30 Agustus 2008


Ramadhan di depan mata. Alhamdulillah, kalau ngitung usianya ibu sih...berarti sudah 28 kali menikmati bulan suci ini. Kalau ayah?? Wah...pasti lebih banyak lagi. Ramadhan tahun ini... adalah ramadhan kedua untuk anak kami, Raka.

Flashback;puasa ala anak kampung
Ngomongin tentang puasa...jadi inget waktu kecil. Seingat ibu, dulu pertama kali puasa saat masih SD, kalau nggak salah kelas 3. Seperti kebanyakan anak-anak, pertama kali puasa bukannya sehari penuh, tapi diawal bulan, ibu boleh makan & minum saat tengah hari (kala adzan dhuhur berkumandang). Kalau dikampung, tradisi puasa ala anak2 tersebut di kenal “puasa mbedug”. Nah..kalau dah lolos puasa mbedug dan semakin terbiasa, levelpun perlahan dinaikkan, jadi puasa ashar. Jadi sekitar jam 3 ibu boleh buka, habis itu puasa lagi sampai maghrib. Kalau nggak salah lagi...kelas 5 ibu baru bisa lulus untuk puasa satu hari penuh, sebulan penuh. Hadiahnya??? Baju baru....sepatu/sandal baru.

Saat masih kecil dulu, kalaupun perut lapar, tapi kalau pas puasa... bawaannya asyik aja!! Lha gimana nggak...pagi-pagi abis subuh, jalan2 rame2 ma teman-teman selalu jadi agenda. Di sekolahpun pelajaran terasa lebih nyantai, pulang selalu lebih awal dari biasanya. Pulang sekolah lantas ngapain?? Main lagi!! Biasanya acara favorit anak2 desa kala puasa di siang hari adalah mandi di sungai (SStt...ibunya raka ini badung sejak kecil, meski nggak bisa berenang, tapi nggak pernah ketinggalan kalau ada acara mandi di sungai, tapi sungai jaman dulu masih bersih ma banyak ikannya, asyikk!)

Nah..kalau hari sudah beranjak sore, baru deh pulang ke rumah, siap2 untuk ikut takjilan. Takjilan adalah buka puasa bersama-sama di Masjid. Walau menunya paling sering Nasi+sayur tempe+mie+telur.....Nikmat euyy!! Tinggal menunggu waktu tarawih. Soal tarawih, ibu inget punya kebiasaan yang nggak layak ditiru. Dulu jamannya ibu...saat ramadhan tiba, pasti dikasih “buku kegiatan” sama guru agama, salah satu poin yang dinilai adalah kerajinan dalam melakukan sholat Tarawih. Karena alasan capek...sholat yang harusnya 11 rakaat, ibu ikuti hanya ujung dan pangkalnya saja. Bahkan kadang2 cuma ikut sholat witirnya aja....abis itu tinggal minta tanda tangan ke imam, beres!! Hmmm...mengenang masa kecil memang menyenangkan....!!

Ramadhan 2008...semoga berkah senantiasa menanungi keluarga kami.
Tahun ini, keempat kalinya ibu menjalani Ramadhan bersama ayah. Ramadhan 2006, Raka masih di perut, puasa 2007 raka masih imut.....2008, Raka makin kiyut! (he..he). Yang pasti...suasananya pasti dah beda kalo dibandingkan saat kecil dulu. Kepengennya sih bener2 menjalakan puasa tak hanya menahan lapar thok...tapi juga menahan marah klo lagi jengkel, mengontrol kesabaran. Tapi bisa nggak yaa...??? Strategi: Minimalisir jadwal produksi program di lapangan (klo sudah di lapangan tuh...bener deh!!! Paling gampang laper ma haus..palagi musim kemarau kayak gini, jogja puanass!. Sementara suasana perut ma kestabilan emosi hukumnya berbanding lurus... intinya sih tahun ini adalah Ramadhan penuh tantangan. Semoga bisa terjalani dengan baik. Strategi ayah menghadapi pusing2nya kala lapar (ha..ha), biar ayah yang cerita sendiri.

Setelah sekitar 1,5 bulan ikut di kelas “kupu-kupu” alias kelas batitanya Annur...kemajuan yang tampak lumayan juga. Yang pasti kemandirian bocah imut ini bertambah, misalnya pengennya melakukan sesuatu sendiri, misalnya minum, makan, bahkan terkadang mencoba memakai kaos kaki sendiri. Tapi ga enaknya sih, sejak masuk sekolah...raka jadi sering flu (ini termasuk salah satu resiko nitipin anak di tempat umum, anak2 klo flu pasti gantian...satu sembuh, satunya lagi sakit, padahal flu cepat bgt menular). Tapi yang paling ibu senang...ibu ngerasa “sejuk” aja klo udah masuk lingkungan sekolah Raka (satu kompleks ma masjid, pesantren, guru2 berjilbab lebar dengan panggilan ustadzah. Rasanya secara psikologis Raka lebih terdidik di tempat ini daripada di rumah bareng mbak pengasuh.


Nah, ini masalahnya.... beberapa hari yang lalu mbak yang sehari2 ngasuh Raka pamitan sama kami, katanya lebaran nanti mo mudik dan nggak lagi balik ke Jogja. Maklum, sudah usia nikah, kemungkinan disuruh merid ma ortunya di Magetan. Ya sudahlah... harus diikhlaskan. Masalah yang kemudian muncul adalah, lalu siapa yang momong Raka kalau ditinggal ayah ma ibunya kerja?? Sebetulnya ada beberapa pilihan untuk mengatasi masalah ini:


Pertama, mencari pengasuh baru. Ayah sepakat dengan usul ini, tapi ibu keberatan. Mencari pengasuh bukan hal mudah, apalagi sekarang raka lagi dalam tahap usia emasnya. Ibu takut, pergantian pengasuh akan mempengaruhi kondisi psikologis Raka. Kecuali dalam satu bulan terakhir kami menemukan orang yang benar2 bisa dipercaya.


Kedua, Raka dititipkan di Annur 6x dalam seminggu. Kalau ditanya, mungkin Raka tak keberatan, toh ia kini sudah tak lagi menangis dan sudah bisa beradaptasi dengan teman2 di sekolahnya. Ibu tidak masalah. Masalahnya, Raka mau “ditaruh” dimana kala kelas sudah usai?? Meski menerapkan sistem full day, tapi rata2 jam 3 sore raka harus di jemput. Bagaimana kalo ayahnya Raka mesti lembur (kalau sudah awal tahun anggaran atau disibukkan dengan berbagai laporan keuangan, ayah pulang kala anak-istrinya sudah tidur), sementara ibu rata2 nyampe rumah jam 5 sore lebih??


Ketiga, pindah rumah/nyari kontrakan yang dekat rumahnya simbah Raka di bantul. Opsi ini menarik dan banyak disarankan beberapa teman ibu, tapi sepertinya tidak mungkin terjalani..... Kenangan ayah akan jerih payahnya kala membangun rumah di Sleman sudah mendarah daging. Ibu hanya bisa maklum.


Keempat, setiap hari Raka ikut berangkat kerja ibu, lantas dititipkan di rumah simbah Bantul. Logis, tapi kasihan Raka. Jarak yang harus ditempuh lumayan jauh, dengan motor pula.


Kelima, Ibu dan Raka “nebeng” dirumah simbah bantul. Seminggu sekali mudik. Ayah jagain rumah di Sleman. Dengan opsi ini, raka mungkin dalam posisi aman...dijagain sama mbah yang begitu menyayanginya. Tapi bagaimana dengan sekolahnya di Annur? Rakapun akan kehilangan figur seorang ayah. Ibu?? Capek..karena di rumah simbah gak da mesin cuci..... he...he


Ke enam, ibu resign dari pekerjaan. Tugas baru ibu adalah menjaga dan mendidik Raka di rumah. Jadi ingat kata seorang sahabat beberapa tahun lalu “perempuan itu, kalau sudah punya anak...masa depannya pindah ke anaknya”. Benar juga sih... Anak kan investasi jangka panjang...

1 Agustus 2008


Menyenangkan, mendebarkan, sekaligus menegangkan. Menurutku, itulah rasa menjadi orang tua. Menjadi menyenangkan ketika kita begitu capek, dan kemudian disambut celoteh serta tawa si kecil yang tumbuh sehat. Mendebarkan adalah saat melihatnya belajar sesuatu, hingga kemudian ia bisa melakukannya. Sementara melihatnya sakit, megetahui ketidaknyamanan yang dirasakan buah hati, akan melahirkan rasa yang menegangkan. Tentu menegangkan di sini jauh berbeda dengan ketegangan yang dirasakan saat kita berlomba, atau nonton film untuk menunggu ending.

