24 April 2016


"Ih..mbak..kok kurusan sekarang". Spontan saya komentar ke kakak ipar saya yang barusan datang. Kami memang jarang ketemu, karena kakak tinggal di Cimahi, sementara saya di Jogja.  Terakhir ketemu, badan kami sebelas-dua belas, agak-agak overweight


" Iya, sekedar food combining aja 4 bulan terakhir..."


Gambar dari www.infomuslimah.com


"Makannya apa mbak" saya mulai tertarik.


"Ngganti sarapan dengan buah, trus lainnya biasa aja kok.."


"Tetep makan nasi kan?"


"Makan. Buahnya juga bebas. Yang lagi musim aja, jadi murah"


Saya manggut-manggut. Setuju klo dengan hal-hal yang murah meriah gini.


"Gorengan gimana mbak?" 

"Masih. Tapi memang jarang sih. Lebih milih yang rebus-rebus. Sayuran juga lebih suka yang mentah"


Ingatan saya langsung tertuju pada tanaman kenikir dan kemangi di kebun belakang. Boleh juga nih.


"Langsing banget sekarang. Berapa kilo e mbak turunnya?" Sepertinya saya mulai benar-benar tertarik.


"Enam kiloan... Enak lho klo tubuhnya kecil. Baju-bajunya pada muat lagi. Trus kalo aku sepedaan sama Putri dan Dedek, nggak cepet capak lagi. Nggak gampang ngos-ngosan lagi. Pokoknya lebih ngerasa sehat aja." Weiss...saya semakin ngiler.


"Jadi kuncinya, ganti sarapan dengan buah aja mbak?"


"Intinya itu sih. Sama ini, bangun tidur minum air anget dicampur jeruk nipis.  Nanti awal-awal akan jadi sering BAB. Mungkin tubuh sedang ndetoks. Trus banyak minum air putih."


Hari ini kakak saya pulang kembali ke Cimahi, siap-siap kembali ke rutinitas  mengajar. Ada satu ilmu yang sudah dibagi ke saya dari pertemuan kemarin. Pengen ah, ngikutin jejak nya, pengen kurusan!!! Ada yang mau ikut??

16 April 2016



Dua hari lalu, seorang teman di grup WA mengirim sebuah pesan --entah dia tulis sendiri atau sekedar menyebarkan yang sudah ada --bahwa kami adalah generasi yang LIMITED EDITION. Yeah, terbatas, berharga, hingga kami patut berbangga.

Tapi, memang kami limited edition ya, hanya gara-gara lahir di era akhir 70an atau awal 80an? Mmm...ada benernya juga sih. Secara umum saya sepakat apa yang dibilang teman tadi, namun saya lebih senang meyebutnya dengan generasi transisi alias generasi peralihan. Banyak loh istimewanya generasi ini: 
  • Ikut menjadi saksi sejarah demokratisasi di negara kita. Ingat kan hebohnya suasana politik tahun 98? Nah...jamannya itu...lairan 70an akhir sampe 80an baru masa semangat-semangatnya "brani turun ke jalan, rapatkan barisan".
  • Inilah generasi yang paling banyak "mlongo" dengan loncatan teknologi, tapi masih tetap bisa menikmati kemajuan teknologi sampai saat ini. Iyah, bener..saya masih ingat mesin ketik, disket, kaset, tapi beruntung karena sekarang tetep bisa mainin gadget.
  • Generasi ini masih kenal dan sempat akrab dengan beragam dolanan tempo dulu , meski begitu sekarang pun meraka tak lagi canggung saat mesti memainkan aneka permainan tadi, tapi dengan jari-jemari.
  • Ha..ha, saya juga generasi terakhir pemakai helm ciduk, yang meski tidak aman, tapi berasa ringan di kepala.
Eh...ada yang mau nambahin? Boleh banget, dikolom komentar. Saya kehabisan ide, plus ngantuk, plus kurang piknik :-)
Siang tadi sulung saya, Raka dan teman-teman beneran jadi "penjual cilik." di kelasnya. Sementara, yang berperan sebagai pembeli adalah siswa kelas 1 sampai 5, termasuk para guru. Teknisnya adalah, anak-anak di kelasnya Raka diwajibkan membawa barang berupa makanan, minuman, alat tulis, atau apapun, kecuali mainan. Maksimal 4 macam barang, dengan modal maks 50.000 rupiah. Oleh wali kelas, anak-anak dibekali juga form isian yang berisi nama barang, harga beli, harga jual, laba, jadi sekalian mereka belajar IPS (materi uang dan jual beli) sekaligus matematika.

Beberapa hari yang lalu, sebenarnya Raka minta disiapin spagheti, nanti akan dijual kembali pas event ini. Jelas saya nolak!! ( bukan kenapa-napa, lha wong ibunya sekedar spesialis mie instant dan lidah juga selera mie ayam...kok  disuruh masak aneh-aneh). Lalu eksekusi termudah dan akhirnya bocil saya sepakat adalah, bawa es lilin dari jus jambu dan susu. Menu standard anak-anak, mbuatnya juga mudah. Sebagai tambah-tambah, Raka mbawa juga jajanan 1 pack richeese, susu bantal, dan juga jajanan biskuit.

