16 January 2018


Gara-gara kuota internet malam yang sering numpuk-numpuk dan sayang klo nggak termanfaatkan, kadang kalo lagi males untuk nulis atau bahkan untuk mbacapun lagi males juga (ya ampunn..saya kok pemalas banget), aktivitas favorit saya pas dini hari adalah cari-cari film di youtubeGo. Kadang langsung tonton, kadang save dulu, liatnya ntar sambil setrika --dan kemudian setrikanya ga kelar-kelar😊😊

Sejak jaman dahulu (ha..ha, kayak judul filmnya anak2) saya sukanya liat film nasional. Biar nggak repot mbaca subtitle. Genrenya, suka yang drama. Pokoknya yang gak ada adegan tembak-menembak, minim kekerasan, dan bukan film horor. Paling suka drama romantis tapi yang realistis. 

Penelusuran dari satu film ke film lain, hingga kemudian saya tertarik dengan judul film BATAS

Iya, Ini Film Lama

Dalam menikmati sebuah film, urusan film baru atau lama, buat saya nggak  begitu penting. Beda dengan berita yang sisi aktualitasnya memang harus dikedepankan. Kayak mbaca cerita fiksi intinya, mau buku baru atau buku lawas, kalau memang isinya bagus, suka, ya ga masalah. Film 'Batas' sendiri dirilis  pada Mei 2011, dan merupakan film besutan Rudi Soedjarwo, sutradara yang nggak perlu diragukan lagi kemampuannya. Seperti kebanyakan film-film nasional, film inipun juga merupakan adopsi dari sebuah novel dengan judul yang sama, karya Akmal Nasery Basval.

Karena film yang sudah lumayan lama, bintang-bintang yang ada dalam 'Batas' pun juga bisa dikategorikan senior. Marcella Zalianti (Jaleswari), Arifin Putra, Ardina Rasti, Jajang C. Noer, Piet Pagau, dan banyak lagi aktor lainnya.

Sinopsis



Film 'Batas' mengambil setting di Jakarta (sedikit sekali) sementara porsi terbesar adalah berlatar belakang  kehidupan masyarakat suku Dayak di Pontianak, Kalimantan Barat.

Film dibuka dengan adegan  seorang perempuan (Adina Rasti), yang berusaha lari dari kejaran dua laki-laki dewasa di tengah hutan. Kalau dari gelagatnya, sepertinya hendak diperkosa. Untungnya, datang beberapa pemuda, yang kemudian menolongnya --salah satunya, Arif (Arifin Putra). Sang Perempuan pingsan, dibawa ke kampung terdekat, dirawat oleh seorang ibu, Nawara (Jajang C Noer). Diceritakan kemudian, perempuan tadi mengalami depresi, bahkan namanya pun ia tak ingat, dan kemudian diberi nama Ubuh.

Adina Rasti sebagai Ubuh
Di sisi yang lain, ada perempuan kota  --Jaleswari ( Marcella Zalianti) yang barusan datang ke Pontianak. Ia merupakan utusan sebuah perusahaan yang bertugas melakukan riset, karena program CSR bidang pendidikan  perusahaan di kantornya selalu gagal, guru yang dikirim selalu berakhir tidak betah.

Medan jalan yang masih sulit, mobil jemputan yang mengalami ban kempes, hingga obrolan antara sopir-Janeswari tentang bahaya nabrak Babi bagi pengguna jalan..merupakan awal ketertarikan saya untuk terus menikmati film ini sampai akhir. "Pasti akan banyak lokalitas-lokalitas yang akan ditampilkan di film ini", Batin saya. Dan ternyata memang benar.

Ban mobil yang kempes, mengenalkan Jaleswari dengan Arif. Kemudian ia bertemu dengan Adeus, pemuda asli yang juga memiliki kepedulian terhadap pendidikan, Borneo, bocah pemberani, cucu Panglima, sang Ketua adat.

Di ceritakan, kemudian Jaleswari tinggal serumah dengan Nawara, Borneo, dan juga Ubuh. Ada banyak hal-hal menarik dan saya suka pada bagian ini. Bagaimana Jaleswari berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang jauh dengan mewahnya Jakarta, bagaimana kemudian ia bisa berbaur dengan anak-anak setempat, dan berbagi ilmu dengan mereka, hingga kemudian ia  bisa mengambil benang merah tentang penyebab kegagalan program CSR perusahaannya.

Yang Menarik dari Film BATAS


Pemain bisa menjiwai karakternya masing-masing dengan bagus

Ya, mungkin ini nggak bisa lepas dari pemilihan aktor-aktrisnya yang hampir semuanya adalah wajah-wajah lama, dan sudah memiliki jam terbang tinggi dalam dunia acting, baik itu melalui sinetron maupun dalam film layar lebar. 