Belum sembuh benar luka di bawah mata karena jatuh saat berlarian di depan rumah, tanggal 25-27 Juli kemaren Raka demam. Semuanya berawal kamis malam. Tak ada tanda-tanda awal, kecuai eek Raka yang lebih encer dari biasanya. “Ah mungkin raka kebanyakan makan jeruk, toh raka tetap aktif seperti biasanya”, pikirku. Seperti bisa, setengah tujuh malam Raka bobok dengan pulas. Pukul 10 malam Raka terjaga, kebelet pipis & haus. Dengan sigap ayah ke dapur membuatkankan susu, sementara ibu menggendong raka untuk pipis. Sehabis minum, biasanya raka akan kembali terlelap, tapi entah kenapa malam itu raka justru terbangun, dan tak mau bobok lagi. Kuraba keningnya, agak hangat. Tak seperti biasanya. Suhu tubuh raka 36,7. Tak lama kemudian, susu yang barusan dia minum kembali keluar. Malam itu raka muntah 2x. Sekali membasahi baju ibu, dan sekali membasahi ayah. Mungkin raka masuk angin, itulah dugaan awal kami, mengingat kamis siang raka sempat main air di kran belakang rumah bude win. Ramuan tradisonal bawang merah-minyak telonpun kemudian menjadi pilihan kami untuk menurunkan suhu tubuh dan membuatnya lebih nyaman. Pukul 12 malam, raka kembali tidur,meski tidurnya terlihat gelisah, dan sering terjaga.

Jum’at, 25 juli. Ayah berangkat kekantor. Meski sebenarnya ada jadwal untuk produksi program, melihat keadaan Raka semalam, aku ga tega untuk berangkat. Produksi untuk 1 episode program aku batalkan. Apalagi lokasi pengambilan gambar di gunung kidul, cukup terpencil, tanpa sinyal. Takutnya ada apa2 dengan raka. Untung teman-teman kantor mengerti. Meski badannya masih hangat, pagi itu kondisi raka tampak membaik. Sepertinya ia begitu senang dijagain ibu di rumah...sampai2 nempel terus sama ibu’e. Makan pagi, meski ga habis, tapi lumayan. Siang...suhu tubuhnya semakin tinggi, mencapai 38 derajat celcius. Sanmol, obat penurun panas yang ibu berikan di muntahkan, hingga baru menjelang sore 0,8 ml sanmol drop berhasil masuk ke tubuh Raka.

Suhu tubuhnya berangsur2 turun. Sore itu raka juga tidur dengan mudah dan nyenyak, meski seharian hanya sedikit makanan yang masuk ke perutnya. Tengah malam, raka kembali terjaga. Ya..ampun! ternyata suhu tubuhnya mencapai 39,2 derajat (normal 36,3). Tak mau turun dari gendongan, mata raka tertutup, tapi sepertinya ia tak tidur. Kadang raka juga tampak seperti mengigau..Raka akan segera menangis kalau kembali diletakkan di tempat tidur. Tengah malam, ayah dan ibu mengompres raka dengan air hangat. Sedih, cemas, panik, nggak tega melihat keadaan Raka. “semoga cepat pagi...., dan kami bisa membawa raka ke dokter secepatnya”, itulah harapan kami. Sabtu dini hari, kembali kami berikan sanmol untuk menurunkan suhu tubuhnya. Hampir subuh raka baru bisa terlelap, diatas pangkuan ibu yang duduk jagain raka sambil bersandar di tembok (pengorbanan seorang ibu euy!!)

Sabtu, 26 Juli. Raka bangun agak kesiangan. Sesekali batuk, dan ada sedikit ingus di hidung. Tapi ia tampak sehat, tubuhnyapun tak panas lagi. “ berarti panas semalem karena raka mau flu aja”, pikir kami. Agar tak panas lagi...sebelum aku berangkat kerja, raka kami obati dengan baby cough..sirup batuk-pilek bayi dosis rendah. Tengah hari, aku pulang. Semalem, kami berencana membawa raka ke dokter sore ini, tapi melihat kondisinya yang sudah cerah-ceria...rencana itu kami urungkan. Malam kembali tiba. Setelah tidur nyenyak di sore hari...tengah malam, demam Raka kembali meninggi. Suhu tubuhnya mencapai 39,8!! Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Raka? Bukankah siang tadi ia sudah tampak sehat? Kenapa setiap tengah malam-dini hari suhu tubuhnya menjadi meninggi? “Tuhan....maafkan kami. Raka maafkan ibu.... Ibu sayang raka, ayah sayang raka, Raka sabar ya le...kamu yang kuat....besok kita ke dokter. ” itulah kata2 yang senantiasa diucapkan ibu sambil menggendong Raka, sementara ayah dengan telaten mengganti kompres di kening Raka. Menjelang pagi, kembali suhu tubuhnya menurun. Alhamdulillah....malam sudah berganti pagi.

Minggu, 27 juli ayah libur. Sementara ibu seharusnya ada liputan, tapi untung ada teman yang bersedia menggantikan (terimakasih tante titissss). Hampir tak ada dokter terdekat yang buka praktek di hari libur. Pagi2 kami telp beberapa klinik, menanyakan adakah dokter anak yang standby hari ini. Jawaban melegakan kami dapatkan dari klinik ibu dan Anak semar di babarsari, ada dokter anak yang jaga dari pukul 8 sampai 10 pagi. Tak banyak menunggu, dengan motor kami melaju ke daerah babarsari.....meski cukup jauh.....yang penting raka cepat sembuh. Setelah mendaftarkan raka, fo klinik meminta kami menunggu. Kenapa belum dipanggil juga ya? Karena penasaran, akhirnya ibu nanya ke petugas fo...”mbak, dokter anak nya lagi ngapain to?” Maaf bu, dokternya lagi kami telp, rumahnya cuma belakang klinik ini. Sebentar ya.... Kami kembali menunggu. Beberapa saat mbak fo nya kemali....”bu, mohon maaf...dokternya ga bisa dihubungi...trus ada satu dokter lagi, tapi sekarang sedang di internasional hospital” Hah!!!! Pengennya marah sih...apa gunanya tadi telp....jauh2 dari perbatasan magelang ke babarsari....kenapa tadi bilangnya ada dokter anak yang standby....????? Tapi ya sudah....cukup umpatan dalam hati KAPOK & NGGAK AKAN KE SEMAR LAGI!!!!!

Keluar dari parkiran....sempat bingung....raka mau dibawa berobat kemana?? Kemudian ayah memberi insiatif, raka dibawa ke RS Bethesda aja. Konon di sana perawatan untuk anaknya bagus. Meski belum begitu siang, tapi matahari bersinar terik. Dari jogja bagian timur, kami ke tengah kota.....dengan satu harapan....kami segera tau apa yang terjadi dengan tubuh raka dan mendapatkan obatnya.

 Pengisian form pendaftaran di RS bethesda cukup memakan banyak waktu, karena ini pertama kalinya raka menjadi pasien RS ini. Sementara raka mulai terlihat capek dan mulai rewel. Masuk di klinik 24 jam, raka kmdn ditangani satu dokter perempuan (namanya lupa), diukur suhu tubuhnya ( kmi ngecek terakhir 37,7). Melihat pola demamnya raka yang meninggi dimalam hari, dokter menyarankan untuk test darah untuk memastikan demamnya karena virus ato bakteri. Kalau bakteri, maka ia akan meresepkan antibiotik, kalau virus nggak perlu (sippp!!!, jarang ada dokter yang gini...biasanya asal demam, pasien asal dikasih antibiotik) .

Kami dan Raka ke lab, sample darah diambil, hasil keluar dengan cepat. Hasil kemudian diserahkan ke dokter. Hasilnya, kadar lekosit raka diatas normal. Sementara trombositnya normal, jadi tak ada indikasi ke serangan DB. Kata dokter, itu artinya demam raka disebabkan infeksi bakteri yang masuk lewat makanan/minuman. 

Lega..karena kata dokter raka ga perlu opname, lega juga karena dah tau apa sakitnya Raka. Beberapa obat yang diresepkan, lactobe (semacam su2 fermentasi untuk anak2), antibiotik, serta obat racikan untuk influenzanya. Di rumah, obat diminumkan...dan alhamdullilah.....minggu malam raka tidur nyenyak, suhu tubuhnyapun sudah kembali seperti semula. Nafsu makan yang sempat 2 hari ilang...pelan2 kembali pulih. Terimakasih ya Alloh......, akhirnya malam2 yang menegangkan itu segera berakhir. Salut ma Bethesda atas pelayanannya yang prima!

Nb: setelah demam ilang...muncul bintik merah2 di kulit Raka, awalnya di muka, kemudian di sekujur tubuh. Orang jawa bilang Raka terkena gabag/gabagen.