21 April 2009

Seorang teman saya pernah komplain, karena akhir-akhir ini saya selalu telat untuk membaca ataupun membalas sms. “Padahal kan kamu sekarang di rumah, dulu masih kerja, ada sms cepet balesnya.” Asumsinya adalah, dulu kerja aja masih sempat bales sms, sekarang kok telat mlulu. Jadi ibu RT kok tambah sibuk. Tapi setelah saya renungkan, bener juga... Sering sekali saya telat bales sms teman-teman atau membiarkan (tak sengaja ) sebuah panggilan menjadi missedcall. Kenapa ya..??
Seorang teman di periklanan dulu, kini di Bandung mengikuti suami. Popi namanya. Sudah cukup lama menjadi ibu Rumah tangga.Pernah ia berbagi kepada saya , pekerjaan rumah tangga itu nggak ada habisnya, ada dan selalu ada. Dulu, saya pernah memandang sebelah mata pekerjaan domestik. Tapi setelah menjalaninya...ternyata benar juga.. Tak jauh seperti pekerjaan publik, pekerjaan rumah tangga pun datang dan pergi bergantian. Bagaimana saya harus memanage rupiah agar bisa cukup untuk keperluan kami sekeluarga, membelanjakannya, mengolahnya. Mengatur rumah dan seisinya agar nyaman dilihat. Tampaknya sepele, tapi bisa juga serius. Apalagi punya anak kecil yang sedang mulai bandel dan hobi nyebar mainan ke penjuru rumah seperti Raka..... Gambaran nyatanya seperti ini, urusan anak selesai (mandi, makan, main atau mengantarnya sekolah, hingga kemudian ia tidur) kok nggak tega liat rumah berantakan. Dapur yang kotor, atau kulkas yang menuntut untuk dibersihkan. Pakaian tercuci, kering, masak gak di setrika?
“Bosan nggak jadi ibu Rumah Tangga?”, pertanyaan yang terlontar dari teman saya sekantor dulu setelah beberapa bulan tak bertemu. “Belum.” Jawab saya. Soal bosan apa nggak...relatif dan manusiawi sepertinya. Orang yang bekerja kantoran pun pasti ada titik jenuhnya alias bosan. Saat saya masih berkecimpung di luar rumah, saya pernah bosan dengan rutinitas terburu2 berangkat kantor-liputan-tulis naskah-pulang dengan terburu-buru juga. Saya pun harus siap jika suatu hari nanti saya merasa jenuh jadi ibu RT. Tergantung cara mensiasatinya menurut saya. Bagi saya, saat ini pekerjaan domestik ataupun publik sama berartinya. Semua ada sisi positifnya, ada sisi buruknya pula. Yang paling kentara membedakan adalah “penikmat hasil kerja kita”. Kalau dulu, saya dan teman-teman satu kru membuat sesuatu yang bisa dinikmati, ditonton banyak orang. Sedangkan klo sekarang, saya mengerjakan sesuatu yang hanya bisa dinikmati sedikit orang (untuk keluarga terutama). Itu juga mungkin yang membuat profesi ibu rumah tangga dipandang sebelah mata.Disepelekan. Bener nggak sih??
Jujur, dalam menjalani profesi yang sudah hampir terjalani setengah tahun ini..kadar keikhlasan saya pun masih turun-naik. Kadang masih ngiri juga lihat teman seangkatan, seumuran yang masih bebas “terbang tinggi” mengejar karir. Saya hanya bisa meredamnya dengan “kondisi kami berbeda, itu yang membuat jalan hidup kami berbeda”. Yang harus saya syukuri adalah, hidup saya sudah lengkap. Pernah saya membuat sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang, sekarang tiba waktu saya untuk berkarya untuk keluarga. Suatu saat nanti, saat anak-anak saya sudah bisa “dilepas”...kepengen sekali bisa kembali melakukan sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang. Akhirnya..Selamat Hari Kartini!!
Burung Kakatua
Uyung kaka ua…
Nggap ndela….
Nek dah ua…
Gigina ngga dua….
Tek dung… tek dung…tek dung…la..la
Tek dung…tek dung…tek dung..la..la…urung kaka ua!
Bangun Tidur
Ngun du yus ndi…..
Ndak pa sok gigi…
Bis ndi yong ibu…
Kan mpat du ku….
Topi Saya Bundar
Opi aya ndan..
Ndan opi aya..
Klo nda ndan...
Ukan opi aya...
Semenjak beberapa bulan lalu, tepatnya saat mendekati umur dua tahun, alhamdulillah Raka mulai senang bernyanyi, tepatnya ngikut saat diajari ibu atau ayahnya menyanyi. Awalnya hanya beberapa bunyi belakang yang ia ikuti, misalnya naek-naek ke puncak gunung ya cuma “nung” nya yang nyuara…tapi lama2 dengan bahasa yang masih seadanya, ia berusaha untuk mengikuti semua syair lagu yang ia dengar dari Vcd, computer ataupun kami nyanyikan sendiri. Belakangan ini, aksinya ia lengkapi dengan gerakan badan dengan membawa mic mainan. Hmmm….suka nyanyi ya Le?
