22 December 2017

Jika Dua Pribadi Beda Bersama..? Saya Pilih Kompromi Aja


Beberapa hari terakhir, medsos lagi rame tentang kisruhnya pernikahan seorang anak pengacara terkenal dengan seorang penghafal alquran, Salma-Taqy. Hi..hi, saya nggak kenal mereka juga sebenarnya. Cuma awalnya penasaran, ketika ada berita yang ngangkat tentang keretakan rumah tangga mereka, wow..yang komen banyak banget! 

Lahirnya medsos, memang kemudian melahirkan banyak pengamat dan komentator sosial. Banyak yang menduga karena mereka nikah di usia yang terlalu muda. Ada yang nebak, mungkin mereka retak karena datang dari dua "dunia" yang berbeda, satu selebrita sementara pasangannya agama. Banyak pula yang beranggapan, bisa jadi salma-taqi nggak harmonis karena mereka LDR-an. Mana yang bener? Hanya mereka dan Tuhan yang ngerti๐Ÿ˜€

Yang  pasti, gara-gara kasus itu saya jadi ingat tulisan mba Rosalina Susanti, yang mengingatkan kita untuk mengenal watak kita sendiri plus mengenal orang dengan 4 watak dasar manusia. Dalam tulisan tersebut, dipaparkan secara jelas bahwa pada dasarnya ada 4 watak dasar yaitu Koleris, Plegmatis, Sanguinis, dan Melankolis. 

Watak Koleris ditandai dengan ciri khas sifat yang cenderung mengatur, mirip seorang sutradara. Sikap yang cenderung suka mengamati, milih damai dan menghindari konflik, seperti seorang penonton dalam pertunjukan, dimiliki orang-orang dengan watak dasar plegmatis. Jika seseorang wataknya dominan aktif, terlihat gembira, maka kemungkinan besar ia adalah pembawa watak sanguinis. Watak Sanguinis, digambarkan sebagai seorang artis, atau lakon. Sementara kalau sikapnya seperti seorang penulis skenario yang cenderung perfeksionis, itu pertanda ia termasuk golongan manusia dengan watak dasar melankolis.

Dari tulisan mba Rosalina Susanti, kita bisa menyimpulkan bahwa sudah kodratnya, sudah dari sono nya manusia lahir dengan watak dan pembawaan yang berbeda. 

Itu juga masih berdasarkan satu faktor yang mempengaruhi. Belum lagi faktor-faktor lain, semisal watak berdasarkan golongan darah, watak berdasarkan tanggal kelahiran atau zodiak, watak berdasarkan lingkungan tempat dimana ia tumbuh, bahkan kalau di Jawa, masyarakat mengenal apa yang namanya neptu. Konon katanya, bahwa hari dan pasaran Jawa itu berpengaruh terhadap sifat dan pembawaan seseorang. Orang yang lahir di hari Kamis Pahing akan berbeda wataknya dengan orang yang lahir di hari Jum'at Kliwon. Bahkan katanya bayi yang lahir di pagi haripun akan memiliki pembawaan dengan bayi uang lahir dengan malam hari. Seberapa akurat? Entahlah.

Intinya, pribadi yang satu dengan pribadi yang lain itu menurut saya unik. Sifat dan kepribadian yang kemudian terbentuk, dipengaruhi banyak sekali faktor. Kadang ketika mereka di satukan dengan apa yang kita sebut "jodoh",  (mungkin saja) secara tak sadar sebenarnya mereka tengah ditemukan dengan kepingan puzle kehidupan, agar kehidupan masing-masing lebih berwarna. 

Andai Salma dan Taqy tahu itu..paling mereka nggak jadi cerai..ha..ha.

Sudahlah, saya nggak tahu sifat atau karakternya nya Salma atau Taqy. Mending pakai kisah saya sendiri saja๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Saya adalah perempuan bergolongan darah B, berzodiak aquarius, dan kalau melihat pengkategorian watak seperti dalam tulisan mba Rosa saya termasuk dalam orang-orang plegmatis, mending jadi pengamat, malas berkonflik. Sementara pak suami adalah laki-laki bergolongan darah O, berzodiak Libra, dan ia adalah tipe laki-laki melankolis.

Awal-awal menikah asli terkaget-kaget!



Saya yang suka digombali dan suka novel-novel romance, akhirnya berjodoh dengan laki-laki yang nggak bisa nggombal. Saya yang cenderung ceroboh serumah dengan seseorang yang perfeksionis.  Saya yang sering lupa naruh sisir, ketemu dengan orang yang selalu naruh apapun sama di tempat semula.

Saya yang hobi multitasking, dengan hasil pekerjaan yang cepat tapi kadang nggak sempurna, ketemu dengan manusia yang begitu memperhatikan detail. Lamaaa di pengerjaan, meski memang adakalanya hasil lebih rapi dan sempurna. Contoh simpel saja, saat nyetrika. Saya bisa nyetrika sambil rebus ayam-nonton tv-bales chat-ngawasi Alya yang lagi asyik main. Resikonya, kalau kelupaan, masaknya gosong. Kalau pak Suami, ngerjain satu hal..ya sudah fokus..satu. Konsekuensinya, dalam satu waktu ya cuma satu pekerjaan yang kelar. 

Bagi saya suami saya adalah tipikal manusia yang begitu terencana, sementara saya yang easy going aja. Contoh riilnya, sebelum bepergian ia akan bolak balik ngecek gps, rute macet atau lancar..ngecek bmkg...hujan apa cerah. Sementara saya, kalau niat mau pergi, ya pergi saja. Soal macet atau hujan, kalau bisa dihindari, kalau nggak ya dinikmati. 

Kok bisa bertahan, dan sekarang sudah di tahun yang ke 12? Awal-awal memang mesti adaptasi. Tapi setelah terbiasa, akhirnya kompromi. Pernikahan itu kadang nggak seindah yang digambarkan novel atau sinetron. Saya nggak sempurna, begitupun dia. Paling penting, suami bertanggung jawab dengan saya dan anak-anak.

Mungkin memang sudah semestinya si ceroboh dan cuek ketemu dengan si perfeksionis, mungkin ada baiknya si ceriwis ketemu sama si pendiam, mungkin lebih baik apabila suami saya yang malas mbaca, ketemu saya yang nemu koran bungkus tempe aja di baca. Untuk keseimbangan. Demi utuhnya puzle kehidupan.

#KEBloggingCollabs


9 comments:

  1. Terimakasih tulisannya yg inspiratif mak. Menikah salah satu tujuannya adalah menyatukan dua watak yg berbeda. Dalam satu keluarga saja belum tentu mempunyai watak yang sama apalagi sebuah pasangan yang baru dipertemukan dalam ikatan pernikahan...sudah pasti perbedaan itu wajar dan harus diterima dg lapang dada. Intinya kita hrs mengenal watak pasangan kita...untuk kemudian kita satukan....ya...semacam kompromilah....TFS mak

    ReplyDelete
  2. itulah jodoh mbak...kita tidak tahu yg terbaik u kita....suamiku juga perfeksionis, aku juga suka jengkel awal2nya,, aku yg ceroboh vs perfeksionis..tp lama2 dia udah agak berkurang sih.malah jd ketularan sedikit sifatku ha ha

    ReplyDelete
  3. Perlu mbak Sulis kirim tulisan ini deh biar Salma Taqi rujuk ��
    Saya kayaknya korelis melangkolis. Suka ngatur dan ingin sempurna.
    Kalo pak su lebih ke sanguis melangkolis

    ReplyDelete
  4. sama...aku orang yg lemah kl memimpin, kata pak siapa itu dulu pas ngadakan acara di dini. yo wis gpp, yg penting slamet kabeh.

    males berkonflik. iya banget. tp tidak berarti ga punya pilihan lho ya.

    ReplyDelete
  5. Awal2 akupun susah beradaptasi dengan suami. Dia cendrung sanguinis, sementara aku koleris.. Sampe skrpun kalo mau jujur, ttp aja masih ada bentrokan di antara kita sesekali, walo suami cendrung ngalah demi kedamaian rumah tangga :p. Jd memang inti dr semua perbedaan sih, kompromi ya mba.. Kalo ga mau, ya wis bubar jalan yg terbaik :p

    ReplyDelete
  6. Baca ini aku jadi merenung, Mbak. :')

    ReplyDelete
  7. Aku dan suami sama - sama punya bakat keras kepala. Kadang ada rasa jengkel juga kalau dia terlalu kekeuh sama pendapatnya. Sampai aku bilangin dengan nada santai " Ngalah dikit napa sama istri ". Tapi itu jarang siy

    Kalo dituruti, bisa bubar jalan. Batu ketemu batu

    ReplyDelete
  8. Perceraian yang sebagian orang menghabiskan waktunya untuk menebak-nebak kenapa mereka cerai ya. Kalau buat saya, siapapun yang mendengar berita itu, terutama orang yang udah menikah, moga jadi bahan pengingat kalau udah nikah bukan lantas nggak bisa single lagi, kembali pada takdirnya.

    ReplyDelete
  9. hihihi, saya pun begitu Mbaaak, dengan suami beda banget. ๐Ÿ˜„

    ReplyDelete

Terimakasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf, tidak mengurangi rasa hormat, komentar yang berupa link hidup, anonymous, atau berpotensi sebagai broken link akan dihapus oleh admin