Personal & Lifestyle Blog

5 June 2016

Surat Cinta Pupa, Ada Kisah Dalam Sebuah Buku


Hati perempuan itu terluka. Ia butuh  pelarian untuk mengobati perih  hatinya. Untung saja ia masih ingat Tuhan, hingga tak lantas berlari ke rel kereta, atau meminum obat tidur 4 butir sekaligus. Ia masih sholat, masih bisa sesekali tertawa, meski canda akhirnya menjadi langka. Justru ia melangkah memasuki sebuah toko buku, berlama-lama di sana.

Biasanya, ia pergi hanya untuk kepentingan buku-buku kuliah. Tapi hari ini ia ingin sesuatu yang lain. Sebuah buku mungil yang terdisplay di rak , menarik perhatian gadis itu. Ia buka lembar-perlembar, hingga tanpa sadar telah melumat halaman demi halaman, bahkan sampai halaman terakhir. Benar, rupanya perempuan itu terpesona kata demi kata dan cerita yang mengalir darinya.


Enam tahun setelah perpisahan kita
Tujuh dua bulan terpuruk menjerembab kabut
Lima ratus empat pekan melayap bersama angin malam yang menjelaga
Membekap bintang-bintang dalam kelam
Tik tok jam di malam kelahiran
Membuncahkan perasaan
Meradang sukma ini
Dua ribu seratus enam puluh mata hati
Luruh berkalang tanah
Kangenku membentur dinding kenyataanmu

Barangkali itu sebabnya,

Surat-suratmu masih saja indah kubaca

Bagai ricik kali dan taman bunga 
Di padang tandus cintaku

(Wahyudi, Surat Cinta Pupa: 93, Penerbit bukulaela, Yogyakarta, 2002)


Dan gadis yang jatuh cinta pada buku mungil itu adalah saya, lebih dari sepuluh tahun silam saat menenemukan "Surat Cinta Pupa" (SCP) pada sebuah toko buku, di kawasan Gejayan Jogja. Aslinya, dibaca di tokopun juga pasti kelar, karena buku ini mungil. Tapi karena sudah jatuh cinta akhirnya tetep saya bawa ke kasir. Untung nggak mahal untuk ukuran saya yang kala itu masih berstatus fresh graduate tapi masih pengangguran. Sampai sekarang, ini satu-satunya buku kumpulan surat yang saya punya. Bisa  senyum-senyum sendiri saat ingat cerita dibalik termilikinya buku ini.

Jujur, pertama tertarik karena tokoh dalam buku ini, namanya mirip-mirip mantan. (Lebayyyy  kan...ah, tapi harap maklum, orang dulu statusnya masih perempuan labil). Sekarang mah,  mau ada 10 nama yang sama cuek aja! Ha..ha. Trus kedua, buku ini berkisah tentang patah hati alias ditinggal pacar. Bodohnya saya, harusnya klo putus, segera move on...cari penyemangat, buku motivasi atau apa...ini malah nggak, cari tempat lari yang senasib...biar berasa ada teman.. Ketiga, karena kata-kata didalamnya dalam...romantis...plus melankolis. Ah..suka pokoknya! Sedikit cuplikan dari isi buku Surat Cinta Pupa yaa..


Dear Wahyudin
Yud,

Kejadian kemarin

semua seperti mimpi

yang memalingkan makna hari-hari

Pupa seperti telah kehilangan sesuatu

Tapi insya Allah, 

ada banyak "hikmah" di balik itu.

...............

[cerita selanjutnya, tunggu Pupa di Yogya]

...............

InsyaAllah, Pupa pulang hari Kamis (5/9) berangkat pagi, kalau nggak, mungkinm malamnya.
Itu saja,


Mea Culpa

(Surat Cinta Pupa, halaman 86)


Ditulis oleh Wahyudin, seorang penulis Jogja. Surat Cinta Pupa berisi kumpulan surat seorang gadis kepada sahabat (atau pacar?). Berkisah tentang kisah Yud-Mea Culpa (yang kemudian dipanggil Pupa). Keduanya berlatar belakang sebagai mahasiswa-mahasiswi IAIN Sunan Kalijaga di era tahun 96-an, ngekost, dengan semua latar belakang kejadiannya di Jogja semua. Jadi ngerasa deket dan bisa bayangin sambil mbaca. Jadi, SCP itu fiksi atau non fiksi entahlah. Sepertinya kisah pribadi yang kemudian dibukukan, dengan sedikit polesan. 

Salah satu halaman dalam SCP

Kecil, mungil..tapi buku ini punya sejarah. Tidak seperti kenangan sang mantan yang sudah saya buang jauh, namun buku ini masih saya simpan sampai sekarang. Sayang kalau ikut-ikutan dibuang. Teman blogger punya buku "bersejarah" juga? Bagi yuk di kolom komentar :-) Oh..iya, buat pecinta buku, jangan lupa yuk ikutan giveway for booklover di blognya Anne Adzkia. Info lengkapnya ada di sini.  

21 comments:

  1. barangkali kalo zaman udah marak internet, tampilnya dalam bentuk blog ya. mahasiswa/i IAIN...jadul tenan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh mbak.. Tapi jaman dulu formatnya surat-surat an. Lebih berwujud.. Dulu internetnya masih Bumi net sama Merapi doank.. :-)

      Delete
  2. bagus tuh mbak kalo diangkat jadi film...

    makasih ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weh..ntar nyaingi Kartini mas.. :-) makasih ya sudah manpir

      Delete
  3. makasih, banyak cerita dari sebuah buku ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Tapi klo saya mudah ingat isinya klo yang fiksi. Klo yang isinya serius...malah sering cepet lupa..Makasih mbak

      Delete
  4. Wah puisi yang pertamanya di atas dalem juga yah. Rasanya kyk gmana gitu hehe

    ReplyDelete
  5. Klo saya mah lagi stress kadang mainnya ke gramedia atau togamas. Pernah ngabisin satu novel sehari di sana. Maklum waktu itu msh mahasiswa baru dana buat beli novel sama sekali gak ada. Klo mau minjem novel ya kep perpus kampus/kota.

    Hihihi Surat Cinta Pupa...ecieeeeee jadi ingat mantan. Tapi dah move on kan? Pacar terakhir siapa? oh iya dah jadi suami statusnya wkwkwkw

    Latar ceritanya mah waktu saya msh kecil ehehe msh zaman pake surat...sekarang mah pake WA, BBM, Line yah semacam itulah...

    Tapi mengenang masa lalu kayaknya lucu Hihihi :P

    Sukses GA nya mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya iki arinta. Buku dengan latar belakang kejadian jaman kamu masih SD mungkin... :-) jaman harga bensin masih 1500/ liter kayaknya...

      Delete
  6. Sebagai orang yang pernah mengenyam juga pendidikan di SUKA (Sunan Kalijaga), saya merasa bangga banyak senior saya yang terabadikan karyanya. Dan, dari buku Wahyudi di atas, kalimat inilah yang benar-benar membuat aku takjub tak berkesudahan: "Tidak seperti kenangan sang mantan yang sudah saya buang jauh, namun buku ini masih saya simpan sampai sekarang."

    *)Eh..., itu kalimat si empunya blog dhing. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wooo...alumni UIN to :-) ya..ya,maturnuwun sudah mampir... Ha..ha...kalimat yud dalam buku itu jauh-jauh lebih menakjubkan.

      Delete
    2. Tapi, menurutku, tetap lebih memukau dan menakjubkan kalimat yg kau kutip itu, Mbakyu. Karena, kalimat itu benar-benar terungkap dari kejujuran hati sang empunya blog. :) *Kabuurrr sebelum dilempar HP. :))

      Delete
    3. Waa...eman2 klo pke hape....hape rusak ra iso nge-blog. Pake sandal aja yaa...bar tak pake nglempar, jupuk meneh isih utuh..:-D :-D

      Delete
  7. Haishhh nama mantan ikut mempengaruhi minat baca juga ternyata yo mb hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha..ha,begitulah Nit... Sst...ndak bojoku moco..:-D

      Delete
  8. Saya juga suka puisi, mbak Sulis. Meskipun nggak bisa nulis. Ternyata menulis puisi itu susah lho.

    Puisi yang dicuplik diatas indah ya mbak, mendayu-dayu gimana gitu, meskipun isinya tentang patah hati tapi enak dibacanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waa..podho mbak, aku juga ndak bisa bikin puisi. Klo mbacanya...asal masih bisa dipahami...mau. Tapi klo yang kata2nya terlalu indah malah nggak dong isinya juga... *lah, njuk kepie?

      Delete
    2. Padahal, jare cah-cah sastra, semakin absurd dan susah dipahami, semakin berkelas puisinya. :)) Batinku, "Nek ngunu aku tak nggawe puisi yg mbulet dan absurdnya minta ampun biar disebut berkelas." :))

      Delete
  9. Udah cukup lama saya nggak baca kalimat-kalimat puitis dan sastra, kayaknya nyess banget deh bacanya. Kebanyakan baca blog yang umumnya bahasanya santai. Jadi tertarik deh beli buku kecilnya. Masih ada nggak ya?
    Makasih sudah ikut GAnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah buku lama e mbak..nggak tau masih ada apa ndak. Sama-sama mbak..terimakasih sudah dibaca :-)

      Delete

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin