28 November 2014

Air mata itu spontan tumpah, senyum di bibirpun merekah, dan kebahagiaan yang membuncah begitu tangisan nyaring itu terdengar. Alhamdulillah nak...akhirnya engkau lahir ke dunia, dan sempurnalah ibu sebagai seorang wanita.
Raka Adhi Gunattama


Awalnya saya tak mengira kalau kebiasaan buruk saya, yaitu malas minum akan berakibat pada kondisi kehamilan. Ini berawal dari kebiasaan baru begitu hamil, yaitu beser --istilah bahasa Jawa, sering merasa kebelet pipis. Waktu itu saya punya alasan sendiri, ribet kalau sebentar-sebentar harus ke toilet untuk buang air kecil. Kalau toiletnya dekat dan gampang dicari, mungkin tak begitu masalah. Tapi kalau keberadaannya sang toilet entah dimana, repot sendiri saya. Terlebih waktu itu saya masih berstatus sebagai awak media, banyak berada dilapangan dan jalanan, karena mobilitas yang cukup tinggi. 

23 November 2014

 
 .                                   Foto:dok. Harian Jogja
Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat perempuan saya bercerita bahwa ia sedang berada dalam kegalauan yang luar biasa. Apa yang terjadi? Rupanya sang mantan, belahan jiwa14 tahun silam, kembali hadir dalam kehidupannya. Tak hanya rajin menyapa melalui situs jejaring sosial, the ex-man nya itu bahkan sampai "mengejar" sahabat saya saat ia tengah menjemput sang buah hati di sekolah. 


Melihat gencarnya upaya sang mantan untuk (kembali) menaklukkan pujaan hati, jelas saja sahabat saya diliputi rasa bimbang. Kenangan indah bersama sang mantan kekasih, atau cinta dan kebaikan sang suami yang telah menemani hampir selama 8 tahun? Yang pasti, ada perasaan bersalah dalam posisinya sebagai istri, dan kini permasalahan itu ia rasakan sebagai beban berat yang harus ia curahkan. Bahkan sebuah pertanyaan pun terlontar dari mulutnya, "sudah gagalkah aku menjadi istri yang baik untuk suamiku....?"


 *** 

Menikah secara mudah bisa kita definisikan sebagai sebuah komitmen dihadapan Tuhan yang dibuat secara sadar, serius, sangat serius bahkan, antara seorang perempuan dan laki-laki untuk membentuk dan menjalankan sebuah biduk rumah tangga. Seiring adanya komitmen tersebut lahir pulalah hal-hal baru yang melingkupi kedua mempelai; status baru (suami dan istri), kesepakatan dan kompromi-kompromi baru, dan tak ketinggalan hak dan kewajiban yang baru untuk mereka. Hal yang wajar kalau kemudian sang suami berusaha menjadi suami terbaik bagi istrinya, begitupula sang istri; menjadi yang terbaik untuk suaminya. 


Seiring berjalannya waktu, adakalanya komitmen, kompromi, dan kesepakatan-kesepakan tadi harus tergoncang atau bahkan terkoyak oleh hal-hal yang tak bisa kita hindarkan. Seperti kisah sahabat saya tadi misalnya. Tanpa sedikitpun maksud untuk menggurui, saya meminta sahabat saya untuk tegas bersikap dan bertindak. Anggap saja pertemuannya dengan si "masa lalu" adalah ujian untuk mata kuliah KESETIAAN DAN KESADARAN PADA KOMITMEN. Saya yakin sepenuhnya, dengan kedewasaan sikap, salah satu mata kuliah dalam kehidupan perkawinan tersebut akan bisa terlampaui dengan baik. 


Lalu, seperti apakah istri yang baik itu? Memang tak mudah untuk memberikan gambaran pasti, misalnya saja seperti ini: Menjadi full time mother bagi anak-anak dan menjadi istri siaga bagi suami adalah pilihan baik. Tapi bukan berarti menjatuhkan pilihan pada selain full time mother adalah pilihan yang salah. Baik menurut saya mahaluas dan relatif. Kadar baik, tentu saja berbeda antar orang perorang. Menjadi istri yang baik, adalah ketika kita bisa menempatkan segala sesuatunya dengan pas atau tepat. Menjadi baik adalah ketika kita bisa menjaga keseimbangan sehingga langkah kita tidak timpang. Istri yang baik adalah ketika orang-orang yang ada di samping kita merasa nyaman dengan keberadaan kita. Semoga kita menjadi salah satu diantaranya.

  Tulisan ini di ikutkan giveaway Istri yang Baik

21 November 2014

Pantai!! Hmm....sungguh menggoda untuk dijadikan destinasi wisata keluarga. Beberapa waktu yang lalu kami mengunjungi pantai Pok Tunggal. Sebenarnya ini adalah kunjungan pertama kami. Hanya berbekal sedikit referensi dari tetangga, sebelum adzan subuh berkumandang, meluncurlah kami menuju salah satu kabupaten di sisi timur Propinsi Yogyakarta. Here we come, Gunung kidul!

14 November 2014


Bernostalgia dengan masa lalu, dimana kita bisa menarik ingatan kita kebelakang, menuntunnya untuk kembali ke masa puluhan tahun yang silam, ternyata menyenangkan. Tak hanya bisa menjadi salah satu kegiatan pengisi waktu luang, dengan aktivitas ini kita bisa mengumpulkan "remah-remah" memori yang awalnya terbuang, dan menjadikannya sebagai sesuatu yang tak terlupakan. Hal itu jugalah yang saya lakukan malam ini.Kini, usia saya mendekati angka 35 tahun. Itu artinya, saya harus membawa ingatan saya kembali ke era 80-an, ke suatu masa dimana figur seorang ibu benar-benar berperan, dan sangat menentukan terhadap pencapaian-pencapaian yang sudah saya raih sampai hari ini.
gambar dari www.blogammar.com


Ibu adalah perempuan desa yang sederhana. Berkain jarit dan kebaya, tanpa pulasan make-up, bersanggul kecil di belakang, seperti itulah penampilan ibu saya sehari-hari. Tugas pokoknya adalah sebagai ibu rumah tangga, selebihnya adalah membantu pekerjaan Bapak sebagai petani. Saya sendiri terlahir sebagai bungsu dari 3 bersaudara. Dua kakak saya laki-laki. Bisa ditebak, posisi tersebut seringkali teramat menguntungkan, satu-satunya anak perempuan, paling kecil lagi. Maka saat itu jadilah saya gadis kecil yang cenderung manja dan tidak mau kalah ataupun mengalah.  

Saya ingat, mungkin umur saya sekitar 6 atau 7 tahun, masa ketika saya sedang senang-senangnya bermain. Saat waktu makan tiba, ibu selalu menyuruh saya untuk pulang untuk makan di rumah. Tapi saya selalu menolak dan memilih untuk tetap bermain bersama teman-teman, dan bisa dipastikan yang kemudian dilakukan ibu adalah menyusul saya dengan semangkuk makanan, menyuapi gadis kecilnya dengan telaten, sementara saya tetap asyik bermain. 

Ada juga cerita lain. Kala itu saya belum masuk Taman Kanak-kanak. Badan saya demam, dan tubuh saya kata ibu mengurus. Suatu sore, sambil memandikan ibu bertanya, "badan kamu kok kurus, kamu pengen apa? "Pengen sepeda mini", sayapun menjawab. Tanpa menunggu lama, ibu bercerita kepada bapak dan paginya bapak langsung membelikan sebuah sepeda mini baru warna biru, dengan juntain pita warna-warni di lubang stang. Harganya kala itu saya dengar dua puluh tiga ribu rupiah. Ah, betapa senangnya saya. Tidak pernah saya pikirkan bagaimana perasaan 2 kakak saya yang meskipun usianya lebih besar, tetapi belum memiliki sepeda. 


Pernah juga saya membuat ibu kalang-kabut. Kejadiannya lupa tahun berapa, tapi sepertinya saat itu saya belum sekolah. Suatu malam, saya melihat sebuah tayangan film di TVRI. Dikisahkan dalam film tersebut sekelompok anak muda yang bertualang ke sebuah pulau, dan satu persatu mereka meninggal secara misterius. Dasar anak kecil, selesai melihat film itu saya begitu takut dengan apa yang namanya MATI. Otak bocah saya kemudian membuat kesimpulan "saya akan mati kalau saya lupa bernapas", maka setelah itu saya selalu menarik napas dengan keras, sampai terdengar. Yang ada dalam pikiran saya adalah, pokoknya tidak boleh lupa bernapas. Alhasil, saya bernafas seperti penderita gangguan paru-paru dikala terjaga, dan kembali normal pada saat tidur. Mendengar saya seperti sesak napas setiap hari, terang saja ibu panik. Diantarnya saya ke rumah sakit paru-paru, menjalani foto rontgen, dan keheranan begitu dokter menjelaskan tidak ada yang salah dengan paru-paru saya. Berapa lama persisnya saya terkena "sindrom takut lupa bernafas", saya tidak ingat, tapi mungkin kebiasaan aneh itu berhenti secara tidak sadar.

Dalam hal penanaman nilai-nilai agama dan moral, ibu saya cukup jempolan. Semua anak-anaknya dibiasakan sholat berjamaah di masjid minimal di waktu Maghrib dan Isya. Saya ingat saya pernah " memaksa" ibu untuk sholat. Saya protes karena waktu itu ibu tidak ke masjid. Waktu itu saya belum tahu kalau perempuan itu mengalami haid, dan memang tidak berkewajiban sholat, sementara mungkin ibu masih bingung bagaimana harus menjelaskan keanak perempuannya. Maka yang ibu lakukan ketika saya protes adalah, tetap melakukan gerakan sholat, bermukena, tapi mungkin tidak meniatkan untuk sholat. 

 Nah, kalau yang ini terjadi ketika saya baru masuk Sekolah Dasar. Entah kenapa, saya ingin setiap saya membuat ibu senang. Sehari-hari ibu rajin memasak untuk kami sekeluarga. Saya membayangkan, kalau saya pulang bermain, dan ibu saya beri oleh-oleh bahan sayuran, ia pasti akan senang sekali. Kebetulan, didekat tempat bermain ada pohon nangka milik tetangga yang meskipun pendek, tapi sudah berbuah. Tanpa pikir panjang, saya ambil sebuah nangka muda dan dengan riang saya bawa pulang untuk di berikan pada ibu. Betapa kagetnya, seketika dengan marah ibu bertanya darimana saya mendapatkan nangka muda itu. Setelah saya jelaskan, akhirnya ibulah yang meminta maaf kepada pemilik pohon, dan mewanti-wanti saya, jangan sekali-kali mengambil atau memetik sesuatu yang bukan ditanam bapak. 

 ***
Kini, bocah badung, bandel dan manja itu telah dewasa. Bahkan ia pun telah menjadi ibu untuk dua orang putra-putrinya. Betapa menjadi seorang ibu yang baik itu tidak mudah, sudah ia rasakan. Betapa menjadi seorang ibu itu harus berbekal berlapis-lapis kesabaran, telah ia mengerti. Untuk sosok ibu yang banyak mengajarkannya dengan beragam nilai kehidupan, ia hanya berharap, semoga ibu senantiasa sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Maturnuwun atas semuanya Ibu... 

artikel ini diikutkan pada kontes unggulan:hati ibu seluas samudra.

9 November 2014

Sejak ada Alya --adiknya Raka, saya sering mengamati polah tingkah anak-anak. Hal yang paling gampang dilihat adalah dari segi aspek perkembangan fisik-motorik mereka. Dibalik tubuh mungilnya, ternyata mereka adalah sosok yang tak kenal putus asa. Coba saja amati bayi usia 3 bulanan, betapa kuat mereka berusaha untuk sekedar memiringkan badan, untuk kemudian tengkurap. Acapkali gerakan tersebut dibarengi dengan teriakan sekuat tenaga layaknya seorang ibu yang tengah menjalani proses persalinan. Pernah mendampingi bayi yang tengah belajar berjalan? Berawal dari posisi merangkak, kemudian ia akan mencari sesuatu yang bisa ia jadikan pegangan. Setelah kakinya kuat menumpu, maka ia akan memberanikan diri untuk melangkah,terjatuh, dan belajar melangkah lebih jauh lagi tanpa kenal lelah. Setelah mendekati usia 2 tahun, ajaklah anak bermain lomba lari! Lihatlah betapa riangnya ia, rupanya ia tahu usahanya selama ini tak sia-sia. Kaki-kakinya cukup kokoh untuk berlari. ****** Beberapa hari yang lalu, berada diatas motor, sambil menunggu kemacetan yang tak segera terurai, saya melihat seorang bocah, kalau tidak salah perempuan, usia sekitar 13 bulanan yang sedang berada dalam fase "melancarkan" jalan. Berlatih dihalaman rumah, dengan pendampingan (mungkin) sang ibu. Berapa kali ia terjatuh, tapi tidak menangis, justru tertawa riang saat bisa berdiri dan berlatih kembali. Kalau sudah begitu, jadi malu saya. Kalah sama batita ternyata! Ulet dan semangat untuk bangun saat terpuruk itu yang butuh saya (atau kita?) upgrade... So, sesuatu telah saya pelajari hari itu: 1. Cepat bangun saat merasa gagal. Coba lagi selagi ada kesempatan. Kalaupun tidak ada...try another way... 2. Kecewa boleh, tapi jangan terlalu lama "menangis". Anak kecil saja mampu Jatuh-menangis-belajar lagi, kenapa kita tidak?

8 November 2014

Kalau blog ini diibaratkan sebuah rumah, mungkin terlihat renta dan hampir roboh. Tak terurus lama, sangat lama malah. Dulu saya banyak mengisi blog ini ketika saya sedang longgar, tidak terkejar deadline naskah tayangan tv lokal di mana saya bekerja. Ketika kemudian saya memutuskan kembali ke "rumah" produktifitas saya dalam menulis turun drastis, bahkan nyaris nol.. Kemampuan apapun, kalau lama tidak digunakan, maka akan tumpul. Itu pula yang saya rasakan. Termotivasi dengan seorang sahabat lama, saya ingin kembali "menata" halaman ini. Harap maklum dulu apabila isi atau tampilan blog ini masih berantakan, semoga kedepannya menjadi semakin baik dan bermanfaat. Amiin.