“Raka ngomongnya dah banyak belum?” Sebuah sms, dari pak dhe Raka yang ada di Bandung saya terima beberapa saat yang lalu. Beberapa waktu lalu, kemampuan verbal Raka memang sempat membuat kami cemas. Kala usianya satu setengah tahun, masih sedikit sekali kata yang jelas ia ucapkan atau bisa kami mengerti. Itu jugalah yang kemudian mengenalkan kami pada PAUD Annur Sleman, mengantarkan saya untuk berdiskusi dengan para ustadzah di sana, atau sharing antar orang tua kala bertemu.
Dari hasil ngobrol-ngobrol itulah, saya menjadi tenang karena apa yang terjadi pada Raka kerap juga terjadi pada anak-anak yang lain, dan masih dalam tahap normal. Banyak hal yang memicu hingga kemampuan verbal anak kurang terasah, misalnya:
  • Kurang stimulasi. Ini yang membuat saya kerap bertanya, apa kemampuan verbal Raka kurang terstimulasi ya..? Sepertinya sejak dalam kandungan, saya rajin mengajaknya ngobrol, mengajaknya mendengar lagu anak2, musik klasik, bahkan lantunan juzz amma. Atau (mantan) pembantu di rumah kurang mengajaknya ngobrol?
  • Bingung bahasa. Bisa jadi. Di rumah raka memiliki beberapa Vcd lagu anak2 bahasa Indonesia dan bahasa inggris yang kerap ia putar. Dulu pembantu mengajaknya ngobrol dengan bahasa jawa logat jawatimuran. Saya dan ayahnya mengajaknya bicara dengan bahasa Indonesia campur bahasa Jawa versi Jogja.
  • Genetik. Ayah Raka termasuk pendiam. Jangan harap ayahnya akan bercerita panjang, bahkan klo nggak ditanya duluan, ni ayah jarang sekali ngomong. Nah..ibunya raka yang lebih ceriwis (dibandingkan ayah) (dulu) kalo pagi dah berangkat kerja, pulang dah maghrib, raka dah ngantuk…..
  • Kecenderungan anak laki-laki memang terlambat bicara, dibandingkan anak seusia yang berjenis kelamin perempuan.
Saya pernah googling di internet, dan menemukan informasi dimana ada satu masa yang dinamakan “ledakan bahasa”; yaitu ketika tiba-tiba tanpa kita sadari vocabulary yang dikuasai anak menjadi banyak. Rata-rata dialami seorang anak menjelang atau saat ia berusia sekitar dua tahun. Alhamdullilah, dengan stimulasi yang terus-menurus kami lakukan, pelan tapi pasti dari hari ke hari kemampuan bahasa raka kian bertambah. Sekarang Raka sudah bisa kami ajak ngobrol ataupun kami minta menceritakan apa yang barusan ia lihat. Misalnya saat ditanya:
Ibu : Raka ntar yen gede mo jadi apa?
R : Dok tel
I : Dokter nolong orang yang apa ka?
R : akit
I : Nanti klo ibu sakit, ibu di kasih apa?
R : obat..
I : Kok di kasih obat?
R : mbuh … (biar sembuh maksudnya)
I : baju dokter warnanya apa le?
R : Ijo (hijau)
I : (Amiin)
………….
Ibu : Raka. Klo siang ayah kemana?
R : ja (kerja)
Ibu : kerja dimana le ?
R : Tol (kantor)
Ibu : Emang kantornya ayah dimana?
R : eMan (Sleman)
Ibu : Klo pulang ayah bawa apa?
Raka : Dos. Dua. (he2, ayah raka memang hampir selalu lembur, sebagai oleh-oleh jatah nasi ataupun snack sering dibawa pulang untuk anak-istri)
Ibu : Isinya apa
R : Ayam, hah (pedas)
Sepulang dari jalan-jalan ke Taman kyai Langgeng, Magelang. Disana raka bertemu dengan badut berbaju poo, tokoh dalam film anak-anak teletubbies.
Ibu : Raka tadi liat apa?
R : Poo...
Ibu : Poo pake baju apa Le?
R : eyah (merah)
I : Trus Raka ngapain sama poo?
R : aYim (salim, salaman maksudnya)
Konon kebiasaan yang baik, harus ditanamkan sejak dini. Sudah lebih dari sebulan, kami membiasakan Raka sholat berjamaah di masjid di kala Maghrib. Suatu petang, sambil berjalan di masjid saya bercerita kepadanya, kalau masjid itu rumah Alloh, dan kita harus meneladani Nabi Muhammad. Satu hari kemudian, saya ingin ngetes dia..masihkah dia ingat dengan apa yang kemarin saya katakan:
Ibu : Le, kita mau ke masjid. Masjid itu rumah siapa?
Raka : Awoh (Alloh)
Ibu : Kalau Nabi kita siapa?
Raka : Amat (Muhammad)
Alhamdulillah........
Lagi bu… Mimik Teh, Mimik Susu bu…. Da da ayahhh!!..... Mbas yon (tumbas balon)… (sambil merajuk)ayah...jem mbak (game tembak2an), dll ..senengnya karena sekarang raka mulai banyak ngomong, gemar meniru apa yang barusan kami ucapkan atau barusan ia dengar.Makin besar, ternyata makin pinter juga dia ngeles sebuah jawaban dari ayah /ibunya.
Seperti sore itu, kala hujan dibulan April masih menyisakan sediki gerimis, adzan mahgrib berkumandang.
Raka : ayah...dzan, udu! (ayah, adzan, ayuk wudhu)
Ayah : Hujan ka, sholat rumah aja
Raka : Ayung! (payung)
Ayah : Senyum2...