Anaknya sibuk, ternyata para ibu-ibu juga ikut-ikut berheboh ria. Grup WA beranggotakan ortu/wali kelas yang biasanya sepi, tumben-tumbenan ramai. Para ibu-ibu muda ini pada saling nanya, jualan apa anak-anak mereka hari ini. Kalau saya amati, yang keliatan bener-bener all-out, adalah ibu-ibu dengan anak cewek. Kalau yang anak-anaknya cowok, kayaknya pada milih jadi silent reader alias diem di pojokan aja kayak saya :-) 

Mau tahu pasarnya anak-anak kayak apa? Gambar-gambar ini, adalah dokumen wali kelasnya Raka; Pak Adhit.
anak-anak jualan
warung kami sudah siap 😀

lariss

"Eh..tadi gimana Ka, jualannya? Laku?" Tanya saya saat menjemputnya di sekolah.

"Es nya masih 2 tadi,  tapi trus tak minum sendiri. Richeese ma susu habis. Biskuitnya cuma laku satu." 

"Yo uwis..nanti biskuitnya dipangan dhewe ae.

Lha uang hasil jualannya?" 

"Ini" (sambil menunjukkan uang receh, 2 lembar uang 5 ribuan, sama uang dua ribuan 2 lembar) *padahal klo itung-itungan modal, harusnya terkumpul sekitar 25 ribuan.

"Lhah...lainnya..?"

"Tak pake beli sticker Karomen di warung depan sekolah"

Oalah...bocah..bocah..! Sudah di dalam nggak boleh jualan mainan, tetep aja mainan jadi prioritas.

12 April 2016

Semasa kecil, saya masih ingat ibu sering sekali ke pasar tradisional. Dulunya, ibu pengrajin emping melinjo. Sementara bapak bertani dan beternak ayam petelur. Semasa emping melinjo masih jaya, ibu menyetor emping buatannya pada pedagang besar di Pasar Beringharjo. Untuk menjual hasil pertanian dan telur, ibu cukup ke Pasar Kotagede.


foto: kapanlagi.com

Saya kecil? Kadang ikut bapak ke sawah, melihat tanaman-tanaman kacang panjang atau mentimun. Namun sering pula dititipkan ke bude samping rumah yang punya anak sepantaran.

Saat ibu hanya sedikit membawa dagangan..sesekali saya diajak ke Pasar Kotagede. Hore!!! Senang pastinya...karena nanti saya akan dapat bonus seplastik karet gelang untuk main lompat tali,  bola bekel untuk bekelan, satu pak jajanan merk gulai ayam yang nikmat, atau beberapa eksemplar majalah bobo bekas yang kami beli dari pedagang loak. 

5 April 2016

Foto dari www.sayangpacar.com

Kado, hadiah, bingkisan, parcel...menurut saya intinya sama. Tujuannya biar seseorang yang kita beri kado ingat sama kita. Biasanya kado diberikan untuk orang-orang terdekat, berbarengan dengan momen istimewa; bisa ulang tahun, bisa pas nikahan, atau bisa juga pas perayaan suatu pencapaian.

Memilih kado, kelihatannya gampang. Tapi prakteknya, mesti jeli juga. Nggak mau kan kita payah-payah ngumpulin duit, berjam-jam ngulik toko, dikemas secantik mungkin..eeh, begitu dibuka lantas dibiarkan oleh si empunya teronggok begitu saja. Apalagi kalau itu menyangkut kado untuk cowok. Cowok kan makhluk malas basa-basi. Kayaknya paling nggak bisa ngumpetin rasa, klo nggak suka...ya keliatan banget klo nggak suka.

4 April 2016

Pengantar: cerita ini fiksi belaka. Jika ada persamaan nama tokoh atau pun jalan cerita, murni ketidaksengajaan. Sekedar menuliskan dan mengembangkan imaginasi penulis.


Untuk keutuhan cerita, mohon mampir di Bagian pertama



"Mbak minta maaf ke aku? Apa kita pernah ketemu sebelum di toko buku itu? Maaf mbak...aku orangnya pelupa? kataku memperjelas." 

"Belum mbak. Tapi apa mbak Ratih ingat -- 9tahun yang lalu -- waktu itu mbak belum menikah, dengan telepon-telepon tak bersuara, sms-sms yang tak bertuan, yang sering menanyakan sejauh mana hubungan mbak Ratih dengan Rayhan Darmawan? Maaf mbak, dulu itu saya yang melakukannya. Karena saya cemburu pada mbak...padahal kita kenalpun tidak yaa..." Kata Ratih sambil tersenyum.