21 November 2014

Pengalaman Wisata ke Pantai Pok Tunggal Gunung Kidul

November 21, 2014 1
Pantai!! Hmm....sungguh menggoda untuk dijadikan destinasi wisata keluarga. Beberapa waktu yang lalu kami mengunjungi pantai Pok Tunggal. Sebenarnya ini adalah kunjungan pertama kami. Hanya berbekal sedikit referensi dari tetangga, sebelum adzan subuh berkumandang, meluncurlah kami menuju salah satu kabupaten di sisi timur Propinsi Yogyakarta. Here we come, Gunung kidul!

Pagi yang berkabut, jalanan yang berkelok serta puluhan tanjakan serta turunan tajam, membuat suami saya harus ekstra hati-hati mengendalikan laju kendaraan. Pantai Pok Tunggal terletak sejalur dengan beberapa kawasan pantai di Gunungkidul. Dinamakan Pok Tunggal, konon karena keberadaan sebuah pohon yang memang menjadi ciri khas pantai tersebut. Pok, dalam bahasa Jawa berarti cabang, sementara tunggal artinya satu. Biaya untuk masuk obyek wisata ini sangat terjangkau, cukup Rp.10.000/orang, termasuk asuransi. Dengan satu tiket di tangan, pengunjung sudah bebas menikmati pesona beberapa pantai lain yang terletak satu baris, seperti Pantai Baron, Kukup, Krakal, Drini, Sepanjang, Pulang Sawal, Sundak dan juga Pantai Indrayanti. 

Diantara deretan pantai Gunung Kidul, Pok Tunggal termasuk pantai baru. Mungkin karena itu juga, akses masuk menuju lokasi pantai cukup sulit ditempuh, terutama pengguna mobil jenis city car seperti kami. Kami harus melewati jalanan berbatu, sempit, dan berkelok. Sungguh perjalanan yang tak kami duga sebelumnya! Sempat pula suami uring-uringan gara-gara bagian bawah mobil yang sedikit peyok terantuk batuan kapur, tapi mau bagaimana,mau belok tidak mungkin, karena jalanan sempit. Pilihan satu-satunya adalah melanjutkan perjalanan.

Begitu menemukan lahan yang memungkinkan untuk memarkir mobil, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hamparan pantai sudah tampak di depan mata, tapi jarak yang kami tempuh masih sekitar 400 meter lagi dengan menuruni jalan batuan kapur. Yeah, hitung-hitung olahraga😁😁



Sekitar pukul 7 pagi ketika kami benar-benar menapakkan kaki di bibir Pantai Pok Tunggal. Suasana pantai sudah cukup ramai. Tampak puluhan tenda dumb berdiri, dan anak-anak muda yang tengah menikmati suasana pagi. Teringat kendaraan yang kami parkir di 3/4 perjalanan tadi, hanya sejenak saja kami menikmati pantai ini. Satu hal yang kami pelajari hari ini: pelajari medan sebelum melakukan perjalanan!

14 November 2014

Terimakasih Ibu


Bernostalgia dengan masa lalu, dimana kita bisa menarik ingatan kita kebelakang, menuntunnya untuk kembali ke masa puluhan tahun yang silam, ternyata menyenangkan. Tak hanya bisa menjadi salah satu kegiatan pengisi waktu luang, dengan aktivitas ini kita bisa mengumpulkan "remah-remah" memori yang awalnya terbuang, dan menjadikannya sebagai sesuatu yang tak terlupakan. Hal itu jugalah yang saya lakukan malam ini.Kini, usia saya mendekati angka 35 tahun. Itu artinya, saya harus membawa ingatan saya kembali ke era 80-an, ke suatu masa dimana figur seorang ibu benar-benar berperan, dan sangat menentukan terhadap pencapaian-pencapaian yang sudah saya raih sampai hari ini.

Ibu adalah perempuan desa yang sederhana. Berkain jarit dan kebaya, tanpa pulasan make-up, bersanggul kecil di belakang, seperti itulah penampilan ibu saya sehari-hari. Tugas pokoknya adalah sebagai ibu rumah tangga, selebihnya adalah membantu pekerjaan Bapak sebagai petani. Saya sendiri terlahir sebagai bungsu dari 3 bersaudara. Dua kakak saya laki-laki. Bisa ditebak, posisi tersebut seringkali teramat menguntungkan, satu-satunya anak perempuan, paling kecil lagi. Maka saat itu jadilah saya gadis kecil yang cenderung manja dan tidak mau kalah ataupun mengalah.  

Saya ingat, mungkin umur saya sekitar 6 atau 7 tahun, masa ketika saya sedang senang-senangnya bermain. Saat waktu makan tiba, ibu selalu menyuruh saya untuk pulang untuk makan di rumah. Tapi saya selalu menolak dan memilih untuk tetap bermain bersama teman-teman, dan bisa dipastikan yang kemudian dilakukan ibu adalah menyusul saya dengan semangkuk makanan, menyuapi gadis kecilnya dengan telaten, sementara saya tetap asyik bermain. 

Ada juga cerita lain. Kala itu saya belum masuk Taman Kanak-kanak. Badan saya demam, dan tubuh saya kata ibu mengurus. Suatu sore, sambil memandikan ibu bertanya, "badan kamu kok kurus, kamu pengen apa? "Pengen sepeda mini", sayapun menjawab. Tanpa menunggu lama, ibu bercerita kepada bapak dan paginya bapak langsung membelikan sebuah sepeda mini baru warna biru, dengan juntain pita warna-warni di lubang stang. Harganya kala itu saya dengar dua puluh tiga ribu rupiah. Ah, betapa senangnya saya. Tidak pernah saya pikirkan bagaimana perasaan 2 kakak saya yang meskipun usianya lebih besar, tetapi belum memiliki sepeda. 


Pernah juga saya membuat ibu kalang-kabut. Kejadiannya lupa tahun berapa, tapi sepertinya saat itu saya belum sekolah. Suatu malam, saya melihat sebuah tayangan film di TVRI. Dikisahkan dalam film tersebut sekelompok anak muda yang bertualang ke sebuah pulau, dan satu persatu mereka meninggal secara misterius. Dasar anak kecil, selesai melihat film itu saya begitu takut dengan apa yang namanya MATI. Otak bocah saya kemudian membuat kesimpulan "saya akan mati kalau saya lupa bernapas", maka setelah itu saya selalu menarik napas dengan keras, sampai terdengar. Yang ada dalam pikiran saya adalah, pokoknya tidak boleh lupa bernapas. Alhasil, saya bernafas seperti penderita gangguan paru-paru dikala terjaga, dan kembali normal pada saat tidur. Mendengar saya seperti sesak napas setiap hari, terang saja ibu panik. Diantarnya saya ke rumah sakit paru-paru, menjalani foto rontgen, dan keheranan begitu dokter menjelaskan tidak ada yang salah dengan paru-paru saya. Berapa lama persisnya saya terkena "sindrom takut lupa bernafas", saya tidak ingat, tapi mungkin kebiasaan aneh itu berhenti secara tidak sadar.

Dalam hal penanaman nilai-nilai agama dan moral, ibu saya cukup jempolan. Semua anak-anaknya dibiasakan sholat berjamaah di masjid minimal di waktu Maghrib dan Isya. Saya ingat saya pernah " memaksa" ibu untuk sholat. Saya protes karena waktu itu ibu tidak ke masjid. Waktu itu saya belum tahu kalau perempuan itu mengalami haid, dan memang tidak berkewajiban sholat, sementara mungkin ibu masih bingung bagaimana harus menjelaskan keanak perempuannya. Maka yang ibu lakukan ketika saya protes adalah, tetap melakukan gerakan sholat, bermukena, tapi mungkin tidak meniatkan untuk sholat. 

 Nah, kalau yang ini terjadi ketika saya baru masuk Sekolah Dasar. Entah kenapa, saya ingin setiap saya membuat ibu senang. Sehari-hari ibu rajin memasak untuk kami sekeluarga. Saya membayangkan, kalau saya pulang bermain, dan ibu saya beri oleh-oleh bahan sayuran, ia pasti akan senang sekali. Kebetulan, didekat tempat bermain ada pohon nangka milik tetangga yang meskipun pendek, tapi sudah berbuah. Tanpa pikir panjang, saya ambil sebuah nangka muda dan dengan riang saya bawa pulang untuk di berikan pada ibu. Betapa kagetnya, seketika dengan marah ibu bertanya darimana saya mendapatkan nangka muda itu. Setelah saya jelaskan, akhirnya ibulah yang meminta maaf kepada pemilik pohon, dan mewanti-wanti saya, jangan sekali-kali mengambil atau memetik sesuatu yang bukan ditanam bapak. 

