31 Maret 2016



Brukkk.... 
Beberapa buku yang dibawa perempuan itu jatuh setelah tubuh kami bertabrakan. 
"Maaf Mbak, nggak sengaja. Mau ngejar itu, anak saya, nggak mau anteng. Berlarian ke sana kemari. Takutnya nanti malah mengganggu calon pembeli yang lain" Ucapku spontan sambil mengambil buku yang jatuh ke lantai. Kukembalikan ke tangannya. Setelah itu kukejar Dio dan Tia, anakku yang aktifnya minta ampun. Ah, sepertinya mengajaknya ke toko buku sebesar ini sendirian tanpa Mas Heru adalah keputusan salah. Awalnya aku mengira mereka akan anteng melihat koleksi buku anak- anak yang berwarna- warni. Ternyata dugaanku salah besar... 

29 Maret 2016

"Molen!!"
Teriak putri saya tadi siang. Posisi kami sedang di jalan. Saya focus ke depan, sementara Alya sibuk tengok kiri-kanan melihat suasana jalanan. Rupanya ada molen yang kemudian nyalip dari sisi kanan motor... "Oh, jenis mobil ya. Ibu kira ada penjual kue molen Nak"... Ha..ha..ha
Gara-gara itu, tiba-tiba iseng saya kumat. Dari kecil, saya taunya mobil pencampur semen itu namanya molen. Kue berisi pisang yang bentuknya mirip dengan bagian belakang tu mobil, namanya juga molen. Ini siapa niru siapa tho?
Jangan-jangan saya salah mensosialisasikan jenis-jenis mobil..siapa tahu gitu lho ada nama yang lebih keren dan lebih ilmiah dari sekedar mobil molen. Mosok tho mobil segede itu namanya kayak kue? :-D
Proses berikutnya standard, berkonsultasi sama pakdhe google. Ternyata....

Sumber gambar dari kaskus.co.id

Nama asing dari gambar diatas adalah Concrete mixer, kalau dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih Truk Pengaduk Semen. Wuih, cukup panjang. Bahasa Belandanya concrete mixer, adalah betonmolen. Inilah yang lebih masuk akal kenapa kita lebih akrab dan mudah dengan menamainya Molen.


Sumber gambar dari tokomesin.com

Klo yang ini kue Molen. Dari wikipedia Indonesia, kue Molen didefinisikan sebagai hidangan ringan berbahan baku pisang yang dilapisi lembar-lembar adonan dan kemudian digoreng. Konon katanya, kue ini pertamakali lahir di Bandung. Dinamakan Molen, karena bentuknya yang menyerupai truk Molen. So...ketahuan kan siapa yang meniru siapa..?? Mm...tiba-tiba laper! Pengen ngemil kue molen yang masih baru keluar dari penggorengan.

23 Maret 2016

Dulunya, saya termasuk golongan yang serasa belum makan klo belum ketemu nasi. Tiga kali sehari, dan harus makan nasi. Makanan selain itu, mau ngenyangin ato nggak, dianggap camilan. Pernah punya pengalaman meditasi dan menjadi vegetarian, tapi hanya seminggu doang. Itu aja karena mesti ikut pasraman bagi semua karyawan tempat saya bekerja dulu. Makanya kalo lihat teman cerita atau nge-posting tentang meminimalisir nasi...kadang masih belum percaya diri. Apa saya bisa? Tapi semenjak pertemuan dengan kakak ipar sekitar 2 bulan lalu, akhirnya dua bulan belakangan, saya mampu mengubah pola hidup dan pola makan.

baca artikel terkait : Diet Ala kakak Ipar

Pic dari www.pixabay.com
Motivasi awal..karena ngenes lihat para jeans kesayangan yang mulai nggak nyaman saat dipakai alias berasa semakin sempit (mana sekarang beli celana jeans baru mahal). Semakin takut karena jarum timbangan pelan tapi pasti semakin ke kanan meninggalkan angka 50an... Menjadikan tekat saya semakin bulat, pola makan dan pola hidup saya harus diubah. Melihat semakin banyak orang terkena DM, termasuk kakak sulung saya, memotivasi diri sendiri untuk mengurangi asupan karbo dan juga gula!

Mendapat sedikit pencerahan dari kakak  tentang food combining, akhirnya saya mengikuti langkah beliau. Segelas besar air putih hangat plus perasan jeruk nipis  saat bangun tidur, berlanjut sarapan buah sampai jam makan siang. Klo lapar? Ngemil buah lagi. Termasuk puasa ramadhan ini. Sahurnya buah-buahan juga. Buahnya juga nggak maksa, apa yang ada dirumah aja. Saat ramadhan, paling sering paduan pisang-kurma ditambah jeruk manis.

Klo ada yang nanya, level laparnya sama nggak waktu dibandingin waktu sarapan atau sahur dengan nasi jawabannya adalah...ya tetep lapar, namanya puasa. Tapi dengan modal sepiring kecil buah ... puasa tetep lancar kok sampe sore. Sepertinya, nggak beda rasanya sama waktu sahur nasi plus segelas sereal.

Ngaku,  selama ini saya belum bisa  menjalankan food combining dengan baik dan benar. Masih sering khilaf saat ketemu ayam goreng, atau ikan bakar plus nasi (idealnya protein hewani, dikombinasikan dengan sayuran, bukan nasi. Nasi temannya protein nabati). Tapi, udah ngrasain juga manfaat dari pola makan ini. Pertama, perut terasa lega, karena serat membuat BAB makin teratur. Kedua, nggak gampang sakit. Sekali pernah flu berjamaah serumah, tapi saya cepet sembuhnya. Plusnya,  lebih bisa mengerem diri sendiri kalau lihat makanan. Nggak lantas main embat aja. Misal ada bakwan di depan mata...klo minyaknya terlihat kinclong, jadi otomatis menyingkir. Malah jadi ngerasa bersalah sama tubuh klo tetep dicomot.

Trus...selama dua bulanan ngejalani food combine, udah berapa kilo nih turunnya? Ada, lumayan kok! Tapi memang masih sedikit diatas 50. Yang jelas celana jeans yang hampir saya pensiun, bisa kepake lagi dengan nyaman. Seneng, karena BB hampir kepala 4 lagi..

(Nb: Saya emak2..tapi blm bisa suka sama rok..Saat kemana-mana, paling berasa nyaman saat memakai kaos, celana panjang,   backpack, harap maklum) :-D

Dalam sebuah perjalanan dari Dieng- menuju Jogja beberapa tahun silam, saat melewati sentra durian di wilayah Wonosobo tiba- tiba teman saya nyletuk " Eh..cah titenono...bubar musim duren karo rambutan...mesti akeh sing sakit lho..." Intinya menurut pengamatannya, ( bukan penelitian lho ya..sekedar pengamatan!) pasca musim durian sama rambutan, akan banyak penyakit berkeliaran di sekitar kita.

Eh, tapi memang benar? Kalau dari telaah medis..mungkin bisa benar juga. nJawabnya, MUNGKIN, wong saya bukan dokter. Karena biasanya rambutan, durian, dan juga manggis pada matang dan jatuh musim pada saat yang hampir bersamaan, dan siapapun kayaknya juga tahu, kalau kita overdosis ngemil ketiga buah tersebut, biasanya perut yang akan bermasalah. Kemungkinan lain adalah, pasca musim buah-buahan tersebut, biasanya datang musim pancaroba; musimnya angin kencang, debu beterbangan, virus dan bakteripun berdatangan. Jadi kalau kemudian banyak orang yang sakit, sepertinya masuk akal juga.

Berarti....siap-siap ada bahaya mengintai ya. Tapi, bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan? Persiapkan tameng dulu sebelum berperang! Yup, jaga kesehatan agar nggak jatuh sakit. Caranya? Macam-macam, dan setiap orang pasti punya caranya masing-masing. Bisa dengan olahraga, konsumsi multivitamin, atau dengan cara lain. Kalau saya simpel aja, pilih makanan dan minuman sehat, yang bisa jadi tameng buat kesehatan badan.

17 Maret 2016

"Ka...diinget...yang punya sayap, Gathotkaca, trus yang jaritnya motif bulet2..Werkudara, yang tangan-kakinya pake Gelang Wisanggeni. Yang rambutnya gak digelung..Abimanyu"

Saya lagi ngapain coba? Teringat cara mbantuin Raka ngapalin wayang sebelum ulangan semalam. Ha..ha...bener- bener bisa ngakak sendiri. Saya buta tentang tokoh-tokoh wayang. Berkali-kali dilihat...kok ya mirip-mirip semua. Sumpah, berasa ngerjain puzle Nampak Sama Nyata Beda. Ya udah akhirnya mbikin clue sendiri...yang entah tepat ato nggak. Tapi semoga aja Raka bisa titen..nggak kayak emaknya. Tapi komentar Raka apa coba..

14 Maret 2016

Bagi warga Magelang, Jogja dan sekitarnya..tentu Obyek Wisata Taman Kyai Langgeng bukan hal yang asing lagi. Biasanya, obyek wisata ini di jadikan satu paket wisata dengan Candi Borobudur, karena jarak antara dua obyek tersebut relatif berdekatan. Menurut saya, ada beberapa alasan hingga Kyai Langgeng sayang untuk kita lewatkan, terutama saat menikmati perjalanan wisata di Kota Magelang.

  1. Lokasi mudah dijangkau.
Bagi yang suka petualangan, merambah tempat-tempat baru yang masih jarang di jamah wisatawan, adakalanya merupakan tantangan tersendiri. Tapi seringkali berbeda, jika dalam perjalanan tersebut ada bocil yang tipikalnya cepat bosen kalau lewatnya hanya hutan dan sawah melulu. Nah, berbeda dengan Kyai Langgeng, jalur untuk menuju obyek ini hampir semuanya wilayah perkotaan, dengan banyak papan panduan perjalanan. Setelah sampai kota Magelang, tinggal ngikutin plang ijo-ijo itu, insyaAllah nggak nyasar. Alhamdulillah anak-anak juga ndak mengalami bosan dalam perjalanan saat menuju tempat ini.

  2. Harga tiket relatif murah.
Siapa yang kepincut mencoba 10 wahana secara cuma-cuma, hanya dengan membayar tiket terusan 25 ribu rupiah perorang? Lha kalau yang ini, Raka dan Alya pasti angkat tangan sama-sama. Wis, tenang saja nak, urusan bayar-membayar, biar dipikir Ayahmu..hi..hi.

Diantara sepuluh wahana yang ada, yang paling menghebohkan anak-anak adalah saat menikmati film di bioskop 6 Dimensi. Untung daya tampung bioskopnya lumayan banyak, jadi meski antrean pengunjungnya sering mengular, tapi tetep aja ketampung masuk. Oh, iya durasi filmnya sekitar 3 menitan saja, tapi setelah keluar ruangan, rata-rata mereka akan bilang BAGUS, pengen nonton lagi.

Bioskop 6 D Kyai Langgeng
Bioskop 6 D Kyai langgeng

3. Wisata Plus Edukasi
Selain menikmati hiburan, di Taman Kyai Langgeng orang tua bisa mengajak anak-anaknya untuk mampir di perpustakaan. Iya, bener! Ada perpustakaan di obyek wisata ini. Koleksi bukunya sebenarnya lumayan banyak dan juga bagus-bagus. Tapi karena jarang ada yang mampir...jadi kesannya memang berbau agak pengap atau lembab gitu.

Koleksi perpustakaan Taman Kyai Langgeng

Di anjungan Udara, pengunjung juga bisa sekalian belajar juga tentang seluk-beluk pesawat. Meskipun tidak terbang, tapi atmosfer di anjungan ini dibuat semirip mungkin dengan kondisi pesawat yang sebenarnya, termasuk dilengkapi suara deruan pesawat. Itu juga yang mbuat Alya terus-terusan bertanya, "Bu, pesawatnya kok nggak terbang-terbang?"





"Kok nggak terbang-terbang tho Mas,,?"😁😁

4. Bisa Bakar Kalori Juga
Sebagian besar obyek wisata ini adalah alam terbuka dengan pohon-pohonan langka dan teramat rindang, dengan topografi tanah yang berundak. Dua kata untuk menggambarkan tempat ini adalah LUAS dan HIJAU. Udaranya? Sejuk banget!

bisa olahraga plus udara seger

Berjalan jalan menyusuri tangga dan jalanan di areal tempat wisata ini lumayan banget buat ibu-ibu kelebihan BB kayak saya. Tapi nggak nanggung juga lho ya, kalau setelah bakar-bakar kalori usai, berlanjut dengan 2 porsi bakso, soalnya, di dalam kompleks wisata ini banyak juga warung-warung makan yang menggugah selera. Eh, tapi buat yang males jalan tapi tetep pengen bisa nikmati luasnya kyai Langgeng, bisa juga berkeliling dengan mobil khusus, atau kereta mini yang juga termasuk fasilitas dari tiket terusan. Tapi...ya mesti rela ngantri.


  5. Mirip Wisata ke Kebun Binatang.
Beberapa wahana yang tersedia, fasilitas penunjang, menjadikan Kyai Langgeng sebagai obyek wisata yang bisa di nikmati semua usia dan kalangan. Poin plusnya, meski tidak memproklamirkan diri sebagai kebun binatang, tapi obyek wisata ini juga dilengkapi dengan beberapa koleksi dari beberapa jenis satwa, diantaranya ular, beberapa jenis burung, dan juga buaya.

6. Lengkap dengan pasar oleh-oleh.
Nah, kalau yang ini kemarin kelupaan nggak moto karena sudah fokus pada dua bocil yang merengek rengek minta mainan, sementara si Ayah minta bergegas ke Parkiran karena keburu hujan. Yang jelas, selepas dari pintu keluar, pengunjung di hadapkan pada deretan panjang para penjual. Mau kaos ada, makanan khas ada, boneka banyak, mainan apalagi. Duh, ini yang sering bikin para emak berkeringat. Negosiasi dengan para anak, agar mereka menurunkan level konsumtif mereka :-D Bagi yang belum pernah mampir ke Kyai langgeng, sudah dapat gambaran kan tentang tempat wisata ini? Coba sendiri kalau masih penasaran!

9 Maret 2016



"Jadi, nduk Sitta sudah telat  Le? Alhamdulillah Gusti....maturnuwun..akhirnya kesampaian juga keinginan ibumu ini untuk segera momong cucu. Rudi, jaga istrimu baik-baik...sing ngati-ngati, ndak boleh kecapekan, Sitta jangan boleh angkat junjung dulu..."

"Injih bu.."

"Yo uwis...sana pulang. Kasian istrimu di rumah sendiri. Tadi kok nggak diajak ke sini sekalian?"

"Mboten Bu. Tadi Dik Sitta baru ada acara di tempatnya Bu Kadus...jadi nggak bisa ikut. Salam sungkem buat ibu saja, begitu pesannya"

Setelah berpamitan pada Ibu, segera ku stater motor, dan kutarik gas dengan kecepatan sedang. Tumben, jalanan pusat kota Jogja yang biasanya macet terasa lengang dan teramat lancar. Atau...karena hatiku sedang bahagia dan berbunga-bunga?

1 Maret 2016


Tanggal muda, tanggalnya belanja. Meski nggak semua..tapi saya yakin ibu-ibu muda muda maupun ibu-ibu tua memiliki kebiasaan yang sama. Meski agak telat, ikut menanggapi kebijakan ujicoba plastik berbayar di wilayah jogja, berikut pengalaman saya **pasca belanja.

Untuk barang-barang pabrikan seperti detergen, sabun mandi, minyak goreng, susu dan jajanan anak-anak biasanya saya belanja di salah satu ritel satu kali, untuk satu bulan sekaligus. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini ada pengumuman untuk konsumen yang di letakkan di dekat kassa; bahwa sesuai kebijakan pemerintah, setiap plastik belanja dikenai @200.

"Mau di plastik atau di dos Bu?" tanya mbak kasir ramah ketika troli belanjaan saya sampai di depan meja kassa.
"Dos saja mbak". Jawab saya singkat.

Saya lirik suami. Mukanya berubah. Saya bisa nebak apa yang ia pikirkan. Pasti males kalo harus nunggu antrian di bagian packing dos. Tebakan saya benar!