CoretanBunda

Personal & Lifestyle Blog

7 December 2017

Karena Untuk Sukses Nge-ASI Dibutuhkan Beberapa Kunci

"Ngapain e ndusel-ndusel ibu, mau etek-etek lagi pho..?” Dan seperti biasanya Alya akan menjawab sembari senyum-senyum, "Malu...udah gede kok.”  Bukan sekali atau dua kali anak saya akan tiba-tiba bertingkah seperti bayi lagi, mendekatkan tubuhnya ke badan saya, seperti saat dulu ia masih menyusu. Mungkin ia lagi pengen bermanja-manja, seperti yang ia lakukan sore itu.

Menyusui bayi atau dalam bahasa balitanya Alya etek-etek memang merupakan aktivitas yang sudah tak lagi saya lakukan. Saya menyapih gadis kecil saya sekitar 2 tahun silam, saat Alya hampir berusia 3 tahun. 

Dan berbagai kenangan masa menyusui, seakan kembali --tidak hanya melalui tingkah polah Alya yang ndusel-ndusel ibunya --tetapi juga melalui sebuah event yang saya ikuti tanggal 2 Desember lalu, Jogja Oxytocin Journey. Mengambil lokasi di tempat yang nyaman, UMA Dapur Indonesia, event ini menandai 5 tahun ASI Booster Tea, sebagai sponsor utama. Disamping puluhan blogger Jogja, para ibu menyusui, para ibu dalam komunitas Best Bunda, produsen ASI Booster tea, hadir pula para pemenang lomba foto #BanjirAsi tahap II.


Asyik nggak acaranya? Yang pasti kaya ilmu. Yang sudah punya pengalaman menyusui bisa berbagi dan makin merasa bersyukur, sementara bagi calon ibu, tentu saja bisa belajar, agar nanti kalau kelak pasca melahirkan bisa menyusui bayinya dengan lancar.  Jogja Oxytocin Journey tempo hari, menghadirkan pemateri utama seorang konselor menyusui, Arit Widowati seorang ibu dari 5 orang anak (hampir 6) yang semuanya sukses mendapatkan ASI ekslusif, bahkan memiliki 14 anak susuan. Bahkan karena jarak antar anak yang lumayan dekat, beberapa kali mbak Arit ini sempat tandem; menyusui si adik barengan dengan sang kakak. Mbak Arit nggak bekerja formal?? Eits..jangan salah, beliau merupakan salah satu staff di Kementrian Keuangan RI. Hebat kan?! 

Menurut beliau, untuk bisa sukses menyusui, ada beberapa kunci yang mesti dipegang:

Niat yang kuat
Semua agama menganjurkan seorang ibu untuk memberikan susu ke bayinya, nggak hanya agama Islam. Kalaupun karena faktor ditinggal bekerja misalnya, lantas bayi tidak bisa menyusu secara langsung, toh bisa melalui ASI yang dipompa ataupun ASI perah. Selama metode penyimpanannya benar, nutrisi yang terkandung di dalamnya akan tetap terjaga.

Sepakat dengan mbak Alit Widowati, bahwa niat itu kunci dan saya sudah membuktikan saat saya menyusui Alya yang kadar kesuksesannya jauh lebih tinggi saat dibanding waktu nyusuin kakaknya Raka.


Awalnya memang agak berat karena beberapa ibu, termasuk saya waktu itu  kagok dengan posisi menyusui, merasakan puting yang lecet dan perih, tapi setelah belajar, dan terbiasa, akhirnya ngerti dan langsung merasakan bahwa manfaat ASI itu sungguh luar biasa.

Dukungan Penuh dari Orang-Orang Terdekat
Produksi ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Prolaktin berfungsi memproduksi ASI. Sedangkan oksitosin untuk mengeluarkan ASI dari payudara. Oksitosin diproduksi ketika ibu rileks dan bahagia. Jadi dua hormon itu harus saling berkolaborasi. Percuma jika ASI yang diproduksi banyak, tapi kondisi si ibu dalam keadaan tidak nyaman atau berada di bawah tekanan. Karena itu, faktor  lingkungan seperti ayah ASI, nenek ASI, atau orang di sekitar ibu yang mendukung suksesnya ASI sangat berperan.

Support Sistem yang Mendukung Pula
Niat, motivasi dan semangat dari orang-orang terdekat adalah penyuplai energi terbesar yang akan menentukan sukses atau tidaknya program pemberian ASI pada bayi. Selain itu, ada faktor lain yang juga turut menunjang  yakni menjelang kelahiran carilah rumah sakit  adalah Rumah sakit yang pro room in dan pro Inisiasi Menyusui Dini. Setelah bayi lahir, tahap awal menyusui lancar, tahapan berikutnya adalah bagaimana caranya agar ASI yang diproduksi maksimal, baik secara kulaitas, maupun kuantitas.


Memaksimalkan Produksi Asi, Bagaimana Caranya?

Tingkat produksi Asi itu secara teoritis, akan mengikuti permintaan. Supply tergantung demand. Jadi apabila intensitas menyusuinya sering, harusnya produksi ASI juga akan meningkat. Sebaliknya, jika si Ibu tidak konsisten dan jarang menyusui, produksi ASI pun akan berkurang.

Selain meningkatkan frekuensi menyusui, mengatur asupan makanan si Ibu juga dipercaya mampu memaksimalkan jumlah ASI yang diproduksi tubuh. Daun katuk, kacang rebus, jagung, bayam dan aneka sayuran hijau, pare pahit, dipercaya masyarakat sebagai booster ASI yang cukup ampuh untuk meningkatkan produksi ASI.  Tapi memang butuh lebih banyak waktu untuk menyiapkannya, dan terlihat lebih repot untuk mencari dan menyiapkan segala ubo rampe nya.

Bagi yang menyukai sesuatu yang simpel dan praktis, sekarang ada yang lebih mudah, yakni ASI BOOSTER TEA. Pertama dilaunching tahun 2012, teh rempah ini merupakan teh pelancar ASI pertama di Indonesia.

Suplemen ASI

ASI Booster Tea berasal dari herbal, aneka rempah  yang kemudian diubah bentuk seperti biji-bijian, dengan cara pemakaian direbus/dididihkan, lalu diminum sarinya seperti saat kita menikmati teh. Bagi pecinta rasa manis, bisa pula diminum setelah ditambahkan gula, madu, atau pemanis lainnya.

Sebagai langkah inovatif, ditahun 2017 diluncurkan pula ASI Booster Tea Super Drink. Bedanya, ASI Booster Tea Superdrink ini lebih praktis, karena sudah berbentuk serbuk. Jadi tinggal tuang, aduk, dan langsung diminum atau bisa juga ditambahkan pada minuman yang sudah jadi, seperti jus dan susu.

Hmm, pilihan di tangan kamu, mau pake metode yang seperti apa, karena semua pasti akan tergantung situasi dan kondisi, dan kamu sendiri yang paling ngerti. Yang penting, jaga semangat untuk ngasih ASI ke bayi, karena bagaimanapun ASI adalah nutrisi terbaik diawal kehidupan bayi.

13 comments:

  1. Ada penyesalan kalau baca yg begini, aku rasanya ingin kembali melahirkan putriku yg sdh lahir ini dan akan aku beri ASI ekskusif, dulu sibuk banget sampai hrs pakai susu formula

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mba..aku anak pertama 90% sufor..tak tinggal kerja, bingung puting

      Delete
  2. Lumayan ikut event ini mak. Nammab ilmu mengenai pengalaman busui, secara saya blm menikah dan punya anak. Jadi buat rekomendasi aja sih booster asi tea-nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf mak, typo. bukan Nammab tapi maksudnya Nambah hehehe :)

      Delete
    2. Iyo rin. Modal ilmu kamu dan pembaca lainnya klo kelak jadi ibu.

      Delete
  3. Aku anak pertama gak bisa nyusuin blas, Mbak Sulis. ASI ku gak keluar. Akhirnya sufor. Meski sufor, Alhamdulillah gak sampe susah lepas dot. Umur 2 tahun udah lepas dot

    Baru anak kedua Alhamdulillah lancar dan pas nyapihnya gampang. Gak ada drama. Abis itu ke sufor langsung gelas. Si adik, gilo sendiri sama dot ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Anak pertamaku sufor. Asi dikit bngt.

      Anak kedua...nggak bisa ngedot. Langsung gelas juga begitu sapih.

      Daya tahannya kentara banget bedanya. Yang gede, musim flu cepet kena. Yang kecil, lebih bandel.

      Delete
  4. Duh, Support sistem ini yang sulit di daerah Mbak Sulis. Jarang ada konselor ASI. DSA anak saya saja malah langsung menyarankan SUfor krn saya caesar dan ASI belum langsung keluar sementara anak saya lahir 4kg, alasannya takut hipoglukosa. Nangis2 saya harus merelakan ga ASI eksKlusif. Alhamdulillah bisa NgASI 2 tahun.

    ReplyDelete
  5. Bermanfaat banget buat aku kalau suatu saat nanti punya anak ^_^ maunya juga ngasih ASI full :)

    ReplyDelete
  6. bukankah Ng-Asi itu sudah jadi kodrat ibu pada anak yang dilahirkannya, kenapa harus segala ada kuncinya agar ng-Asi itu menjadi sukses?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang gagal nge-ASI ekslusif banyak mang...
      Aku anak pertama gagal.

      Ndilalah SC..nggak room in, ketemu anak dah bbrp hari pasca lahir. Anak minum sufor pake dot di RS.

      Begitu dirumah, niat nggak maksimal.

      Akhirnya bnyk pke dot. 3 bulan dah bingung puting.

      Delete
  7. Niat yang kuat itu katanya sungguh berpengaruh ya, Mbak, terhadap lancar tidaknya ASI.

    ReplyDelete
  8. Saya dulu gagal ASI eksklusive mbak, karena memang keluarnya dikit. Padahal sudah diupayakan semaksimal mungkin. Dari makan sayur daun katuk, makan marning, kacang-kacangan, pokoknya semua saran dari orang tua sudah saya lakukan. Tapi tetap nggak ngaruh tuh, apalagi kemudian saya tinggal kerja, tambah nggak keluar deh, hehe..
    Coba saat itu sudah ada Asi booster tea yaa.. :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin