30 Oktober 2016

Dua anak saya adalah pecinta susu.  Saat di rumah, biasanya saya menyediakan susu model susu bubuk full cream, meskipun konsekuensinya memang harus lebih repot mencuci gelas dan menyeduhnya dalam air hangat. Saat bepergian atau di sekolah, saya lebih suka membekali mereka dengan susu kotak alias UHT. Pertimbangannya lebih praktis, sekali minum habis, jadi nggak bakalan ada cerita anak minum susu yang sudah basi.

Tapi, beberapa hari lalu saya punya pengalaman yang tidak menyenangkan tenutang susu UHT ini. Seperti biasa, selesai jam bermain di PAUD Alya nagih susu kotaknya. Saya berikan, dan langsung ia sedot. Satu kali sedotan, tumben-tumbenan ia komplain, "Ibu..susunya nggak enak" sambil menyerahkan susu kotaknya. Reflek, segera saya cicipi.. Ternyata kecut. Agak-agak berlendir di lidah. Saya tuang sedikit susu ke lantai..tekstur cairan susu seperti santan yang sudah pecah. 

27 Oktober 2016

Di luar masih gelap. Adzan subuh berkumandang bersahutan dari beberapa masjid di kampung-kampung terdekat. Kalau menuruti keinginan, paling enak tetap meringkuk di bawah selimut. Apalagi kalau di luar hujan, melanjutkan tidur adalah godaan yang sukar dilawan. Tapi realitasnya, ada anak yang pukul 5 pagi sarapannya harus siap. 

Yeah, saya mesti bangun ketika anak-anak dan suami kadang masih terlelap. Ada panggilan tugas rutin sebagai ibu yang menunggu; memasak, menyiapkan dua anak sekolah, sampai kemudian mengantarnya.

Setelah anak-anak sekolah dan suami ngantor, selesaikah semuanya? Oh, tidak! Ada piring-piring kotor, jemuran, dan tetek bengek urusan rumah tangga yang harus dibereskan. Setrikaan, lantai kotor, dapur penuh minyak, cek dan ricek kebutuhan rumah tangga dan memastikan ketersediaan mereka, hingga kemudian tiba saatnya jemput anak-anak,  adalah kesibukan harian saya. Lebih dari 3/4 waktu dalam sehari, saya habiskan di dalam rumah.

21 Oktober 2016

Ilustrasi dari katamotivasi7.blogspot.co.id

Apa kabar Teman?
Perkenalkan, namaku Argo. Lengkapnya Bani Argo. Sekarang umurku 10 tahun, aku duduk di kelas 4 SD. Kata Bapak, Argo artinya gunung, sementara Bani artinya anak. Hi..hi, iya...aku memang anak gunung. Aku, Bapak, Ibu dan Adikku Lani tinggal di Kampung Turgo, sebuah kampung di Punggung Merapi. 


Aku senang tinggal di sini. Temanku banyak, termasuk si Loreng dan Poang. Ha..ha, tahu nggak siapa mereka? Mereka itu sapi-sapi peliharaan Bapak. Setiap pagi kami memerah susu Loreng dan Poang, untuk disetor ke Koperasi. Kalau sudah terkumpul banyak, susu akan diangkut ke pabrik, dan mungkin jadi minuman kalian, anak-anak yang ada di kota.

19 Oktober 2016


Saat kita bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama, destinasi yang cukup jauh, oleh-oleh alias buah tangan menjadi sesuatu yang meski nggak wajib, tapi sering masuk anggaran pengeluaran. Biasanya oleh-oleh dibeli untuk sekedar kenang-kenangan pribadi, berbagi dengan tetangga kanan kiri, atau kadang rekan sejawat di kantornya pak Suami. (Iya...saya kan nggak ngantor)

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat kecewa dengan oleh-oleh yang saya beli. Critanya sepulang dari Lamongan, kalau tidak salah  pas nyampai Ngawi, saya sempat mampir ke sebuah toko oleh-oleh. Waktu itu sudah tengah malam, jadi memang jarang sekali toko yang masih buka. Meski terlihat sepi, akhirnya kami berhenti pada sebuah toko oleh-oleh. Sayang, tidak sempat mengingat nama. Belanjaan tanpa struk juga, karena mbaknya ngitung total belanjaan pake kalkulator. Toko dijaga oleh satu orang bapak-bapak dan satu wanita...mungkin mereka suami istri.