Sayasuka sosok Jaleswari yang nggak hanya cantik, tapi juga smart dan juga pemberani. Cewek idaman banget pokoknya. Ada Panglima, sang ketua adat yang berwibawa. Peran seorang polisi intelejen di daerah perbatasanpun apik dimainkan oleh Arifin Putra. Ia bisa membawakan sosok seorang pemuda yang kalem, dengan sorot mata yang tegas --meski sebenarnya ia sedang jatuh cinta.

Batas Indonesia dan Malaysia, di pedalaman Kalimantan

Lokalitas Kalimantannya Nampak Banget

Meski yang nonton bakalan orang se- Indonesia, bahkan luar negeri, tapi karena setting cerita adalah kehidupan masyarakat di Suku Dayak, makan banyak banget obrolan antar pemain menggunakan dialog bahasa daerah, yang dilengkapi terjemahan di layar.

Di film ini, sutradara juga mampu dengan apik menggambarkan kehidupan masyarakat Dayak pedalaman yang masih taat dan patuh banget dengan kepala suku. Masyarakat yang gemar mengadakan berbagai ritual upacara. Habis nonton ini, jadinya malah penasaran..dalam kehidupan nyata, kayak gitu nggak sih hidup mereka? 

Mampu Mengeksplore Bumi Kalimantan yang Cantik


Anak-anak, belajar di alam
Banyak adegan-adegan dalam film ini yang dengan sengaja memanjakan mata saya dengan view-view alam yang mempesona. Sungai-sungai Kalimantan dengan kiri kanannya masih kawasan hutan, gunung hijau, alam pedesaan yang sejuk..Ahh, cakep pokoknya .

Pokoknya, karena ini review film lawas.. bagi yang belum nonton, coba gih nonton sendiri. Siapa tau pendapat kita sama..Eh, tapi kalaupun beda, ya gak apa-apa juga sih.

12 January 2018


Bagi seorang muslimah, mengenakan hijab adalah suatu kewajiban. Untungnya, saat ini banyak didesain dan dipasarkan berbagai jenis dan model jilbab yang bisa dipakai oleh para muslimah untuk memenuhi kewajibannya tersebut. Beberapa model jilbab memang terlihat lumayan rumit dalam hal penggunaannya. Untungnya, makin hari makin banyak desainer jilbab yang jago mengakalinya dan makin mempermudah para pemakai jilbab dengan semakin banyaknya  jilbab instan model terbaru,  sehingga kamu tidak perlu bingung untuk membuat kreasi jilbab yang bagus. Dengan jilbab instan pun, kamu tetap terlihat modis dan cantik. 

3 January 2018


Gemar membaca

Kalo anak-anak libur sekolah lumayan panjang seperti tempo hari itu, sebenarnya saya sering bingung mikirin aktivitas buat mereka. Saya lebih tenang anak-anak main macem sepedaan, petak umpet, atau ngendon di rumah juga boleh, tapi aktivitasnya berfaedah, daripada duduk anteng nyimak youtube yang isinya tutorial game. 

2 January 2018


Tak terpisahkan. Kalau boleh menggambarkan, begitulah hubungan manusia dan internet saat ini. Internet memungkinkan manusia terkoneksi, atau bahkan bekerja dari mana saja, tanpa batasan jarak. Fungsi internetpun semakin luas, tak hanya sebagai pusat informasi, tapi juga mampu menjadi sarana komunikasi yang efektif. 

29 December 2017



Biar nggak mlulu di Jogja, pas barengan liburan sekolah anak-anak, tempo hari kami maen ke Pantai Cahaya, Kendal. Sama seperti WBL maupun Atlantic Dreamland, penasaran saya tentang pantai Cahaya berawal dari banyaknya kaca belakang mobil bersticker; logo dengan tulisan THE SEA pantai cahaya, dengan 3 lumba-lumba yang melompat di udara. 

The power of sticker.😎😎

"Memang pantainya bersinar gitu Bu.." tanya Raka, sesaat sebelum kami berangkat. 

"Kalau lihat difoto sih biasa aja" jawab saya. Dan sampai sekarangpun, saya belum nemu jawaban kenapa ia dinamakan Pantai Cahaya. Mungkin saja sebuah harapan, agar pantai ini bisa menjadi "penerang" bagi banyak orang. Sumber rejeki maksudnya.. ah, tapi itu karangan saya aja.

24 December 2017

Soto Bathok

Popularitas Soto Bathok Mbah Katro Yogyakarta, sepertinya sudah tak perlu lagi dipertanyakan. Warung Soto sapi  dengan ciri khas menggunakan  bathok atau tempurung kelapa sebagai pengganti mangkok ini, lumayan terkenal dan banyak membuat penasaran para pecinta kulineran di wilayah Jogja dan sekitarnya.