CoretanBunda

Personal & Lifestyle Blog

17 December 2017

Beberapa hari berturut-turut, tempat tinggal saya diguyur hujan. Intensitasnya lumayan tinggi. Biasanya tengah hari keluar tanda-tanda, mendung. Lanjut hujan sampe sore, nyambung malam. Seneng-seneng aja klo saya, malah kruntelan di rumah. Paling nonton tv, atau klo masih punya setrikaan..nyetrika aja malah agak anget di badan.

13 December 2017


"Hanya seorang Ibu yang akan tahu panjangnya malam..saat anaknya demam"

Saya ingat betul apa yang pernah dikatakan Ibu, belasan tahun silam. Sayangnya, dulu saya nggak terlalu perhatian dengan apa yang pernah diucapkan Ibu. Iya, karena dulu saya masih gadis, belum terpikirkan dengan pengorbanan dan kasih-sayang seorang wanita, terlebih setelah berstatus sebagai Ibu.

11 December 2017


"Malam tahun baru, ke Prambanan aja po..?" 
Ajak pak suami, suatu hari dalam sebuah perjalanan dari Sleman menuju Bantul.

"Festival of light ya? Paling juga mirip sama yang di Monjali atau di Kaliurang Mas.." saya berusaha menanggapi.

Beberapa malam tahun baru  terakhir ini, memang sering kami lalui di luar rumah. Kadang sekedar keluar sore dan menjelang tengah malam pulang, karena anak-anak sudah mengantuk. Pernah juga sampe pukul 00 menikmati kemeriahan pesta kembang api di Monjali, dan pulang dinihari. Tapi semakin kesini, saya kok semakin malas.. 

Sepertinya, bukan cara seperti itu yang sedang saya cari. Saya lebih butuh esensinya. Ketika tahun baru, bukan hanya kerlipan ribuan kembang api di angkasa, riuh-rendah tiupan terompet, tapi sebuah niatan untuk bisa menjalani hidup yang lebih baik, tahun depan.

Yeah! Saya harus memiliki spirit baru menyongsong 2018.  Pergantian tahun, saya pengen melewatinya dalam suasana yang lebih sunyi dan hening. Di rumah saja mungkin, atau entah dimana nanti. 

Bagaimanapun, saya mesti bersyukur karena tahun ini terjalani dengan cukup baik. Saya jarang dihinggapi rasa bosan karena sudah memiliki kesibukan yang bahkan bisa menghasilkan. Menulis, melakukan hobi yang (kadangkala) mendapatkan fee lumayan, bukankah itu menyenangkan? 

Ada banyak hal lain yang juga harus saya syukuri. Anak-anak yang semakin tumbuh besar. Seringkali memang mereka menjadi pemicu emosi, tapi tanpa mereka...saya tahu rumah akan sepi. 

Lantas, apakah 2018 saya masih punya obsesi? Meski saya termasuk aliran yang lebih suka nyantai, nggak perlu ngoyo ataupun saklek dalam menjalani hidup, tapi obsesi dan resolusi itu penting. Pertama, tentu agar saya punya tujuan yang ingin saya capai. Kedua, biar saya nggak lupa sama keinginan, dan nggak keluar jalur terlalu jauh. Ketiga, biar hidup saya makin terarah.


Setidaknya, ada 3 resolusi yang ingin saya lakukan di tahun 2018


1. Memberikan waktu yang lebih banyak untuk Orang tua.

Setiap kali datang menengok Orang tua, saya sadar mereka semakin tua, dengan badan semakin lemah, kulit keriput, dan badan yang semakin  membungkuk. Antara bersyukur dan sedih. Bersyukur, karena mereka masih ada, sedih karena hanya sedikit sekali saya "ada" untuk mereka. 

Diantara tiga anak Ibu dan Bapak, saya merasa saya lah yang paling belum bisa membuat mereka bahagia, ataupun bangga. Apa yang telah mereka perjuangkan dan berikan ke saya, belum bisa saya balas. Karena itu pula, saya punya niat, di sisa usia mereka, saya mau membahagiakan nenek- kakeknya Raka dan Alya, meski dengan cara sederhana, menengok  dan menemani sesering yang saya bisa.


2. Lebih serius menjalani pekerjaan

Tentu saja pekerjaan sebagai manager rumah tangga plus memaksimalkan blog dan sosial media yang saya miliki. Terus terang, kalau sedang mood nulis, dua jam pun saya bisa menulis satu artikel. Tapi kalau rasa malas datang, ya..saya hanya akan menjadi deadliner sejati, dengan hasil tulisan ala kadarnya. Oke, dari segi kuantitas, artikel yang saya buat di tahun ini jauh lebih banyak apabila dibandingkan tahun 2016. Tapi dari segi kualitas? Sepertinya masih dalam status "jalan di tempat". Itu artinya, saya mesti lebih banyak belajar dan belajar lagi. Lebih banyak membaca, dan lebih produktif menulis.

3. Gaya hidup yang lebih sehat

Saat ini, saya punya beberapa kesalahan yang ingin saya benahi. Pertama, saya malas olahraga. Kedua, saya suka begadang. Ketiga, asupan buah dan sayur saya masih kurang. Padahal, saya tahu ketiga pola hidup tersebut di atas nggak baik untuk kesehatan. 

Makanya saya mesti berbenah, memperbaiki diri. Bahkan mungkin harus segera, nggak mesti nunggu matahari 2018.

Seperti beberapa hari lalu. Saya yang awalnya baik-baik saja, tapi mungkin karena mengabaikan sinyal tubuh, akhirnya tumbang. Untung tidak terlalu lama. Theragran-M menjadi  salah satu yang berjasa saat saya melewati masa penyembuhan.



Satu kemasan Theragran-M berisi 4 kapsul salut gula yang kaya akan kandungan vitamin B1, B 6, B12 dan beberapa zat  penting lainnya. Komposisi  komplit ini menjadikan ia sebagai pilihan vitamin untuk memulihkan kondisi tubuh setelah sakit.

Saya sadar, tanpa modal kesehatan, maka segala resolusi yang sudah saya buat akan sia-sia dan berakhir percuma. By the way, teman-teman sudah siap songsong 2018? Tetap sehat dan semangat yaa?!

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M





7 December 2017

"Ngapain e ndusel-ndusel ibu, mau etek-etek lagi pho..?” Dan seperti biasanya Alya akan menjawab sembari senyum-senyum, "Malu...udah gede kok.”  Bukan sekali atau dua kali anak saya akan tiba-tiba bertingkah seperti bayi lagi, mendekatkan tubuhnya ke badan saya, seperti saat dulu ia masih menyusu. Mungkin ia lagi pengen bermanja-manja, seperti yang ia lakukan sore itu.

Menyusui bayi atau dalam bahasa balitanya Alya etek-etek memang merupakan aktivitas yang sudah tak lagi saya lakukan. Saya menyapih gadis kecil saya sekitar 2 tahun silam, saat Alya hampir berusia 3 tahun. 

4 December 2017


Orang Jawa yang nggak nJawani. Siapa itu? Saya. Padahal lahir, besar dan kayaknya bakalan sampe tua juga di Jogja. Sekolah-kuliah juga di Jogja terus. Tapi beneran...kepala bisa langsung nyut-nyut saat Raka pulang sekolah trus bilang.. "Bu...bahasa Jawane nggon wayang ada PR" atau kalau nggak gitu.. "Ada PR mbaca aksara Jawa..banyak". Thuing!😯😯

2 December 2017


Mengganti baju, mengganti celana, menyusui, menyuapi dan juga menggendong. Kalau boleh bernostalgia, 5 aktivitas itulah yang paling sering dilakukan seorang perempuan, saat memiliki bayi. Bersyukur karena tahap-tahap itu hampir semuanya sudah saya lewati. Tinggal mengganti baju, makein celana, sama nyuapi aja yang kadang-kadang Alya masih minta bantuan ibunya.

1 December 2017


Jaket memang memiliki fungsi dan manfaat yang sangat penting. Tidak hanya untuk orang dewasa saja, namun anak-anak serta bayi pun juga harus memiliki sebuah jaket yang dapat digunakan ketika musim hujan tiba, karena otomatis udara akan menjadi lebih dingin. Jaket menjadi piranti yang penting pula untuk dikenakan ketika bepergian, misalnya saat mengendarai motor atau tengah berada di daerah pegunungan yang notabene memiliki udara yang lebih dingin.