15 Oktober 2016


Sering harus berdamai dengan udara dingin, itu konsekuensi bagi saya yang tinggal di kaki gunung Merapi. Walau begitu, saya tetap bersyukur. Tak semua bisa menghirup udara sesegar yang biasa kami rasakan setiap hari. Toh akses untuk ke pusat kota Jogja tak begitu sulit, paling sekitar setengah jam. Sudah di dukung jalan beraspal halus pula.

Konsekuensi lain adalah curah hujan yang lebih tinggi. Akhir-akhir ini, hampir setiap sore hujan turun. Dampak ikutannya adalah ngelihan atau sering laper..wkk..wkk.

"Cari makan di luar yuk.."

12 Oktober 2016


Sering nemu mobil berstickerkan WBL di kaca belakang kan? Nah..itu titik awal penasaran saya dengan tempat wisata ini. Kayaknya kok keren. Tapi...kok ya jauh. Lamongan, itu artinya sekitar 8 jam perjalanan dari Jogja.

Tapi untungnya..saya punya Pak Lik (Paman, adiknya Bapak), yang tinggal di Lamongan. Ndilalah, kemaren nemu moment yang pas, ngaruhke keadaan Paman setelah pulang Haji, plus Raka sudah kelar UTS. Jadilah kami kunjungan keluarga ke kediaman Pak Lik, plus ngobati penasaran, se keren apakah WBL sesungguhnya?

6 Oktober 2016


Menjadi anak yang "berbeda" dengan saudara kandung yang lain itu kadang berat. Iya, saya berbeda dengan dua kakak laki-laki saya. Sejak awal masuk SD, mereka selalu jadi bintang kelas, sering di kirim lomba antar sekolah, meski dijaman itu belum zamannya olimpiade sains atau lomba-lomba sains sejenis. Sementara saya? Siswa biasa-biasa saja. Bisa masuk 5 besar juga sudah menjelang lulus.

Dua kakak saya memang jago secara akademis. Dan dari lubuk hati yang paling dalam...itu membuat saya minder. Mereka bisa masuk SMA favorit, jadi penghuni kelas exacta, sementara saya? Rutin menjadi peserta remidi untuk ulangan mapel matematika, fisika, dan kimia. Saya ingat, kakak sulung saya sering jengkel dan marah-marah klo ngajari saya mengerjakan PR. Nggak paham-paham dan lemot klo diajari rumus dan hal-hal yang berbau hitungan. Alasan saya waktu itu satu dan teramat sederhana; pelajaran matematika dan IPA, susah dibayangkan. Itu juga yang membulatkan tekad, saya lebih memilih masuk kelas IPS. Termasuk juga karena faktor guru. Saya sudah terlanjur ngeri dengan guru matematika di sekolah. 

Baca juga :
Guru Favorit

Hingga suatu hari menjelang kelulusan orang tua saya, lebih tepatnya bapak berkata, " koe yen ora iso kuliah negeri...ora usah kuliah (kamu kalau nggak bisa masuk PTN, nggak usah kuliah). Walau biaya kuliah diera 90an masih bisa dibilang murah, tapi "gertakan" bapak cukup logis. Alasan utamanya sederhana;motif ekonomi. Bapak hanya petani biasa, sedang dua kakak saya masih berstatus mahasiswa pada PTN yang sama (UGM); satu di MIPA, satu di teknik.