupa bernapas", maka setelah itu saya selalu menarik napas dengan keras, sampai terdengar. Yang ada dalam pikiran saya adalah, pokoknya tidak boleh lupa bernapas. Alhasil, saya bernafas seperti penderita gangguan paru-paru dikala terjaga, dan kembali normal pada saat tidur. Mendengar saya seperti sesak napas setiap hari, terang saja ibu panik. Diantarnya saya ke rumah sakit paru-paru, menjalani foto rontgen, dan keheranan begitu dokter menjelaskan tidak ada yang salah dengan paru-paru saya. Berapa lama persisnya saya terkena "sindrom takut lupa bernafas", saya tidak ingat, tapi mungkin kebiasaan aneh itu berhenti secara tidak sadar.

Dalam hal penanaman nilai-nilai agama dan moral, ibu saya cukup jempolan. Semua anak-anaknya dibiasakan sholat berjamaah di masjid minimal di waktu Maghrib dan Isya. Saya ingat saya pernah " memaksa" ibu untuk sholat. Saya protes karena waktu itu ibu tidak ke masjid. Waktu itu saya belum tahu kalau perempuan itu mengalami haid, dan memang tidak berkewajiban sholat, sementara mungkin ibu masih bingung bagaimana harus menjelaskan keanak perempuannya. Maka yang ibu lakukan ketika saya protes adalah, tetap melakukan gerakan sholat, bermukena, tapi mungkin tidak meniatkan untuk sholat. 

 Nah, kalau yang ini terjadi ketika saya baru masuk Sekolah Dasar. Entah kenapa, saya ingin setiap saya membuat ibu senang. Sehari-hari ibu rajin memasak untuk kami sekeluarga. Saya membayangkan, kalau saya pulang bermain, dan ibu saya beri oleh-oleh bahan sayuran, ia pasti akan senang sekali. Kebetulan, didekat tempat bermain ada pohon nangka milik tetangga yang meskipun pendek, tapi sudah berbuah. Tanpa pikir panjang, saya ambil sebuah nangka muda dan dengan riang saya bawa pulang untuk di berikan pada ibu. Betapa kagetnya, seketika dengan marah ibu bertanya darimana saya mendapatkan nangka muda itu. Setelah saya jelaskan, akhirnya ibulah yang meminta maaf kepada pemilik pohon, dan mewanti-wanti saya, jangan sekali-kali mengambil atau memetik sesuatu yang bukan ditanam bapak. 

 ***
Kini, bocah badung, bandel dan manja itu telah dewasa. Bahkan ia pun telah menjadi ibu untuk dua orang putra-putrinya. Betapa menjadi seorang ibu yang baik itu tidak mudah, sudah ia rasakan. Betapa menjadi seorang ibu itu harus berbekal berlapis-lapis kesabaran, telah ia mengerti. Untuk sosok ibu yang banyak mengajarkannya dengan beragam nilai kehidupan, ia hanya berharap, semoga ibu senantiasa sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Maturnuwun atas semuanya Ibu... 

artikel ini diikutkan pada kontes unggulan:hati ibu seluas samudra.

9 November 2014

Sejak ada Alya --adiknya Raka, saya sering mengamati polah tingkah anak-anak. Hal yang paling gampang dilihat adalah dari segi aspek perkembangan fisik-motorik mereka. Dibalik tubuh mungilnya, ternyata mereka adalah sosok yang tak kenal putus asa. Coba saja amati bayi usia 3 bulanan, betapa kuat mereka berusaha untuk sekedar memiringkan badan, untuk kemudian tengkurap. Acapkali gerakan tersebut dibarengi dengan teriakan sekuat tenaga layaknya seorang ibu yang tengah menjalani proses persalinan. Pernah mendampingi bayi yang tengah belajar berjalan? Berawal dari posisi merangkak, kemudian ia akan mencari sesuatu yang bisa ia jadikan pegangan. Setelah kakinya kuat menumpu, maka ia akan memberanikan diri untuk melangkah,terjatuh, dan belajar melangkah lebih jauh lagi tanpa kenal lelah. Setelah mendekati usia 2 tahun, ajaklah anak bermain lomba lari! Lihatlah betapa riangnya ia, rupanya ia tahu usahanya selama ini tak sia-sia. Kaki-kakinya cukup kokoh untuk berlari. ****** Beberapa hari yang lalu, berada diatas motor, sambil menunggu kemacetan yang tak segera terurai, saya melihat seorang bocah, kalau tidak salah perempuan, usia sekitar 13 bulanan yang sedang berada dalam fase "melancarkan" jalan. Berlatih dihalaman rumah, dengan pendampingan (mungkin) sang ibu. Berapa kali ia terjatuh, tapi tidak menangis, justru tertawa riang saat bisa berdiri dan berlatih kembali. Kalau sudah begitu, jadi malu saya. Kalah sama batita ternyata! Ulet dan semangat untuk bangun saat terpuruk itu yang butuh saya (atau kita?) upgrade... So, sesuatu telah saya pelajari hari itu: 1. Cepat bangun saat merasa gagal. Coba lagi selagi ada kesempatan. Kalaupun tidak ada...try another way... 2. Kecewa boleh, tapi jangan terlalu lama "menangis". Anak kecil saja mampu Jatuh-menangis-belajar lagi, kenapa kita tidak?

8 November 2014

Kalau blog ini diibaratkan sebuah rumah, mungkin terlihat renta dan hampir roboh. Tak terurus lama, sangat lama malah. Dulu saya banyak mengisi blog ini ketika saya sedang longgar, tidak terkejar deadline naskah tayangan tv lokal di mana saya bekerja. Ketika kemudian saya memutuskan kembali ke "rumah" produktifitas saya dalam menulis turun drastis, bahkan nyaris nol.. Kemampuan apapun, kalau lama tidak digunakan, maka akan tumpul. Itu pula yang saya rasakan. Termotivasi dengan seorang sahabat lama, saya ingin kembali "menata" halaman ini. Harap maklum dulu apabila isi atau tampilan blog ini masih berantakan, semoga kedepannya menjadi semakin baik dan bermanfaat. Amiin.