31 Oktober 2018

Setelah genap 6 tahun, Akhirnya Lancar Membaca Juga


Saat Alya masih duduk di TK kecil, saya pernah cemas. Kemauannya membaca moody banget. Kadang mau, tapi seringnya nggak.  Ketika yang lain sudah mulai membaca buku cerita sendiri, ia maunya masih dibacakan. Sampai kemudian saya nanya ke guru di TKnya, dan dapat jawaban yang melegakan.

"Nggak apa-apa Bu...nggak usah dipaksakan. Pelan-pelan, nanti pasti mau ngantri mbaca kayak teman-temannya"

Oke. Setelah itu saya "setel kendor", dan benar..Alya terpengaruh teman-temannya yang tiap pagi sebelum jam masuk sekolah ngantri buat baca Iqra atau buku.
***

I-b-u, t-u-ru-!

I-b-u, m-a-k-a-n  e siap belum...?

Kayak gitu tu, tingkahnya Alya belakangan. Klo manggil saya nggak lagi Bu, tapi dieja..I-Be-U😊 

Belajar Membaca Untuk Pertamakali

Klo beberapa waktu lalu ia membaca dengan masih disuruh. Masih saya kasih tahu, setiap nemu bilboard, atau sticker, atau apalah..masih saya bilangin, itu bacanya begini, begitu... 

Beberapa hari terakhir, Alya sendiri yang sudah sukarela mbaca, misalnya kayak kemaren waktu saya ajak ia jemput kakaknya, trus lewat masjid di dalam kampung.

"Bu...itu masjidnya namanya Al-Barokah tho" 

Atau sesaat sebelum tidur, kalau biasanya ia minta dibacain 1 sampai kadang 4 buku cerita, sampai ia mengantuk dan tidur, sekarang seringnya ia minta ambil bagian membaca, baru nanti saya/pak suami yang nglanjutin.

Bulan ini umurnya memang sudah genap 6 tahun. Tahun depan, bayi yang dulu cuma bisa nangis, ngompol, dan eek ini sudah masuk SD. Kalau dirasa-rasain, cepet juga ya ternyata.

Fase Anak Trampil Membaca


Menurut saya, membaca ini kemampuan anak yang sama levelnya pula dengan kemampuan motorik (tengkurap-duduk-merangkak-belajar berdiri-berjalan-berlari). Sama-sama penting, cuma beda waktunya saja.

Semuanya butuh proses, dan waktu yang dibutuhkan untuk menguasai kemampuan ini, antar anak satu dengan anak yang lain berbeda. 

Banyak sumber mengatakan bahwa rata-rata anak akan berada pada tahapan umur membaca, saat ia berusia 6-7 tahun. Jadi klo misal belum bisa membaca masih di range usia itu, ya masih wajar. Untuk usia-usia dibawahnya, yang penting pemberian stimulasi, tanpa pemaksaan. Kalau dipressure, takutnya malah mogok.

Pernah mendapatkan informasi, katanya anak usia TK itu tidak boleh diajari membaca-menulis-berhitung. Hmm..kalau saya, lebih sepakat nggak boleh dipaksa, tapi sebisa mungkin kalau pas lulus, sudah bisa membaca.

Kenapa? Karena pas masuk SD materi dan buku pegangan anak kelas 1 itu sudah sangat jauh berbeda dengan jaman para orang tuanya dulu. Kalau saya, iya bener...belajar membaca pas kelas satu. Buku pelajarannya masih ada materi mengeja. Ini Budi, Ini Ibu Budi, dan Ini Bapak Budi. 

Tapi kalau sekarang? Materi kelas satu SD sudah kompleks. Sudah ada materi tentang energi. Kalau misal pas masuk SD belum bisa membaca (karena pas TK nggak belajar membaca) kayaknya kok susah.

Jadi memang ada semacam ketidaksinkronan dalam sistem pendidikan ya. Di TK dihimbau nggak boleh diajarin calistung, seleksi test masuk SD nggak boleh ada content calistung -- tapi begitu masuk SD, buku-buku pelajaran dan materi menuntut anak-anak yang sudah siap, bisa membaca+dan berhitung (dasar).

Seperti kepintaran-kepintaran anak yang lain, kemampuan membaca ini juga dilalui anak dengan step by step, nggak langsung tiba-tiba bisa membaca. Ada tahapannya juga. 

Kalau mengamati dua anak saya, awalnya mereka membaca simbol. Ini terjadi pas usia sekitar 3 tahunan/usia playgroup. Jadi anak bisa membaca Tango, Roma, atau Mc D...atau apa saja yang dekat dengan keseharian mereka, dengan melihat font/bentuk huruf pada kemasan. 

Kalau misalnya huruf-huruf tadi dipindah ke kertas, trus ditulis dengan jenis font lain..belum tentu anak-anak ini bisa membaca.

Setelah itu, anak-anak mulai bisa membedakan abjad. Baru kemudian membaca kata-kata yang mudah. Klo Alya, umur 4-5 tahun kemampuan membacanya masih kata-kata yang mudah, seperti membaca badan bis EKA, Pariwisata. Itu juga kadang kalau ganti jenis font sudah bingung.

Untuk buku penunjang  guna menstimulasi kemampuan membaca, TK nya Raka maupun Alya menggunakan buku Bacalah. Bukunya tipis, kertasnya agak coklat, harganya murah banget, tapi metodenya enak digunakan untuk membaca. 

Sistemnya mirip Iqra. Jadi anak diajak untuk membaca secara pertahap, dari yang level rendah, hingga yang level susunan hurufnya agak rumit. Totalnya ada 3 seri/3 jilid. Saat Tk kecil, Alya menamatkan 2 buku, dan di TK besar hampir setengah tahun 1 buku. Level completed! Setiap pagi, sekarang ia belajar membaca buku-buku cerita yang ia bawa dari rumah.

Anak Sekarang Lebih Cepat Bisa Membaca


Menurut pengamatan saya, rata-rata anak sekarang lebih cepet bisa membaca. Banyak faktor pendukungnya juga. 

Pertama, karena anak-anak sekarang lebih terstimulasi, bahkan secara tidak sengaja. Yang namanya tulisan, huruf, ada dimana-mana. Makanan-minuman, poster apa yang kita temui di jalan, bisa digunakan sebagai media untuk menumbuhkan minat baca sejak kecil. 


Faktor kedua, banyak metode untuk mengajari anak membaca dan bisa disesuaikan dengan kemauan anak. Saya ingat, dulu seorang teman memenuhi rumahnya dengan tulisan-tulisan yang di tempel di berbagai perabot rumah. 

Motifnya satu, stimulasi anaknya membaca. Metode Glenn Doman kalau tidak keliru. Jadi anak diajarkan untuk membaca perkata/nama benda. 

Pernah metode ini saya ujicobakan, tapi sepertinya lebih cepat menggunakan buku yang bertahap tadi. Ya memang setiap orang tua/anak akan nemu cara nyaman masing-masing saat belajar apapun. Kalau teman-teman, punya pengalaman seru saat mengajari anak-anak membaca?


3 komentar:

  1. Wah sama al...aku juga dulu bisa maca bar kelas 1 sd kok

    BalasHapus
  2. Mas mbarepku ya lancar setelah SD dan dia masuk SD 6 tahun lebih 2 bulan. Pas TK ada les calis tiap Jumat-Sabtu. Wis, mogoook terus. Sampe simbok stres.

    Eh setelah SD mau belajar baca. Pelan-pelan. Dan bacaan pertama yamg dia tuntaskan satu halaman full adalah buku resep masakan ������

    Setuju banget aku, anak pra-SD jangan dipaksa. Eh tapi SD udah harus bisa. Ya wis, belajar di rumah aja.

    BalasHapus
  3. alhamdulillah.....pasti senang banget.
    thank you for sharing

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin