Personal & Lifestyle Blog

8 September 2015

Demam Tak Biasa

Foto ini adalah foto lamanya Raka, ketika harus melawan penyakit "aneh" selama tiga minggu. Terjadi akhir 2012, ketika sulung saya masih duduk di TK besar, sementara adiknya belum genap 2 bulan. Sebenarnya, gejala awalnya biasa saja...tapi kemudian menjadi sesuatu yang agak-agak di luar logika... Ah, daripada kelamaan, baiklah...cerita dimulai saja.

Ruang Galilea 306 RS Bethesda, pertama, dan semoga yang terakhir

Saya inget, waktu itu hari Kamis, habis Maghrib...Raka diajak ayahnya keluar sebentar karena ada keperluan di rumah tetangga. Eh...begitu pulang, muntah-muntah. Ya, saya pikir dia masuk angin. Seperti biasa P3K pertama saya minyak kayu putih, dan kemudian tertidur. 

Pagi sepulang dari sekolah, ternyata sulung saya kembali muntah, dan saya raba badannya agak demam. Parasetamol kemudian segera saya berikan. Setelah itu ia mengaku mengantuk, dan kemudian tidur.. Oh, ya..selera makannya waktu itu bagus, tapi beberapa menit setelah makan, pasti ia akan muntah...dan banyak sekali.

Karena tak kunjung membaik, masih demam saat pengaruh obat habis dan juga muntah yang semakin sering, hari ke 2.. suami membawa Raka ke poliklinik terdekat. Dokter memberinya obat anti muntah dan parasetamol.. Hari ke 3...muncul sariawan, satu sariwan di bibir. Sementara demam masih, muntah masih.

Teringat dokter langganan kesukaan Raka ( pernah ke dokter tersebut, nggak ketemu dokternya, pulangnya langsung membaik) suami mengantar putra kami ke sana...mungkin ia akan tersugesti, trus segera membaik. Oleh dokter ini, Raka di diagnosa flu Singapur . Dokter meminta kami menghentikan anti muntah, dan meneruskan penurun panas. Dokter bilang, ini adalah inveksi virus yang nantinya akan sembuh dengan sendirinya, yang harus kami lakukan adalah meredakan demam dan mengobati sariawan dengan GOM. Ya sudah, kami manut.

Kunjungan ke 2 dokter, ternyata belum begitu terasa efeknya, Saat pengaruh obat habis, Raka masih saja demam. Dalam sehari, masih saja ada acara muntah. Kalau pasca minum obat saja ia bisa riang bermain, tapi sekitar 5 atau 6 jam berikutnya...demam lagi. Hari ke lima..dengan sigap suami membawanya ke poli anak RS Bethesda. Dokter masih menganjurkan rawat jalan, baru kalau demamnya tidak turun, ia harus kembali untuk keperluan test darah. 

Alhamdulillah masih bisa dirawat di rumah. Saya yang kala itu masih terkena  syndrom baby blues, dengan Alya yang tak sakit tapi rewel minta ampun --nangis terus, tanpa sebab jelas, hanya bisa berdoa semampu saya..semoga sulung kami segera sembuh. Tak bisa saya membayangkan kalau dengan bayi merah, saya harus nungguin Raka yang opname.

Hari ke 6...tak ada gejala Raka membaik. Malah saat ia kambuh, demamnya semakin tinggi... meski muntahnya semakin jarang. Waktu itu bayangan penyakit tipus dan DBD terus membayang di pelupuk mata. Ibu saya yang dikabari cucunya sakit, langsung meninggalkan bapak yang sudah sepuh sendirian di rumah Bantul. Bersama ibu saya, suami membawa Raka ke UGD Bethesda Yogya. Dirumah, tak henti saya memohon kepada-Nya, semoga test darah menunjukkan ia baik-baik saja, hingga kami bisa tetap berkumpul sembari merawat Raka.. 

Tapi melihat kondisi Raka yang kian lemah, dokter UGD menyarankan raka dipesankan kamar, untuk opname. Saya yang dirumah, ketika dikabari via telp Raka harus opname, cuma bisa mewek...bagpaimana nanti ngurusnya? RS kan jauh dari rumah? Suami menenangkan, "biar Raka saya yang urus..kamu fokus ke Alya....nanti mbah putri (ibu) biar pulang juga...kasian mbah kakung. Jadilah masing-masing dari kami menjadi single fighter...suami memutuskan cuti ngantor untuk fokus ngurus Raka di Bethesda, saya ngurus bayi Alya di rumah. Kami hanya saling mengabari melalui telepon. 

Sementara...di RS, Serangkaian test dimulai. Sampel darah diambil, untuk keperluan test darah lengkap. Kata suami, hasil test ada yang bisa langsung cepat dibaca, ada juga yang harus nunggu hasilnya 3 hari. Melihat pola demamnya, dokter menduga Raka terkena DB... Tapi hasil test darah menunjukkan semua baik dan normal. Kemudian dokter melakukan test untuk kemungkinan Raka terkena malaria, dan hasilnya pun negatif. Test urin, tidak ada gejala penyakit yang terbaca. Pun ketika dokter menganjurkan test widal guna mengetahui kemungkinan anak saya terjangkit thypus, ternyata negatif.

Harusnya kami senang dengan semua hasil test, tapi nyatanya Raka masih demam dan tergantung obat penurun panas. Meski begitu masuk Bethesda muntahnya berhenti, tapi...beberapa kali dalam sehari ia bisa tiba-tiba demam tinggi ( diatas 39). Beberapa kali ( kata suami) ia mendapatkan obat penurun panas yang disuntikkan lewat kaki. Selama belum ada diagnosa pasti dari dokter, kala itu Raka hanya diberikan infus, penurun panas, dan syrup imboost. Kami masih punya harapan untuk hasil test yang kata dokter harus nunggu 3 hari...semoga sumber demamnya segera diketahui. (Bersambung...)

5 comments:

  1. Semoga segera ketahuan penyebabnya :(

    ReplyDelete
  2. Tetangga saya ada tapi sudah remaja, opname beberapa hari terus sembuh, katanya sich typus.

    Kalau raka apa ya? Nunggu kelanjutannya :)

    ReplyDelete
  3. aamiin, penasaran mbak jadi Raka kena sakit apa? duhhh kebayang ya bingungnya seperti apa, kalau anak sakit mending kita yang menggantikans aja ya mbak

    ReplyDelete
  4. Cepat sembuh mak anaknya, biar bisa bermain lagi ^^

    ReplyDelete

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin