Personal & Lifestyle Blog

15 September 2017

Kata Anak-Anak, Saya Mirip Kak Ros.




"Ibu i..koyo kak Ros.."
Ha..ha, sebenarnya saya ketawa dalam hati klo anak-anak protes tentang gaya parenting saya. Tapi memang bener kok. Saya galak, bawel, seperti kata anak-anak. Mirip Kak Ros dalam Upin & Ipin. Tapi meski galak, tujuan kak Ros baik. Karakternya tegas terhadap adik-adiknya.

Tentang sikap seperti itu, sebenarnya saya juga punya alasan. Biar anak-anak tertib. Kenapa sekarang? Mumpung masih anak-anak. Jadi klo sejak kecil dibiasakan taat aturan, nanti gedenya tertib juga. Harapannya itu. Contoh riilnya kayak gini: sepulang sekolah, sepatu, tas dan sragam taruh di tempat semestinya, main juga mesti ingat waktu, setengah 5 sore pulang, karena belum Ashar an dan nanti mandinya ndak kesorean.

Tapi namaya anak-anak, kadang sekali diingetin..sekali aja dikerjain. Besoknya balik lagi. Itu kayaknya yang bikin banyak emak-emak cenderung lebih judes daripada bapaknya. Jadilah saya kayak kak Ros di mata anak-anak.

Tiga Gaya Parenting para orang tua.

Cara orang tua ngedidik anak itu macem-macem, tapi secara garis besar dapat dibedakan menjadi 3 golongan:

Pola Asuh Otoriter
Yang dituntut dari gaya pengasuhan ini adalah kepatuhan. Jadi karena posisinya lebih tuaan, lebih pengalaman, orang tua berhak memaksa anak untuk melakukan apa yang dimauinya.

Memang, gaya pengasuhan ala-ala militer ini dipercaya akan melahirkan anak-anak dengan disiplin tinggi, namun apesnya kalo si anak malah justru depresi.

Pola Asuh Demokratis
Disini anak difungsikan sebagai sahabat orang tua. Antar orangtua dan anak, memiliki kesempatan berbicara secara dua arah. Meskipun terlihat membebaskan, tetapi tetep ada aturan-aturan yang harus ditaati, dan ada semacam sanksi ketika anak melakukan pelanggaran.

Pola Asuh Permisif
Merupakan kebalikan dari pola asuh otoriter. Kekurangan dari pola asuh ini adalah seringkali melahirkan generasi yang tidak disiplin dan kurang tanggung jawab.


Banyak Cara Untuk Belajar Ilmu Parenting.


Sepakat dengan tulisan Mbak Inna Riana, dalam postingan berjudul 'Belajar Parenting dari Sekitar Kita' untuk Kolaborasi Blogger KEB, bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah. Tapi untungnya, sekarang banyak sekali sumber ilmu yang bisa kita manfaatkan sebagai acuan saat mengasuh anak. Beragam  teori parenting bisa kita ambil dari beragam sumber, misalnya majalah, internet, atau seminar-seminar ahli parenting. Semuanya menjadikan orang tua semakin melek informasi.

Tapi, di lapangan, nggak semua teori itu bisa mulus dilakukan. Awal-awal punya anak, saya rajin sekali kulakan artikel parenting. Mencocokkan, menerapkannya ke Raka, bahkan cenderung saklek pada teori.

Anak kedua, saya sadar dan ngerasa kok jadinya malah  lelah sendiri kalau saklek. Akhirnya berbagai teori yang saya dapat, saya buat ngalir aja. Selama itu bagus, bisa diterapkan..ya diterapkan. Kalau nggak, ya sudah. Mungkin karena memang situasi dan kondisinya beda. Gitu aja.


Mencari Jalan Tengah, Itu Langkah Kompromi  Saya

Membiarkan anak terus-terusan dalam suasana yang serba teratur, tertib, saya pikir akan membosankan. Demikian pula dengan ketegasan yang berlebihan. Takutnya malah sama-sama tekanan batin. Demikian pula sebaliknya. Memberikan kebebasan ke anak secara penuh, takutnya nanti malah justru membahayakan masa depan si anak.

Antara otoriter dan permisif? Kalau boleh memilih, saat ini saya lebih suka berada diposisi Demokrasi yang cenderung otoriter. Nanti setelah anak-anak sudah cukup besar, sudah mengerti baik-buruk, mengerti sebab akibat, baru lah "dikendorkan".  Membiarkan mereka dengan pilihan mereka, tapi tetep, namanya anak, harus dalam pengawasan orang tua. Sampai kapan? Sampai mereka dewasa, dan kemudian menikah. Cita-cita saya sebagai Kak Ros seorang Ibu sih gitu..

Kalau teman-teman, gimana? Pilih cara yang seperti apa?

18 comments:

  1. Saya sih pengennya pakai cara demokratis, mbak. Tapi mungkin ada potensi otoriternya juga

    ReplyDelete
  2. hahaha...kak ros...

    aku ga ngerti gayaku apa lis. yang jelas anak-anak masih kudu tiap saat diingetin. emak kadang merasa lelah tapi juga bahagia hahaha...

    ReplyDelete
  3. Aku suka gaya mengajak dan memberi contoh termasuk genre mana ini ya? Hebatnya anakku lebih sering mengingatkanku kalau aku mulai bertingkah aneh, misalnya tidak tepat waktu dan lupa pd janji hehe

    ReplyDelete
  4. saya sebagai kakak yg punya dua adik, sering bgt dikatain adik2 saya klo saya mirip kak ros mbak. wkkw soalnya saya agak galak dan tegas sih sama adik2 saya :"

    ReplyDelete
  5. Aku suka tokoh kak Ros....tapi masa sih sebawel itu hahaha...Sepertinya semua perempuan kalau dikucir kuda mirip kak Ros ya mak...

    ReplyDelete
  6. Kadang saya termasuk orang otoriter tapi kadang juga lempeng banget.
    Inginnya bisa Kompromi dan cari jalan tengah terbaik

    ReplyDelete
  7. Kalo aku model diskusi, mb. Tapi terkadang muncul pemaksaan terhadap hal-hal tertentu

    Yang penting seimbang aja siy.Btw, aku suka banget liat judulnya ����

    ReplyDelete
  8. Saya karena jarang bertemu anak, biasanya lebih tak bebasin untuk ngapa-ngapain tapi tetap saya kontrol apa yg boleh dan tidak boleh dilakukannya 😊

    ReplyDelete
  9. saya belum nikah sih mbak tapi pengennya nanti demokratis ke anak hehe

    ReplyDelete
  10. Saya juga belum nikah, pastinya saya memilih demokratis asal ga berlebihan supaya sang anak juga punya rasa takut juga

    ReplyDelete
  11. belum nikah dan blm punya anak juga sih..tapi kayaknya saya cenderung demokratis. hehehe

    ReplyDelete
  12. Aku campuran mbokan mb sulis wkkkk #pengalaman we urung mbul

    Hmmmm, tp paksu lebih demokrstis, nah bagian para mamak biasanya lebih macan nih

    ReplyDelete
  13. Saya kalau punya murid baru, dalam waktu sebulan ke rumahnya, yg saya perhatikan bagaimana didikan ibunya. Anak2 yg penurut (walau tetap eyel2an ala anak2 itu pasti ada ya, haha...) ini memang didikan ibu (plus ayahnya juga tentunya) yg demokratis, pengertian tapi tetap disiplin. Anak yg dididik dg otoriter, permasalahannya jadi ga PD untuk mengerjakan soal, karena bawaannya takut salah aja.

    ReplyDelete
  14. aku kadang kayak kak ros juga, jadi bawel haha

    ReplyDelete
  15. Saya nggak tahu nih mbak gaya parenting saya masuk kategori yang mana..

    Intinya sih saya berusaha dekat dan lebih banyak mendengar apapun yang dikatakan Vani, kemudian baru memberikan pendapat.
    Tapi kadang suka marah juga kalau Vani disuruh nggak langsung mengerjakan hehe..

    Jadi masuk kategori mana nih gaya parenting saya..?? :)

    ReplyDelete
  16. Saya nggak tahu nih mbak gaya parenting saya masuk kategori yang mana..

    Intinya sih saya berusaha dekat dan lebih banyak mendengar apapun yang dikatakan Vani, kemudian baru memberikan pendapat.
    Tapi kadang suka marah juga kalau Vani disuruh nggak langsung mengerjakan hehe..

    Jadi masuk kategori mana nih gaya parenting saya..?? :)

    ReplyDelete
  17. Dulu jamanku masih kecil, papa mendidik kita dengan sistem otoriter. Harus patuh apapun kemauan orang tua.. Hasilnya, aku jd anak yg membangkang, dan kurang bisa deket ama ortu.. Makanya ga pengen ngulang kesalahan yg sama ke anak2ku mba.

    Tipe mendidik seperti itu udh ga bisa sih diterapin jaman sekarang. Anak2 udah cerdas. Mereka ga mau hanya diperintah. Harus ada alasan kenapa mereka diminta melakukan itu. Jadi udah pasti sistem demokratis lbh cocok

    ReplyDelete
  18. Mbak, postingan Mbak probably food for thought banget buat aku hari ini. Pertama ngaya menulisnya ngalir saja, jadi seperti Mbak Sulis cerita langsung ke aku, bukan baca tulisan. Isi tulisannya pun ilmu baru buat aku. Kayaknya gaya demokratis memang paling baik, ya, Mbak sampai anak cukup bijak, dewasa, dan sadar untuk menentukan sendiri. Orang tuaku juga gitu, baru beberapa tahun aku merasa lebih dikasih kebebasan.

    ReplyDelete

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin