15 Juli 2008


Menyadari lingkungan rumah kami yang minim anak-anak sebaya Raka, dan takut itu mempengaruhi perkembangan kemampuan verbal serta psikologisnya, akhirnya mulai tahun pelajaran ini raka kami daftarkan untuk mengikuti kelas batita di TPA An Nuur, Sleman, yogyakarta. Memiliki kemampuan sosialisasi yang lebih baik, serta potensi-potensinya dapat terstimulasi lebih baik, itulah harapan kami.

12 Juli kemarin, hari pertamanya mengenal lingkungan sekolahnya. Meski TPA tempat ia belajar menerapkan sistem full day dari senin sampai sabtu..untuk tahun ini kami memilih kelas insidental dulu. Untuk tahap awal, Raka hanya masuk di hari sabtu, dengan tarif harian, yang nanti diakumulasi di akhir bulan. Jalan tengah. Biar Raka tidak tercerabut dari lingkungan rumah, namun ia juga punya kesempatan bersosialisasi di luar . Ngirit ongkos juga.. (karena kami juga harus membayar si mbak yang bertugas jagain Raka kala ditinggal ayah-ibue kerja, ngangkat jemuran di kala hujan) Itulah alasan kami...

Hari pertama di sekolah, raka diantar sama ibu. Tas baru, sepatu baru, kaos baru...cakep pokoknya J Begitu sampai..raka langsung diajak kenalan sama teman barunya (tapi ibu lupa namanya siapa). Beberapa ustadzah sudah standby...menunggui beberapa anak yang masih sarapan atau makan snack. Naluri penjelajahnya mulai timbul; raka mulai berani menjelajahi lingkungan sekolah, tapi ya itu...tangan ibu digandeng, atau kalau ga gitu ibu ga boleh jauh2 dari raka.

Nggak sampai lima belas menit, raka mau membaur ma teman-temanya..ikut duduk sambil mainin pigeon mag2 yang ia bawa dr rumah. Ibupun sembunyi sambil bilang ke ustadzah “mbak..Raka saya tinggal ya”. EE..ternyata raka masih inget klo ia sama ibue...dicari...tapi nggak ketemu. (lha ibu ngumpet dibalik tembok). Nangisss!!! Huaa..Hua... trus dialihkan perhatiannya ma bu ustadzah...diem deh! Ibu bisa tersenyum.... “ibu berangkat kerja dulu ya ka...” (dalam hati tentunya).

Dikantor, ibu kok ya tetap kepikiran Raka.. ditempat baru, apakah ia banyak menangis, apakah ia mau makan, apakah ia mau berbaur dan bermain bersama teman-teman. Sesuai kesepakatan, ayah yang bertugas menjemput Raka, karena kantor tempat bekerja ayah cukup dekat dengan sekolah Raka. Via sms ibu wanti-wanti ke ayah...”yah, nanti klo pas jemput, tanya ke ustadzahnya..raka eek ga, nakal ga, mau makan ga, trus mau gabung ma teman-temannya nggak”.
Begitu pukul dua siang, bergegas ibu cabut dari kantor. Tidak sabar menunggu sms dan cerita ayah saat jemput Raka. Kangen dengan Raka juga tentunya.. dijalan menuju rumah, hp ibu berbunyi...penasaran, langsung ibu buka”Raka tak jemput langsung nangis. Td bangun tidur. Blm eek, maem dikit, sekarang lg dibikinin mie. Tdr 1 jam, mau maen ama temenne” sender: ayah
Bb/Tb : 11,1 kg/84cm
Motorik : lari-lari, sukanya ngejar ayam, kucing... sudah bisa minum pake gelas & pipet, tapi kalo maem masih disuapin meski seringnya pengen megang sendok sendiri alias maem sendiri.
Verbal : Maem, mbah, de (bude), emoh (jw), Moo (boneka sapi), memek (minum, tapi jarang diucapkan). Sebenarnya banyak mengeluarkan suara/teriak...tapi masih sulit dipahami artinya.
Sosial :Gemar meniru apa yang dilakukan orang sekitarnya (liat ayahnya cuci motor raka ambil ember kecil, ikut2an nyuci, bisa ngepel, nyapu). Mengerti setiap perintah sederhana, mis: “tolong ka...bawa ke tempat sampah”. “duduk ka”. “pura-pura tidur yuuk”. “cilukk-Baa”, “ayah disayang (cium)”, dll. Dah lumayan pemberani. Salaman ma orang baru dah mau.. Da..da, kissbye. Senang klo ketemu anak sebaya. Setiap mendengar adzan, raka langsung pasang tampang serius, mendengarkan baik2..trus mengangkat tangan&bersedekap J Mau menirukan saat diajari ibu “tepuk anak sholeh” ato gerakan lagu “topi saya bundar”.
Waktu saya masih kuliah, melihat para reporter/wartawan yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, bisa tau kejadian/peristiwa sebelum orang lain tau...sepertinya menantang dan menyenangkan sekali. Dulu sempat berfikir..”andai ada stasiun TV di Jogja....pasti asyik. Apalagi saya bisa menjadi bagian di dalamnya”.




Sepertinya tidak berlebihan, kalau saya bilang tempat ini sebagai obyek wisata wajib bagi wisatawan yang berlibur di Jogja. Apalagi bagi warga asli Jogja, aneh rasanya kalau belum pernah menikmati segarnya udara Kaliurang.

Sama-sama berada di kaki Merapi, sebetulnya obyek wisata ini cukup dekat dengan tempat tinggal kami. Kerinduan ayah akan teman-temannya yang selalu dapat jatah piket tiap minggu (pas masih di dinpar), kekangenan ibu menikmati kembali aroma alam pegunungan, dan keinginan kami menunjukkan banyak hal ke Raka, akhirnya membawa kami kembali ke tempat ini.

Sekitar dua tahun kami melupakan tempat indah ini. Meski ada pembangunan dan pembenahan di sana-sini, tapi tak banyak yang berubah. Segar...dingin....banyak orang pacaran! J Lalu apa yang bisa dinikmati anak-anak seusia Raka di tempat romantis ini?
Naik kereta mini yang mengelilingi kawasan Tlogo putri. Beruntung, saat naik kereta ini, ibu bertemu dengan teman lama semasa di SMU 5 dulu, bersama suami serta anaknya. Silaturahmi yang sekian tahun telah terputus, bisa terjalin kembali J
Melihat kesenian tradisional jathilan. Waktu jamannya ayah atau ibu..kesenian ini masih sering dimainkan dikampung-kampung. Tapi kalau sekarang, jarang sekali kesenian rakyat ini dipentaskan. Walau hidup di jaman modern, rasanya ga da salahnya Raka tau. Yah, sekedar tahu sudah cukup, soale ibu juga takut lihat tarian ini kalo yang nari dah pada ngamuk.
Menikmati aneka permainan modern, seperti ini misalnya...