29 Juni 2016


Pic dari www.unsplash.com

Sebelas tahun bersama, sepertinya cukup untuk mengerti sifat masing-masing dari kami. Seperti sepasang sandal kanan dan kiri, selayaknya kami harus saling melengkapi. Suami saya sangat pendiam, kurang romantis, tapi paling tidak, ia laki-laki yang bertanggungjawab terhadap keluarga. Sebuah cerita mengharukan, masih saya ingat betul...meskipun kejadiannya sudah lebih dari 3 tahun silam.

Semuanya berawal ketika sulung saya demam. Waktu itu ia masih berusia 5,5 tahunan. Sudah dua kali ke dokter umum terdekat, dan tidak juga membaik, akhirnya suami melarikan Raka ke sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Saya, di rumah bersama Alya yang waktu itu masih bayi 2 bulan. Tidak ada saudara yang bisa kami titipi bayi, karena kakak-kakak dan orang tua berbeda kabupaten. Tangis saya pecah ketika via telp suami mengabari, sulung saya harus opname.

16 Juni 2016


Kalau sudah jadi Emak-emak gini..ramadhan rasanya cepet. Tau-tau udah sampe tengahnya aja. Ha..ha, kenapa yaa?😀

Anyway, ini ramadhan pertama bagi sulung saya puasa sehari penuh. Dua ramadhan kemarin, masih puasa setengah hari. Kemarin-kemarin sih alasan kami, masih kasihan aja, takut badannya tambah kurus cungkring. Meski ramadhan tahun ini badan Raka masih tinggi-langsing, meski ayahnya aslinya belum tega, saya sebagai ibunya mesti tega. Udah 9 tahun juga, walau itungannya belum baligh, tetep kudu latihan puasa wajib. Dan mendekati setengah perjalanan ramadhan, alhamdulillah puasa Raka full, belum bolong. Ada drama-drama awal-awal puasa? Woo..ya jelas. Sempat mengeluh pusing di hari pertama, dan langsung sembuh begitu makan dan minum anget. *jadikesimpulannyapusingkarenalapardoang.

Permasalahan berikutnya, susah bangunin saat sahur. Itu pasti, kadang ngunyah nasi sambil mata merem. Untung ada Superdede di tv yang bisa nolong mbuka matanya, meski kadang efeknya jadi lupa sama piring-nasi alias ndomblog!😇 dan tau-tau Imsaakkkk...!! Dan penyelamat berikutnya adalah sereal yang jingle iklannya 🎶minum makanan bergizi🎶

13 Juni 2016

Masjid yang 25 tahun pertama menemani hidup saya, sebelum akhirnya pindah domisili ikut suami

Masjid=bengkung? Tentu saja tidak. Mereka benda yang berbeda, posisi yang tak sama, tapi menurutku ada kemiripan antar keduanya. Namanya Baiturrahman, dan masjid ini berdiri kokoh diantara  ratusan hunian ummat pedesaan,   pada salah satu kampung di Kabupaten Bantul.

Seperti bengkung ibu yang panjang, masjid ini pun pasti memiliki sejarah yang panjang. Berawal dari bentuk bangunan yang paling sederhana, beberapa kali renovasi hingga bentuk bangunan yang seperti saat ini, kata Bapak, usianya sudah bukan angka puluhan lagi, tapi sudah ratusan tahun.

Ibu selalu menyematkan apa yang ia punya ke dalam bengkung; bak kantong ajaib Doraemon yang bisa menyimpan apapun. Sama dengan fungsi masjid di kampung ini: serbaguna. Di sini lah puluhan anak mengenal huruf Alqur'an untuk pertama kali, bersujud menghadap-Nya 5 kali sehari,  memperdalam ilmu agama bersama Pak Kyai, dan bahkan ketika ada berita dukacita pun, masjid inilah pusatnya informasi.

Tadarus, adalah salah satu kegiatan di masjid ini saat ramadhan

Seperti bengkung yang tiap hari setia melilit di pinggang ibuku, bagi masyarakat desa, masjid adalah tali pemersatu. Di sinilah mereka tiap hari akan bertemu, menjalin relasi vertikal dengan-Nya, dan juga menjaga hubungan sosial antar sesama warga.



Catatan: bengkung, adalah kata lain dari stagen, yakni sabuk kain berukuran panjang, biasanya digunakan perempuan Jawa untuk mempertahankan kesingsetan pinggang ataupun mempererat lilitan kain jarit pada tubuh. 




Jumlah kata : 204 kata


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis: 1001 kisah Masjid



 

7 Juni 2016





"Aku mau ganti ponsel yang ada kameranya"

"Memang yang lama rusak?"

"Belum sih. Tapi hampir semua teman di kantor ponsel nya  pake kamera"

"Lha...kan yang itu masih masih bisa dipakai"

Obrolan antara saya dengan suami ini sudah terjadi lebih dari 9 tahun silam, tapi saya masih ingat. Wong tau istri mau lairan...lha kok malah kepengen ponsel baru, pake kamera segala..harganya kan pastinya lebih mahal. Bukankah ada kebutuhan yang lebih urgent? Kenapa dana tidak dipakai untuk persiapan proses kelahiran anak saja?

Belum ada kesepakatan, eh...tiba-tiba suatu siang suami saya menghilang. Ternyata ia menukartambahkan ponsel lamanya, dengan GSM baru yang dilengkapi fitur kamera. Oalah..yang hamil saya, kok ya yang ngidam  ponsel berkamera suami tho yaaa.. Gara-gara itu, saya sempat mogok ngobrol sama suami, beberapa hari saya milih diem. Berantem.

5 Juni 2016


Hati perempuan itu terluka. Ia butuh  pelarian untuk mengobati perih  hatinya. Untung saja ia masih ingat Tuhan, hingga tak lantas berlari ke rel kereta, atau meminum obat tidur 4 butir sekaligus. Ia masih sholat, masih bisa sesekali tertawa, meski canda akhirnya menjadi langka. Justru ia melangkah memasuki sebuah toko buku, berlama-lama di sana.

Biasanya, ia pergi hanya untuk kepentingan buku-buku kuliah. Tapi hari ini ia ingin sesuatu yang lain. Sebuah buku mungil yang terdisplay di rak , menarik perhatian gadis itu. Ia buka lembar-perlembar, hingga tanpa sadar telah melumat halaman demi halaman, bahkan sampai halaman terakhir. Benar, rupanya perempuan itu terpesona kata demi kata dan cerita yang mengalir darinya.


Enam tahun setelah perpisahan kita
Tujuh dua bulan terpuruk menjerembab kabut
Lima ratus empat pekan melayap bersama angin malam yang menjelaga
Membekap bintang-bintang dalam kelam
Tik tok jam di malam kelahiran
Membuncahkan perasaan
Meradang sukma ini
Dua ribu seratus enam puluh mata hati
Luruh berkalang tanah
Kangenku membentur dinding kenyataanmu

Barangkali itu sebabnya,

Surat-suratmu masih saja indah kubaca

Bagai ricik kali dan taman bunga 
Di padang tandus cintaku

(Wahyudi, Surat Cinta Pupa: 93, Penerbit bukulaela, Yogyakarta, 2002)


Dan gadis yang jatuh cinta pada buku mungil itu adalah saya, lebih dari sepuluh tahun silam saat menenemukan "Surat Cinta Pupa" (SCP) pada sebuah toko buku, di kawasan Gejayan Jogja. Aslinya, dibaca di tokopun juga pasti kelar, karena buku ini mungil. Tapi karena sudah jatuh cinta akhirnya tetep saya bawa ke kasir. Untung nggak mahal untuk ukuran saya yang kala itu masih berstatus fresh graduate tapi masih pengangguran. Sampai sekarang, ini satu-satunya buku kumpulan surat yang saya punya. Bisa  senyum-senyum sendiri saat ingat cerita dibalik termilikinya buku ini.

Jujur, pertama tertarik karena tokoh dalam buku ini, namanya mirip-mirip mantan. (Lebayyyy  kan...ah, tapi harap maklum, orang dulu statusnya masih perempuan labil). Sekarang mah,  mau ada 10 nama yang sama cuek aja! Ha..ha. Trus kedua, buku ini berkisah tentang patah hati alias ditinggal pacar. Bodohnya saya, harusnya klo putus, segera move on...cari penyemangat, buku motivasi atau apa...ini malah nggak, cari tempat lari yang senasib...biar berasa ada teman.. Ketiga, karena kata-kata didalamnya dalam...romantis...plus melankolis. Ah..suka pokoknya! Sedikit cuplikan dari isi buku Surat Cinta Pupa yaa..


Dear Wahyudin
Yud,

Kejadian kemarin

semua seperti mimpi

yang memalingkan makna hari-hari

Pupa seperti telah kehilangan sesuatu

Tapi insya Allah, 

ada banyak "hikmah" di balik itu.

...............

[cerita selanjutnya, tunggu Pupa di Yogya]

...............

InsyaAllah, Pupa pulang hari Kamis (5/9) berangkat pagi, kalau nggak, mungkinm malamnya.
Itu saja,


Mea Culpa

(Surat Cinta Pupa, halaman 86)


Ditulis oleh Wahyudin, seorang penulis Jogja. Surat Cinta Pupa berisi kumpulan surat seorang gadis kepada sahabat (atau pacar?). Berkisah tentang kisah Yud-Mea Culpa (yang kemudian dipanggil Pupa). Keduanya berlatar belakang sebagai mahasiswa-mahasiswi IAIN Sunan Kalijaga di era tahun 96-an, ngekost, dengan semua latar belakang kejadiannya di Jogja semua. Jadi ngerasa deket dan bisa bayangin sambil mbaca. Jadi, SCP itu fiksi atau non fiksi entahlah. Sepertinya kisah pribadi yang kemudian dibukukan, dengan sedikit polesan. 

Salah satu halaman dalam SCP

Kecil, mungil..tapi buku ini punya sejarah. Tidak seperti kenangan sang mantan yang sudah saya buang jauh, namun buku ini masih saya simpan sampai sekarang. Sayang kalau ikut-ikutan dibuang. Teman blogger punya buku "bersejarah" juga? Bagi yuk di kolom komentar :-) Oh..iya, buat pecinta buku, jangan lupa yuk ikutan giveway for booklover di blognya Anne Adzkia. Info lengkapnya ada di sini.  

4 Juni 2016


Sumber www.pixabay.com
Seharian tadi jaringan listrik di tempat saya mengalami pemadaman. Entah apa sebabnya. Tapi yang jelas, hanya dengan dua kata, yakni  LISTRIK PADAM..imbasnya banyak banget. Setrikaan jadinya numpuk, air di tampungan habis, hingga ibu mertua milih manyun gara-gara nasi di magic com jadinya dingin. Itu baru dari ranah keluarga saja, belum masuk ranah dunia usaha yang maha luas. Berapa banyak pekerjaan yang akhirnya tidak tertangani gara-gara padamnya listrik. 

Kalau sudah begitu jadi sadar kan betapa sebuah penemuan atau teknologi baru itu banyak banget pengaruhnya. Coba deh..seandainya saya  disuruh balik ke era nya lampu petromaks, setrikaan arang, maupun penanak nasi manual, bersediakah? Untuk tempo yang singkat, mungkin masih bisa tapi kalau dalam waktu yang lama...haduhhh..berat!

2 Juni 2016

Ha..ha, judulnya norak ya..tapi biarinlah. Cuek dulu aja. Jadi ceritanya, dirumah ada tablet yang kondisinya sudah agak error di bagian sinyal. Daripada nganggur, tablet keluaran lenovo itu diwariskan ke Raka dengan kesepakatan ; jadwal bergadget ria hanya untuk hari Sabtu/Minggu. Tablet juga gak perlu dibawa kemana-mana, biar ndak melulu rebutan di jalan sama adiknya.

Biar irit, kuota internet dibiarkan kosong...toh sinyal juga sering timbul-tenggelam. Hingga suatu siang, sulung saya dengan agak-agak panik menyodorkan tablet tersebut ke saya
"Ibu...ini gimana?"

Rupanya tabletnya terkunci. Ia lupa dengan pola yang ia buat sendiri. Alhasil, si A-1000 hanya bisa masuk ke menu sambungan darurat. Yess! Saya malah seneng, si Tab terkunci oleh Raka di saat jadwal padatnya ulangan harian dan ujian Kenaikan Kelas yang sudah di depan mata.


"Udah, nggak usah dipikir tabletnya. Fokus ke ulangan harian, TKM (Ujian Kenaikan Kelas)...nanti kalau udah selesai, bawa ke konter biar diservis". 


Alhamdulillah anak saya setuju.