28 Februari 2016



Sebagai warga asli Jogja, saya masih menangi alias ngalami masa kejayaan kesenian tradisional kethoprak. Saat masih SD, betapa hebohnya masyarakat kala itu dengan tayangan Kethoparak Sayembara yang ditayangkan TVRI Jogja. Rating tinggi di raih. Oplah Kedaulatan Rakyat sebagai media partner pun saya yakini naik menjadi berkali-kali lipat. 

Kenapa kala itu tayangan ini menjadi sedemikian menarik bagi masyarat? Masyarakat yang minim hiburan? Bisa jadi. Tapi ada juga faktor lain yang menurut saya ikut mempengaruhi, bukan hanya karena hadiah dari sayembaranya, tapi juga karena jalan cerita kethopraknya. Berbeda dengan kethoprak pada umumnya yang biasanya berlakon dan ber setting kerajaan atau kehidupan keraton tempo dulu, Kethoprak sayembara menyertakan sesuatu yang khas dalam jalan ceritanya, yakni unsur MISTERI. Ada hal yang membuat penasaran penonton! Makin menantangnya lagi penonton diberi kesempatan untuk ikut memecahkan misteri tersebut dalam sebuah sayembara. Itu sekedar flashback dari dunia hiburan tradisional yang sempat saya alami berpuluh-puluh tahun silam. Betapa misteri itu sesungguh menarik dan menantang.

Dari dunia tontonan, beralih ke dunia pustaka. Jamannya saya SMP, setiap jam istirahat tiba saya semangat '45 berlari ke perpustakaan. Jelas bukan untuk mengejar pinjaman buku pelajaran, tapi dulu-duluan dengan teman agar bisa mendapatkan pinjaman seri Trio Detektif atau Lima Sekawan. Karena apa, karena sesuatu yang MISTERIUS itu menarik dan tidak membosankan! Makanya, ketika di eranya anak saya buku-buku cerita fiktif lokal-nasional bergenre misterius lahir dan ikut menyemarakkan khasanah dunia pustaka, sebagai orang tua, tentu saya sangat menyambut gembira. Salah satunya dengan kelahiran buku antalogi yang berisi kumpulan cerita anak-anak berjudul Jejak Kaki Misterius baru-baru ini.

25 Februari 2016

Sebagai ibu- ibu rumahan, mau nggak mau saya harus berakrab ria dengan beberapa saluran pembuangan yang ada di rumah. Dari beberapa yang ada, paling akrab sama saluran cucian piring yang ada di dapur.

Beberapa hari yang lalu, saluran air jurusan dapur-saptic tank saya ada gejala mampet. Jika dipakai bersih-bersih agak banyak, air akan menggenang di bak cucian, meskipun nanti klo dibiarkan lama juga habis sendiri. Sebel juga karena untuk urusan cuci- mencuci perabot, urusan bersih-bersih sayuran harus nebeng ke belakang, di kran cuci baju atau kamar mandi. Tapi kalaupun mampet....benernya karena ulah saya juga sih. Males mbuang sisa-sisa nasi, atau remah-remah sisa makanan saat cuci piring.

18 Februari 2016

Daripada mesti nge-zoom, tak re-write in aja..
  

SelamatUntukSulis. SemogaDitempatKerjaYang BaruMendapatPekerjaanYangAsikDanTeman-TemanYangMenyenangkan.Amin.SalamUntukTeman2SulisYangBaruDariTeman-TemanSulisYangLama.JanganLupaKalauSudahSampaiDiTempatBaruMisscall2KamiYa..N..JagaKesehatanSelalu,JagaSholatDanJagaKomunikasi.SalamKompakDariKami.TanpamuKamiHanya75%.KamiTungguEmailDariBali...!!!




Keren kan surat perpisahannya! Kelihatan kalau nulisnya pakai hati. Makanya, meskipun mungil, tapi surat tadi saya kategorikan sebagai salah satu dokumen berharga yang sudah tersimpan 12 tahun, dan terus akan saya simpan. Selamanya. Pengen tau penulisnya kan? Beliau adalah mbak Diah, si pemilik blog Damarojat. Damar dan Rojat adalah 2 buah hati mbak-mbak yang keibuan ini. 


Jadi ceritanya, duluuuu saya pernah ngantor di salah satu agensi iklan merangkap Event Organizer. Bersama dengan 3 teman yang lain, Mbak Diah, Popi, dan Feri, dan juga si boss tentunya setiap hari kami ngurusi iklan-iklan dari klien untuk disetor ke media cetak. Hingga kemudian tibalah hari perpisahan, karena saya dinyatakan lolos test untuk pekerjaan yang baru, kantor baru, dan teman yang baru...dan saya mesti meninggalkan Jogja untuk beberapa bulan.

Hari-hari berikutnya, komunikasi tetap berjalan. Terlebih setelah masa pelatihan selesai dan saya berada di Jogja kembali. Mbak Diah dan teman-teman masih sibuk dengan iklan, sementara saya betah jalan-jalan, njlajah deso milangkori. Kerja, tapi ada yang mbayari. Enak tho...

Oh..ya, diantara kami berempat, saya dan mbak Diah mempunyai persamaan, suka mbaca sama nulis. Dulu sering pinjem-pinjeman buku. Saat internet masih susah dicari, kami sudah punya blog di blogspot. Mbak Diah pake alamat ainohana, sementara saya di raka-adhi ini. Selain ber sms ria, sempat beberapa kali ketemu meskipun jarang, di media blog itulah kami berinteraksi. Mbak diah adalah tipikal mbak yang sabar dan dewasa, sementara saya adalah tipikal yang nggak sabar dan nggak dewasa.. ( Enak di saya, nggak enak di Mbak Diah kayaknya)

Hingga suatu hari...

Sahabat saya menemukan pasangan Jiwa. Menikah, dan mesti meninggalkan Jogja. Kamipun semakin disibukkan aktivitas masing-masing. Mbak Diah mengajar privat. Sementara saya juga kocar-kacir ngurusi anak-keluarga, dan juga pekerjaan. Blog saya ini juga awalnya murni diary digital saja. Saya update kalau pas sempat...atau pengen curhat. Kayak yang seperti ini..


Setelah itu, pernah ada suatu masa dimana fokus saya cuma satu, lolos cpns Jogja agar bisa menggunakan ilmu di bangku kuliah, tapi masih punya banyak waktu untuk keluarga. Blog ini nganggur. Di rumah saya bener-bener mengabdi untuk anak-anak, sembari sesekali ngapalin UUD45, belajar rumus matematika jaman SMA, dan ndownload-in materi soal. Waktu itu masih semangat 45, suatu hari NIP pasti ada ditangan! Jadilah saya pejuang CPNS, demi ijazah sarjana, demi keluarga, demi mata bahagia ibu dan bapak. 

Apa yang mendekatkan kami kembali?

Moratorium CPNS selama 5 tahun, skor CAT ujian CPNS 2014 yang mentok di angka 354, sementara usia waktu itu sudah mendekati 35, akhirnya mengubur mimpi untuk kembali ke dunia publik sebagai abdi negara. Putus asa. Ya sudah...mungkin Allah punya rencana lain dengan hidup saya.

Kecewa. Sedih. Itu pasti.. Hingga suatu malam mbak Diah mengingatkan saya... "Lis..blogmu masih kan? Nge-blog yuk! Biar kamu nggak bosen klo tiap hari urusannya cuma momong anak-setrika-cuci piring. Aku juga ngeblog kok. Lumayan...ketemu teman-teman baru, otak juga nggak nganggur. Apalagi kalau ada lomba nulis, trus menang."

Dari situlah, ngeblog yang awalnya pelarian akhirnya keterusan sampai sekarang. Madiun-Jogja, tak lagi terasa..karena kadang kami sering berkabar-kabaran di pagi buta. Ketika awal-awal saya bingung mbuat yang namanya link hidup kayak apa...mbak Diah alias Damarojat inilah yang tlaten ngajari saya. Begitu pula saat ada info GA atau lomba nulis, siapa yang lebih dahulu tahu, ngabari satu sama lain.

Berpartner nge-blog dengan mbak Diah ini, saya serasa menemukan teman seperjuangan. Kenapa? Kami senasib. Pertama, Ngeblog dengan modal smartphone dan kemauan semata. Kedua, ngupdate diantara ngurus dua bocil dan urusan beberes rumah yang kadangkala serasa cendawan di musim hujan. Mati satu tumbuh sribu.. *malah curhat. Ketiga, saya pede kalau berpartner dengan beliau. Meski diurusan gaptek saya lebih unggul ( Lebih gaptek maksudnya) tapi mbak Diah nggak pernah merendahkan. Diantara semua, yang saya selalu kalah adalah, untuk urusan level kegigihan..saya kalah jauh. Saya masih milih libur ngeblog saat setrikaan numpuk atau mata ngantuk. Mbak Diah mah rajin...milih libur beberes atau masak dulu kalo ada ide buat nulis.. Hi..hi, peace mbak. 

Jadi intinya..untuk urusan ngeblog, saya butuh partner. Dan selama ini, mbak Diah Dwi Arti lah yang yang saya punya. Nggak tahu deh, partner mbak Diah siapa...Blogger senior mungkin? Eh...ngomong-ngomong, relasi kita bukan simbiosis parasitisme kan mbak..? *tiba-tiba ingat pelajaran Biologi. Aku pasang foto waktu kita masih jadi satu tim yaa..!

Jogja, Agustus 2003

Tulisan ini diikutkan dalam Irly dan Diah's GA Collaboration: Teman Nge-blog

 

17 Februari 2016

Saya dan keluarga, bisa dibilang penyuka pantai. Tapi berhubung anak-anak masih lumayan kecil, masih repot untuk melakukan perjalanan jauh, pantai pilihan keluarga, ya di seputaran Jogja aja. Beberapa minggu sekali, biasanya saya dan suami merencanakan untuk membawa anak-anak ke pantai. Iya! Dipagi hari, ketika udara pantai masih segar, teramat segar.


Banyak literatur mengungkapkan bahwa udara pantai di pagi hari sangat bagus untuk kita, termasuk juga para balita. Udara yang masih bersih, dipercaya mampu "mencuci" paru-paru yang mungkin sudah kotor. Saat matahari mulai bersinar hangat, maka dari sanalah vitamin D yang ada didalam tubuh kita akan terolah secara maksimal. Sebagai orang tua dari dua anak, kami sudah membuktikan bahwa dengan rajin membawa anak-anak menikmati pantai di pagi hari, beragam penyakit batuk dan beberapa varian lainnya akan ogah untuk singgah.

Foto ini saya ambil hari Minggu (15/2) lalu, dari Pantai Glagah, salah satu pantai di Jogja, yang berada di wilayah kecamatan Temon, Kulon progo. Faktor kedekatan alias lokasi lah alasan awal memilih pantai ini. Selain saya, banyak juga pengunjung yang mendatangi pantai Glagah Indah sebelum matahari terbit. Biasanya mereka adalah pasangan dengan anak-anak kecil. Semakin siang, pantai pun kian ramai.Bagi sebagian anak kecil (orang dewasa juga kali yaaa...) bermain air, mandi, sampai berenang di pantai bisa jadi merupakan aktivitas yang menyenangkan sekaligus menantang. Tapi, ombak di pantai ini menurut saya terlalu berbahaya. Maka, pilih aktivitas yang aman, dan tentu saja menyenangkan.


Satu-satunya pantai yang melengkapi diri dengan mainan odong-odong, baru saya temui di Pantai Glagah ini. Tarifnya pun amat merakyat, hanya 5000 rupiah, dengan durasi sepuasnya anak. Begitu pula untuk sewa kolam renang air tawar. Lebih aman kan daripada anak-anak berlarian di bibir pantai? Anyway....selamat berakhir pekan, dan selamat berlibur!!

14 Februari 2016




Sepintas, tak ada ciri khusus yang membedakan Desa Kasuran, Margodadi dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Sayegan Sleman Yogyakarta. Sebuah kepercayaan yang hingga kini masih mengakar kuat dalam masyarakat lah yang membuat desa ini menjadi beda dengan yang lain, terlebih di jaman dimana kenyamanan hidup kerap menjadi tujuan dan tuntutan.

Perjalanan Sunan Kalijaga; Sebuah titik awal
Dikisahkan, dalam suatu perjalanan dakwahnya, suatu hari Sunan Kalijaga singgah di salah satu kampung di Desa Margodadi, Sayegan untuk sholat dan beristirahat. Sayang, tak ada sumber air yang beliau temukan untuk berwudhu, hingga kemudian Sunan Kalijaga mengetukkan tongkat dan keluar satu sumber mata air yang besar, yang sampai saat ini di kenal dengan Tuk Si Bedug.

Setelah sholat, beliau berpesan kepada sesepuh desa agar menyuruh penduduknya untuk tidak bermalas-malasan, apalagi tidur di kasur. ’’Anak cucu saya jangan tidur di kasur. Boleh tidur di kasur kalau kesaktiannya sudah sepadan atau melebihi saya,” begitulah ucapan Sunan Kalijaga yang terus mengakar, dari generasi ke generasi.

9 Februari 2016



SMA? Itu artinya saya mesti mundur 20an tahun silam. Hi..hi, sudah jauh banget yaa...! Meski tak banyak, ada peristiwa-peristiwa yang masih membekas dalam ingatan.
Waktu itu namanya SMU. Kebahagiaan pertama waktu SMU adalah dengan modal NEM SMP, bisa masuk ke golongan di SMU Negeri di wilayah Kota (kotamadya) Yogya dengan reputasi yang lumayan bagus. Sekitar Agustus 1995, secara resmi seragam kebangsaan putih-biru berganti putih abu-abu.

Standar menjadi siswa baru saat itu adalah mengikuti Penataran P4 selama seminggu. Ada yang masih ingat butir-butir Pancasila? Sstt...saya udah banyak yang lupa! Meski katanya kegiatan ini bagus untuk mempertebal "keimanan" kita sebagai warga negara yang baik...tapi suer, acara seminggu pertama menjadi warga SMU ini mbosenin banget, karena banyak diisi ceramah.

5 Februari 2016



Suatu hari..saya melihat Alya nyanyi-nyanyi, dengan syair yang ia ciptakan sendiri. Saya : Yang ngajarin lagunya sapa e Ya..? Alya : Pak Jowo... (Entahlah, di sekitar tempat tinggal kami tidak ada yang bernama pak Jowo)

Saya: Memang Alya sudah sekolah?
Alya: Sudah...gurunya Pak Jowo (padahal rencana baru tahun ajaran 2016 ini mau masukin dia di Playgroup)

Sejak hari itu, anak saya punya tokoh imaginatif bernama pak Jowo. Setiap kali bernyanyi dengan syair tak dikenal atau nari-nari sendiri, di tanya yang ngajarin siapa...hampir selalu bilang diajarin Pak Jowo.


2 Februari 2016


Ternyata saya salah duga teman-teman. Jadi awalnya, saya pikir mekanisme perpanjangan SIM itu hampir sama seperti pembayaran pajak kendaraan bermotor; sebelum masa berlaku habis harus segera diurus. Seandainya telat, maka terkena denda yakni harus mengurus dari awal alias ujian lagi. Dugaan saya salah. Ternyata ada masa tenggang 3 bulan untuk keterlambatan pengurusan.

Sebenarnya ada rencana perpanjang SIM sudah ada sekitar 2 minggu kemaren. Pengen pas Sabtu. Tapi ndilalah dua hari Sabtu terakhir kok ya ada halangan terus, ya sudah akhirnya hari Senin di awal Februari setelah nitipin Alya ke Ayahnya sebentar, saya madep mantep datang ke Polres Sleman. Alasannya, secara jarak lebih dekat bila dibandingkan ke JCM atau Amplaz ( perpanjangan sim juga bisa di counter di 2 mall tersebut). Mau nunggu keberadaan SIM keliling, kok masa berlaku SIM tinggal 2 hari.
Bekal wajib perpanjangan SIM ( fc SIM +KTP, surat keterangan sehat sudah saya siapkan) beberapa hari sebelumnya. Jadi mikirnya, Ah...pasti cepet!
Ternyata....antrenya panjanggg....