Personal & Lifestyle Blog

19 October 2016

Mau Belanja Oleh-Oleh? Lima Hal Ini Bisa Jadi Bahan Pertimbangan


Saat kita bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama, destinasi yang cukup jauh, oleh-oleh alias buah tangan menjadi sesuatu yang meski nggak wajib, tapi sering masuk anggaran pengeluaran. Biasanya oleh-oleh dibeli untuk sekedar kenang-kenangan pribadi, berbagi dengan tetangga kanan kiri, atau kadang rekan sejawat di kantornya pak Suami. (Iya...saya kan nggak ngantor)

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat kecewa dengan oleh-oleh yang saya beli. Critanya sepulang dari Lamongan, kalau tidak salah  pas nyampai Ngawi, saya sempat mampir ke sebuah toko oleh-oleh. Waktu itu sudah tengah malam, jadi memang jarang sekali toko yang masih buka. Meski terlihat sepi, akhirnya kami berhenti pada sebuah toko oleh-oleh. Sayang, tidak sempat mengingat nama. Belanjaan tanpa struk juga, karena mbaknya ngitung total belanjaan pake kalkulator. Toko dijaga oleh satu orang bapak-bapak dan satu wanita...mungkin mereka suami istri.


Suami membeli beberapa makanan kering. Sementara mata saja tertuju pada salah satu makanan khas Jawa Timur. Wingko Babat. Saya lihat, kemasan bagus, dibungkus dengan paper bag, sekitar isi 15 atau 10 setiap bungkus. Exp. date juga masih belum, meski itungannya memang tinggal beberapa hari lagi. Pertimbangan saya, karena termasuk jenis kue basah...pasti rotasi di toko akan cepat. Ditambah lagi, bapak yang jaga menambah informasi "Itu stok baru kok mbak, belum lama nyetornya..". Ya sudah, saya percaya..dan membeli beberapa bungkus, untuk keluarga dan diniatkan untuk diberikan ke tetangga kanan-kiri rumah.

Pagi berikutnya, saat posisi saya sudah di rumah, bayangan manis-legitnya kue wingko di depan mata. Saya buka satu kemasan, cek isinya..dan ternyata....kue wingko babat saya sudah full jamuran. Sudah sama sekali tak layak konsumsi. Menyesal deh..jadi mubazir kan semuanya? Kenapa saya percaya begitu saja sama penjualnya?

Untung tidak semua makanan yang kami beli  jenis makanan basah. Ada ledre, enting-enting, beberapa bungkus sambel pecel kemasan yang statusnya aman untuk dikonsumsi dan dibagi.

Kalau yang ini masih enak

Apes, itu saja. Paling penting, ambil pelajaran dari pengalaman. Setelah itu...saya kapok membeli oleh-oleh di luar kota dengan metode "asal dapat". Beberapa hal ini, akhirnya akan menjadi bahan pertimbangan:

Pertama, sebisa mungkin, membeli makanan basah dari " dapur" nya langsung.
Sebenarnya, pengalaman membeli wingko babat jamuran ini bukan yang pertama.  Dulu, pernah juga terpikat membeli gethuk magelang, tapi begitu nyampe rumah sudah basi. Ah..sudah! Jangan sampe kecewa untuk yang ketiga...pokoknya..hindari membeli makanan basah kalau tidak dari yang membuat langsung.

Kedua, Perhatikan situasi toko.
Tingkat kunjungan konsumen biasanya berbanding lurus dengan kualitas barang-barang dagangan yang dijajakan. Artinya, semakin ramai toko, biasanya kualitas barang-barang dagangan semakin bisa dipercaya. Logikanya, semakin banyak transaksi maka arus pergantian barang semakin cepat. Rotasi barang akan semakin lancar, hingga jarang barang dengan stock lama ditemukan. Jadi..mending belanjanya pas siang..saat bisa memantau keadaan.


Ketiga, Pertimbangkan tipe oleh-oleh yang ingin dibeli.
Jenis makanan apakah basah atau kering, ataukah berupa souvenir yang pastinya jauh lebih awet, bisa menjadi pertimbangan. Tentu saja, ini berkaitan pula dengan besaran anggaran dan juga jarak tempuh perjalanan dengan tempat asal. Pasca kasus wingko berjamur itu..kok sepertinya saya mending di jalur beli souvenir aja yaa. Untuk makanan, beli saja di sekitar rumah, nanti kalau ada masalah, komplainnya deket.

Keempat, cermati tanggal kadaluarsa.
Ini penting banget, meski sebenarnya kalau menurut tanggal yang tertempel...barang yang saya beli waktu itu belum masuk tanggal kadaluarsanya. Intinya adalah, jangan mudah percaya. Teliti lagi dengan seksama. Kalau perlu, tanyakan ulang  penjualnya, termasuk apakah mungkin bisa direturn saat barang yang kita beli tidak sesuai dengan pemaparan sang penjual.

Kelima, cari informasi tambahan
Era digital sebenarnya memberikan konsumen semakin banyak pilihan. Seandainya sempat, cari informasi dan ulasan sebanyak mungkin sebelum mengambil keputusan. Ini yang kemarin luput saya lakukan. Keterbatasan waktu menjadi alasan dan juga kambing hitam.

Kasus oleh-oleh berjamur, adalah pengalaman buruk, tapi juga semacam pelajaran buat saya. Lain kali harus lebih cermat, hati-hati dan teliti dengan barang yang hendak kita beli.   


9 comments:

  1. tanggal kadaluarsa ini penting banget yah Mba, kelihatan sepele tapi efeknya besar

    ReplyDelete
  2. padahal udah terbayang rasanya ya. untung oleh-olehnya bukan titipan ya. kl kayak gitu duh...dobel kecewa.

    ReplyDelete
  3. Saya juga pernah beli oleh-oleh nggak kebeneran mbak Sulis, rasanya kecewa sekali apalagi itu mau dibagi ke tetangga. Nggak mungkin kan ya kita kasih oleh-oleh nggak bagus.

    Tapi benar juga bisa buat pelajaran dan lain kali harus lebih berhati-hati ya :)

    ReplyDelete
  4. sekarang saya jarang beli oleh2 mbak, hahaha, pelit, kalo pun beli emng hrs di tempat yg recomended, pernah beli asal-asalan, trus kecewa berat.

    ReplyDelete
  5. aku suka upitek juga mb sulis, alias tertipuh ahihihi
    di struk lebih mahal dari banderol nya #kecele

    ReplyDelete
  6. Sayang ya udah dibeli, dibawa jauh-jauh, tapi berjamur. emang harus memperhatikan 5 hal di atas ya..

    ReplyDelete
  7. Nah, nyebelin tuh kalau udah jauh belinya, sampe rumah gak bisa dimakan karena jamuran atau lainnya

    ReplyDelete
  8. nyimak,,makasih ya..,,tipsnya berguna banget
    sayang kalau ajdi buang uang gara gara jamur

    ReplyDelete
  9. beli oleh-oleh basah memang lebih beresiko ya mba, apalagi kalo perjalana sampe rumah lama

    ReplyDelete

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin