Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

22 Juni 2017

Sebagai Warga Negara yang Baik, Mari Kita Cintai Batik

Sejarah dan Perkembangan Seni Batik

Siapapun tahu, batik merupakan seni warisan nenek moyang bangsa Indonesia, khususnya Jawa yang sampai saat ini masih bertahan. Banyak literatur menyebutkan, sejarah batik sudah dimulai di era kerajaan Majapahit, yang kemudian terus berkembang pada masa kerajaan-kerajaan setelahnya.

Pada awalnya batik diproduksi untuk kebutuhan internal keraton atau kerajaan, dan hanya dimilik keluarga istana.  Hingga lambat laun, dalam perkembangannya batik mampu menjelma sebagai asset budaya yang bisa di sentuh dan dimiliki oleh semua strata dalam masyarakat kita.

perempuan sedang membatik
img: www.pixabay.com

20 Mei 2017

4 Tradisi Masyarakat Jawa Sebelum Bulan Puasa


Waktu bagai berlari, nggak kerasa bulan Mei sudah mendekati ujung. Itu artinya, Ramadhan udah bener-bener di depan mata. Nggak hanya di dunia maya, media sosial sudah penuh nuansa penyambutan Ramadhan.

Ngomongin puasa, ada beberapa tradisi rutin ala masyarakat Jogja (atau Jawa pada umumnya) yang setiap tahun diadakan menjelang bulan Ramadhan. Kalau saya amati, nuansa Jawa nya memang lebih kentara pada masyarakat desa, musalnya di kampung dulu saya lahir dan besar, atau di desa di mana saya tinggal sekarang. 

Berbeda cara, tapi tetap ada dari tahun ke tahun, dan memang sudah menjadi semacam tradisi. Setidaknya ada 4 tradisi masayarakat menjelang datangnya puasa yang masih langgeng dipertahankan masyarakat.

Besrik Makam

Besrik makam, artinya membersihkan makam. Kalau tradisi yang ini, lebih ke tugasnya para pria atau lebih tepatnya para bapak-bapak atau suami. Jadi, biasanya akan ada kesepakatan kampung, dimana ada satu hari (hari libur) dimana para pria ini akan datang ke area pemakaman desa dengan berbekal sapu, cangkul, ataupun arit untuk kemudian bebenah, bersih-bersih dan beres-beres di area pemakaman.

Nyekar


sumber gambar: wohingbasajawa-nuri.blogspot.co.id
Nyekar dari kata sekar yang artinya bunga. Kalau menjelang puasa gini, salah satu komoditas yang laris manis adalah bunga. Bukan tanaman bunga atau bunga potong, tapi bunga yang biasa dibawa untuk mengunjungi makam.

Alhamdulillah, dua orang tua saya masih sehat. Tapi saya ingat, dulu waktu kecil sering diajak bapak ke makam kakek nenek. Dalam tradisi kampung kelahiran saya, kehadiran bunga tidak begitu penting. Hampir semua acara di pemakaman tidak menggunakan bunga sebagai ubo rampe. Menjelang ramadhan, area pemakaman memang lebih ramai dari biasanya. Setiap ke makam, yang saya lihat orang-orang hanya akan membawa buku surah Yaasin, membacanya di makam, mencabuti seandainya ada rumput liar yang tumbuh di sekeliling pusara, dan sudah.

Berbeda tempat, beda pula tradisi. Di kampung saya tinggal kini, keberadaan bunga seolah sesuatu yang vital. Ada kematian, pakai bunga,  Ke makam, nyangking bunga, ada syukuran kelahiran bayi, ada bunga juga. Mungkin ada semacam sinkretisme agama, tapi ya sudah..bagi saya bunga bermakna hiasan dan sumber keharuman. Itu saja.

Nyadran

Nyadran juga merupakan salah satu tradisi penyambutan bulan Ramadhan masyarakat Jawa. Biasanya acara ini melibatkan semua masyarakat, pria-wanita, tua-muda, dewasa maupun anak-anak. Umumnya perhelatan ini di adakan H-10 dari datangnya Ramadhan. Tapi, karena berbagai pertimbangan, biasanya event ini tidak dilakukan secara serentak, yang artinya satu desa dengan desa yang lain berbeda waktu pelaksanaannya.

Inti dari acara Nyadran sebenarnya adalah mengingat nenek moyang, mendoakan keluarga yang sudah terlebih dulu meninggal dan juga mengingatkan ke yang masih hidup kalau suatu saat akan meninggal pula. Makanya, acara wajib dalam tradisi ini adalah menggelar doa bersama atau tahlil.

Meski inti dan tujuannya sama, tapi tetep ada perbedaan juga pas pelaksanaan. Di beberapa desa, termasuk di wilayah saya tinggal saat ini, acara Nyadran di gelar di area pemakaman, dengan menggabungkan doa bersama plus kenduri. Bahkan ada beberapa desa tetangga yang masih 'setia' dengan menu wajib ketan-kolak-apem, yang  konon menyimpan makna sendiri-sendiri.

Di kampung saya lahir dan besar, acara Nyadran diisi membaca tahlil dan ceramah pengajian. Tanpa kenduri, tanpa kolak-ketan-apem (snack biasa), dan lokasipun di masjid, bukan di area pemakaman. 

Bisa jadi, di beda wilayah, tradisi Nyadran akan berbeda pula dalam hal teknis pelaksanaan. Yah, mungkin di dalam kasus ini berlaku "dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung", anggep aja kekayaan budaya, yang penting intinya berdoa.

Padusan

sumber gambar: www.kr.co.id
Padusan berasal dari kata 'adus' yang artinya mandi. Intinya bersih diri sebelum menjalankan puasa. Saya ingat kata ibu, seyogyanya mandi keramas (mandi besar) dulu sebelum puasa hari pertama. Nggak ada yang istimewa, mandi di kamar mandi, seperti sore-sore biasanya.

Tapi begitu sudah besar, saya ngerti dunia luar, ternyata banyak yang menjalankan tradisi padusan ini secara berbeda. Artinya, mereka memilih mendatangi tempat-tempat umum, seperti sungai, mata air, air terjun atau kolam renang untuk melakukan ritual padusan ini. Jadi dalam tradisi padusan ini, semacam ada dua versi. Versi pertama, mandi besar seperti biasa. Versi kedua, mandi rame-rame di tempat umum. Saya belum pernah nyoba versi kedua.. Nggak ah, malu.😎

Itu tadi 4 tradisi jelang ramadhan yang saya tahu. Di luar sana, saya yakin masih banyak tradisi atau kebiasaan masayarakat lain yang mungkin mirip atau bisa jadi sangat berbeda. Indonesia kita kan kaya!

Diberdayakan oleh Blogger.