 ***
Kini, bocah badung, bandel dan manja itu telah dewasa. Bahkan ia pun telah menjadi ibu untuk dua orang putra-putrinya. Betapa menjadi seorang ibu yang baik itu tidak mudah, sudah ia rasakan. Betapa menjadi seorang ibu itu harus berbekal berlapis-lapis kesabaran, telah ia mengerti. Untuk sosok ibu yang banyak mengajarkannya dengan beragam nilai kehidupan, ia hanya berharap, semoga ibu senantiasa sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Maturnuwun atas semuanya Ibu... 

artikel ini diikutkan pada kontes unggulan:hati ibu seluas samudra.

9 November 2014

Saatnya Belajar Dari Mereka:-)

November 09, 2014 0
Sejak ada Alya --adiknya Raka, saya sering mengamati polah tingkah anak-anak. Hal yang paling gampang dilihat adalah dari segi aspek perkembangan fisik-motorik mereka. Dibalik tubuh mungilnya, ternyata mereka adalah sosok yang tak kenal putus asa. Coba saja amati bayi usia 3 bulanan, betapa kuat mereka berusaha untuk sekedar memiringkan badan, untuk kemudian tengkurap. Acapkali gerakan tersebut dibarengi dengan teriakan sekuat tenaga layaknya seorang ibu yang tengah menjalani proses persalinan. Pernah mendampingi bayi yang tengah belajar berjalan? Berawal dari posisi merangkak, kemudian ia akan mencari sesuatu yang bisa ia jadikan pegangan. Setelah kakinya kuat menumpu, maka ia akan memberanikan diri untuk melangkah,terjatuh, dan belajar melangkah lebih jauh lagi tanpa kenal lelah. Setelah mendekati usia 2 tahun, ajaklah anak bermain lomba lari! Lihatlah betapa riangnya ia, rupanya ia tahu usahanya selama ini tak sia-sia. Kaki-kakinya cukup kokoh untuk berlari. ****** Beberapa hari yang lalu, berada diatas motor, sambil menunggu kemacetan yang tak segera terurai, saya melihat seorang bocah, kalau tidak salah perempuan, usia sekitar 13 bulanan yang sedang berada dalam fase "melancarkan" jalan. Berlatih dihalaman rumah, dengan pendampingan (mungkin) sang ibu. Berapa kali ia terjatuh, tapi tidak menangis, justru tertawa riang saat bisa berdiri dan berlatih kembali. Kalau sudah begitu, jadi malu saya. Kalah sama batita ternyata! Ulet dan semangat untuk bangun saat terpuruk itu yang butuh saya (atau kita?) upgrade... So, sesuatu telah saya pelajari hari itu: 1. Cepat bangun saat merasa gagal. Coba lagi selagi ada kesempatan. Kalaupun tidak ada...try another way... 2. Kecewa boleh, tapi jangan terlalu lama "menangis". Anak kecil saja mampu Jatuh-menangis-belajar lagi, kenapa kita tidak?

8 November 2014

Ayuk Nulis Lagi!

November 08, 2014 0
Kalau blog ini diibaratkan sebuah rumah, mungkin terlihat renta dan hampir roboh. Tak terurus lama, sangat lama malah. Dulu saya banyak mengisi blog ini ketika saya sedang longgar, tidak terkejar deadline naskah tayangan tv lokal di mana saya bekerja. Ketika kemudian saya memutuskan kembali ke "rumah" produktifitas saya dalam menulis turun drastis, bahkan nyaris nol.. Kemampuan apapun, kalau lama tidak digunakan, maka akan tumpul. Itu pula yang saya rasakan. Termotivasi dengan seorang sahabat lama, saya ingin kembali "menata" halaman ini. Harap maklum dulu apabila isi atau tampilan blog ini masih berantakan, semoga kedepannya menjadi semakin baik dan bermanfaat. Amiin.

14 Agustus 2009

Seandainya semua Makanan yang Beredar, Sehat untuk Anak

Pulang jemput Raka dari Kelompok Bermain. Seperti biasa, saya memutar jalan kampung untuk menghindar agar tak lewat dari warung tempat saya belanja sayuran. Kalau tak saya gunakan strategi memutar jalan ini, Raka akan merengek-rengek minta jajan permen begitu melintas didepan warung. Saya masih sayang gigi putihnya, itu intinya.

