30 April 2015

"Ah, dia kan cuma ibu rumah tangga". Pernah nggak mendengar nyiyiran serupa dari tetangga, teman, atau siapapun juga? Jujur...saya siap-siap pasang tanduk kalau ada yang meremehkan profesi ibu rumah tangga. Meskipun tampak luarnya tak seberapa tapi itung-itungan jam kerja, profesi ini menghendaki kita siap-sedia, 24 jam standby! Terlebih ibu rumah tangga dengan anak-anak yang masih bayi, batita atau balita.

23 April 2015

Secara mudah nyaman bisa di definisikan dengan sesuatu yang mendatangkan perasaan enak, segar, dan menyenangkan. Nah, kalau tidak nyaman? Ya, pasti kebalikannya dong! Untuk rasa nyaman maupun tidak nyaman, faktor pemicunya bisa beragam, dan sangat mungkin berbeda antar orang perorang. Bagi saya, beberapa situasi ini seringkali menimbulkan rasa kurang atau bahkan ketidaknyamanan level akut:

19 April 2015


Gambar dari serbasejarah.wordpress.com

Peringatan hari Kartini, tinggal beberapa hari lagi. Kalau di tempat saya, peringatan ini identik dengan pemakaian baju tradisional secara massif pada lembaga pendidikan. Dari jenjang TK sampai SMA, di hari tersebut biasanya para warga sekolah menyempatkan diri berdandan khusus, berbusana istimewa dengan kostum tradisional.

Sejak kapan tradisi itu muncul? Entahlah..yang pasti, diera saya kecil dulu --era 80-an, tradisi ini sudah ada.Tapi seingat saya hanya teman-teman yang di SD negeri saja yang setiap tahun ribut menyiapkan kebaya mungil, jarit, dan sandal jinjit untuk memperingati event tahunan ini. Setahu saya, dulu bisnis salon dan persewaan baju tidak sebanyak sekarang. Karena itu juga, biasanya orang tua menganggarkan budget ekstra untuk moment Kartinian. Sementara saya yang dulu dipilihkan orangtua untuk belajar di SD non negeri, tak pernah diributkan dengah hal tersebut. Sampai kemudian SMP-SMA-Kuliah-Kerja, kok ya ndak punya pengalaman istimewa apapun terkait peringatan hari Kartini ini.

Baru sudah berkeluarga ini, punya pengalaman menyambut dan merayakan hari Kartini, itu juga karena sulung saya sudah tahun kedua di Sekolah Dasar. Biasa, urusan sewa-menyewa baju untuk anak. Di kelas satu dulu, anak saya ogah pakai pakaian tradisional, jadinya lebih memilih baju profesi. Di kelas 2, barulah pihak sekolah mewajibkan memakai pakaian tradisional. Meski pemberitahuan mendadak, tapi untungnya dipersewaan baju dekat rumah, masih ada stock tersedia. Iya, untuk baju tradisional, menurut saya menyewa lebih ekonomis. Dengan 40 ribu rupiah, anak saya bisa memakai 1 set pakaian Jawa lengkap. Coba kalau harus beli, berapa coba? Wong make nya juga cuma setahun sekali...:-)

Tapi...ngomong-ngomong, kenapa ya Kartinian di daerah saya identik dengan baju tradisional, kirab budaya, dan lomba-lomba peragaan busana untuk anak-anak? Kenapa inti dari emansipasi malah kadang jadi terlupakan ya? Apa karena foto sosok Kartini yang memakai baju tradisional trus kondean itu? Lha memang jaman dulu pakaian perempuan Jawa ya memang begitu tho ya..Nggak Kartini, Partini, Kustilah, dan banyak perempuan Jawa di era itu. Seandainya sosok Kartini digambarkan dengan model pakaian lain, ceritanya akan berbeda kali yaa... Btw, kok jadi penasaran....untuk daerah-daerah yang lain, bagaimana tho cara mereka mengenang dan menghormati jasa pahlawan perempuan kita RA. Kartini? Bagi cerita ke saya ya!?:-)

15 April 2015

Judul buku.     : Rahasia Hati Suami
Penulis.            : Safar Ubaknomminakbai
Penerbit.          : Lovrinz Publishing
Tahun terbit   . : 2015
Tebal halaman : xxiv + 296 halaman
Harga.                :Rp. 59.000




Buku ini lahir dalam usahanya sebagai "penyeimbang " ketika berbagai permasalahan rumah tangga seringkali hanya dilihat dari frame perempuan. Tidak hanya pada banyaknya literatur yang ada, namun juga dalam produk tayangan televisi kita. Kerapkali digambarkan bahwa laki-laki, atau dalam hal ini suami adalah makhluk yang hanya bisa menyakiti istri, ahlinya poligami, dan sebagainya. Melalui buku ini, Safar Ubaknomminakbai ingin memberikan bukti bahwa masih banyak lelaki-lelaki baik di bumi ini, dan tak selamanya suami hadir untuk mendominasi istri


.
Relatif tebal, karena berisikan banyak kisah nyata yang dikumpulkan penulis dari orang-orang di sekitarnya. Hampir semuanya berkisah tentang problematika yang kerap muncul ketika seorang laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam sebuah pernikahan, seperti kecemburuan, ketidakmampuan mengelola keuangan rumah tangga, dan beberapa permasalahan umum lainnya. Meski semua permasalahan dilihat dari perspektif pria, tapi bukan lantas buku terjangkiti gender bias. Melalui beragam masalah, penulis menawarkan langkah-langkah solutif yang bisa diambil dua belah pihak.

"....seluruh suami di dunia ini hati kecilnya pasti menginginkan, istrinya selalu terlihat cantik, berpenampilan menarik dan bertubuh ideal. Perlu diingat terua dari awal, ia memilihmu karena kau begitu cantik dimatanya." ( halaman 13)

 "....Maka bijak rasanya, buat dikau para suami hebat....kalau kau menuntut istrimu berpenampilan menarik, apakah kau sudah memberinya kesempatan waktu untuknya bercermin?" ( halaman 15 )

" ...seorang suami sependiam apapun, selugu apapun atau apalah istilahnya termasuk yang sering orang bilang ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), juga adalah lelaki yang memiliki hati dan rasa. Satu hal, suami mana yang tidak merasakan sakit hati dan juga malu, bila di depan banyak orang ia dimarah-marahi istrinya. Apalagi kalau dirinya sampai dikata-katai dengan kalimat kasar oleh orang yang sangat dicintainya?" ( halaman 45)

" Yakinlah sebelum menikah istrimu juga mungkin memiliki hobi tersendiri. Pertanyaannya sudahkah kita sebagai suami memberikan waktu buat istri kita menyalurkan hobinya tersebut? " ( halaman 140)


Sepintas, "Rahasia Hati Suami" tampak berisi hal-hal berat dan serius, namun kesan itu mampu dihilangkan dengan gaya bahasa dan pilihan kata yang meremaja. Hal ini menjadikan pesan-pesan moral dari buku ini lebih mudah tersampaikan. Disadari atau tidak, belakang penulis sebagai seorang tokoh agama, menjadikan buku ini memiliki roh religiusitas yang begitu kentara.

Setting penulisan yang berada di daerah Sumatera Selatan, mau tak mau menghadirkan beberapa sapaan atau bahasa lokal khas daerah, yang sayang tanpa dilengkapi keterangan tambahan. Ini pula yang memaksa pembaca dari "luar area" harus menerka-nerka arti bahasa lokal tersebut. Seperti halnya sapaan nay yang ternyata adalah sebuah sapaan sayang, atau ayuk yang berarti saudara perempuan. Meski tak banyak berpengaruh pada pesan yang ingin disampaikan, kesalahan pengetikan kata atau typo masih dijumpai di beberapa bagian buku ini.

Terlepas dari beberapa catatan diatas, buku ini layak menjadi bacaan bermutu para istri, karena setelahnya kita jadi tahu bahwa tak hanya para wanita yang ingin dimengerti, ternyata para suami pun juga ingin dipahami. Untuk informasi dan pemesanan lebih lanjut, bisa menghubungi pihak penerbit





11 April 2015

Kejadian ini sudah terjadi beberapa bulan lalu. Kening saya berkerut, sedikit kecewa mengamati hasil ulangan Tematik Raka. Dalam kertas ulangannya, digambarkan bangunan candi, dan anak saya diminta untuk menuliskan nama agama yang berhubungan dengan candi tersebut. Dasar bocah, Candi Borobudur ia tulis sebagai peninggalan dan tempat ibadah umat Hindu, sementara Candi Prambanan menurutnya adalah peninggalan umat Budha. Rupanya ia masih bingung dan terbolak-balik antara agama Hindhu dan Budha, beserta candi-candi yang berkaitan dengan keduanya. Sepertinya Raka harus kenalan dengan yang namanya candi, tidak hanya melihatnya sebatas gambar pada buku pelajaran, tapi melihat langsung. Hitung-hitung menyegarkan otak, sembari belajar! 

8 April 2015

"Ibu, tadi aku muntah di kamar mandi sekolah, banyak, tapi dahak semua," cerita sulung saya Sabtu lalu, sepulang sekolah. Saya perhatikan, beberapa hari ini kondisi kesehatan sulung saya memang agak turun. Sedikit pilek, dilengkapi batuk berdahak dengan frekuensi batuk yang sepertinya masih wajar. Kalau tanpa disertai demam, jarang saya memberinya obat. Biasanya hanya saya oles tubuhnya dengan minyak angin agar hangat, memintanya banyak minum air putih, dan memberinya beberapa sendok madu murni untuk beberapa hari. Mungkin ia kecapekan, wong lagi hobi maen sepeda, tapi faktor cuaca, bisa jadi pemicu utamanya.