Tapi sepertinya strategi saya hari itu tak berjalan mulus. Sukses melewati satu warung, ternyata mata raka masih bisa menangkap serentengan jajanan yang dijajakan warung satunya lagi yang memang harus saya lewati, karena hanya berjarak beberapa meter dari rumah.

Bukan rupiahnya yang saya sayangkan, tapi saya tahu, jajanan yang ia inginkan adalah makanan yang bisa dikategorikan makanan sampah alias junk food. Tapi apakah anak 2,5 tahun sudah bisa menerima kalau saya terangkan “nak, makanan itu tidak baik untuk tubuhmu, banyak MSG nya, ada bahan pewarna, ada pemanis buatan, bla..bla”Ah, tapi mudah-mudahan bisa. 

Akhirnya saya biarkan siang itu Raka menangis karena tak mendapat apa yang ia mau. Setelah tangisannya reda, baru saya nasehati dia, hingga kemudian ia memilih minum susu, dan kemudian tertidur. Sudah ngantuk rupanya.

Baru dua hari yang lalu teman saya, kebetulan seorang ibu baru dengan bayi berumur 3 bulan, juga berkirim pesan, seperti ini isinya; “bu, punya referensi nggak seseorang yang punya resep macam chiki, taro, dsb tapi yang sehat, agar nanti anakku tidak kecanduan junkfood. Ntar aku pengen buat sendiri.” Karena memang tidak punya, ya akhirnya saya cuma saling cerita dan berbagi strategi.

Rupanya saya tak sendiri. Mungkin begitu banyak ibu-ibu yang khawatir dengan menjamurnya aneka jajanan, dengan kualitas yang tidak tidak terjamin, ya..karena itu tadi ..kalau tak MSG, pemanis maupun pewarna buatan plus pengawet. Idealnya sih, berbagai bahan kimia tersebut tak dikonsumsi oleh tubuh, toh ada gula tebu yang lebih sehat, daun pandan, kunir, atau daun jati yang bisa menjadi pewarna alami, atau kaldu ayam kalau ingin makanan menjadi gurih. Tapi apa daya??? Serbuan berbagai jajanan “sampah” begitu menggoda, dengan kemasan memikat, dan iklan yang gencar selalu di depan mata, anak-anak pun menjadi pasar yang begitu potensial.

Ini adalah kisah nyata. Agar Raka bisa istirahat (dan kami juga bisa leyeh2 tentunya), pada jam-jam prime time biasanya kami menghidupkan Tv. Begitu ada iklan, raka akan bertanya, “itu apa bu?” “Minuman ale-ale Ka, jawab saya, “Ale-ale bu...,” ia akan merengek. Biasanya saya akan menjawab, “Ka itu bisa bikin kamu batuk. Makan jeruk saja ya...” “yo..ben!!!” jawab raka. Begitu seterusnya... Waduh..........!! Sekian banyak memori makanan yang sudah tersimpan diotaknya, dan kemudian akan ia lampiaskan saat ia kami ajak berbelanja...

Jaman saya dulu, saya masih nrimo dengan berbagai panganan tradisional dan aneka jajan pasar, yang sampai saat inipun masih saya suka. Lebih sehat sepertinya.Tapi anak sekarang, apa masih bisa??? Yang bisa saya lakukan saat ini ya cuma meminimalisir saja. 

Untuk menghindarkan berbagai zat kimia dalam makanan itu agar samasekali tak masuk ke tubuh, apa masih ada ibu yang bisa, saya masih ragu. Kadang saat Raka ikut ke pasar, dan kemudian tertarik dengan jely yang rasanya cenderung pahit, maka saya akan mencicipi dan pura2 muntah...Rakapun akhirnya hanya mencicipi sedikit, dan menyuruh saya membuang makanan tersebut....Itu satu strategi yang lain di samping memutar jalan. 

Untuk stock snacknya, gak mungkin 100% buatan saya. Paling cuma agar-agar, sama-sama buatan pabrik, tapi saya berusaha mencari warna yang bening.Saya masak sendiri, dengan menambahkan gula kelapa. Cukup enak dan sehat. Yang saya herankan, kenapa ya...saya hampir tak pernah menjumpai makanan buatan pabrik yang bebas MSG, pemanis, ataupun pewarna. Kalaupun bebas MSG ataupun Mononatrium, pasti ada pemanis atau pewarna.. 

Seandainya saja, ada makanan yang lezat, di sukai anak-anak tapi sehatt!! 
Diberdayakan oleh Blogger.